
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Sarlince melintasi sebuah jalan sepi, saat dirinya akan menuju pulang kerumahnya. Hari ini Sarlince memang tidak menggunakan mobil seperti biasanya, wanita itu pergi dengan mengendarai sebuah motor matic keluaran terbaru. Namun saat sedang asyik melamun diatas motor, beberapa orang berbaju hitam dengan rambut gondrong dan penuh tato, menghadang lajunya kendaraan Sarlince.
"Apa lagi ini?" ujar Sarlince lirih.
Sarlince menghentikan laju motornya dan parkir berada tepat didepan keempat pria bertubuh besar itu.
"Ada apa?" tanya Sarlince dengan santai.
"Turun!" ujar salah satu preman.
"Aku sedang buru-buru. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain bersama kalian," ujar Sarlince.
Tanpa banyak basa basi salah satu preman menarik tangan Sarlince, hingga wanita itu turun dari motornya.
"Ini uang untuk naik taksi atau ojek. Pergilah!" hardik preman itu.
"Apa maksudmu? kamu menyuruhku pergi dengan kendaraan lain, sementara kamu menaiki motorku. Apa aku ini orang bodoh?" hardik Sarlince.
"Kamu yang bodoh! apa kamu tidak paham, kalau saat ini kamu sedang di begal?"
"Bengal?"
"Begal, bukan bengal!"
"Ckk....apapun itu, kembalikan saja motorku. Aku sedang tidak dalam keadaan mood untuk menghajar orang," ujar Sarlince.
Para preman itu terkekeh saat mendengar perkataan Sarlince.
"Sebagai pria, tubuhmu terlalu kecil untuk bisa menghajar kami. Apa mungkin seekor semut bisa menggigit empat ekor gajah?"
"Sudahlah, langsung sikat saja. Dia akan diam setelah merasakan ganasnya tinjumu itu,"
Salah seorang preman dengan tangan kekarnya hendak menampar Sarlince dengan gaya santainya. Namun dengan gaya santai pula Sarlince menghindar.
"Bisa ngelak dia bray," preman itu terkekeh.
"Sikat lebih ganas,"
Preman itu kemudian mengepalkan tinjunya dan langsung menyerang Sarlince dengan pukulannya.
"Sampah!" hardik Sarlince.
Duakkkk
Sarlince menghindari tinju itu, kemudian menyikut dagu pria itu dengan sikunya.
__ADS_1
"Begal istilah terlalu keren untuk kalian. bilang saja kalian itu pencuri atau perampok," ucap Sarlince.
"Kurang ajar ini bocah. Akan kuremukkan tulang dagumu, agar kamu kesulitan untuk bicara lagi," hardik preman yang lain.
Keempat preman itu akhirnya menyerang secara bersama-sama, namun dengan sigap Sarlince menghindar dan memberikan satu persatu pukulan pada keempat pria bertubuh besar itu.
Regent yang tidak sengaja melintasi jalan yang sama melihat Sarlince yang sedang dikeroyok oleh empat orang pria. Salah satu dari empat orang itu sudah mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik pinggangnya.
"Asataga Aline," ujar Regent lirih.
Regent bergegas turun dari mobil dan menghampiri Sarlince yang sedang dikeroyok. Karena melihat kehadiran Regent, konsentrasi Sarlince jadi pecah. Wanita itu harus merelakan tangan mulusnya terbeset pisau.
"Auuuuu..ssttttttt"
Sarlince meringis. Regent yang melihat Sarlince terluka langsung menuntaskan perkelahian itu sehingga ke empat preman itu kalah telak. Merekapun lari tunggang langgang.
Regent menarik tangan Sarlince dan membawanya kearah mobil.
"Masuk!" perintahnya.
Sarlince hanya menurut tanpa membantah. Regent dengan cepat membuka kotak P3k dan segera membersihkan luka Sarlince.
"Kenapa kamu bisa diserang?" tanya Regent sembari tetap mengobati luka Sarlince.
"Mereka ingin mengambil motorku." Jawab Sarlince.
"Hey tuan, kenapa anda jadi memarahiku? itu motorku, ini juga nyawaku. Seenaknya saja anda mengataiku otak udang. Aku sama sekali tidak butuh pertolonganmu tadi," hardik Sarlince balik.
"Dasar keras kepala! seharusnya kepalamu tinggalkan saja dirumah, itu akan lebih aman."
"Kepalaku memang keras. Kalau lembut itu tape namanya. Sudahlah, tidak usah mengobatiku kalau tidak ikhlas," ujar Sarlince sembari menarik tangannya.
"Diamlah!" Regent meraih tangan Sarlince kembali dan segera mengobatinya.
