
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Mehru dan Kheiren pergi kerumah Matuo setelah membawa berbagai macam racikan obat. Saat tiba disana mereka dikagetkan dengan banyaknya warga yang mengerumuni rumah Matuo tanpa ada yang berani masuk kedalam.
Mereka seolah jijik memasuki rumah itu dengan berbisik-bisik sesuka hati.
"Ada apa Paman?" tanya Mehru pada salah satu warga yang sejak tadi menutup hidung dan mulutnya.
"Matuo sedang sakit keras. Tapi sekarang giliran istrinya Rumbe yang tertular. Tidak ada satu wargapun yang berani mendekati mereka, apalagi membantu."
"Kalau begitu tolong bubarkan seluruh warga. Jangan dulu ada yang datang mengunjungi paman dan bibi Rumbe, sebelum mereka benar-benar sembuh."
"Kamu saja yang katakan pada mereka. Mereka pasti akan mendengarkan perkataanmu, karena kamu anak kepala suku."
Mehru tampak berfikir kembali, dan mengikuti saran yang diberikan salah satu warga tersebut.
Mehru membelah kerumunan, dan membuat warga sedikit mundur dari depan pintu rumah Matuo.
"Kalian dengarkan aku semuanya," Mehru berbicara dengan lantang.
"Paman dan Bibi Matuo saat ini sedang terkena penyakit langka. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, sehingga cara penularan penyakit ini begitu cepat. Untuk itu aku menyarankan kalian agar tidak dulu mendatangi rumah Paman dan Bibi Matuo untuk sementara waktu."
"Lalu siapa yang akan merawat mereka?" tanya salah seorang warga.
Mehru terdiam. Dia belum memikirkan masalah ini, karena diapun baru tahu tentang tertularnya istri Matuo.
"Apa sebaiknya kita mendatangkan tabib dari luar desa? didesa kita belum memiliki tabib atau seorang dukun. Kita harus memiliki orang-orang seperti itu untuk membantu warga kita apabila ada yang terkena penyakit," timpal seorang warga.
"Ya benar-benar." suara sumbang beberapa warga membuat suasana jadi hiruk pikuk.
"Aku akan membicarakan ini dengan kepala suku. Usul kalian kami terima, tapi sebelum itu kita harus mencari cara untuk menyembuhkan penyakit paman dan Bibi Matuo."
"Jadi kamu akan merawatnya sampai tabib itu datang?"
"Ya. Paling tidak aku harus melakukan itu untuk sementara waktu sampai kita mendapatkan tabib atau dukun yang kita butuhkan." Jawab Mehru.
"Lalu bagaimana kalau sampai kamu juga ikut tertular Mehru? apa yang bisa kami lakukan?"
Mehru terdiam kembali, jujur saja ada sedikit rasa takut yang bergelayut dihatinya karena menghadapi penyakit yang sama sekali belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Semoga itu tidak terjadi. Untuk berjaga-jaga, aku sarankan kalian harus menjaga kebersihan rumah kalian masing-masing. Perhatikan air yang kalian minum atau kalian masak. Kita masih belum tahu penyakit ini disebabkan oleh apa, jadi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga."
__ADS_1
Semua kepala warga tampak mengangguk setuju atas saran yang Mehru ucapkan.
"Sekarang kalian silahkan pulang kerumah kalian masing-masing. Kheiren, kamu tolong pulang kerumahku dulu. Katakan pada Baba, aku tidak akan pulang malam ini."
"Emm." Kheiren mengangguk dan pergi dengan kudanya.
Sementara itu para warga sudah berhasil Mehru bubarkan. Kemudian barulah Mehru memasuki rumah Matuo.
Kondisi Matuo dan Istrinya sangat memprihatinkan. Matuo tampak lemas, karena istrinya tidak mengurus dirinya hari ini
Sementara Rumbe yang baru terkena penyakit itu, tampak tubuhnya begitu panas tinggi dan menggigil.
Mehru merobek ujung kain pakaiannya dan mengikatnya untuk menutup mulut dan hidungnya. Itu dia lakukan untuk berjaga-jaga.
"Bibi. Minumlah yang banyak, aku akan membuatkan kalian makanan terlebih dahulu, setelah itu kalian bisa meminum obat racikanku."
"Berikan saja langsung obatnya mehru, bibi benar-benar tidak tahan dengan panas dan gatalnya."
"Tolong jangan menggaruknya bibi. Ada kemungkinan bibi tertular karena terkena cairan dari luka lepuh itu."
"Tapi ini benar-benar perih dan gatal."
