SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
95. Pelengkap


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Kratakkk


Kratakkk


Mehru menggeliat dan merenggangkan otot dan tulangnya hingga terdengar bunyi gemeratak dari sendi tulang itu. Mehru menoleh kekanan dan kekiri, baru menyadari bahwa matahari sudah sedikit tinggi.


"Kheiren bangunlah! sudah pagi, kita harus bergegas pergi dari sini. Kita harus segera mendaftar disekolah tabib itu,"


"Hemm...aku masih mengantuk Mehru, udara disini sangat dingin,"


Kheiren semakin merapatkan selimut ditubuhnya.


"Kalau kamu tidak mau bangun terserah saja, jangan salahkan aku jika kamu kami tinggal, dan tersesat didesa ini."


Kheiren segera beranjak dari tempat tidur sembari mengusap matanya yang masih enggan terbuka.


"Ayo kita membersihkan diri,"


Mehru dan Kheiren membersihkan diri ditempat pemandian, Setelah itu mereka menemui Galeo dan Mawe untuk mengganjal perut sebelum mereka menemukan sekolah tabib.


"Pagi-Pagi begini sudah ramai, hidup disini sangat menyengkan. Kita hanya perlu mengeluarkan uang agar bisa makan enak," celetuk Mawe.


"Dimana-Mana orang lebih suka makanan gratis daripada harus membayar," ujar Galeo.


"Hidup didesa kita sangat melelahkan Gale, terkadang kita perlu juga bermalas-malasan dan menikmati hasil kerja keras kita dengan membelanjakan uang,"


Mehru dan Kheiren hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan dua orang itu.


"Mehru, tidakkah kamu perhatikan, 4 pemuda itu selalu menatap kearah sini sejak tadi?" tanya Kheiren.


Mendengar ucapan Kheiren, serentak Galeo, Mawe dan Mehru menoleh arah pandang Kheiren.


"Biarkan saja, jangan perdulikan mereka. Habiskan makanan kalian, kita akan segera pergi dari sini," ujar Galeo.


Mereka pun mempercepat makan mereka hingga tandas tanpa sisa.


"Tunggulah didepan, biar aku dan Mawe mengambil kuda dari tempat penitipan," ucap Galeo.


"Baiklah."Jawab Mehru.


"Mereka pergi, apa kita harus mengikuti mereka?" tanya Gumo.


"Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana kita bisa menjalankan taruhan itu?" ucap Puna.


Merekapun bergegas pergi dari situ dan mengikuti arah pergi Mehru dan teman-temannya.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita," ujar Kheiren.


"Siapa?" tanya Mawe.


"Tidak tahu, hanya saja aku mendengar suara kaki kuda yang lain, selain kuda kita."

__ADS_1


Namun perkataan Kheiren sedikit lambat, dari reaksi yang diberikan Mehru.


"Berhenti!" Mehru menarik kekang kuda dan membuat kuda itu berbalik,"


"Ada apa? kenapa kamu menghentikan kudanya?" tanya Galeo.


"Sepertinya kita membutuhkan orang lain untuk mengantar ketempat tujuan kita,"


"Apa maksudmu?"


"Lihatlah!"


Mehru menunjuk kearah 4 pemuda yang membawa kuda dengan melambat.


"Mungkin mereka bisa mengantar kita ketempat tujuan,"


"Sudahlah, kita tidak membutuhkan mereka, kita pasti bisa menemukannya."


"Bukankah tujuan mereka ingin mengikuti kita? jadi sekalian manfaatkan saja."


Puna dan teman-temannya mendekati Mehru dan Galeo yang tampak menunggu kedatangan mereka.


"Apa kalian menunggu kami?" tanya Puna.


"Bukan kami yang menunggu kalian, tapi kalian yang ingin mengikuti kami." Jawab Galeo.


Puna tertawa keras mendengar jawaban Galeo.


"Sudah ketahuan ya? maaf, kami hanya merasa tidak pernah melihat kalian. Sebagai penduduk asli karang sunyi, kami mempunyai tujuan, agar bisa menyenangkan para pendatang."


"Benarkah?" tanya mehru.


"Itu bagus. Kami memang membutuhkan penunjuk jalan,"


"Kalian ingin pergi kemana?"


"Kami mencari rumah tabib Cheng. Kami mendengar dia membuka sekolah tabib gratis." Jawab Galeo.


"Tabib Cheng? kebetulan sekali, kami berempat juga mendaftarkan diri disekolah itu. Tapi peminatnya kurang, sehingga tabib Cheng memutuskan untuk memperpanjang masa pendaftaran, sampai semua murid tercukupi. Kalau kalian berempat ikut mendaftar, maka bisa dipastikan, muridnya akan cukup."


