
Tinggalkan Like, Koment, dan Vote🤗🙏
*****
Hideo meraba memar yang ada di pipi Sarlince, wanita itupun mengikuti arah pergerakan tangan Hideo yang tampak mengusap pipinya dengan lembut.
Plakkkk
Sarlince menepis tangan Hideo, karena dirinya sama sekali tidak merasa akrab dengan pria itu. Hideo yang tersadar dengan prilakunya bersikap tegas kembali dan berdiri dengan tegap.
"Siapa yang sudah memukul wajahnya?" tanya Hideo.
Para pria yang tumbang maupun yang masih sedikit segar jadi kebingungan dan saling bertatapan satu sama lain.
"Maaf Bos. Kami tidak ingat," ucap sang ketua.
"Yakin tidak ada yang ingat? kalau begitu Yama, kamu potong saja semua tangan orang yang terlibat perkelahian barusan,"
Yama dan semua anak buahnya terkejut mendengar perintah itu. Semua orang yang terlibat berlutut dilantai meminta pengampunan, mereka benar-benar tidak mengerti apa kesalahan mereka
Sementara itu Yayoi dan teman-temannya tampak kebingungan melihat reaksi Hideo yang seolah melindungi Sarlince.
"Tidak ada yang mengaku?"
Para pria yang terlibat tidak ada yang menjawab, mereka sangat tahu apa resiko yang akan terjadi kalau sampai mereka mengakuinya.
"Siapa yang memimpin?"
Para pria yang terlibat menoleh pada ketua mereka, tubuh pria itu jadi bergetar ketakutan. Hideo tanpa aba-aba langsung mengeluarkan pistolnya.
Door
Sebuah peluruh menembus lengan pria bertubuh kekar itu. Pria itu meraung kesakitan sembari memegang lengannya yang mengucurkan darah. Melihat itu Sarlince menyeringai kearah Hideo.
Hideo memberikan kode pada Yama untuk menyeret pria yang kesakitan keluar dari ruangan itu bersama dengan anak buahnya yang lain.
"Ckk...arogant," ucap Sarlince lirih namun masih bisa didengar oleh Hideo.
Hideo mengerutkan dahinya, pria itu merasa Sarlince sama sekali tidak takut meskipun melihat kekejaman didepan matanya. Lumrahnya wanita normal akan menjerit saat melihat kekerasan didepan matanya, terlebih mendengar sebuah tembakan. Tapi itu sama sekali tidak berlaku bagi Sarlince.
"Ikut aku. Aku perlu bicara denganmu," ujar Hideo.
Sarlince menoleh sejenak pada Yayoi dan teman-temannya yang terlihat mencemaskan dirinya, namun Sarlince tiba-tiba memberikan seulas senyuman yang membuat Yayoi memberikan senyum yang sama.
Sarlince kemudian mengekor dibelakang Hideo, Pria itu membawa dirinya keruangan khusus yang hanya ada Hideo dan dirinya.
"Duduklah!"
Sarlince duduk dengan patuh, sementara Hideo membuka sebuah lemari berwarna putih yang terbuat dari besi. Hideo tampak mengeluarkan sebuah kotak P3k dan menuangkan sesuatu diatas kapas.
"Biarkan aku melakukannya sendiri," ujar Sarlince saat Hideo ingin mengompres wajahnya yang memar.
Hideo menyodorkan kapas itu dan membiarkan Sarlince melakukan keinginannya sendiri.
"Kenapa kamu bisa terlibat?"
__ADS_1
"Yayoi adalah temanku. Mana mungkin aku membiarkan ada orang yang ingin membunuh temanku tepat didepan mataku."
"Jadi sejak awal kamu sudah terlibat?"
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan masalah kalian, aku cuma ingin membantu temanku."
"Tapi temanmu itu sangat berbahaya untuk kami, dia dan teman-temannya itu banyak tahu tentang rahasia kami, jadi kami harus melenyapkannya."
"Bagaimana kalau aku yang menjamin mereka."
"Menjamin mereka? apa yang kamu punya? apa kamu ingin menjamin dengan tubuhmu itu?"
Sarlince mengerutkan dahinya dan menatap lekat kearah Hideo.
"Apa seorang Mafia dari naga hitam adalah seorang pria mesum?"
Hideo terkekeh saat mendengar ucapan Sarlince.
"Aku tahu kamu hanya seorang wanita yang dipelihara oleh pria hidung belang disebuah hotel."
"Pria hidung belang? hotel?"