"Bersabarlah. Aku sedang berusaha membuat paman dan bibi sembuh. Kita berjuang bersama ya?"
Mehru memberikan minum juga untuk Matuo, hingga bibir pria yang terlihat kering kerontang itu kembali sedikit lembab.
Mehru pergi menuju dapur tempat Rumbe memasak. Melihat keadaan dapur yang berantakan dan tidak terawat, Mehru mengerti bahwa Rumbe kurang menjaga kebersihan tempat tinggalnya. Mehru memutuskan membuat bubur jagung, karena hanya itu yang ada didapur Rumbe.
Setelah matang, Mehru meletakkan bubur hangat itu kedalam mangkuk. Sementara Kheiren baru saja tiba dengan membawa beberapa potong daging babi yang dikirim oleh ibu Saguni.
"Bibi, Paman, makanlah buburnya selagi hangat. Ini ada beberapa potong babi, kalian bisa menyantapnya bersama bubur."
"Terima kasih Mehru, kalian berdua gadis yang baik. Semoga yang menciptakan kita selalu menjaga kalian dengan baik."
Mehru dan Kheiren tersenyum dan membantu suami istri itu untuk menghabiskan makanannya. Setelah itu Mehru memberikan obat pada pasangan suami istri itu dan kemudian menyuruh mereka untuk kembali beristirahat.
"Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya pada paman dan bibi Matuo."
Kheiren dan Mehru duduk dikursi kayu yang ada didepan rumah Matuo.
"Aku tidak tahu. Untuk sementara kita hanya bisa merawat mereka seadanya. Apa kamu sudah memberitahu Baba tentang kondisi paman dan bibi Matuo?"
"Ya Baba akan mengirim orang untuk mencari tahu apa disebelah mempunyai tabib atau dukun yang handal. Mereka akan didatangkan ke desa kita, atau bahkan disuruh tinggal selamanya disini."
__ADS_1
"Itu bagus. Sepertinya desa kita memang membutuhkan seorang ahli penyembuh penyakit yang handal."
"Juga butuh dukun tentunya. Ada yang beranggapan kalau penyakit aneh ini akibat terkena ilmu sihir."
"Ilmu sihir? apa itu mungkin? keuntungan apa yang bisa diperoleh penyihir itu dari paman dan bibi Rumbe. Mereka tidak memiliki apapun kecuali gubuk reot ini."
"Benar juga." ujar Kheiren.
"Daripada memikirkan hal yang belum tentu benar, lebih baik meracik obat alami saja. Itu jauh lebih nyata hasilnya daripada mengadalkan ilmu sihir."
"Emm." Kheiren mengangguk.
"Eh? itu apa? kenapa mereka datang bergerombol begitu?" tanya Mehru saat melihat segerombolan orang berjalan kaki dan sepertinya sudah sangat kelelahan.
Dibarisan depan ada dua orang pemuda tampan, yang menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang dibelakang mereka. Sementara dibarisan lain terdapat barisan para gadis, orang tua dan juga anak-anak.
Mehru dan Kheiren memblokir jalan rombongan itu dengan sedikit mengajaknya berbincang.
Kedua pemuda itu menatap kedua gadis yang berada didepan mereka dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Maaf ada keperluan apa kalian datang kedesa kami?" tanya Kheiren.
"Kami ingin bertemu dengan kepala suku desa ini. Apa kalian bisa menunjukkan rumahnya kepada kami?" tanya Mawe
"Maaf kalau boleh tahu ada kepentingan apa kalian mencari rumah kepala suku?" tanya Kheiren.
"Kami adalah para pengungsi dari desa sebelah."
"Jadi kalian para korban yang terkena bencana gempa itu?" tanya Mehru.
"Ya. Apa boleh kami bertemu kepala suku desa ini? kami ingin meminta bantuannya." tanya Galeo.
"Tentu. Kalian jalan saja lurus kedepan, rumah paling ujung sebelah kiri adalah rumah kepala suku." Jawab Mehru.
"Terima kasih. Eee...."
"Mehru. Namaku Mehru, dan ini temanku Kheiren." Jawab Mehru.
"Terima kasih Mehru dan Kheiren. Perkenalkan namaku Galeo, dan ini temanku Mawe. Kalau begitu kami lanjutkan dulu perjalanan kami,"
"Silahkan," ujar Mehru.
Mehru menatap kepergian rombongan itu sampai tak terlihat lagi punggung orang-orang itu. Mehru merasa sedikit khawatir, mengingat didesa mereka baru saja muncul penyakit langka. Mehru tidak ingin para pendatang itu merasa resah dan takut, mengingat mereka baru saja tertimpa musibah yang mengerikan.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