
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Semua orang yang berada diruang rapat tertawa saat mendengar Sarlince mengatakan bahwa dirinya sudah selesai mengerjakan semua soal-soal itu. Soal-Soal itu begitu sulit, bahkan seorang profesor pun tidak mungkin bisa menyelesaikan soal-soal itu dengan waktu sedemikian singkat. Alex dan Qiel juga ikut menertawan Sarlince, hanya Igo dan Faris yang terlihat berwajah datar karena sejujurnya mereka sedang dilanda kegugupan yang luar biasa.
"Nona Sarlince. Anda jangan bercanda lagi, sebaiknya gunakan sisa waktumu untuk kembali mengoreksi jawabanmu," ujar Seorang pria setelah tawanya sudah mereda.
"Tidak Perlu. Kalian bisa langsung memeriksanya." Jawab Sarlince dengan bingkai senyum dibibirnya.
"Sombong sekali gadis bodoh ini. Apa dia berfikir dirinya itu mempunyai IQ tinggi seperti ainan celeste cawley? atau yang paling terkenal seperti Albert Einstein?" batin Alex.
"Baiklah Nona Sarlince. kalau itu memang keputusan anda, sebenarnya kami sangat berharap anda tidak perlu terburu-buru dan menggunakan sisa waktu sebaik-baiknya. Tapi tidak apa, kami cukup bangga dengan rasa percaya diri anda. Kami akan mulai memeriksanya ya?" ujar Salah satu pemegang saham.
"Silahkan." Jawab Sarlince.
Orang-Orang yang berada diruang rapat itu mulai memeriksa jawaban Sarlince dengan menyocokan kunci jawaban yang ada. Mata mereka dibuat terbelalak saat tahu tak ada satupun jawaban dari Sarlince yang salah.
"Apa ini? apa ini tidak terlalu berlebihan? mana mungkin tak ada satupun yang salah dari jawabannya?"
"Iya. Apa Nona sudah mendapat kunci jawaban sebelumnya?" timpal yang lain.
Faris dan Igo saling berpandangan satu sama lain, rasa panik yang melanda hati mereka seakan pupus seketika.
"Betul. Bahkan Albert Einstein pun bisa kamu kalahkan?" timpal seorang wanita.
Sementara wajah Alex dan Qiel pias seketika. Mereka tahu Sarlince tidak melakukan kecurangan apapun.
"Orang-Orang yang berfikiran sempit ini bahkan membandingkan aku dengan Albert Einstein. Kalian bahkan tidak tahu, aku pernah hidup sebelum orang itu dillahirkan kemuka bumi ini," batin Sarlince.
Sarlince menatap semua orang satu persatu. Tatapan yang penuh mendominasi, hingga semula orang yang mengomentari dirinya menjadi diam seketika.
"Apa kalian ingin mengatakan kalau aku ini sudah berbuat curang?" tanya Sarlince.
"Dengan cara apa? bukankah kalian sendiri yang mengajukan soal-soal itu? dan kalian sendiri pula yang mengetahui kunci jawabannya," ucap Sarlince.
"Kami tidak tahu dengan cara apa. Tapi melihat kelincahanmu memainkan laptop, mungkin kamu juga bisa meretas kunci jawaban dilaptop kami." Jawab salah satu pemegang saham.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan? bisa jadi putriku asal menjawab, tapi jawabannya ternyata benar. Aku berada disampingnya, dan tahu betul dia tidak melakukan kecurangan," timpal Alex.
"Pria tua ini. Ucapannya seolah ingin membantuku, tapi dibalik kata-katanya itu tersirat kalau aku ini bodoh dan hanya asal menjawab," batin Sarlince.
"Perkataan anda cukup masuk akal. Bisa jadi anak anda hanya beruntung, asal jawab tapi ternyata jawabannya benar. Apalagi soal yang kami berikan semua pilihan ganda dan sama sekali tidak ada soal esay," timpal pria bertubuh tambun.
Sarlince melirik seorang wanita yang tengah sibuk menulis sesuatu diatas kertas.
"Sepertinya seseorang sudah menemukan sebuah ide untuk memecahkan masalah kita. Ibu yang ada disana...."
Semua orang mengikuti arah pandang Sarlince yang mengarah pada seorang wanita yang berusia sekitar 32 tahun. Wanita itu seperti sedang membuat soal esay untuk Sarlince sebagai salah satu bentuk pembuktian.
"Ya anda benar Nona Sarlince. Saya memang sedang membuat sebuah soal mudah untuk anda. Saya yakin anda tidak akan kesulitan untuk mengerjakan." Jawab Sinta.
Seorang pria yang berada disebelah Sinta mengambil kertas yang berada ditangan Sinta untuk membaca apa yang wanita itu tulis. Pria itu kemudian tersenyum, dia yakin Sarlince akan kesulitan menjawabnya. Soal itu memang terlihat mudah, tapi kalau tidak mengerti rumus, maka akan cukup kesulitan untuk mengerjakannya.
