
Tinggapkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Cepatlah,"
Suami sang pasien terlihat panik, saat mereka baru tiba didepan kediamannya, hingga pria itu membuka pintu dengan tidak sabar.
"Seo kamu dan suami pasien tunggu diluar saja. Kami akan mencoba semampu kami," ucap Tabib Cheng.
"Tabib bagaimana ini, pasien sudah sangat lemas. kepala bayi sudah hampir didepan muara, tapi dia tidak mau mengejan lagi. Kepala bayinya juga terlihat maju dan mundur."
"Mesa, pergilah kedapur buatkan air teh untuk pasien, buat sedikit lebih manis."
"Baik Suhu." Mesa bergegas pergi kedapur.
"Ibu tolong bersemangatlah, ini putra pertama kalian bukan? jadi ibu jangan menyerah ya? pahanya jangan dijepit seperti ini, buka yang lebar!"
Entah keberanian dan pengetahuan darimana, Mehru memerintah dengan tiba-tiba. Bahkan sang dukun beranak ikut terdiam
"Ayo buka! dan kalau ada rasa dorongan dari bayinya, dorong saja sekuat tenaga."
"A-Aku sudah tidak kuat lagi, ini sangat sakit," ucap Pasien.
"Itu bagus. Artinya bayinya ingin segera dilahirkan. Jadi bersemangatlah bayinya sudah bersemangat ingin bertemu ibu dan ayahnya."
"Saat ada dorongan dari bayinya, mengejanlah yang kuat. kheiren, kamu dorong perut ibunya saat ada dorongan ingin melahirkan dari ibunya."
"Dorong?" Kheiren bingung.
"Seperti ini," Tabib Cheng memperagakan agar kheiren mengerti.
Tabib Cheng juga tidak tahu tindakan itu benar atau tidak, yang terpenting mereka sudah berusaha sekuat tenaga.
"Ah...sakit lagi," teriak pasien.
"Ayo dorong terus bu, sedikit lagi bayinya akan keluar. Ini pahanya jangan ditutup, buka yang lebar."
Pakkkk
Pakkk
Mehru tiba-tiba menepuk kedua paha kiri dan kanan Pasien, hingga spontan pasien itu membuka pahanya dengan lebar.
"Ya Terus, jangan berhenti sebelum sakitnya hilang."
Lagi-Lagi Mehru mengoceh, entah apa yang dia ucapkan itu, Mehrupun sama sekali tidak menyadarinya. Mesa datang dengan membawa secawan air teh hangat.
"Berikan minuman itu setelah sakitnya menghilang. Air itu bisa membuat ibunya kembali bertenaga," ujar Tabib Cheng.
"Ayo bu bersemangatlah, minum airnya. Sakitnya sudah hilang bukan? usahakan sekali ini dorong yang panjang ya? agar bayinya segera laihir."
"Iya." Wanita penuh keringat itu menyeruput teh yang dibuat oleh Mesa.
Sesaat kemudian dorongan itu kembali datang, ibu itu sekuat tenaga mengejan agar bayinya cepat keluar.
__ADS_1
Booollll
Kepala sang bayi tiba-tiba keluar, tapi tetap berhenti dimuara tempatnya akan lahir.
"Celaka tali pusarnya melilit leher sang bayi," sang dukun beranak berteriak.
Sementara itu wajah Mehru menjadi pusat pasi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan nyai?"
"Sini biar aku lihat, apa tali pusarnya bisa dilonggarkan?"
Sang dukun beranak mencoba melonggarkan tali pusar itu, tapi ternyata tidak bisa. Sang dukun juga ikut panik, karena dia belum pernah menghadapi situasi sepertti itu.
"Suhu, bagaimana ini?"
Tangan Mehru sudah bergetar, Sementara Tabib Cheng hanya terdiam. Mehru melihat kembali kearah posisi kepala bayi yang terjepit, Mehru berfikir bayinya akan merasakan sesak karena terjepit oleh tali pusar dan terjepit dipintu keluar sang bayi.
"Nyai, apa isi dari tali pusar ini?"
"Saat kita memotongnya maka akan mengeluarkan darah."
Mehru tiba-tiba mengambil benang yang akan digunakan untuk mengikat tali pusar.
"Nyai bantu aku potong talinya!"
Setelah terpotong, Mehru mengikat talinya ditalipusar yang sama, dengan jarak yang sedikit berjauhan.
"Potong lagi nyai!"