"Sepertinya luka ini lumayan dalam. Aku akan mengantarmu kerumah sakit untuk menjahit luka ini,"
"Tidak perlu! biar aku pergi sendiri saja," ujar Sarlince.
"Terserah!" ucap Regent kesal.
Sarlince turun dari mobil Regent, setelah Regent selesai mengobati luka dan memperbannya. Regent yang khawatir, diam-diam membuntuti Sarlince hingga wanita itu tiba dikediamannya.
Sarlince memanggil Umi, dan menyuruh wanita itu untuk datang kekamarnya.
"Bantu aku," ujar Sarlince.
Sarlince terlihat sibuk membuka sebuah box berukuran sedang yang berisi dengan peralatan medis dan berbagai jenis obat-obatan.
"Ini untuk apa?" tanya Umi.
__ADS_1
Sarlince tanpa menjawab membuka kain perbannya dan memperlihatkan lukanya pada gadis itu.
"Astaga Nona, ini kenapa? bukankah anda sedang mengikuti kompetisi meretas? kenapa jadi dapat luka seperti ini? apa disana juga ada kompetisi bela diri?" tanya umi sedikit panik.
"Kamu bantu aku menjahit lukaku,"
"Menjahit luka?"
.
"Ya. Jadi asistenku kamu dituntut harus serba bisa. Tidak ada alasan untuk menolak, termasuk tugas menyeramkan sekalipun." Jawab Sarlince.
"Baiklah,"
Umi mulai membersihkan luka Sarlince terlebih dahulu. Yang membuat Sarlince heran, tanpa diberitahu Umi bisa memberikan suntikan anastesi dilukanya tanpa salah memberikan obat. Sarlince hanya diam saja tanpa protes. Dia ingin tahu, kepandaian apalagi yang dimiliki asistennya itu.
Satu persatu luka itu mulai tertutup, hingga kulit dan kulit sudah rapi bertemu. Sarlince melihat gerakan tangan Umi yang lincah, benar-benar mengingatkannya pada Megumi. Dan setelah selesai, akhirnya Sarlince mendapatkan 7 jahitan dilengannya.
"Apa kamu sebelumnya punya basic seorang perawat?" tanya Sarlince.
"Tidak." Jawab Umi.
"Lalu darimana kamu mendapatkan tehnik heating seperti itu? bahkan kamu bisa membedakan mana obat anastesi, mana cairan alkohol, ataupun cairan Rivanol. Padahal di kotak ini begitu banyak jenis obat injeksi, tapi kamu hanya mengambil satu buah ampul kecil lidocain," tanya Sarlince.
Megumi mengerutkan dahinya, pasalnya dia memang secara tidak sadar memperlihatkan kepandaiannya didepan Sarlince. Semua tehnik, ilmu itu memang dia pelajari dari sahabatnya yang pernah menjadi seorang profesor. Dan dia terlatih melakukan itu, saat mereka berada dimedan perang ketika Sarlince menjadi seorang kapten.
Tapi yang membuat Umi tidak mengerti adalah, darimana Sarlince tahu nama dan jenis obat. Bahkan dikotak berukuran sedang itu banyak sekali berbagai jenis obat injeksi maupun obat oral.
"Saya punya teman yang bekerja didunia kesehatan." Jawab Umi.
"Lalu bagaimana dengan anda sendiri? darimana Nona bisa tahu tentang semua ini? bahkan Nona bisa memiliki berbagai jenis benang dengan berbagai ukuran. Padahal setahuku Nona tidak pernah belajar tentang ilmu kesehatan bukan?" tanya Umi.
Sarlince mendadak diam. Dia memikirkan cara untuk membut alasan pada Umi, agar wanita itu bisa menerima alasannya tanpa banyak bertanya.
"Keluargaku mempunyai dokter keluarga sendiri, Jadi untuk berjaga-jaga, beliau selalu menyiapkan benda-benda ini dirumah, agar saat darurat seperti ini tidak memerlukan banyak waktu untuk membeli atau menyiapkan obat-obatan terlebih dahulu."
"Jadi anda menanyakan obat-obatan ini juga padanya?" tanya Umi.
"Paman dokter sangat baik padaku. Dia selalu menjawab semua yang aku tanyakan." Jawab Sarlince.
"Ya sudah kalau begitu Nona beristirahat saja. Untuk sementara lukamu jangan terkena air ataupun sabun dulu," ujar Umi.
"Terima kasih," ucap Sarlince.
"Sama-Sama." Jawab Umi.
Umi membersihkan bekas darah yang tercecer dilantai dengan cairan khusus. Mata Umi menangkap sesuatu yang aneh, saat melihat reaksi cairan darah yang bereaksi tidak biasa itu. Mata Umi terbelalak seketika dan dia menoleh kearah Sarlince yang sedang berbaring membelakangi dirinya.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1