SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
57. Bermain Api


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Sarlince kembali memasuki toilet untuk berbenah diri dan sekaligus membersihkan sisa-sisa percintaannya dengan Regent.


"Ckk...dasar Regent, membuatku pengen tidur saja kalau sudah begini," gerutu Sarlince.


Sementaraa ditempat berbeda, Celine mencari kesempatan agar bisa bicara dengan Qiel yang tampak tidak ada Sarlince disampingnya.


"Qiel. Aku perlu bicara denganmu,"


Qiel melihat orang-orang disekelilingnya saat melihat Celine menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan? aku kan sudah bilang, jangan mendekatiku saat acara ini masih berlangsung. Aku tidak ingin skandal kita terekspos," bisik Qiel penuh penekanan.


"Aku tidak perduli. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu,"


"Baiklah. Tunggu aku di kamar 009, aku akan menemuimu disana."


Qiel menyelipkan sebuah kartu segi empat yang biasa digunakan untuk membuka pintu kamar hotel.


Celine menyambar kartu itu dari tangan Qiel dan melenggang pergi dari sana. Tidak lama kemudia Qiel menyusul Celine untuk bicara dengan gadis itu. Tanpa mereka tahu, sejak tadi Inara sudah memperhatikan mereka dengan senyum sinis sembari menikmati anggur merah ditangannya.


"Dasar wanita bodoh. Aku sudah berbaik hati memberinya saran. Jadi jangan salahkan aku kalau kamu keluar dari sini dalam keadaan mata sembab," ujar Inara lirih.


Regent kembali mendekati Lucia yang terlihat masih berdiri didekat hidangan penutup.


"Maaf lama menunggu,"


"Tidak masalah. Mau minum?" tawar Lucia.


"Boleh,"


Lucia menyodorkan segelas minuman berwarna merah dan mereka minum bersama sembari menikmati disert.


Kriekkkk


Qiel mendorong pintu yang sedikit terbuka dan mendapati Celine yang sudah mondar mandir seperti setrikaan. Melihat kedatangan Qiel, gadis itu sudah tidak tahan untuk langsung menghardik pria yang ada didepannya itu.


" Apa kamu berselingkuh dibelakangku?"


"Apa yang kamu bicarakan? aku baru saja masuk, kamu sudah langsung menuduhku yang tidak-tidak."


"Katakan saja ya atau tidak? apa kamu sudah tidur dengan Inara? kamu tidak perlu menyangkalnya, aku sudah tahu semuanya."


Qiel menghembuskan nafas kasar. Dia tahu betul, hal ini suatu saat akan terjadi juga. Tapi dia tidak perduli, dia berfikir masih banyak gadis yang rela menaiki ranjangnya meskipun tanpa status.


"Ya. Aku memang sudah menidurinya. Maaf Celine, aku tidak suka kamu yang terlalu posesif padaku."


"Jadi itu benar?" tanya Celine dengan air mata yang sudah mengalir kepipinya.

__ADS_1


"Jadi hubungan kita yang berjalan 3 tahun tidak ada arti apapun bagimu? kamu mencampakanku setelah puas denganku begitu?"


"Aku tidak mencampakkanmu. Kita masih bisa berhubungan seperti biasa. Tapi aku tidak suka kamu mengekangku, terutama selalu mengusik urusan pribadiku. Ingat Celine, posisimu dan Inara sama, tapi bedanya Inara wanita yang santai. Dia tidak masalah jika harus berbagi ranjang dengan siapapun, padahal akulah orang yang sudah merenggut mahkotanya pertama kali."


"Qiel. Aku membencimu! biarpun aku begini, tapi tidak sekalipun aku pernah bermain api dibelakangmu."


"Jadi pada intinya kamu tidak ada niat lagi membuat kemajuan untuk hubungan kita kan? kamu menipuku setelah menikahi Sarlince, sekarang kamu juga begitu dengan wanita yang lainnya. Dengan kata lain, seumur hidupku kamu ingin menjadikanku wanita simpananmu bukan?"


"Terima kasih untuk semua waktu dan materi yang kamu berikan selama 3 tahun ini. Tapi aku juga punya harga diri. Aku ingin putus denganmu,"


Celine berlalu pergi dari hadapan Qiel. Hati Celine sangat terluka, terlebih Qiel sama sekali tidak ada niat untuk mengejarnya. Inara tertawa puas saat melihat Celine berlari keluar ruangan sembari menangis.


