
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Hosh
Hosh
Hosh
Regent menyudahi sesi panasnya saat dirinya mengerang panjang dan ambruk diatas tubuh wanita yang dicintainya.
Tubuh Sarlince diam kaku, tak ada suara nafas memburu seperti percintaan yang sering dia lakukan dengan Regent sebelumnya, hanya air matanya yang bicara dan itu baru membuat Regent tersadar dari kesalahannya.
Regent menarik kepemilikkannya perlahan dari Sarlince dan menatap wanita yang matanya sudah bengkak karena menangis.
Cup
Regent mencium kening Sarlince, dan menyatukan keningnya disana.
"Sayang maafkan aku..."
Sarlince mendorong tubuh Regent, perlahan dirinya beranjak dari tempat tidur.
"Sssttttttt"
Sarlince merasakan sakit dan perih diselangkangannya akibat Regent memperlakukan dirinya sangat kasar.
"Sayang. A-Aku...."
Sarlince memberikan kode dengan tangannya agar Regent jangan lagi meneruskan kata-katanya. Saat ini tubuh dan hatinya merasakan sakit yang luar biasa.
Sarlince bergegas mengenakan pakaiannya dan menyambar tasnya.
"Sayang. Kamu mau kemana? aku benar-benar minta maaf padamu,"
Regent memeluk Sarlince dari belakang, dirinya benar-benar merasa bersalah saat ini. Sarlince perlahan melepaskan tangan Regent dari pinggangnya, dan menyeka air matanya yang senantiasa meleleh.
"Aku pikir kamu memang mengenalku ditiap kehidupan, meskipun kita sudah melewati 7 kehidupan bersama-sama. Ternyata aku salah, mungkin kamu tidak benar-benar mencintaiku melainkan obsesi semata. Cinta yang sesungguhnya tidak saling menyakiti bukan? sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini, mungkin ditiap kehidupan kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama."
"Apa yang kamu bicarakan? aku tidak mau dipisahkan denganmu, aku benar-benar minta maaf. Ku akui aku seperti binatang hari ini, itu karena aku tidak bisa mengendalikan rasa cemburuku. Aku takut kehilanganmu sayang,"
Regent kembali memeluk Sarlince dengan erat, dan Sarlince kembali melepaskan diri dari pelukkan pria itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tidak usah bertemu dulu, beri waktu untuk kita sama-sama berpikir. Setelah kita sama-sama yakin, barulah kita bicara lagi "
"Sampai kapan kamu meminta waktu?" tanya Regent.
"Aku tidak tahu. Yang pasti aku mau mengurus perceraianku dulu,"
"Baiklah kalau itu kemauanmu, tapi saat aku merindukanmu bagaimana?"
"Jangan menemuiku tanpa persetujuanku. Sekali kamu melakukannya, maka bertambah 1 bulan kita tidak bisa bertemu."
"Sayang. Itu terlalu kejam,"
"Lakukan saja apa mauku.Itupun kalau kamu memang berniat memperbaiki kesalahanmu "
"Bagaimana dengan video call."
"Tidak ada komunikasi apapun."
"Sayang,"
Sarlince melangkah pergi dengan sedikit menahan sakit disekujur tubuhnya. Regent benar-benar merasa frustasi dan membuat barang diruangannya kembali berantakan.
"Dasar Regent bodoh. Apa kamu tidak bisa mengendalikan dirimu itu? kamu sudah membuatnya menangis dan kesakitan seperti itu. Ini semua gara-gara pria bajingan itu, rasanya ingin sekali kuremukkan wajahnya itu."
Setelah cukup tenang, Sarlince segera menginjak gas mobilnya dan meluncur dengan kecepatan sedang.
Ditempat berbeda saat ini Alex begitu murka. Saat ini dia sedang berada dikediaman Sarlince dan sedang mengamuk saat mengetahui Sarlince sudah menggugat cerai Qiel.
"Bagaimana wanita itu begitu angkuh meminta cerai darimu, dan darimana dia tahu tujuan kita."
"Apa sebaiknya kita lenyapkan saja dia, sebelum pengandilan benar-benar memutuskan kami bercerai secara resmi?" tanya Qiel.
