
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Dean menumpukkan beberapa kayu kering berukuran besar dan selebihnya beberapa ranting kering untuk dibakar sebagai penghangat alami rumah mereka. Dean juga mencampurkan beberapa daun khusus kedalam api, yang mereka percayai bisa mengusir nyamuk dimalam hari.
"Ayah. Seperti apa isi hutan diseberang hutan kita ini?" tanya Dean.
Babilo menghentikan aktifitas tangannya yang sedang memilin cairan getah pohon, untuk dia jadikan satu kedalam mangkuk yang terbuat dari buah pohon maja.
"Apa kalian pergi kesana?" tanya Babilo.
"Tidak ayah." Kali ini Aru yang menjawab pertanyaan Babilo dengan cepat.
Aru tidak ingin betisnya menjadi sasaran rotan lagi. Karena dia bukan tipe orang yang tahan dengan rasa sakit berlebih, tidak seperti Dean.
Babilo menghela nafas panjang dan duduk menghampiri Dean dan Aru. Babilo menjatuhkan bokongnya di sebuah kayu gelondongan yang telah di potong-potong beberapa bagian agar bisa dijadikan tempat duduk bagi mereka.
Pukkkk
Babilo menepuk bahu Aru dengan sedikit menekan pundak anak remaja itu.
"Aru. Meskipun Ayah selalu bersikap kasar dan kejam pada kalian, tapi Ayah sangat menyayangi kalian berdua. Ayah tidak mau kehilangan kalian. Diluar sana ada banyak kekejaman yang akan kalian dapat kalau kalian melanggar semua aturan dari hutan ini."
"Tapi ayah tidak bisa berteka-teki seperti ini setiap saat dengan kami. Ucapan ayah itu sudah kami dengar sejak kami berusia 7 tahun, dan sekarang kami sudah berusia 14 tahun. Seharusnya ayah bisa menjelaskan lebih rinci, agar kami tidak selalu dibuat penasaran," timpal Dean.
"Sebenarnya seperti apa mahluk yang menghuni hutan larangan itu? dan kenapa pula disebut hutan terlarang?" sambung Dean.
"Sepertinya rasa ingin tahu kalian sudah mengakar ya? ayah memang tidak bisa menyembunyikan ini dari kalian terlalu lama. Ayah sudah tua, mungkin umur ayah tidak akan lama lagi."
"Ayah...." Dean dan Aru berkata bersamaan.
"Ayah jangan bicara begitu. Kami percaya, ayah pasti akan berumur panjang," ucap Aru.
Babilo membingkai senyum sembari menepuk-nepuk kepala Aru dengan pelan.
"Semua mahluk pasti akan merasakan yang namanya kematian, dan itu adalah hal pasti. Setelah itu akan muncul manusia-manusia yang baru lainnya."
__ADS_1
"Ayah tidak ingin kalian memasuki hutan itu bukan tanpa alasan, karena memang kita tidak dianjurkan oleh para leluhur kita untuk memasukinya."
"Tapi kenapa?" tanya Dean.
"Apa disana ada gergasi?" timpal Aru.
"Bahkan mahluk itu lebih menakutkan dari gergasi atau ogre."
"Lebih menakutkan dari gergasi atau ogre? bukankah tidak ada mahluk yang lebih besar dari itu?" tanya Aru dengan mata melebar.
"Mungkin mereka memang tidak sebesar gergasi atau ogre, tapi mereka memiliki kekuatan yang tak terlihat."
"Apa itu semacam ilmu sihir? bukankah bangsa peri juga memiliki ilmu itu? tapi mereka tidak sejahat itu kan?" tanya Dean.
"Bisa dibilang memang bertolak belakang. Mahluk itu menggunakan ilmu hitam atau kekuatan yang mendominan agar kita para mahluk lemah bisa tunduk padanya."
"Lalu apa hubungannya dengan hutan itu?" tanya Dean.
"Dean. Hutan peri sudah diberi perisai oleh bangsa peri, sebelum mereka tidak bisa lagi menampakkan wujud mereka pada manusia murni atau manusia campuran."
"Kenapa?"
"Apa yang terjadi kalau kita keluar dari perisai ini?"
"Kalian akan terlihat oleh mahluk itu. Dan mereka bebas melakukan apa saja pada kalian, termasuk membawa kalian kealam mereka untuk dijadikan budak abadi."
"Lalu bagaimana dengan hutan terlarang?" tanya Dean.
