SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
90. Gulai Lezat


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan VoteπŸ€—πŸ™


*****


Mehru memberikan isyarat agar Galeo memperlambat laju kudanya. Begitu juga dengan kheiren dibelakangnya. Kheiren yang sudah faham, langsung memperlambat laju kudanya agar tidak membuat hewan buruan terkejut.


"Ada apa?" tanya Galeo dengan suara yang lumayan keras.


"Kecilkan suaramu!" ujar Mehru.


Mehru perlahan turun dari kuda dan memasang mata dan telinganya dengan tajam.


"Kamu dengar itu?" tanya Mehru.


Galeo mencoba mempertajam telinganya, namun berakhir gagal.


"Aku tidak mendengar apapun."


"Itu suara segerombolan babi hutan."


"Segerombolan"


"Emm. Turunlah dari kuda." Apa kamu bisa menggunakan panah?"


"Ya."


"Kheiren, pinjamkan panahmu pada Gale. Kalian ikuti kami dari belakang, ada segerombolan babi didepan."


"Segerombolan? itu artinya kita akan makan besar lagi," kheiren senang.


"Apa kau yakin dia akan berhasil?" ujar Mawe setengah berbisik.


"Kau akan tahu setelah melihat hasilnya."


Mehru dan Galeo mengendap-endap disemak belukar. Para segerombolan babi hutan sedang menikmati rebung bambu dengan rakusnya.


"Kamu bidik yang itu, aku bidik babi gemuk itu!" ujar Mehru setengah berbisik.


Kheiren dan Mawe yang hanya mengintip dari semak belukar hanya bisa menutup mulut mereka rapat-rapat. Mereka terlalu syok saat melihat segerombolan babi hutan begitu besar dan gemuk sedang berpesta pora tanpa tahu diri mereka tengah dalam bahaya.


"Dihitungan ketiga, kita lepaskan anak panahnya secara bersama,"


"Kenapa tidak kamu duluan saja?"


"Itu akan mengejutkan babi yang lainnya. Kita tidak boleh membiarkan buruan kita kabur lebih dulu."


Galeo mengerti apa yang Mehru maksud. Dalam hitungan ketiga, Mehru dan Galeo melepaskan anak panah mereka secara bersamaan.


Whusssshh


Whusssshhh


Tap


Tap


Grookkkk


Grokkkk


Dua ekor babi terkapar karena terkena anak panah Galeo dan Mehru. Sementara babi yang lain karena terkejut berlari tunggang langgang.


Tap

__ADS_1


Tap


Tap


Mehru berlari kearah depan dan mengejar para babi yang melarikan diri.


Swiiiiwiiiwiittt


Kuda Mehru tiba-tiba berlari kearahnya, dengan gerakan sedikit melompat, dan berpijak pada tubuh kuda, Mehru berhasil mendaratkan tubuhnya diatas kuda tersebut. Mehru memacu kudanya lumayan kencang, saat melihat seekor babi yang akan menjadi sasaran, Mehru berdiri diatas kuda yang berlari dan membidikkan anak panah pada Babi itu.


Whusssshh


Tap


Whussssshh


Tap


groooookkkk


Dengan dua kali panah, Babi itu lumpuh dan terkapar diatas tanah. Sementara Galeo, Kheiren dan Mawe hanya bisa menunggu Mehru kembali dengan mengikatkan dua babi itu diatas punggung kuda Kheiren.


"Apa dia memang seperti itu?" tanya Galeo.


"Apapun yang dia inginkan, harus dia dapatkan. Tapi biasanya dia tidak pernah memburu lebih dari satu hewan dalam satu hari."


"Aku mengerti. Mungkin dia melakukannya demi warga pendatang."


"Sebenarnya dua ekor ini aku rasa sudah cukup. Tapi mungkin dia berfikir lebih baik lebih, daripada kurang."


Drapp


Drapp


Drapp


"Mehru. Kamu memang teman terhebatku,"


Kheiren memeluk Mehru sesaat gadis itu turun dari kudanya.


"Sekarang mari kita pergi menuju tempat yang sudah kita sepakati bersama warga," ujar Mehru.


"Sebaiknya para babi ini kita jadikan satu saja, agar kalian bisa naik kuda berdua," ujar Galeo.


"Benar, biar kami yang menarik kudanya. jangan sampai kalian kelelahan."


"Apa itu tidak menjadi masalah buat kalian?" tanya Mehru.


"Masalah apanya? ini sudah biasa kami lakukan." Jawab Galeo.


"Baiklah."


Mehru dan Kheiren menaiki satu kuda, setelah ketiga babi itu sudah mereka jadikan satu diatas kuda. Mereka berjalan dengan santai sembari berbincang.