"Itu sangat beresiko, mengingat perusahaan kalian baru saja mengalami failed. Orang-Orang pasti akan berfikir, dan mengarah pada kalian jika sampai pembunuhan itu terkuak," ujar Sarah.
"Tante Sarahmu benar. Kalau ingin melenyapkan dia harus ada orang lain yang menjadi perantara ketiga." timpal Alex.
"Dan itu tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini, sebaiknya turuti saja permintaan Sarlince untuk bercerai. setelah itu kita akan menyusun rencana yang matang untuk merebut perusahaan itu dari tangannya," ujar Sarah.
"Sebenarnya waktu itu ada orang asing menemuiku dikantor," ujar Qiel.
"Siapa?"
"Namanya Marcus. Aku tidak tahu dia berasal dari perusahaan mana, tapi dia bilang seseorang dibelakang dia menginginkan Sarlince. Dia menjanjikan akan membantuku mengambil alih perusahaan Hadinata, asalkan aku mau menceraikan Sarlince dan membantunya menyerahkan wanita itu."
__ADS_1
"Benarkah? kalau begitu kenapa tidak kita manfaatkan saja tangan orang itu untuk menyingkirkan Sarlince?" tanya Sarah.
"Tante Sarahmu benar. Sekarang tidak perduli siapa sekutu kita, jika memang menguntungkan kenapa tidak? sebaiknya kamu hubungi orang itu."
"Baik Pa." Jawab Qiel.
Tap
Tap
Tap
Sarlince yang baru tiba dirumahnya, tampak berjalan lesu saat menaiki tangga. Bahkan kehadiran Alex, Qiel, dan Sarah sama sekali tidak dia gubris.
"Hah.. kenapa bajingan itu belum membereskan semua pakaiannya?" ujar Sarlince saat melihat pakaian Qiel masih lengkap dilemari.
Sarlince menurunkan sebuah koper besar, dan mulai memasukkan semua pakaian Qiel kedalam koper tanpa ada yang tersisa sedikitpun. Setelah selesai, wanita itu segera menaruhnya didepan pintu kamarnya.
"Sialan. Dia begitu tidak sabar ingin mengusirku dari sini," gerutu Qiel saat melihat sebuah koper besar didepan pintu.
"Kamu lihat saja, tidak lama lagi kamu akan aku buat mengemis memohon agar kamu minta kembali padaku," ucap Qiel lirih.
Pria itu segera menyeret koper besar itu turun kebawah.
"Sebaiknya kamu bereskan pakaianmu, tidak perlu lagi kamu tinggal disini. Lambat laun Sarlince pasti akan mengusirmu juga dari sini," ujar Alex.
"Lalu aku tinggal dimana?"
"Kita akan menyewa rumah sederhana untuk sementara waktu. Rumahku sebentar lagi pasti akan disita oleh pihak bank untuk menutupi semua hutang-hutangku. Kamu tidak masalahkan hidup sederhana dulu?"
"Tidak masalah. Aku masih ada perhiasan sedikit, kita bisa menjualnya untuk kebutuhan sehari-hari sampai kita berhasil mengambil alih perusahaan Hadinata."
"Terima kasih atas pengertianmu sayang, aku bahagia bisa bertemu wanita sebaik kamu."
"Kalau begitu bantu aku membereskan semua barang-barangku,"
"Emm." Alex mengangguk.
Alex dan Sarah kemudian pergi naik keatas untuk membereskan semua barang-barang Sarah yang berharga. Setelah itu mereka bergegas pergi dari rumah itu.
Sarlince memantau kepergian tiga orang itu dari ponselnya, dia tersenyum sinis menatap layar ponselnya itu.
"Apapun rencana kalian untukku kedepannya, aku pastikan kalian hanya akan menemui sebuah kegagalan besar," ujar Sarlince lirih.
__ADS_1
Sarlince mematikan ponsel dan pergi beristirahat karena seluruh tubuhnya masih merasakan sakit yang luar biasa. Sementara ditempat berbeda, Vino tengah sibuk membujuk Regent agar berhenti meminum alkohol yang sudah dia habiskan tidak terhitung lagi jumlahnya. Pria itu sesekali berteriak, meraung, bahkan menangisi semua kebodohannya. Vino sendiri sampai kewalahan untuk mengatasi Regent yang tampak begitu terpuruk dan frustasi berat.