"Hutan itu bisa dibilang hutan kutukan. Dulu, karena melanggar aturan raja iblis, seorang dewi kegelapan melahirkan anak dari manusia campuran."
"Manusia campuran?"
"Ya. Dia bersatu dengan manusia campuran bukan manusia murni seperti Ayah. Manusia yang terlahir dari dari bangsa peri dan manusia murni."
"Saat itu Ayah, ayah Aru dan teman ayah itu berlari dari kejaran mahluk itu. Namun kami terpisah. Sehingga ayah memasuki hutan peri ini. Namun sayang, waktu itu ayah Aru tertangkap dan berhasil terbunuh. Dengan sisa keberanian yang ayah miliki, Ayah menggendong kalian berdua dan masuk kedalam hutan ini. Sayangnya kita harus membayar mahal, ibu kalian harus dihukum karena sudah melanggar aturan dunia peri dan membuat perjanjian agar kita bisa bertahan hidup dengan memberikan perisai terakhir."
"Lalu apa yang terjadi dengan teman ayah yang lainnya?"
__ADS_1
"Sebenarnya bukan hanya satu, tapi ada dua. Tapi mereka terjebak dihutan dari arah timur. Dan yang satunya lagi terjebak dihutan larangan itu."
"Be-benarkah? lalu kenapa kita tidak mengajak dia kesini saja? bukankah kasihan? apa dihutan itu ada manusia lainnya?" tanya Dean.
"Tidak. Disana hanya ada teman ayah dan putrinya. Teman ayah tidak bisa menyeberang kewilayah kita, sama seperti kita yang tidak bisa kesana. Itu dia lakukan karena ingin melindungi putrinya yang ingin diambil secara paksa oleh mahkuk itu."
"Kenapa?"
"Karena teman ayah bersatu dengan dewi kegelapan. Aturan dunia iblis lebih kejam dari dunia peri. Setelah 3 bulan dilahirkan, raja iblis mengutuk anak dewi kegelapan tidak bisa hidup didarat, sehingga anak itu tubuhnya setengah manusia dan setengah ikan."
"Ayah apakah itu benar? kenapa terdengar mengerikan sekali?" tanya Aru.
"Lalu?" Dean penasaran.
"Dengan tipu daya sihir, Dewi kegelapan berhasil kabur dan memberikan perisai terakhirnya untuk putri semata wayangnya agar lepas dari kutukan itu. Dewi kegelapan membawa putrinya agar bisa dibesarkan oleh ayahnya. Setelah memberi perisai pada hutan, dewi kegelapan tertangkap kembali dan disegel hingga saat ini."
"Apa itu berarti putrinya itu sudah menjadi manusia utuh?" tanya Dean.
"Ya. Tapi tetap saja mereka tidak bisa keluar dari perisai hutan larangan. Jika sampai melanggar, anak itu akan bisa terlihat oleh mahluk-mahkuk itu dan itu berlaku sama seperti kalian.
"Sulit sekali mencerna cerita ayah. Apa itu memang benar, atau hanya karangan Ayah saja. Tapi aku merasa hutan itu baik-baik saja, sama seperti hutan ini. Apa mungkin setelah puluhan atau ribuan tahun mahluk itu masih memperdulikan mahluk lain? apa didunia iblis tidak sesibuk dunia manusia? sehingga harus mengganggu manusia saja," batin Dean.
"Ayah. Jadi sampai kapan permusuhan kita dengan dunia iblis akan berakhir?" tanya Aru.
"Sampai kita mati." Jawab Babilo.
"Sampai mati?" ucap Aru dan Dean bersamaan.
"Ya."
"Sangat membosankan hidup seperti ini sampai mati. Lihat saja, aku akan mematahkan semua ilusi itu. Bukankah aku memiliki perisai dari ibu? jadi aku pasti akan baik-baik saja," batin Dean.
Dean meraba benda berwarna putih yang bertengger di lehernya. Perisai itu memang sudah ada sejak Dean mulai memasuki hutan peri dan sebelum ibunya diberi hukuman oleh bangsa peri.
Dean berbaring diatas kayu yang disusun rapi. Rumah diatas pohon itu memang menjadi rumah dari kaumnya saat ini. Namun bedanya penduduk dihutan peri sudah ramai, dan terdapat banyak rumah pohon disana. Dalam lamunannya yang menerawang diatas tumpukkan dedaunan, dia menjadi kefikiran akan sosok Siren. Bagaimana gadis itu bisa bertahan dan hanya beriteraksi dengan ayahnya saja. Dean bertekad akan menemui gadis itu bagaimanapun caranya.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1