
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Pakuo mendekati Dean dan memberikan satu pukulan keras diwajah pria itu.
"Apa kamu sudah puas sekarang? apa kamu sudah puas membunuh ayahmu sendiri dan seluruh kaummu itu?"
Air mata Dean bertambah deras, bahkan isak tangis pria itu melebihi seorang wanita yang sedang teraniaya.
"Aku akan membunuhmu agar kamu tidak bisa mempengaruhi putriku," hardik Pakuo.
Pakuo melangkah maju karena ingin memukuli Dean, tapi langkahnya terhenti saat Siren menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi pemuda itu.
"Jangan sakiti dia Baba," ucap Siren.
Pakuo tertegun. Putrinya yang terkenal dingin dan tidak pernah mengeluarkan ekspresi apapun mendadak berubah dalam sekejap. Gadis yang sama sekali tidak mengenal perasaan itu, mendadak bisa perduli dengan orang lain terutama dengan lawan jenisnya.
"Kenapa kamu melindunginya?"
"Karena dia tidak tahu apa yang dia lakukan sudah merugikan orang lain dan dirinya sendiri."
"Karena dia itu anak bodoh."
"Apa kalau aku yang melakukan hal yang sama Baba akan mengatakan aku bodoh juga?"
"Tapi Baba yakin kamu tidak akan melakukan hal itu."
"Aku tidak tahu. Yang pasti saat ini kita harus melindungi Dean dan Aru."
Lagi-Lagi jawaban Siren membuat Pakuo termangu. Gadis yang sangat irit bicara itu mendadak begitu posesif saat ingin melindungi seseorang yang bahkan belum genap sehari dia temui secara tatap muka.
Pakuo pergi tanpa mengucapkan kata satu patahpun. Karena dia tidak mungkin mengusir Dean dan Aru dari hutan terlarang.
"Siren. Kenapa kamu membelaku, sementara kamu jadi mengecewakan Ayahmu."
"Aku melakukannya karena aku ingin. Tidak ada hubungannya dengan kalian."
"Benarkah?" tanya Dean sembari menatap bola mata indah milik Siren.
"Apa kalian ingin tetap berada disini?" tanya Siren mengalihkan pembicaraan.
Dean menoleh kearah Aru yang masih menatap hutan peri dengan air mata yang mengalir dipipinya.
Brukkkkk
Dean menjatuhkan dirinya didepan Aru. Dengan tubuh bergetar dia memegang kedua kaki sahabatnya itu.
"Aru. Aku memang tidak bisa mengubah apapun yang telah terjadi. Aku memang tidak bisa membuat ayah kita kembali. Aku memang bersalah dalam hal ini, karena aku mengorbankan banyak hal untuk sebuah keinginan."
__ADS_1
"Tapi Aru. Kita tidak bisa kembali kesana lagi bukan? yang harus kita lakukan saat ini agar bisa bertahan hidup. Aku minta maaf padamu untuk semua yang telah terjadi. Maafkan aku hikz...."
"Aku hanya tidak menyangka kamu sekejam itu. Bukan hanya pada kaum manusia campuran, tapi padaku dan pada ayah juga. Andai kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri, apa kamu akan sanggup melihat saat tubuh ayah dicabik-cabik oleh mahluk itu?"
"Dean. Aku melihat sendiri saat mahluk menyeramkan itu mencabut satu persatu nyawa manusia campuran dan menawan roh mereka."
"Ditawan?"
"Ya ayah bilang mereka semua yang mati pasti akan ditawan oleh para iblis dan akan dijadikan budak abadi.
"Itu artinya kita masih bisa bertemu dengan ayah bukan?"
"Tentu saja bisa. Tapi untuk itu bisakah kamu berkorban untuk ayah juga?"
"Apa maksudmu?"
"Keluar dari hutan ini, agar mahkuk itu bisa mencabik tubuhmu dan mengurung dirimu ditempat yang sama dengan ayah. Apa kamu bisa?"
Dean terdiam Pria itu menatap kearah Siren yang masih berwajah datar.
"Mungkin ini akan terdengar sangat menyakitkan untukmu, tapi sesungguhnya aku merasakan sakit yang sama."
"Aru. Aku tidak mungkin mundur lagi setelah mengorbankan banyak hal. Aku memang bersalah, tapi aku sangat mencintai Siren,"
Aru menatap kearah Siren dengan tatapan penuh kebencian.
"Ayo ikut aku, hari mulai gelap. Binatang buas akan keluar sesaat lagi,"
Saat sampai dirumah Siren, Dean mengerti tidak mungkin bagi dirinya dan Aru bisa tinggal satu atap bersama gadis itu dan ayahnya. selain rumah itu terbilang kecil, Dean merasa tidak pantas harus tidur satu atap dengan gadis yang dia cintai itu.
