
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Setelah selesai mengganjal perut, Mehru, Galeo, Mawe, dan Kheiren kembali melanjutkan perjalanan. Mereka memacu kuda dengan kecepatan sedang, agar perjalanan mereka lebih cepat sampai.
"Mehru, apa kalian ingin bertukar tempat saja? sepertinya kamu sudah kelelahan dan mengantuk," ucap Galeo.
"Bertukar tempat seperti apa?"
"Biarkan kamu berkuda bersamaku, sementara Kheiren bersama Mawe. Jadi kamu bisa tertidur diatas kuda."
"Tidur diatas kuda?"
"Aku akan menjagamu agar tidak terjatuh."
"Lakukan saja Mehru, suhu tubuhmu sepertinya sedikit panas. Mungkin tubuhmu sedang dalam keadaan tidak sehat."
"Emm. Ya, aku merasakan sedikit menggigil,"
"Mungkin karena kamu terlalu lelah akhir-akhir ini,"
Mehru menarik kekang kudanya, sehingga kudanya mulai melambat dan kemudian berhenti berlari.
Mehru akhirnya memutuskan satu kuda bersama Galeo, sementara Kheiren satu kuda dengan Mawe.
"Kamu sakit? tubuhmu agak sedikit panas," ujar Galeo saat merasakan sedikit panas, ketika kulitnya bersentuhan dengan Mehru.
"Ya. Aku merasakan kepalaku sedikit sakit dan tubuhku rasanya kedinginan."
"Apa kamu mau kita beristirahat dulu?"
"Tidak. Kita lanjutkan saja perjalanannya, jangan terlalu banyak membuang waktu."
"Tapi...."
"Aku akan baik-baik saja. Aku akan bilang, kalau memang aku sudah tidak sanggup lagi."
"Baiklah."
Galeo kembali memacu kudanya, baru saja menempuh perjalanan, Mehru tampak tertidur bersandar didada Galeo. Dari sudut pandangnya, Galeo bisa melihat gundukan indah milik Mehru, sehingga konsentrasi pemuda itu sedikit terpecah. Terlebih aroma tubuh Mehru yang khas, membuat perasaan Galeo semakin tidak menentu.
Meski tertiup angin, tubuh Mehru tampak berkeringat, wajah gadis itu juga sedikit pucat, ditambah tubuhnya juga menggigil.
"Berhenti!"
Galeo memberikan isyarat dengan tangannya dengan sedikit berteriak.
"Ada apa?" tanya Mawe sembari memelankan laju kudanya.
"Kita harus beristirahat. Sepertinya tubuh Mehru benar-benar sakit."
Mendengar itu Kheiren bergegas turun dari kuda, untuk memeriksa keadaan sahabatnya itu.
"Astaga...tubuh Mehru panas sekali, wajahnya jg pucat, lihatlah tubuhnya juga sedikit bergetar."
__ADS_1
"Mawe, bantu aku menurunkan Mehru, sepertinya dia bukan lagi tertidur. Mehru sudah tidak sadarkan diri."
Bukan tanpa alasan Galeo mengambil kesimpulan itu, Mehru bahkan tidak terbangun padahal suara perbincangan mereka cukup keras.
"Mehru, kamu jangan menakutiku. Bangunlah!" Kheiren menepuk pipi Mehru perlahan.
Galeo mengambil satu lembar daun talas dan kemudian membasahinya dengan air, kemudian menempelkannya pada dahi Mehru.
"Berikan dia air minum," ujar Galeo.
Kheiren meraih kendi yang Galeo sodorkan dan perlahan memberikan air itu pada Mehru.
"Matahari sudah mencapai puncak kepala kita, sementara bekal kita sudah habis pagi tadi. Kheiren, tunggulah disini bersama Mehru, aku dan Mawe akan berburu sejenak."
"Emm." Kheiren mengangguk.
Galeo dan Mawe pergi memasuki hutan dengan membawa busur dan panah milik Kheiren dan Mehru. Hutan yang jarang terjamah manusia itu, ternyata mempunyai kekayaan didalamnya. Selain memiliki banyak hewan buruan, mereka juga mendapatkan banyak buah liar yang bisa mereka bawa untuk meneruskan perjalanan.
Setelah berburu sekian lama, akhirnya Galeo dan Mawe berhasil membawa beberapa ekor ayam hutan dan dua ekor kelinci. Galeo membersihkan hewan buruan itu sambil sesekali melihat kearah Mehru yang tampak lemah.
Aroma wangi dari daging asap, memaksa Mehru tersadar dari tidur panjangnya. Gadis itu mengerutkan dahinya, saat dirinya sadar bahwa dirinya sedang berada diatas tanah yang keras.
