
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Sarlince memasuki area kantin dan kebetulan memesan menu yang sama dengan Regent, termasuk minumannya. Regent menyunggingkan senyumnya saat melihat Sarlince dengan lahap menyantap makanannya.
"Hebat loh dia. Sejak awal kompetisi, dia selalu menjadi juara pertama disetiap kesempatan," ujar Vino sembari melirik kearah Sarlince.
"Ya dia memang berbakat. Aku yakin, dia yang akan memenangkan kompetisi meretas nantinya." Jawab Regent.
"Andai saja dia wanita, aku pasti akan menjadikannya pacarku," ucap Vino.
uhukkk
uhukkk
Regent tiba-tiba terbatuk dan itu menarik perhatian semua orang yang berada dikantin, termasuk Sarlince.
"Kamu tidak apa-apa Re?" tanya Vino sembari menyodorkan air minum kearah Regent.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Regent sembari meneguk air yang Vino berikan hingga tandas.
Pandangan mata Sarlince bertemu dengan Regent. Pria itu bisa melihat bahwa Sarlince mengkhawatirkan dirinya. Regent membingkai senyum kearah Sarlince, namun wanita itu segera memalingkan wajahnya kearah piring makanannya.
"Kenapa dengan senyumnya itu? senyum yang tidak wajar saat menatap sesama pria. Apa dia memang memiliki kelainan? tapi dia waktu itu sudah bilang padaku bahwa dirinya normal, dan aku bisa melihat kalau dia itu jujur. Atau jangan-jangan...."
Sarlince kembali menatap kearah Regent tapi pria itu segera memalingkan wajahnya kearah makanannya.
"Apa sebenarnya dia tahu tentang penyamaranku? sejak awal sikapnya berbeda denganku. Ya Tuhan...kenapa aku mendadak bodoh, dia pasti sudah tahu identitasku yang sebenarnya," batin Sarlince.
Sarlince mempercepat makannya dan segera meninggalkan kantin itu. Regent yang selesai makan siang, berniat kembali keruangannya sejenak. Namun alangkah terkejutnya dia, saat membuka pintu ruangannya dia mendapati Sarlince duduk di kursi kebesarannya sembari memegang disign dan Ikat rambut miliknya.
Regent mengunci ruangan itu agar tidak seorangpun bisa mendengar apa yang akan dia bicarakan dengan wanitanya. Sarlince perlahan berdiri dari kursi empuk milik Regent dan berdiri tepat dihadapan pria itu.
"Ada apa? mengapa kamu lancang menduduki kursi kebesaranku," ucap Regent berpura-pura marah.
"Aku bahkan bisa menduduki kepalamu, kalau kamu tidak mau jujur dengan pertanyaanku ini. Regent, sebenarnya sejak awal kamu sudah tahu kan siapa aku?" tanya Sarlince.
Regent sedikit terkejut karena Sarlince sudah menyadari niat terselubungnya. Namun Regent masih bersikap tenang dan perlahan mendekat kearah Sarlince. Pria itu merangkul pinggang ramping milik Sarlince dan menarik tubuh wanita itu kearahnya.
__ADS_1
Perlahan Regent melepaskan kumis tipis yang bertengger diatas bibir Sarlince, dan juga melepas rambut palsu wanita itu hingga rambut indahnya tergerai.
"Sebenarnya aku bingung, kamu bilang kamu tidak menyukaiku. Tapi berkali-kali kamu melakukan penyamaran hanya ingin berdekatan denganku bukan?"
"Ti-tidak...buang fikiran kotormu itu," hardik Sarlince.
"Lalu apa alasanmu? kamu tidak membutuhkan uang bukan? karena kamu sendiri pemilik perusahaan besar," tanya Regent.
"Aku punya tujuanku sendiri." Jawab Sarlince asal.
"Dan tujuanmu itu adalah aku," timpal Regent.
"Omong kosong," ucap Sarlince sembari berusaha melepaskan diri dari pelukkan Regent.
"Aku tidak bicara omong kosong. Bahkan saat ini aku bisa mendengar kalau jantungmu berdegup kencang saat berada didekatku," ujar Regent.
"Kalau begitu aku akan mengundurkan diri dari kompetisi agar kamu tidak salah faham padaku." Jawab Sarlince.
"Jangan coba-coba untuk mundur lagi, kali ini aku benar-benar akan menunjukkan kegilaanku."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mendatangi kamar pribadimu bersama suamimu dan akan mencumbumu disana."
"Aku bisa. Coba saja kalau kamu mau mengundurkan diri dan mencoba menghindariku lagi?"
