
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Siapa pria itu? apa itu saudaranya? tapi Aline kan anak tunggal?" ujar Regent lirih.
"Atau itu kekasihnya?" sambung Regent.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benak pria itu. Entah mengapa hatinya menjadi tidak tenang dan tidak senang.
Ting
Suara sebuah pesan masuk kedalam ponsel Sarlince.
"Suara siapa tadi? kenapa ada suara pria yang memanggilmu?" isi chat Regent.
"Bukan urusanmu," balas Sarlince.
Sarlince meneguk air dingin setelah dirinya selesai menyantap makanannya. Sarlince melihat Qiel baru turun dari kamar.
"Maaf aku sudah sangat lapar, jadi aku tadi makan duluan," ujar Sarlince.
"Tidak masalah. Kamu bisa langsung menungguku dikamar." Jawab Qiel.
"Baiklah," ucap Sarlince sembari melangkah pergi dari hadapan Qiel.
Sarlince menaiki anak tangga dan kembali kekamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Sarlince sedang berhias diri didepan cermin dengan lingerie hitam membalut tubuhnya. Malam ini penampilan wanita itu benar-benar menggoda, siapapun yang melihat dirinya rela mati agar bisa menyentuhnya.
Kriekkkk
Qiel masuk bersama Umi yang mengekor dibelakangnya.
"Apa kamu yang meninta dia membawakan wine untuk kita?" tanya Qiel dengan tatapan mata yang tidak lepas dari tubuh indah milik Sarlince.
"Ya. Aku ingin menikmati malam kita dengan cara yang berbeda." Jawab Sarlince.
"Letakkan wine itu disana!" ujar Qiel sembari mengarahkan jari telunjuknya kearah atas nakas.
Umi menuruti apa yang Qiel katakan dan kemudian keluar dari kamar itu.
Ting
Sebuah pesan masuk dari Umi. Sarlince dengan sigap meraih ponselnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengambil resiko ketahuan. Aku menaruh sebuah pil dibawah nampan disudut sebelah kanan,"
Secepat kilat Sarlince menghapus pesan itu karena Qiel tiba-tiba mendekat kearahnya.
"Aku harap tidak ada gangguan dari ponsel kita malam ini," ujar Qiel yang kemudian merebut ponsel itu dari tangan Sarlince dan meletakkannya diatas meja.
Pria itu memeluk pinggang Sarlince dengan posesif dari arah depan, dan bermaksud ingin segera menyerbu bibir wanita itu. Namun dengan sigap jari telunjuk Sarlince menghalangi bibir pria itu sembari menggelengkan kepalanya.
"Mari lakukan dengan benar, aku ingin membuatmu merasakan sensasi yang berbeda," bisik Sarlince dengan suara sensualnya.
Sarlince melepaskan diri dari pelukkan Qiel, dan berjalan menuju nakas tempat dimana sebotol wine dan dua gelas putih berada disana.
Sarlince menuangkan wine kedalam dua gelas putih, dan meraih sebuah pil dari bawah nampan dan memasukkannya kedalam salah satu gelas.
"Emmm obat yang bagus," batin Sarlince.
Sarlince menyunggingkan senyumnya saat melihat pil itu langsung larut kedalam segelas wine.
"Minumlah," ujar salince sembari menyodorkan segelas wine didepan pria itu.
"Kamu?"
"Tentu saja minum juga," Jawab Sarlince.
Sarlince meraih gelas yang lain dan meneguk tandas isinya. Kemudian Sarlince menuangkan wine kembali kedalam gelas tersebut yang membuat Qiel menyeringai.
Sarlince kemudan meraih gelas Qiel dan meletakkannya diatas nakas. Sarlince kemudian mendorong Qiel duduk disebuah sofa panjang dan langsung duduk dipangkuan pria itu. Tanpa aba-aba Sarlince menyiramkan wine itu ketubuh Qiel yang membuat mata pria itu terbelalak.
"Apa yang kau...."
Kata-Kata Qiel mendadak hilang saat Sarlince menarik tali baju piyama yang berbentuk kimono hingga tubuh bagian depan pria itu terpampang nyata. Sarlince langsung membenamkan wajahnya dipuncak dada pria itu yang membuat mata Qiel terpejam.
"Oh Baby, aku suka gayamu," gumam Qiel.
Sarlince perlahan memberikan sentuhan di otot-otot pria itu yang membuat Qiel semakin menggila. Karena tidak sabar, Pria itu membawa tubuh Sarlince dan membaringkannya keatas ranjang.
"Sial, kapan obat itu akan bereaksi?" batin Sarlince
Qiel dengan tidak sabar membuka seluruh pakaiannya tanpa menyisakan helaian benang sedikitpun. Dengan kasar pria itu merobek lingerie yang Sarlince kenakan hingga memperlihatkan lekuk indah tubuh wanita itu.