"Gadis bodoh. Sudah aku bilang jangan mengatakan apapun. Pria seperti Qiel mana perduli hanya kehilangan satu wanita saja,"


Sarlince terlihat kembali ketengah aula. Matanya melihat kesana kemari untuk mencari keberadaan Qiel. Namun yang terjadi malah matanya bersitatap dengan Regent. Pria itu dengan nakal mengedipkan mata genitnya sembari meneguk minuman merah ditangannya.


Sarlince segera mengalihkan pandanganya ketika tangan Qiel melingkar mesra dipinggang rampingnya. Mata Regent yang semula genit menatap Sarlince, kini berubah menjadi gelap gulita karena terbakar api cemburu. Sarlince menyunggingkan senyumnya dan membalas perbuatan Regent dengan mengedipkan satu matanya pada pria itu.


"Beraninya kamu mengolokku," batin Regent.


Pesta dansapun dimulai, ditengah-tengah aula Qiel dan Sarlince berdansa diiringi lagu romantis. Tangan kekar Qiel melingkar dipinggul istrinya itu, sementara kedua tangan Sarlince dipaksa bertengger dileher pria itu.


Sementara disudut lain, Regent dan Lucia juga ikut berdansa. Regent yang cemburu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Qiel pada Sarlince. Lucia yang salah faham hatinya bersorak sorai, dan menempelkan tubuhnya bertambah rapat kearah Regent.


"Ckk...kekanakkan. Apa dia ingin membuatku cemburu? rasa cemburuku sudah terkuras habis sejak ribuan tahun yang lalu," batin Sarlince.


Namun pada kenyataanya mulut, hati dan fikiran Sarlince sama sekali tidak sejalan. Terlebih Lucia seperti ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Dengan sengaja gadis itu menempelkan dadanya yang membusung kearah dada Regent.


"Apa ingin kuambilkan minuman untukmu?" tanya Qiel.


"Tidak usaha, aku bisa sendiri. Jam berapa acara ini akan berakhir?"


"Kenapa?"


"Aku lelah sekali, ingin segera pulang."


"Kita akan menginap disini malam ini,"


"Tidak. Aku merasa tidak nyaman tidur ditempat asing. Aku ingin tidur dikamarku sendiri."


"Tapi kalau kita semua pulang bagaimana dengan tamu yang diberi hak istimewa menginap? aku tidak mau mereka berfikir aku tidak menghargai mereka."


"Kamu menginap saja, jangan kecewakan mereka."


"Apa kamu tidak apa pulang sendiri?"


"Tidak masalah. Ini belum terlalu malam,"


"Baiklah hati-hati."


"emm." Sarlince mengangguk.

__ADS_1


Melihat Sarlince yang melenggang pergi, Regent mengerutkan dahinya. Pria itu menyudahi dansanya dengan Lucia dan diam-diam mengikuti Sarlince dari arah belakang.


Tap


Regent mencekal tangan Sarlince saat wanita itu melewati koridor yang agak sepi.


"Kamu mau kemana?" tanya Regent.


"Mau pulang. Aku sangat lelah." Jawab Sarlince.


"Biar kuantar,"


"Tidak usah. Bukankah kamu sedang berdansa dengan gadis itu?"


Regent menyunggingkan senyumnya, dia menarik kesimpulan Sarlince pergi karena terbakar api cemburu. Pria itu langsung menarik tangan Sarlince dan membawanya kedalam mobil pribadinya. Regent membuka pintu belakang dan masuk lebih dulu, kemudian membuat Sarlince duduk dipangkuannya.


"Apa kamu cemburu. Hem?" tanya Regent sembari membelai pipi mulus Sarlince.


"Ckk...siapa yang cemburu?"


"Benarkah? apa kamu tidak keberatan kalau aku memiliki hubungan dengan wanita lain?"


"Tidak."


"Sungguh?"


"Dia tadi membisikkan sesuatu ditelingaku,"


"Apa?"


"Dia bilang, dia menyukaiku."


"Lalu apa yang kamu katakan padanya?"


"Aku tidak mengatakan apapun. Aku cuma menaggapi ucapannya dengan senyuman."


"Senyumanmu itu menandakan iya."


"Tidak juga. Sudah kubilang, aku hanya tertarik denganmu saja."


"Re...aku mau pulang,"


"Akan kuantar."


"Baiklah,"


Regent akhirnya mengantar pulang Sarlince. Saat sudah tiba dikediaman Hadinata, Regent melihat Sarlince sedang tertidur pulas.


"Sepertinya dia benar-benar kelelahan," ucap Regent lirih.


Regent membuat sebuah panggilan untuk Umi. Dan langsung diangkat oleh gadis itu.

__ADS_1


Tinggakkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2