"Regent. Sikapmu ini tidak dibenarkan, aku sudah bersuami dan hubungan kami sangat baik-baik saja."
"Aku tidak perduli. Suatu saat kamu akan tahu siapa suamimu itu sebenarnya, aku sangat menantikan hari itu dan kamu bisa bersamaku."
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah bercerai dengannya karena aku sangat mencintainya."
"Jangan bodoh. Suamimu itu tidak sebaik yang kamu kira, dia..."
"Jangan coba-coba menjelek-jelekkan dia. Karena aku percaya padanya 100%,"
Regent sangat kesal karena Sarlince selalu membela dan memuji suaminya. Regent kembali mencium paksa Sarlince hingga wanita itu kesulitan bernafas. Sarlince menendang kaki Regent dan memberikan satu tamparan keras untuk menyadarkan pria yang sedang terbakar api cemburu itu.
"Aku benar-benar tidak ingin bertemu denganmu lagi. Selamat tinggal!" Sarlince berbalik badan dan hendak pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Greppp
Regent memeluk Sarlince dari belakang hingga tubuh wanita itu menegang.
"Maaf, aku lepas kendali lagi. Aku tidak bisa mendengarmu memuja-muja pria itu. A-aku sangat cemburu,"bisik Regent.
Hati Sarlince benar-benar basah saat mendengar ungkapan tulus dari Regent. Namun Sarlince menguatkan hatinya agar tidak luluh dengan cinta yang Regent tawarkan padanya. Dirinya masih cukup trauma karena sering merasakan pengkhianatan berkali-kali.
Perlahan Sarlince melepaskan tangan Regent yang melingkar dipinggangnya dan menatap dalam pria itu.
"Regent. Lupakan aku, rasa cemburumu itu sangat tidak tepat. Aku sudah bersuami, dan aku sangat mencintai suamiku. Aku tidak perduli orang berkata apa tentangnya, selagi aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri aku tidak akan pernah percaya dengan omongan orang lain. Terlebih itu ucapan dari seorang pria yang sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku," ujar Sarlince.
"Baik. kalau kamu tetap ingin menolakku tidak apa-apa. Tapi aku minta satu syarat darimu,"
"Apa?"
"Aku ingin kamu tetap berada dalam kompetisi ini hingga akhir. Mulai sekarang aku hanya akan menganggapmu rekan kerjaku juga rekan bisnisku. Aline, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu itu."
Regent melangkah kearah pintu dan membuka kunci ruangan itu.
"Pergilah! kompetisi sebentar lagi akan dimulai," ujar Regent dengan wajah datar.
Hati Sarlince tiba-tiba mencelos saat ini. Melihat Regent yang seakan menyerah atas dirinya, membuat hatinya tiba-tiba gelisah. Namun Sarlince berusaha menguatkan hatinya agar pertahanannya tidak runtuh. Sarlince melangkah keluar dan Regent menutup pintu. Pria itu berjalan kearah meja kerjanya dan membuat barang diatas meja itu berserakan dilantai.
Sarlince menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar barang-barang yang terjatuh cukup keras dilantai. Air mata wanita itu menetes, dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kompetisi.
"Sepertinya orang yang kita cari tidak ada disini. Aku sudah menyelidiki semuanya, dan aku yakin 100% wanita itu bukan orang yang diinginkan ketua," ujar Lucia.
"Kalau begitu keluar saja dari kompetisi itu. Tidak ada gunanya kamu berada disana," ujar Marcus diseberang telpon.
"Tapi Bos, aku juga butuh privasi untuk diriku sendiri. Aku sedang ingin mengejar seseorang disini," ujar Lucia.
"Oh begitu? akan aku diskusikan dengan ketua."
"Ja-jangan bos! aku takut ketua akan murka dan menghabisiku,"
"Hey, ketua juga pernah muda. Yang penting saat dia menugaskanmu, kamu melakukan perintahnya dengan benar tanpa mencampur adukkan urusan pribadimu itu."
"Baiklah,"
__ADS_1
Lucia mengakhiri panggilan itu dan masuk keruang kompetisi. Hingga diakhir kompetisi babak penyisihan 3 besar, Regent tidak lagi muncul diruangan itu. Sarlince menjadi gelisah dan merasa bersalah pada pria itu. Panitia memutuskan untuk melakukan kompetisi babak penyisihan terakhir pada keesokkan harinya. Yang mengikuti kompetisi terakhir kali ini adalah Sarlince, Lucia dan Linda. Mereka segera pulang untuk mempersiapkan kompetisi keesokkan harinya.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