"Tidak usah ditutupi Baby, sebentar lagi tubuh kita akan menyatu. Aku pastikan malam ini akan membuatmu selalu mengingat moment malam pertama kita," ujar Qiel.
Sungguh hanya rasa jijik yang Sarlince rasakan saat ini. Rasanya ingin sekali menendang tubuh pria yang sudah bertelanjang bulat ini dari atas ranjang.
Qiel perlahan menarik kedua tangan Sarlince yang senantiasa menyilang dikedua gundukan indah miliknya. Mata Qiel berkilat penuh ga***h saat melihat dua benda bulat besar dengan puncak merah jambu terpampang indah ingin segera di daki.
__ADS_1
Namun saat pria itu berniat ingin membenamkan wajahnya dipuncak dada Sarlince, tiba-tiba pria itu tidak sadarkan diri. Beruntung Sarlince berhasil menangkap wajah itu dan segera menggulingkan tubuh kekar itu kesamping.
"Huffff....hampir saja. Sepertinya aku harus membuat ramuanku sendiri. Dikehidupan sebelumnya aku pernah menjadi seorang profesor yang mampu membuat obat ampuh ciptaanku sendiri. Aku bahkan mampu membuat sebuah obat tidur dengan reaksi tercepat. Hanya membutuhkan waktu 5 detik, orang yang meminum obat itu langsung tertidur pulas," ucap Sarlince lirih.
Sarlince kemudian menjalankan rencana selanjutnya yang seolah-olah dirinya memang habis melakukan pertempuran panjang dengan pria itu.
*****
Matahari menyongsong melewati celah jendela. Qiel perlahan membuka matanya dan melihat langsung kearah sinar matahari yang telah benderang lewat pintu jendela. Qiel meraih ponselnya untuk melihat jam disana. Matanya terbelalak saat tahu waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Qiel menyibakkan Selimut yang menutupi tubuhnya dan mendapati dirinya tidak mengenakan apapaun. Sementara keadaan kamar sangat berantakan, bajunya dan baju Sarlince berserakan dilantai. Dan tiba-tiba matanya tertuju pada bercak darah yang ada diatas seprei.
Qiel mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum dia tertidur. Kilasan saat Sarlince mencumbu dirinya mendadak muncul.
"Apa semalam kami benar-benar melakukannya? kenapa aku sama sekali tidak mengingat kejadian selanjutnya? apa itu efek dari wine yang kami minum?" ujar Qiel lirih.
Qiel bergegas melangkah kekamar mandi, namun saat melewati depan cermin langkahnya terhenti karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Mata Qiel membulat, saat mendapati leher dan dadanya dipenuhi tanda kissmark.
"Apa Sarlince seganas itu saat diranjang? ckk...sial kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Tapi...."
Qiel menoleh kearah bercak darah itu kemudian membingkai senyum dibibirnya.
"Tidak perduli ingat atau tidak. Yang pasti aku sudah berhasil memasuki pertahanan Sarlince. Untuk selanjutnya dia pasti akan tergila-gila padaku dan selalu menginginkan aku agar menyentuh dirinya," ucap Qiel dengan senyum smirk.
Qiel segera bergagas mandi karena dia sudah sangat terlambat pergi kekantor. Sementara ditempat berbeda, Sarlince tidak bisa berhenti tertawa saat menceritakan keadaan sebenarnya pada Umi. Wanita itu sangat puas sudah memberikan harapan palsu pada Qiel.
"Kenapa datang terlambat?" tanya Inara.
"Ada urusan penting." Jawab Qiel.
"Apa urusan penting itu berhubungan dengan ini?" tanya Inara sembari menunjuk kearah tanda merah dileher Qiel.
Qiel menyunggingkan senyumnya sembari menarik tangan Inara hingga gadis itu jatuh dipangkuannya.
"Semalam aku berhasil menaklukkan istriku setelah sekian lama. Itu tidak jadi masalah buatmu, karena aku akan selalu memenuhi hasratmu meskipun dalam keadaan apapun. Aku ini seorang pria sejati, masih sanggup melayani 10 wanita dalam sehari," ujar Qiel sembari terkekeh.
"Dasar mesum!" ucap Inara.
"Apa kamu mau bukti?" tanya Qiel.
Qiel dengan nakal membuka bulatan plastik dikemeja Inara dan segera membenamkan wajahnya disana.
"Sayang...kamu...ke-na-pa...."
Kata-Kata Celine terhenti saat membuka pintu, pemandangan yang dia lihat membuat matanya memanas. Sementara Qiel dibuat gelagapan karena tertangkap basah oleh Celine. Namun tidak untuk Inara, Gadis itu tersungging penuh kemenangan dan mengancingkan kemejanya dengan santai kemudian pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