"Tidak usah berpura-pura. hari ini itu aku melihatmu memasuki sebuah hotel di jl. xx."
Sarlince jadi tertawa saat mendengar ucapan Hideo.
"Dasar bodoh! apa semua wanita yang menginap di hotel adalah seorang wanita simpanan? apa otakmu tidak bisa berpikiran rasional sedikit? ada banyak kemungkinan orang bisa menginap dihotel."
"Sialan, berani sekali wanita ini mengataiku bodoh," batin Hideo.
"Berlibur."
"Omong kosong. Kamu itu warga pribumi, liburan darimananya?"
"Hanya karena wajahku seperti warga pribumi, bukan berarti aku berasal dari negara ini. Pada kenyataannya aku bukan kewarganegaraan negara J."
"Keluarkan identitasmu."
"Semua barang dan tasku hilang saat berkelahi dipasar malam itu."
"Lalu darimana kamu berasal?"
"Negara I."
"Negara I? baiklah aku akan melepaskanmu, jangan terlibat lagi dengan kami. Anggap saja ini balas budi karena sudah menolongku waktu itu."
"Uangmu masih 800 Yen padaku."
"Jangan bahas uang 800 Yen itu lagi,"
"Tapi aku tidak mau berhutang budi pada siapapun."
"Jadi bagaimana kamu mau mengembalikannya? kamu bilang tas mu hilang bukan?"
"Akan aku kembalikan kalau aku sudah keluar dari sini. Lalu bagaimana dengan tawaranku tad?"
__ADS_1
"Tawaran? tawaran yang mana?"
"Aku ingin menjamin Yayoi dan teman-temannya. Aku akan pastikan mereka tidak akan menyulitkanmu dimasa depan."
"Tidak. Itu terlalu beresiko, didunia bawah tanah tentu kamu sudah dengar apa saja yang sudah kami lakukan, seharusnya aku juga harus melenyapkanmu karena kamu sudah terlanjur tahu semuanya."
"Lalu kenapa kamu tidak melenyapkanku juga?"
"Aku percaya padamu, kalau kamu tidak akan banyak mulut."
"Kamu terlalu meremehkan aku, jangan mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal. Tapi tentang Yayoi dan teman-temannya aku ingin kamu percaya padaku. Aku berjanji akan membawa mereka jauh dari negara ini,"
"Tidak bisa. Aku tidak ingin memgambil resiko."
"Ckk...keras kepala."
"Apa kamu sama sekali tidak takut padaku?"
"Kenapa harus takut? mati ya tinggal mati saja,"
"Kamu terlalu menyepelekan nyawamu."
"Bagaimana kalau aku membeli barang-barangmu?"
"Kenapa kamu jadi mengalihkan pembicaraan? lagian barang yang kujual tidak cocok denganmu."
"Apa kamu menjual senjata api ilegal?"
"Ternyata Yayoi sudah membocorkan banyak hal padamu, lebih baik aku melenyapkan kalian semua saja."
Krakkkk
Krakkkk
Hideo meletakkan pistol tepat ditengah dahi Sarlince. Bukannya takut, Sarlince malah menyeringai dan menurunkan pistol itu perlahan, namun Hideo kembali meletakkan pistol itu dikepala Sarlince.
Praaa pak pak...
Dengan sebuah gerakkan lincah, Sarlince berhasil membuat pistol itu kehilangan peluruh dilantai. Hideo terkejut melihat keterampilan Sarlince yang sangat jarang orang miliki termasuk dirinya.
"Bukan ide yang bagus menodongkan pistol itu padaku,"
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Hideo.
"Banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang diriku, dan terlalu panjang kalau aku harus menceritakannya padamu. Tapi yang pasti aku serius tentang senjata-senjata itu. Dengan begitu, bukankah kita sama-sama terlibat?"
"Berapa banyak?"
"500."
"500? apa kamu termasuk kedalam sebuah jaringan hitam atau mafia disana?"
"Tidak. Tapi saat ini aku sedang ingin membangun sebuah oraganisasi besar. Sekarang kamu juga sudah mengetahui rahasiaku, kalau kamu masih tidak percaya, aku bisa menunjukkanmu markas yang sedang kami bangun disana."
Hideo menatap lekat kearah Sarlince, entah mengapa dia percaya dengan ucapan wanita itu tanpa syarat. Hideo menyuruh Sarlince masuk kembali kedalam ruagan sandra, karena dia meminta waktu untuk berpikir dan bicara kembali padanya.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