"Kamu membawanya kemari?" tanya Pakuo sembari memanggang 4 ekor ayam hutan diatas bara api.
"Mereka tidak ada tempat berlindung lagi."
"Tidak ada tapi tidak harus tinggal satu atap dengan kita."
"Baba, biarkan aku dan Aru tinggal dibawah. Besok kami akan membangun rumah pohon kami sendiri."
"Memang seharusnya begitu. Ingat aku mengizinkanmu tinggal disekitar rumahku, bukan berarti aku sudah memaafkan semua kesalahanmu pada ayahmu dan kaummu itu. Andai kamu tahu bagaimana cara ayahmu melindungi kalian, tentu kamu tidak akan berfikir mengorbankan dia demi seorang wanita."
"Baba..."
Siren menghentikan ucapan Pakuo yang terbilang cukup keras dan meledak-ledak. Dapat Siren lihat wajah kesedihan di raut wajah Dean. Hanya karena dia seorang pria, jadi dia tidak bisa mengespresikan rasa sedih dan penyesalannya.
Siren meraih dua ekor ayam hutan yang tampak sudah matang. Gadis itu menyodorkan ayam itu kehadapan Dean dan Aru. siren juga mengambilkan dua pemuda itu air minum yang berada dalam tabung bambu.
Dean, Aru, Siren dan Pakuo makan dalam diam. Setelah selesai Pakuo naik ketas rumah lebih dulu.
"Hari sudah malam, untuk malam ini kalian bisa tidur disitu dulu. Besok kita akan membangun rumah untuk kalian."
__ADS_1
Siren menunjuk sebuah kayu lebar yang berasal dari kayu gelondongan yang dibuat menjadi sedikit tipis.
"Terima kasih," Ucap Dean.
"Emm." Siren mengangguk.
Siren naik keatas rumahnya dan menutup tirai rumah itu yang terbuat dari pelepah daun nipah.
Malam semakin larut, Dean mendengar dengkuran halus Aru, namun matanya sendiri tidak dapat terpejam. Diam-Diam pria itu menangis hingga tubuhnya bergetar. Bayangan masa kecil bersama ayahnya seperti menjadi kilas balik yang sangat menghantuinya.
"Ayah....hikzz..." Dean terisak.
Blammmm
Mata Siren terbuka saat mendengar suara isakan dari arah bawah rumahnya. Siren sedikit mengintip dari celah kayu yang dia tiduri. Dapat dia lihat dari remang kegelapan Dean berbaring sembari menangis. Siren mengelus dadanya, seakan gadis itu ikut merasakan kesedihan yang Dean rasakan saat ini.
Siren turun dari rumahnya, tanpa Dean sadari gadis itu sudah berada dibelakang punggungnya sembari mendengar gumaman bibirnya yang terus memanggil nama ayahnya
Tap
Siren mengelus puncak kepala Dean yang membuat pria itu terkejut dan menghapus air matanya dengan kasar.
"Si...."
Siren membungkam mulut Dean, karena takut Aru dan ayahnya terbangun.
Greppppp
Dean memeluk erat tubuh Siren, seolah mencari kekuatan pada gadis itu. Siren dengan nalurinya membalas pelukkan itu dengan perasaan yang sama. Tangan lembut gadis itu membelai lembut punggung pria itu, hingga isak tangis Dean perlahan mereda.
"Terima kasih," bisik Dean.
"Emm." Siren mengangguk.
"Tidurlah, besok kita harus bangun pagi agar bisa membangun rumah yang nyaman untukmu."
Siren melepaskan pelukkannya dan ingin beranjak pergi.
Tap
Dean mencengkram tangan Siren dan membuat gadis itu bersandar kesalah satu tiang rumah.
Cup
Dean menc**m dan melu**t b***r Siren untuk menyalurkan semua yang dia rasakan saat ini. Siren yang menikmati sentuhan itu mendekap erat tubuh pria itu saat Dean mulai mengeksplor sentuhannya diceruk leher gadis itu.
"Emmpptthh," Siren menggigit bibir bawahnya karena takut suaranya akan lolos begitu saja.
Dean tiba-tiba menghentikan aktifitas panas itu dan menatap Siren yang nafasnya mulai terengah. Dean berhenti bukan tidak ingin, tapi dia harus menahan diri karena waktu dan tempat mereka sangat tidak memungkinkan. Siren yang terlihat bingung kemudian bergegas naik keatas, dia ingin segera meredakan debaran jantungnya yang sedang kacau balau didalam sana.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