SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
99.Tanaman Obat


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Tok


Tok


"Mehru," Seru Seo.


Mesa yang mendengar suara Seo langsung membukakan pintu.


"Mesa? Suhu menyuruhku memanggil kalian buat makan malam."


"Baiklah. Kami segera datang."


"Emm." Seo memgangguk.


Seo segera pergi dari tempat itu untuk memanggil Galeo dan Mawe. Para murid itu akhirnya makan malam bersama.


"Besok saat mencari tanaman obat dihutan, kalian harus berhati-hati. Perhatikan penunjuk jalan, karena dihutan ini banyak sekali terdapat tebing dan jurang," ujar Tabib Chen.


"Baik Suhu," Jawab Mereka serentak.


Mereka kembali makan dalam keheningan, dan dalam sekejap semua hidangan diatas meja tandas tanpa sisa.


"Mehru," seru Galeo.


Mehru menoleh saat akan melangkah masuk kedalam gubuk.


"Gale, ada apa?"


"Aku perlu bicara denganmu."


"Kita duduk disana saja,"


Mehru menunjuk kearah sebuah kursi yang terbuat dari pohon tumbang.


"Mehru. Apa kau mempercayaiku?"


"Ya "


"Maukah kau mendengakan perkataanku?"


"Ya."


"Jangan terlalu dekat dengan Seo."


Mehru mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Galeo.


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu mengapa, tapi laki-laki itu seperti bukan orang yang bisa untuk didekati."


"Kenapa kamu cuma memberitahuku? apa yang lain juga tidak perlu kamu beritahu?"

__ADS_1


Galeo terdiam, dia bingung harus menjelaskannya darimana. Dia takut Mehru akan menganggap dirinya asal bicara dan menertawakannya.


"Mehru aku mau kamu menjadi kekasihku," ujar Galeo tiba-tiba.


Mehru mengerutkan dahinya dan sejenak kemudian dia tertawa keras hingga sudut matanya mengeluarkan cairan bening.


"Jadi kamu menyuruhku menjauhi Seo, hanya karena kamu ingin menjadikanku kekasihmu?"


"Anggap saja begitu. Jadi apakah kamu mau?"


Mehru menatap Galeo dengan tatapan yang tidak bisa Galeo artikan.


"Apa yang kamu sukai dariku?"


"Apa yang aku sukai?


Galeo kembali terdiam. Laki-Laki itu terlihat kebingungan saat menjawab pertanyaan itu. Sejak dirinya tahu Seo pria dimasalalu kembali muncul, rasa ingin melindungi Mehru semakin besar.


"Aku tidak tahu apa yang kamu fikirkan saat ini, tapi sangat jelas mulut dan hatimu bertolak belakang."


"Tidak. Aku sungguh-sungguh menyukaimu,"


"Lalu apa jawabanmu?"


"Jawaban?" Galeo kembali seperti orang linglung.


"Ckk...kalau kamu masih bingung membedakannya, lebih baik simpan saja kata-katamu itu. Karena sejujurnya aku hanya menganggapmu teman sekaligus seorang kakak."


Mehru meninggalkan Galeo seorang diri diluar, gadis itu masuk kedalam gubuk dan menutup pintu dengan rapat.


Galeo berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Setelah yakin Galeo sudah pergi jauh, seseorang keluar dari persembunyiannya dari balik pohon besar.


*****


Pagi-Pagi sekali Mehru dan teman-temannya sudah berada diruangan belajar. Mereka menunggu murid yang lain untuk menimba ilmu berikutnya. Setelah semuanya berkumpul, Seo membagikan sebuah keranjang untuk satu orang satu keranjang.


"Kita akan menuju hutan untuk mengenali berbagai jenis tanaman obat. Tapi ingat, kalian harus berhati-hati. Perhatikan penunjuk jalan, karena hutan disini banyak terdapat tebing dan jurang. Hati-Hati juga terhadap hewan buas," ucap Tabib Cheng.


"Baik Suhu." Jawab Mereka serentak.


"Kalian berjumlah 30 orang akan dibagi menjadi 6 regu, jadi satu regu berjumlah 5 orang. Kalian harus bisa saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain, jangan berpisah dari regu kalian."


"Baik Suhu."


"Untuk perintah kali ini, aku ingin kalian mengambil berbagai jenis tumbuhan yang menurut kalian bisa dijadikan ramuan obat. Siapa regu yang paling banyak mendapatkan jenis obat, maka mereka akan mendapatkan hadiah."