"Emmm...."
Mehru memegang kepalanya yang terasa berdenyut sakit.
"Mehru, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kheiren yang terlihat khawatir.
"Emm. Aku hanya merasakan sedikit sakit kepala, dan kedinginan."
"Kalian berburu?"
"Ya. Kita membutuhkan itu karena bekal kita sudah habis."
"Maaf sudah menyusahkan kalian,"
"Apa yang kamu katakan. Tubuh merasakan sakit itu sangat wajar. Terlebih tubuhmu sudah kelelahan karena terlalu banyak berkerja."
"Terima kasih kalian sudah menjagaku dengan baik."
"Tidak masalah. Setelah kamu sembuh, kamu bisa mengganti pengorbanan kami dengan menangkap seekor babi yang gemuk." Jawab Mawe.
Mehru tersenyum mendengar gurauan Mawe.
"Kheiren, ambilkan perbekalanku. Kain yang berwarna hitam."
Kheiren beranjak dari duduknya dan mengambil buntalan kain berwarna hitam dari atas pelana kuda.
Mehru membuka kain itu yang ternyata menyimpan berbagai macam jenis ramuan obat. Tanpa ragu Mehru menelan ramuan itu, dia tidak ingin terlalu lama menyusahkan orang lain.
Kemudian mereka menyantap hasil buruan bersama-sama, sementara sisanya mereka bawa untuk bekal.
"Tidurlah lagi, biar tubuhmu cepat pulih." ucap Galeo saat mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Apa kamu tidak keberatan tubuhku bersandar ditubuhmu?"
__ADS_1
"Tidak. Aku ingin kamu segera sembuh,"
"Emm." Mehru mengangguk.
Mehru kembali menyandarkan tubuh dan kepalanya diatas dada Galeo. Bahkan ini terlampau rapat sehingga Mehru sedikit merasakan hangat ditubuhnya yang kedinginan.
"Tubuhnya kembali berkeringat, tapi wajahnya tidak lagi pucat seperti tadi. Sepertinya ramuan yang dia minum sudah bereaksi dengan cepat," galeo mengulas senyumnya.
Galeo melingkarkan satu tangannya untuk menopang tubuh Mehru yang tampak sangat terlelap. Bahkan posisi duduk mereka terlampau intim untuk dikatakan hanya sekedar berteman. Jangan ditanya bagaimana jantung Galeo tiap kali bersentuhan dengan Mehru, ditambah pemandangan dari atas yang terpampang indah membuat sesuatu dibawah sana sudah menegang sempurna.
"Aku merasa galeo menyukai Mehru," ujar Kheiren.
"Tidak masalah bukan? apa Mehru memiliki seorang kekasih?" tanya Mawe.
"Tidak. Bahkan Mehru belum pernah memikirkan satu orang priapun dalam hidupnya."
"Itu bagus. Jadi Galeo bisa masuk kedalam hati Mehru,"
"Kamu sendiri sudah punya kekasih?" tanya Kheiren.
"Belum. Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi kekasihku?" tanya Mawe asal.
Mendengar itu Kheiren jadi tersipu. Perkataan Mawe yang tiba-tiba dan diluar dugaan, membuat dia jadi salah tingkah.
"Melihat dari rona wajahmu, sepertinya kamu mau."
"Kamu bicara apa? kamu bahkan tidak melihat wajahku sama sekali, darimana kamu tahu kalau wajahku merona?"
"Aku bisa melihatmu dari atas sini," ujar Mawe.
Kheiren mendongakkan kepalanya, dan mata keduanya saling bertemu.
"Jadi apa jawabanmu? apa kamu mau jadi kekasihku?"
"Apa kamu mengatakan itu karena benar-benar menyukaiku? atau kamu asal bicara saja?"
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin punya kekasih saat ini,"
"Itu namanya asal-asalan." Bibir Kheiren cemberut.
"Meskipun asal-asalan, apa salahnya kita mencoba? siapa tahu akan cocok bukan?"
"Terserah saja."
"Terserah apanya?"
"Terserah kalau kamu mau menganggapku kekasihmu."
"Baiklah. Kekasih bolehkan memeluk kekasihnya? seperti mereka itu?" tunjuk Mawe kearah Galeo dan Mehru.
Kheiren diam saja saat tangan kekar milik Mawe sudah melingkar dipinggangnya. Jantung Kheiren berdegup dengan kencang, saat merasakan sentuhan intim yang diberikan Mawe.
Mawe tersenyum tipis, saat melihat Kheiren yang tengah dilanda kegugupan. Pria jahil itu semakin merapatkan tubuhnya dan mengeratkan pelukkannya yang membuat tubuh Kheiren semakin kaku.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1