SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
170. Misi ketiga


__ADS_3

Siang harinya mereka kembali melakukan aksinya. Tim Akira perlahan mulai naik keatas permukaan tanah, dan sesuai dugaan mereka, tempat itu memang dipenuhi semak belukar dan pepohonan. Namun tidak jauh dari mereka berdiri, mereka melihat puluhan batang besi ditutupi oleh sebuah terpal berwarna biru. Kini mereka mengerti, mereka melakukan itu, agar air hujan tidak masuk kedalam sana.


"Oke. Kita sudah menemukan apa yang kita cari. Kita harus segera kembali," ujar Akira.


"Baiklah. Aku juga sudah memotret seperti apa keadaan pipa ini," timpal Martin.


Merekapun kembali memasuki lubang yang sudah mereka buat tadi malam. Sementara Vino dan Regent masih terus berjuang menggali. Setelah diukur, mereka sudah menggali lebih dari 30 meter. Tapi tanda-tanda akan menembus dinding musuhnya sama sekali belum terlihat.


"Istirahat dulu. Nanti malam kita teruskan lagi," ujar Regent.


"Nggak Re. Ini nanggung banget. Kita teruskan saja," ujar Vino.


"Ya sudah, kita gali 5 meter lagi ya? setelah itu kita istirahat," ujar Regent.


"Oke." Jawab Vino.


Regent dan Vino masih terus menggali. Dan pada malam harinya mereka kembali meneruskan galian itu. Tanpa Regent sadari, dirinya dan Sarlince tengah sama-sama menggali saat ini. Regent dan Sarlince sama-sama mundur, karena alat gali mereka sempat beradu. Sesaat kemudian suasana mendadak hening.


"Ada apa?" tanya Vino setengah berbisik.


"Ada yang sedang menggali juga." Jawab Regent.


"Apa? tapi untuk apa dia menggali? yang harus melakukan itu, tentu seorang tahanan. Dan yang jadi tahanan saat ini cuma Sarlince kan?" bisik Vino.


Deg


Jantung Regent seakan berhenti bernafas saat ini.


"Sa-Sayang," seru Regent.


Deg


Kali ini Sarlince yang terkejut saat mendengar sapaan dalam gelapnya lorong.

__ADS_1


"Sayang. Sarlince, kau kah itu?" tanya Regent sekali lagi.


"Sayang. Ini aku. Hiks...." Jawab Sarlince dengan tangis haru.


"Oh My God honey...."


Regent langsung menggali dengan cepat, dan memberikan penerangan pada Sarlince. Baru saja mereka hendak berpelukkan, Vino menggagalkan moment ala-ala sinetron.


"Nanti saja pelukkannya! kita harus cepat membawa Sarlince keluar dari sini!" ujar Vino.


"Sayang. Kamu merangkak di depanku!" ujar Regent yang menyuruh Sarlince merangkak lebih dulu. Pria itu ingin memastikan keselamatan istrinya lebih dulu.


Regent dan Sarlince bertukar tempat, dan merekapun keluar dengan tanpa hambatan apapun.


"Hiks...." Sarlince memeluk Regent dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu sayang. Apa kamu dan anak kita baik-baik saja? kenapa kamu menggali tanah itu? bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita?" tanya Regent.


"Iya." Jawab Regent.


Terlihat Akira dan teman-temannya sedang mengaduk semen untuk menutup lobang yang sudah Regent dan Vino gali.


"Sekarang apa langkah selanjutnya?" tanya Akira.


"Apa kalian sudah menemukan pipa itu?" tanya Sarlince.


"Sudah. Ada puluhan pipa yang diatasnya ditutupi oleh terpal yang digantung di beberapa pohon." Jawab Martin.


"Bagus. Kalau begitu malam ini juga harus kita eksekusi. Sayang, apa kamu membawa racun asap itu?" tanya Sarlince.


" Bawa banyak." Jawab Regent.


"Sekarang kita bagi tugas, ada yang meracik racunnya, ada yang membuat puntalan rumput," ujar Sarlince.

__ADS_1


"Puntalan rumput? buat apa? tanya Chio.


"Untuk menyumpal lubang pipa setelah dimasuki racun asap. Jadi mereka tidak akan bisa bernafas. Mereka pasti tengah tidur saat ini. Mau tak mau mereka pasti akan menghisap racun asap itu." Jawab Sarlince.


"Baiklah. Kalau begitu berikan tugas itu pada kami ber 3 untuk membuat puntalan rumputnya. Kalian yang meracik racunnya," ujar Akira.


"Sayang. Jangan sentuh racunnya. Biar aku dan Vino yang mengerjakannya. Kamu sedang hamil, takutnya bahaya untuk anak kita,' ujar Regent.


"Ya benar. Kamu hanya perlu menunjukkan takarannya saja," timpal Vino.


"Baiklah. Aku akan melihat kalian saja," ujar Sarlince.


Merekapun bekerja dengan cepat dan keras. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Setelah selesai merekapun siap menebar racun itu kedalam pipa.


"Sebaiknya kamu dan Sarlince kembali ke kontrakkan. Biarkan kami yang mengerjakan ini semua. Sarlince pasti sangat lelah," ujar Vino.


"Nggak bisa. Kita harus berjuang bersama. Hidup mati kita harus sama-sama," ujar Sarlince.


"Sudahlah. Kamu jangan khawatirin kita-kita, bajingan seperti kita ini matinya akan lama," ujar Akira sembari terkekeh.


"Iya Lin, kasihan anakmu. Jadi biarkan kami saja yang mengerjakan ini. Kami akan melakukannya dengan cepat. Kalau kalian mau bantu, aduk aja semennya. Biar nanti setelah kami keluar, cepat nutup lobang ini," ujar Chio.


Regent memeluk sahabatnya satu persatu.


"Berjanjilah kalian akan selamat dan keluar secepatnya," ujar Sarlince.


"Pasti." Jawab Akira.


"Kalau kalian semua keluar hidup-hidup, aku janji akan membelikan satu orang satu rumah mewah untuk rumah masa depan," ujar Sarlince.


"Yey...." mereka bersorak gembira.


Merekapun akhirnya bergegas memasuki lubang keramat itu untuk melanjutkan misi.

__ADS_1


__ADS_2