Dukun itu menuruti apa yang Mehru katakan. setelah dipotong, talipusar itu tiba-tiba bisa dilonggarkan. Dan kepala bayi bisa bergerak maju dan dilahirkan.
Namun ketegangan tidak sampai disitu saja, karena terlalu lama terjepit dan terlilit, sang bayi sama sekali tidak menangis.
"Ya Tuhan, bayinya tidak menangis, bagaimana ini?" perkataan dukun kembali membuat Mehru tegang.
"A-Ada apa lagi Nyai? apa ini belum selesai?"
"Bayinya tidak menangis, ini sangat berbahaya."
Mehru melihat keadaan bayi yang tampak sedikit biru, jadi bertambah panik.
"Mana kainnya?" tanya Mehru.
Dukun menyambar kain yang sudah disediakan pasien untuk kelahiran putranya. Mehru mengeringkan tubuh sang bayi, karena berfikir takut bayinya kedinginan karena kulitnya yang sedikt biru.
"Ayo menangislah tampan, kamu sudah sampai kedunia. Jadi sambutlah matahari esok pagi."
Mehru dengan panik menepuk-nepuk telapak kaki sang bayi sembari mengeringkannya.
"Suhu apa aku boleh membuat nafas buatan untuknya?"
"Lakukan apa saja semampu kita,"
Mehru kemudian meniup mulut sang bayi dan sesekali kembali menepuk kaki dan mengusap dada sang bayi.
__ADS_1
Eeeekkk
Bayi itu tiba-tiba sedikit merintih yang membuat Mehru mengeluarkan air mata harunya.
"Ap-Apa kalau merengek seperti ini sudah aman?" tanya Mehru.
"Aku tidak tahu, biasanya bayi yang kutolong akan menangis dengan nyaring." Jawab Sang dukun.
Mehru kembali menepuk-nepuk kaki sang bayi untuk memberi rangsangan
"Nyai, sebaiknya nyai urus sisanya, aku akan mengurus bayinya."
"Baiklah."
Mehru membawa bayi itu ketempat yang agak luas diruangan itu. Mehru juga mengganti kain bayi dengan yang baru, karena kain sebelumnya sudah terkena banyak cairan dan kotoran.
Tabib Cheng mendekati Mehru dan membantu gadis itu menangani sang bayi.
"Suhu, sepertinya ada cairan yang terus keluar dari mulut bayinya."
"Ada kemungkinan bayi terminum air ketubannya sendiri."
"Air ketuban? air apa itu?"
"Air ketuban itu air bawaan bayi saat dalam kandungan. Mungkin saat ketubannya pecah, dia terminum air ketubannya sendiri."
"Apa itu berbahaya?"
"Aku tidak tahu berbahaya atau tidak. Tapi kalau difikir-fikir air itu sejenis barang asing, tentu akan berbahaya kalau terminum."
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Seharusnya ada alat untuk menghisap cairan itu, agar pernafasan bayi ini bisa berjalan dengan lancar."
"Tapi kita tidak punya alat seperti itu? bagaimana ini? bayi ini masih saja merintih."
"Coba miringkan posisi bayi, siapa tahu akan keluar dengan sendirinya."
Mehru menuruti apa yang tabib Cheng katakan, Mehru juga masih mengusap-usap telapak kaki bayi untuk terus memberikan rangsangan. Entah keajaiban darimana, bayi itu tiba-tiba menagis dengan kencang, hingga membuat Mehru jadi ikut menangis terisak.
"Suhu kita berhasil," ucap Mehru sembari terisak.
Tabib Cheng menepuk pundak muridnya itu dengan tersenyum bangga.
"Aku tahu kamu bisa melakukannya Mehru, suhu sangat bangga padamu."
Mehru menyeka air matanya dan menatap kearah Dukun, Kheiren, Mesa dan juga Pasien yang juga tersenyum kearahnya.
"Tidak. Ini berkat perjuangan kita bersama, tidak perduli bagaimana hasilnya, kita harus saling tolong menolong kalau bertemu pasien dengan situasi seperti ini lagi."
"Apa yang kamu katakan Mehru? jangan lagi ada pasien seperti ini. Apa kamu tidak tahu? jantungku seakan ingin berhenti berdetak. Seluruh tubuhku gemetaran," ujar Kheiren.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Kheiren, sementara itu Seo dan suami pasien dipersilahkan masuk saat semuanya sudah selesai.
Mehru dan Seo saling bertatapan satu sama lain, Mehru menyunggingkan senyum kearah Seo dan dibalas senyuman yang sama oleh Seo.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