
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Baba. Daging apa yang ingin baba santap hari ini?" tanya Siren.
"Apa saja. Kita akan berburu bersama hari ini." Jawab Pakuo.
"Tidak. Baba diam saja dirumah, atau baba mencari getah pohon saja, agar bisa menjerat burung besar."
"Baiklah. Tapi ingat pesan baba, jangan keluar dari hutan ini. Jika sudah melihat perbatasan itu, segeralah berbalik arah."
"Iya Ba." Jawab Siren.
Siren pergi dengan membawa busur dan panah buatannya sendiri. Busur dengan kekuatan lemah dan hanya mampu menyerang hingga jarak tertentu saja. Siren masih memikirkan cara menemukan alat, agar dia bisa membuat busur dan panah yang memiliki kekuatan penuh dengan jarak panah puluhan meter.
Selama ini Siren hanya mampu memburu hewan lemah yang tidak terlalu cepat berlari. Karena alat yang dia gunakan sangatlah terbatas.
Kraukkkk
Kraukkkk
Lagi-Lagi Siren memakan apel liar yang dia temukan disepanjang jalan berburu dan menyimpannya beberapa di bakul belakang punggungnya.
Ada banyak jenis ular yang bertengger didahan pohon, ataupun yang melata ditanah. Tapi Siren sama sekali tidak ingin menjadikan hewan itu sebagai menu santapannya hari ini.
Mata dan telinga Siren mulai merasakan ada pergerakan diantara pepohonan dan semak belukar. Diam-Diam Siren mulai mengendap dan melihat ada seekor rusa yang tampak berjalan sendiri mencari makanan.
Siren mulai meletakkan anak panah diatas busurnya, dan mulai menariknya untuk membidik rusa itu.
Wushhhhhh
Anak panah itu memang mengenai tubuh rusa itu. Tapi karena anak panah Siren tidak terlalu runcing, rusa itu hanya merasakan sakit dan terkejut hingga hewan itu berlari sekencangnya. Siren mengira hewan itu akan lemah setelah terkena anak panahnya, namun sekuat apapun dia mengejar, rusa itu masih terlihat gagah tanpa lelah sedikitpun.
Hosh
Hosh
__ADS_1
Hosh
Nafas Siren memburu dengan degup jantung yang tak beraturan. Siren terduduk ditanah karena lelah, gadis itu meraih air minum yang tersimpan didalam ruas bambu dan disumbat dengan daun.
Glekkk
Glekkk
Glekkkk
Siren menghabiskan separuh air didalam tabung bambu itu dan menyimpannya kembali kedalam bakul. Siren berbaring diatas tanah untuk melepas penatnya. Matanya menerawang keatas langit yang dibatasi oleh daun pohon yang tinggi menjulang.
Siren menoleh kearah samping kanannya. 50 meter dari jarak pandangnya, merupakan perbatasan hutan larangan. Dia tidak bisa berlari jauh lebih dari itu, karena teringat akan pesan Pakuo.
Siren memejamkan matanya sejenak. Setiap hari menjalani kehidupan seperti itu membuat dirinya sedikit bosan. Dia seorang anak pemberani, yang bisa menaklukan apapun jika memang ada yang mengancam nyawanya. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan ayahnya seorang diri demi kebebasan yang dia inginkan. Karena terlalu lelah, Sirenpun tertidur.
Suara itu begitu berisik hingga mengganggu ketenangan Siren yang sedang tertidur. Dahi gadis itu sedikit mengerut dengan mata yang masih terpejam.
Makin lama suara itu semakin mendekat, hingga mata Siren terbuka sempurna. Suara derap langkah kaki beberapa hewan tardengar memecah keheningan. Siren belum pernah mendengar suara hewan seberisik itu, hingga dia mengintai dari balik pohon besar.
Tiga ekor anjing tampak mengejar seekor rusa yang sedang berlari ketakutan. Siren hanya mengamati apa yang akan dilakukan hewan-hewan itu setelah berhasil mengepung seekor rusa yang terlihat sudah sangat lelah.
Rusa itu tampak tak berdaya saat hewan ganas itu menggigit salah satu kakinya dan menyeretnya kembali kearah awal mereka memasuki hutan. Dengan segenap keberaniannya, Siren menghadang para hewan ganas itu hingga hewan itu menghentikan langkahnya.
