
Tinggalkan Like, koment Dan Vote teman-teman🤗🙏
*****
Sarlince merenggangkan tubuhnya, dengan memutar pinggulnya kekiri dan kekanan. Dapat ia dengar suara derak dari tulang-tulangnya akibat dilenturkannya sendi-sendi.
Sarlince melirik kearah jam dinding yang tertempel tepat disamping arah tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Sarlince bergegas membersihkan diri setelah itu dia pergi turun kebawah.
Sarlince membuka kulkas untuk mencari minuman segar, gadis itu juga membawa sebuah apel dan sebilah pisau kemudian duduk dimeja makan. Sarlince menuangkan jus jeruk ke gelas yang tingginya nyaris satu kilan jari gadis itu. Sarlince meminum jus itu hingga tandas, barulah kemudian dia mengupas buah apel ditangannya.
"Melihat dia yang seperti itu, kita akan sulit membedakan. Apa dia benar-benar gadis tidak normal?" bisik seorang pelayan pada temannya.
"Hussttt...kecilkan suaramu. Bagaimana kalau sampai dia mendengarmu?"
"Biarkan saja. Gadis bodoh itu tidak akan bisa melakukan apapun pada kita. Mengurus dirinya saja tidak becus."
Satu hal yang kedua pelayan itu tidak tahu. Tingkat ketajaman penglihatan dan pendengaran Sarlince diatas rata-rata manusia biasa pada umumnya. Dikehidupan sebelumnya, Sarlince bahkan bisa memanah buruannya dengan radius hampir mencapai 50 meter. Dan itu hanya mendengar dari suara gerakan kaki hewan buruan yang sedang berjalan normal.
Sarlince memotong-motong buah apel itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia memang sengaja membuat tuli telinganya, karena dia ingin menikmati buah itu dengan perasaan bahagia.
"Kamu lihat tingkahnya. Kalau aku punya anak seperti itu, sudah dari dulu kutenggelamkan dilaut. Orang tuanya benar-benar tidak beruntung melahirkan anak idiot seperti dia," sambung pelayan itu.
Sarlince tiba-tiba menghentikan gerakkan tangannya, saat ingin memasukkan potongan apel kedalam mulutnya.
"Bibik..."
"Ya?" Dua pelayan itu menyahut secara bersamaan.
"Bisakah kalian membantuku?" tanya Sarlince.
"Nona minta bantu apa?"
"Sebentar lagi temanku akan datang. Tolong buatkan brownies coklat leleh untuknya. Temanku sangat menyukainya. Dan jangan lupa buatkan juga jus mangga untuknya," ujar Sarlince.
"Baik Non." Jawab pelayan.
Kedua pelayan itu bergegas pergi kedapur sembari menggerutu.
"Gadis bodoh itu sangat menyebalkan. Lihat saja, setelah Tuan Muda berhasil menikahinya, kita yang akan memerintah dia," ujar Seorang pelayan.
"Iya. Aku sudah tidak sabar menunggu hari pembalasan itu."
Sarlince hanya menyunggingkan senyum dinginnya. Kedua pelayan itu sama sekali tidak tahu, Sarlince bukan manusia yang bisa disentuh dengan mudah.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah sepatu menuruni anak tangga, Sarlince tidak menoleh sedikitpun karena tahu itu langkah kaki milik Sarah. Sarlince meletakkan pisau begitu saja diatas meja, gadis itu kemudian beralih pada sebuah sofa panjang diruang tamu.
Sarah menuangkan jus markisa kesebuah gelas dan meminumnya hingga tandas. Sarah melirik kearah pelayan yang sepertinya sibuk mengerjakan sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang ingin kalian buat?" tanya Sarah.
"Eh? Nyonya? i-itu, Nona Aline minta dibuatkan brownies coklat. Dia bilang ada temannya yang akan datang." Jawab pelayan.
"Teman? siapa? apa pengacara igo?" tanya Sarah.
"Tidak tahu Nyonya. Nona Aline tidak mengatakan apa-apa selain itu." Jawab Pelayan.
Sarah mengerutkan dahinya. Pasalnya selama dia menjadi ibu tiri Sarlince, gadis itu tidak pernah membawa teman kerumah, karena memang dia tidak dibiarkan bergaul dengan sembarang orang. Sarah melangkah menghampiri Sarlince yang tengah duduk membaca sebuah buku dongeng.
"Dia datang," batin Sarlince
"Apa kamu tidak bosan membacanya? perasaan buku itu sudah ratusan kali kamu membacanya," ujar Sarah yang ikutan duduk disebelah Sarlince.
Sarah mengambil buku majalah yang baru terbit hari ini dari atas meja.
"Papa bilang, buku yang banyak mengandung pesan moral harus sering dibaca," ujar Sarlince.
"Kenapa? kamu bicara tentang moral seperti tahu saja tentang artinya," tanya Sarah.
"Tentu saja tahu. Papa mengajariku banyak hal. pesan moral adalah nilai kebaikkan dalam diri seseorang. Nah, masalahnya manusia kadang selalu lupa bahkan mengabaikan hal penting itu. selalu jahat dan berbuat tidak adil pada orang lain." Jawab Sarlince.
"Ckk...sok tahu kamu. Kamu belum layak bicara hal tinggi semacam itu, otakmu tidak akan sampai," tukas Sarah.