"Baguslah. Kalau begitu tolong antar kami ketempat pendaftaran ya?"


"Baiklah. Ditempat pendaftaran sudah ada murid senior tabib Cheng, dia bertanggung jawab mengurus pendaftaran dan juga obat-obatan."


"Kalau begitu kita tidak usah membuang waktu lagi, bisakah kalian mengantarkan kami kesana?"


"Tentu."


Para kuda itu kembali berjalan setelah diperintah. Puna dan teman-temannya yang lain saling mengedipkan mata.


Setelah menempuh perjalanan kira-kira seperempat dupa, merekapun tiba disebuah tempat yang memang disediakan tempat untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Tabib Cheng yang sedang menikmati teh, menghentikan gerakannya saat melihat kedatangan tamu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Siapa yang kalian bawa?" tanya Tabib Cheng pada Puna.


"Suhu. Ini adalah calon murid yang ingin mendaftar disekolah ilmu pengobatan. Mereka datang dari desa sebelah, karena tertarik ingin mempelajari ilmu pengobatan."

__ADS_1


"Desa sebelah? bukankah itu sangat jauh? berapa hari kalian bisa sampai disini?" tanya Tabib Cheng.


"Kurang lebih 7 hari Suhu." Jawab Galeo.


"Menggunakan kuda?"


"Ya."


"Aku menerima niat baik kalian. Semoga perjuangan kalian yang datang dari jauh tidak akan berakhir sia-sia. Belajar ilmu pengobatan sangatlah mudah, asal ada kemauan dan ketekunan."


"Terima kasih Suhu. Kami akan berusaha tidak akan mengecewakan Suhu."


"Sepertinya aku akan segera mengumumkan, bahwa jumlah murid disekolah kita sudah cukup. Bagi yang sudah mendaftar, besok dipersilahkan datang kembali untuk mendaftar ulang."


"Untuk kalian para pendatang dari jauh, kami sudah menyiapkan tempat khusus. Kalian bisa menyebutnya itu sebuah asrama. Murid seniorku akan membantu kalian mengurus semuanya."


"Terima kasih Suhu," ucap Galeo.


"Puna. Sebagai anak kepala suku disini, aku ingin kamu menyebarkan pengumuman untuk para murid yang sudah mendaftar, agar mereka bisa mendaftar ulang besok pagi."


"Baik Suhu."


"Pergilah."


"Emm." Puna mengangguk dan mengajak teman-temannya untuk pergi.


"Puna," seru Galeo.


Puna menoleh sesaat sebelum benar-benar pergi.


"Terima kasih. Terima kasih juga untuk teman-teman yang lain," ujar Galeo.


"Emm." Puna mengangguk sembari tersenyum.


"Masuklah! akan ku kenalkan kalian pada murid seniorku. Dia seorang yatim piatu didesa ini, dan membantuku mengobati penyakit orang-orang didesa ini."


Mehru, Galeo, Mawe dan Kheiren mengekor dibelakang Tabib Cheng. Seorang pemuda tampak sedang menyusun beberapa tanaman kering kedalam beberapa kotak khusus obat-obatan.


Sesekali pemuda itu memeriksa warna dan aroma dari tumbuhan kering itu, agar tetap terjaga khasiatnya. Untuk tanaman yang sudah berubah warna dan berbau tidak sedap, Pemuda itu kumpulkan jadi satu dan membuangnya kemudian menggantinya dengan tanaman obat yang baru.


"Seo," seru Tabib Cheng.


"Ya Suhu." Jawab Seo sembari membalikkan tubuhnya.


Pemuda itu tampak tersenyum manis kearah Tabib Cheng, dan juga pada keempat tamu yang baru datang. Tapi tidak dengan reaksi Mehru, Kheiren, Mawe, Maupun Galeo. Mata keempat orang itu nyaris keluar dari sangkarnya.


Galeo menoleh kearah Mehru, untuk memastikan sesuatu. Sesuai dugaanya, tubuh Mehru sedikit bergetar dengan rona wajah memucat. Kini Galeo yakin, Mehru adalah Mawa atau Siren karena melihat reaksi gadis itu yang tidak biasa.


"Kemarilah, keempat orang ini ingin mendaftar disekolah kita. Beritahu tempat istirahat mereka, karena mereka datang dari tempat yang jauh."


"Baik Suhu."


Seo mengalihkan pandangannya kearah keempat orang yang ada didepannya. Dan Mehru adalah gadis yang menarik perhatiannya , karena gadis itu selalu menundukkan kepalanya.


"Mari ikuti aku,"

__ADS_1


Keempat orang itu mengikuti arah jalan Seo menuju arah belakang. Disana memang tersedia beberap gubuk yang akan ditinggali orang-orang yang datang dari jauh.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2