SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
171. Misi ke 4


__ADS_3

Sarlince dan Regent duduk di dekat pagar beton tanpa penerangan apapun. Mereka menunggu teman-temannya beraksi.


"Aku akan mengaduk semennya. Seharusnya tidak mudah kering karena udara malam ini sangat lembab," ujar Regent.


"Sayang. Aku sangat mengkhawatirkan teman-teman, " ujar Sarlince.


"Percayalah mereka pasti akan baik-baik saja. Kita sudah mengajarkan cara menggunakan racun itu, dan apa yang harus di lakukan. Misi kita pasti akan berhasil. Tapi yang lebih penting dari itu adalah kamu sudah berhasil aku dapatkan, itu saja sudah cukup," ujar Regent.


"Yah. Aku juga sangat bahagia. Tidak ada hari tanpa aku mengingatmu, merindukanmu," ujar Sarlince.


Regent meraih kedua sisi wajah istrinya itu, dan melabuhkan ciuman. Untuk sesaat mereka terhanyut, sebelum akhirnya Sarlince menyadari keberadaan mereka saat ini.


"Sayang. Ini nggak benar. Teman-Teman kita lagi berjuang antara hidup dan mati, kita malah asyik saling cumbu. Lagipula tempat ini sangat tidak cocok untuk bermesraan. Kamu nggak romantis sekali. Masa iya mengajakku bermesraan di semak-semak," ujar Sarlince yang membuat Regent jadi terkekeh.


"Ya mau bagaimana lagi. Sangat sulit rasanya menahan rindu. Tapi saat kita berhasil keluar dari sini hidup-hidup, aku akan memakanmu sepuasnya," ujar Regent.


"Dasar mesum," ucap Sarlince sembari mencubit pipi suaminya.


Sementara itu Vano dan teman-temannya yang sudah berhasil naik keatas terowongan, berjalan perlahan. Saat sudah menemukan pipa, mereka mulai memberikan racun asap di tiap lubang, dan menutupnya dengan puntalan rumput. Mereka melakukan itu secepatnya, dan sebanyak yang mereka bisa. Namun mereka sangat bersyukur, karena semua pipa itu berhasil mereka masuki racun.


"Sekarang apalagi yang harus kita lakukan?" tanya Akira setengah berbisik.


"Kita kembali ke lobang itu dan menemui Sarlince dan Regent. Kita tidak bisa mengambil Resiko. Kita akan tahu hasilnya besok." Jawab Vino.


Merekapun kembali ke lobang itu. Dan keluar satu persatu.


"Bagaimana?" tanya Sarlince.

__ADS_1


"Kami sudah memasukkan racun asap disemua lobang pipa. Kita akan menunggu hasilnya besok." Jawab Vino.


"Oke. Kita semen sekarang lobangnya," ujar Regent.


Regent dan yang lain bahu membahu menutup lobang itu dengan adukkan semen. Setelah itu mereka kembali ke penginapan.


"Aku jadi harap-harap cemas. Apa kita akan berhasil dengan misi ini? rasanya ini sungguh mendebarkan," ujar Akira sembari menyesap kopinya.


"Iya aku juga. Tapi jujur saja, misi itu terlihat jauh lebih mudah. Aku sempat membayangkan kita akan mealakukan gencatan senjata bersama mereka, tapi ternyata itu tidak. Aku seperti hanya main game disini," timpal Chio.


"Benar. Sangat berbeda saat kami bergabung di markas Hideo. Nyawa kami seakan jadi umpan untuk malaikat yang bertugas mencabut nyawa," ujar Martin.


"Kita akan tahu apa kita akan masih berperang, atau tidak setelah hari esok. Yang pasti aku sangat berharap asmodeus sudah mati karena racun asap itu. Karena kalau dia mati, maka kejahatan mereka tidak beroperasi lagi. Meskipun beroperasi tidak akan mengincar nyawa Sarlince lagi,"ujar Regent.


"Kamu benar. Pokoknya besok kita akan menuntaskan semuanya. Kita harus memastikan apa yang terjadi di dalam sana," ujar Vino.


Merekapun pergi beristirahat. Karena kamar tempat itu hanya satu, mereka membiarkan Regent dan Sarlince beristirahat di dalam sana. Mereka mengerti, mungkin kedua sejoli itu ingin menyalurkan rasa rindu mereka.


"Sayang. Kamu mau apa?" tanya Sarlince saat melihat Regent menanggalkan pakaiannya.


"Aku merindukanmu." Jawab Regent yang langsung mendapat putaran bola mata malas.


"Sayang. Diluar banyak teman-teman kita. Aku nggak mau mereka mendengar ada suara aneh dari kamar ini," ujar Sarlince.


"Sayang mereka pasti mengerti. Mereka tahu betul aku sangat merindukanmu," ujar Regent.


"Sebentar saja," sambung Regent dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Tapi hati-hati ya? soalnya ada anak kita di dalam," ujar Sarlince.


"Pasti." Jawab Regent.


"Kalian dengar itu? mereka bernegosiasi tentang bercinta. Seolah kita tidak mendengar saja. Bagaimana kita mau tidur?" tanya Chio yang ditanggapi kekehan oleh teman-temannya.


Krietttt


Krieett


Krieett


Ranjang yang terbuat dari jalinan bambu itu terdengar berderit jelas ditelinga Vino dan teman-temannya.


"Sayang. Mereka pasti mendengarnya," bisik Sarlince.


"Mereka pasti lelah, mereka pasti sudah tertidur." Jawab Regent disela percintaan mereka.


Sarlince mengalungkan kedua tangan dileher Regent sembari menikmati hujaman yang Regent berikan. Lambat laun tentu saja keduanya tidak bisa menahan suara merdu mereka itu. Mereka jadi tidak perduli apa teman-teman mereka akan mendengar atau tidak.


"Sialan si Regent. Apa nggak bisa nahan sampai rumah?" batin Vino.


"Bener-Bener nih. Aku jadi merindukan goyangan Lucia," gerutu Akira.


"Iya. Jadi bangun ini si otong," timpal Martin.


Dan malam itu mereka tidak ada yang bisa tidur. Semua larut dalam pemikiran mesum masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2