Sarlince hanya diam dan tidak menjawab lagi ucapan Sarah. Baginya sindiran halus atau kasar untuk manusia seperti sarah, tidak akan mempan dan hanya buang-buang energi.
"Pelayan bilang temanmu akan datang? siapa dia?" tanya Sarah.
"Teman bermain? apa dia seorang anak-anak?" tanya Sarah.
"Tidak. Paman bilang, gadis itu pembantu dirumahnya yang baru saja mencari pekerjaan dirumahnya." Jawab Sarlince.
"Aline. Aku adalah Nyonya dirumah ini. Apapun keinginanmu, harusnya kamu diskusikan dulu denganku. Mengapa kamu ingin memasukkan sembarang orang kedalam rumahku?" tanya Sarah.
"Rumah ibu? Aline jadi bingung, bukankah ini rumah Aline juga?" tanya Sarlince.
Sarah berdecak kesal. Dia selalu hilang kesabaran tiap kali bicara dengan Sarlince yang dianggapnya idiot tidak ketulungan.
"Ha...baikkah Aline, kali ini aku mengizinkanmu tapi tidak ada orang lain lagi yang boleh masuk sembarangan. Anggap saja itu hadiah pernikahanmu nanti," ujar Sarah.
"Setelah menikah, bahkan cahaya mataharipun kamu tidak akan bisa lagi merasakannya," batin Sarah.
"Jangan kamu mengira aku tidak tahu apa maksud dari ucapanmu itu wanita ular. Cepat atau lambat aku akan mengembalikkanmu ketempat asalmu. Yaitu dalam api neraka yang menyala-nyala," batin Sarlince.
"Terima kasih Ibu." Jawab Sarlince sembari memperlihatkan senyum palsunya.
Ting tong
Ting tong
"Sepertinya temanku sudah datang," ujar Sarlince sembari berdiri.
"Aku ingin lihat, seperti apa temannya itu? semoga saja bisa diajak kerjasama. Lagian tidak ada wanita yang tidak mencintai uang bukan?" batin Sarah.
__ADS_1
Ceklek
Sarlince membuka pintu dan menatap sosok gadis muda yang mengenakan seragam pelayan didepannya. Begitu juga dengan pelayan itu, dia menatap lekat kearah Sarlince karena melihat penampilan gadis itu yang tidak biasa.
"Masuklah!" ujar Sarlince.
Sarlince melangkah masuk lebih dulu, dan gadis pelayan itu mengekor dibelakangnya sembari menyeret sebuah koper.
"Ibu. Ini teman baru yang aku maksud," ujar Sarlince.
"Nyonya," sapa gadis itu.
"Siapa namamu? darimana asalmu?" tanya Sarah.
"Nama saya Umi Nyonya. Saya dari kampung Rawa jitu." Jawab Umi.
"Sepertinya tidak ada masalah. Dia gadis kampung biasa. pasti akan mudah menangani dia dimasa depan," batin Sarah.
"Jadi temanmu ini kamu tugaskan untuk apa?" tanya Sarah.
"Dia hanya menemaniku bermain dan membacakan aku dongeng sebelum tidur." Jawab Sarah.
Sarah memutar bola matanya dengan malas.
"Gadis idiot tetap saja gadis idiot, difikirannya cuma ada makanan dan mainan," batin Sarah.
"Ibu. Aline akan mengajaknya keatas dulu," ucap Sarlince.
"Emm." Jawab Sarah dengan malas sembari membaca majalah.
Sarlince pergi menuju dapur untuk membawa kue dan jus untuk camilan mereka dikamar. Saat tiba dikamar, Sarlince merubah ekspresi wajahnya dan menatap Umi penuh dengan intimidasi. Ditatap seperti itu, membuat Umi menatap balik wanita yang tampak berbeda beberapa menit yang lalu.
"Umi. Apa paman Igo sudah menceritakan apa tujuanmu dibawa kemari?" tanya Sarlince.
"Ya." Jawab Umi.
"Apa kamu sudah mendengar dari dia tentang penyamaranku?" tanya Sarlince.
"Sudah." Jawab Umi.
"Bagus. Umi, aku akan memberikanmu kepercayaan hanya 60% saat ini. Aku tidak tahu saat orang-orang itu menawarkanmu uang yang bayak, kamu akan tergoda atau tidak. Tapi Umi, apapun yang kamu lakukan dimasa depan, dan berniat mengkhianati kami, aku akan tahu dengan mudah," ujar Sarlince.
"Umi. Aku katakan sejujurnya padamu, kedepannya nanti tidak akan mudah bagimu. Kita akan menghadapi orang-orang berhati iblis. Yang akan melakukan apa saja demi tujuan mereka. Dan itu termasuk dengan membunuh, apa kamu siap untuk itu?" tanya Sarlince.
"Siap." Jawab Umi.
"Gadis ini sama sekali tidak bertanya. Pembawaannya sangat tenang. Bahkan dia tidak takut saat aku mengatakan tentang pembunuhan," batin Sarlince.
"Aku tidak percaya gadis ini bisa memerankan dua karakter orang yang berbeda dengan cukup baik. Dia gadis yang unik," batin Umi.
Sarlince dan Umi larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Jangan Lupa Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1