"Apa dia benar-benar Siren? bagaimana caraku memastikannya? apa pria sebagai umpan itu akan muncul lagi sesuai dengan kutukkan raja iblis? jadi aku harus menunggu kemunculan pria itu lagi?" batin Galeo.


"Kalian mendapatkan buruan?" tanya Renggawe.


"Iya Paman. Ini cukup untuk makanan kita bersama warga yang lain." Jawab Galeo.


"Apa kayu-kayunya sudah terkumpul?" tanya Mehru.


"Disana!" tunjuk Renggawe.

__ADS_1


"Kami rasa itu sudah cukup untuk membangun 15 rumah warga."


Mehru melihat tumpukkan kayu yang menggunung. Setelah dirasa cukup, mereka mengangkutnya secara bersama-sama meskipun belum mampu mengangkut seluruhnya.


Sesampai dirumah, warga mulai membangun rumah satu persatu agar bisa mereka bisa tinggali meskipun belum selesai seluruhnya.


Sementara para wanita sedang sibuk membuat masakan lezat. Mereka memutuskan membuat gulai yang lezat dan juga membuat babi panggang. Setelah matang, warga beristirat dan menyantap masakan itu dengan lahap.


"Mehru. Kudengar dari Babamu kamu pandai meracik obat," ujar Galeo.


Mehru sesekali menepuk nyamuk yang menempel dikakinya, karena hari sudah beranjak malam.


"Tidak terlalu pandai. Tapi aku mengerti sedikit kegunaan tumbuhan yang ada disekitar hutan."


"Aku dengar didesa seberang ada seorang tabib tua yang ingin membagikan ilmu pengobatannya. Karena sudah tua, dia ingin menyalurkan ilmu itu agar berguna untuk membantu orang lain."


"Benarkah? apa tabib itu memang berasal dari desa seberang?"


"Bukan. Yang kudengar dia berasal dari negeri yang jauh, kulitnya juga berbeda dengan kita dengan bola mata yang sedikit mengecil."


"Apa sungguh ada orang seperti itu?"


"Tentu saja ada.Terbukti tabibnya masih hidup,"


"Aku jadi tertarik mengunjungi desa itu untuk belajar. Setelah banyak ilmu, aku ingin jadi tabib didesaku sendiri."


"Tujuan yang bagus Mehru, aku akan menemanimu kesana kalau kamu mau?"


"Benarkah? apa kamu juga ingin belajar ilmu pengobatan?"


"Tidak sia-sia juga belajar ilmu itu. Aku hanya ingin mengembara, mengetahui dunia luar sana."


"Baiklah. Aku akan bicarakan ini pada Babaku nanti, kalau mereka mengizinkanku pergi, aku akan pergi bersamamu. Tapi...."


"Tapi kenapa?"


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?"


Galeo tersenyum mendengar pertanyaan Mehru. Gadis itu kurang memperhatikan dirinya.


"Kapan kamu pernah melihatku menyeru nama orang tuaku?"


"Apa maksdumu?"


"Kedua orang tuaku sudah tidak ada. Mereka menjadi korban gempa itu. Sama seperti yang menimpa orang tua Mawe.


"Maaf. Kamu pasti sangat kehilangan orang tuamu."


"Tentu saja. Bagi anak, orang tua adalah tempat berlindung bagi kita. Kehilangan mereka seolah mematahkan sayap ditubuhku, hingga aku terbang tak tentu arah, bahkan merasa ingin terjatuh."


"Kalau begitu kamu harus kuat. Orang tuamu akan bersedih kalau melihatmu tidak berdaya. Lagipula kamu bisa menganggap orang tuaku sebagai orang tuamu juga."


"Terima kasih Mehru."


"Emm. Istirahatlah, hari sudah beranjak malam,"


"Ya."


Mehru memasuki rumahnya untuk beristirahat, rasa lelah ditubuhnya benar-benar membuatnya cepat tertidur.


*****


Suara kicau burung mengusik telinga Mehru, karena lelah dia lagi-lagi bangun siang seperti biasanya. Gadis berkulit coklat itu beranjak dari tempat tidur dan ingin membersihkan diri. Namun tanpa dia sadari Galeo harus menyaksikan tubuh indahnya saat seluruh pakaiannya sudah dia tanggalkan seluruhnya.

__ADS_1


Galeo yang hendak membersihkan diri jadi mengurungkan niatnya dan berbalik badan. Namun bayangan tubuh indah gadis itu seolah tidak mau diusir dari benaknya. Hingga saat Mehru menegur dirinya karena asyik melamun, Galeo tidak menggubrisnya dan berlalu pergi begitu saja dari hadapan Mehru.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote πŸ€—πŸ™


__ADS_2