Satu persatu orang-orang melihat bentuk soal itu dan setuju supaya Sarlince mengerjakannya. Setelah yakin semua orang sudah melihat, termasuk Igo, Faris, Alex, dan Qiel, barulah Sarlince membuka suara.
"Baiklah Ibu...."
"Oke untuk Ibu Sinta. Tolong langsung saja anda bacakan soal itu untuk saya," ujar Sarlince.
"Gadis bodoh ini sangat percaya diri sekali. Aku tidak percaya kamu bisa menjawab semua soal-soal itu dengan benar. Kali ini aku akan melihat langsung jari-jarimu berkeringat dingin," batin Alex.
"Seorang donatur panti asuhan ingin membagikan baju pada anak yatim piatu. Jika donatur itu membagikannya pada 28 orang anak, maka setiap anak akan mendapatkan 4 potong baju. Jika donatur itu membagikan baju hanya pada 16 orang anak, maka berapa potong baju yang akan diterima oleh setiap anak tersebut?" tanya Sinta.
Suasana kembali menjadi hening, dan semua orang menatap kearah Sarlince. Sarlince saat ini persis menjadi seorang terdakwa yang sedang diadili.
"Rasakan kamu Sarlince? pusingkan? bahkan aku saja lupa rumus soal itu," batin Alex.
"Sebelum saya menjawabnya, saya ingin memberitahu bahwa soal yang Ibu Sinta berikan itu merupakan soal perbandingan. Apa diantara kalian tahu itu bentuk perbandingan apa?" tanya Sarlince.
Semua orang terdiam. Karena sejujurnya mereka juga lupa.
"Baik. Anggap saja kita sedang belajar bersama. Tidak perlu ada ketegangan diantara kita, tolong sembunyikan dulu niat terselubung yang ingin saling menjatuhkan yang terlintas dihati anda kalian semua."
"Jadi, Ibu Sinta ini mengajukan soal tentang perbandingan berbalik nilai. Perbandingan itu ada dua, ada yang senilai dan juga berbalik nilai, bukan begitu Ibu Sinta?" tanya Sarlince dengan santai.
__ADS_1
"Be-betul Nona." Jawab Sinta.
"Ya. Dan anda sedang mengajukan soal perbandingan berbalik nilai untuk saya," ujar Sarlince.
"Jadi arti dari perbandingan berbalik nilai menurut soal yang ibu Sinta berikan adalah semakin banyak anak yang diberikan baju, maka semakin sedikit baju yang didapat oleh anak tersebut. Dan begitu juga sebaliknya, semakin sedikit jumlah anak yang diberikan baju, maka semakin banyak pula dapat bagiannya."
"Jadi kita akan menggunakan rumus yang gampang saja. Kita akan menganggap semua variabel soal adalah huruf-huruf. Ada A,B,C dan D."
Sarlince mengambil sebuah pensil yang terdapat didepannya dan juga selembar kertas. Tanpa banyak bicara dia langsung menuliskan sesuatu pada kertas itu. Semua orang melihat pergerakkan tangan Sarlince yang begitu lincah menulis diatas selembar kertas tanpa melihat objek yang lainnya.
Tidak sampai 20 detik, Sarlince sudah menyelesaikan soal itu dengan cepat.
"Ibu Sinta tolong periksa hasil jawaban saya, apa jawaban saya sesuai dengan yang anda inginkan?" tanya Sarlince.
Sarlince menyodorkan kertas itu pada orang yang berada disamping kirinya. Kertas itu bergulir, hingga sampailah ditangan Sinta yang tempat duduknya berada ditengah-tengah.
Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui hasil jawaban itu. Mata Sinta hanya tertuju pada hasil akhir yang dibuat oleh Sarlince.
"Be-benar. Jawaban dari Nona Sarlince benar." Jawab Sinta.
Semua orang tercengang akan kemampuan Sarlince tersebut.
"Kalau ada lagi yang meragukan kemampuan saya, kalian boleh mengajukan pertanyaan lagi dan sebisa mungkin saya akan memuaskan rasa penasaran kalian semua," ucap Sarlince.
"Nona, apa anda keturunan Albert Einstein?" tanya seseorang dengan asal.
"Iya. Bagaimana anda bisa melakukannya? bahkan kami yang berada disini belum tentu bisa menjawab separuh dari 200 soal itu dengan benar." Timpal yang lain.
Sarlince membingkai senyumnya setipis mungkin.
"Anggap saja saya cucu dari Albert Einstein." Jawab Sarlince.
Mendengar itu semua orang diruangan itu menjadi tertawa. Ketegangan yang berlangsung menjadi cair seketika. Namun tidak dengan Alex, wajah pria parubaya itu berubah menjadi masam seketika.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1