"Aku tidak tahu hewan apa kalian ini. Tapi sebaiknya kita berbagi saja hasil buruan kalian itu denganku. Kalian butuh makanan, tapi aku dan ayahku juga membutuhkannya."
Siren perlahan mendekati hewan-hewan itu dengan membawa sebuah tongkat kayu untuk perlindungan diri. Hewan-Hewan itu tampak memundurkan langkahnya tanpa berniat melepaskan hasil buruannya.
"Apa kalian tidak ingin berbagi denganku? yang benar saja, kalian tidak akan habis memakan seekor rusa sebesar itu. Jadi jangan serakah ya?"
Siren mengayunkan tongkatnya sehingga membuat dua anjing yang lainnya sedikit menjauh, hanya satu anjing yang sedang menggigit rusa itu saja yang masih bertahan.
Siren perlahan mendekati anjing itu dan mengusap puncak kepala hewan itu.
"Lepaskanlah. Biar aku yang membaginya secara adil,"
Entah hewan itu mengerti atau tidak dengan ucapannya, tapi tiba-tiba saja anjing itu melepaskan hasil buruannya. Dengan satu kali pukulan tongkat, rusa itu sudah tidak bernyawa lagi. Dengan ujung tombaknya Siren melepas satu persatu kaki rusa itu dan membagi satu ekor kaki rusa kemulut satu ekor anjing.
__ADS_1
"Pulanglah. Aku sudah membagi makanan untuk kalian, dan sisanya ini bagianku."
Lagi-Lagi anjing itu seperti mengerti ucapan Siren. Mereka kemudian berlari membawa hasil buruannya kembali kearah mereka datang.
"Apa hewan itu berasal dari hutan seberang? tapi kenapa hewan itu menyeberang kesini?" ucap Siren lirih.
Siren menoleh kearah rusa yang masih tergeletak ditanah. Senyumnya mengembang, karena berhasil mendapatkan tangkapan besar tanpa bersusah payah. Siren memasukan hewan berdarah itu kedalam bakul miliknya dan menggendongnya meskipun agak sedikit berat.
Sementara itu Dean dan Aru yang menunggu diseberang hutan hanya bisa melongo, saat melihat ketiga anjing mereka menggigit sesuatu yang tampak masih berdarah itu. Dean memberikan siulan khasnya, agar para anjing itu lebih cepat mendekat.
"Hey...apa ini? kenapa kalian cuma membawa ketiga kaki rusa saja? sisanya kemana?" tanya Dean saat mengambil ketiga kaki rusa dari gigitan anjing itu.
"Apa kalian memakannya sendiri sisanya?" tanya Aru.
"Tidak mungkin. Mereka tidak biasanya seperti itu. Apa ada hewan lain yang memangsa sisanya?" ucap Dean.
Dean memperhatikan ketiga kaki rusa itu. otaknya sedikit mencerna apa yang terjadi.
"Melihat pangkal paha rusa ini, sepertinya ini bukan dipotong menggunakan benda tajam, tapi sedikit tumpul hingga dagingnya sedikit hancur. Tidak ada pula bekas cabikan kuku hewan buas lainnya, dan yang terpenting mana ada hewan buas mau berbagi makanan dengan hewan lain. Terlebih hewan itu memberikan 3 kaki untuk para anjing ini. Ini seperti diatur oleh mahluk berakal," batin Dean.
"Hanya ada satu kemungkinan. Berarti diseberang hutan itu memang ada manusia yang lain dari hutan kami. Dan yang melakukan ini hanya ada dua kemungkinan, apa itu ayah gadis itu, atau malah gadis itu sendiri yang melakukannya,"
"Suatu saat aku pasti akan bertemu denganmu dan membawamu keluar dari hutan gelap itu. Tapi bagaimana caraku bisa bicara dengannya? bagaimana caranya agar dia tahu tentang keberadaanku?"
"Aru ayo kita pulang,"
"Bagaimana dengan ketiga paha rusa ini?"
"Tentu saja dibawa pulang, itu cukup untuk kita santap bersama ayah. Bukankah anjing ini sangat pintar? mereka membagi kita 3 paha rusa, sesuai jumlah anggota keluarga kita."
"Iya benar. Tapi sebaiknya kita mengambil buah liar, aku tidak bisa kenyang kalau hanya memakan satu paha rusa saja."
"Baiklah. Kita akan mengambil apel liar saja."
Dean dan Aru memutuskan untuk pulang dan mengambil buah liar disepanjang jalan yang mereka lalui.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1