Semua murid tampak antusias saat mendengar akan memperoleh hadiah dari Tabib Cheng. Biar adil, Tabib Cheng membagi regu dengan acak. Puna sangat senang karena dia satu regu bersama Mehru, itu artinya dia memiliki kesempatan untuk mendekati gadis itu.


Sementara Galeo terpaksa harus menerima, saat tahu dirinya satu regu bersama Seo dan Mesa. Padahal dia sangat berharap bisa satu regu dengan Mehru.


Para murid mulai mencari jejak keberadaan jenis tanaman obat di hutan. Mereka yang ingin mendapatkan hadiah, bahkan hampir mencabut tiap jenis tumbuhan yang berada dihutan.


"Mehru. Semua orang hampir memenuhi isi keranjang mereka, tapi kenapa kita baru mendapat tiga jenis saja?" tanya Puna.


"Puna. Tidak semua jenis tumbuhan bisa dijadikan ramuan obat, jangan karena hadiah lalu kita mencabut semua tumbuhan dihutan ini. Tumbuhan juga ingin hidup, kita harus mengambil seperlunya saja."

__ADS_1


"Lagi pula, ada juga jenis tumbuhan yang beracun. Jadi kita harus berhati-hati. Saat pulang nanti, jangan lupa cuci tanganmu."


"Bagaimana kalau kita kalah dari mereka?" tanya menggala.


"Kalah menang tidak jadi masalah. Yang penting jangan berbuat asal-asalan hanya karena ingin memenangkan perlombaan." Jawab Mehru.


"Mehru bukankah itu tanda bahaya yang ada di hutan?" tunjuk Puna.


Mehru melihat kearah pandang Puna, dan disana terdapat sebuah larangan agar mereka tidak pergi terlalu jauh lagi.


"Kalau begitu kita berbalik kearah lain, sangat berbahaya kalau kita memaksa masuk terlalu jauh," ujar Mehru.


"Tolonggggggggg,"


"Tolooonggggg,"


Telinga Mehru yang sensitif mendengar suara teriakkan dari arah lain.


"Apa kalian mendengar itu?" tanya Mehru.


"Mendengar apa?" tanya teman-teman Mehry serentak.


"Jangan menakuti kami Mehru, apa kamu mendengar suara binatang buas?" tanya Menggala.


"Bukan. Tapi ada suara seseorang yang minta pertolongan.


Disisi lain, Seo dan Galeo berusaha keras untuk menarik Mesa ketebing. Karena tidak berhati-hati dan tidak memperhatikan penunjuk jalan, Mesa terperosok dari tebing.


"Mesa bertahanlah! Seo kamu tahan dia, aku akan mencari akar pohon yang agak besar," ujar Galeo.


"Gale jangan terlalu lama, aku tidak akan kuat menahan Mesa sendirian."


Galeo berlari menerobos hutan, matanya bergerak kekiri kekanan mencari apalpun yang bisa membantu Mesa agar cepat diselamatkan .


"Seo, kumohon jangan lepaskan tanganku, aku sangat takut," Air mata Mesa sudah membasahi pipinya.


"Aku berjanji, kalau kamu tidak melepaskan tanganku, aku akan memberikan apapun yang kamu mau,"


Seo hanya diam saja, dia bisa merasakan kalau tangan Mesa sudah dingin dan sedikit bergetar karena ketakutan. Sekuat tenaga Seo bertahan, namun disaat dia akan menyerah, sebuah tangan lain membantu tangan mesa untuk menggenggam erat tangan itu.


Seo menoleh kearah asal tangan itu, dan mendapatkan senyum manis disana.


"Mehru," ucap Seo lirih.


"Tarik Mesa dalam hitungan ketiga. Teman-Teman, bantu pegangi kaki kami," ujar Mehru kepada teman-temannya yang lain.


"Kami takut Mehru, bagaimana kalau tubuh kami terseret juga," timpal teman yang lain.


"Tidak akan. Teman yang lain pegangi teman yang memegang kaki kami, sementara tangan yang lain berpegang dipohon."


"Jangan menyerah, kita pasti bisa menyelamatkan teman kita. Bukankah kita ingin menjadi tabib karena ingin menolong orang lain? mana mungkin kita membiarkan orang lain mati didepan kita,"


Dengan dorongan dari Mehru, mereka sepakat membantu Mesa bersama-sama. Mesa pun berhasil naik ketebing dengan selamat.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2