SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
36. Cincin


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Sarlince melepas cincin yang melingkar di jari manisnya. Entah mengapa dia benar-benar lupa, bahwa setiap harinya dia selalu memakai cincin itu sejak dirinya menikah. Sarlince kemudian meletakkan cincin itu kedalam laci dibawah meja riasnya. Dan rasa kesalnya bertambah, saat teringat ucapan Qiel yang ingin menidurinya malam ini.


"Aku tidak akan membiarkan dia berhasil mewujudkan keinginannya itu. Terus saja bermimpi untuk mendapatkanku," ucap Sarlince lirih.


Sarlince melepas seluruh pakaiannya dan kemudian masuk kedalam kamar mandi. Tetesan air yang keluar dari shower langsung membasahi tubuhnya. Mata wanita itu terpejam dibawah sana, namun tiba-tiba dia teringat akan sosok Regent yang sudah beberapa kali menciumnya.


Perlahan Sarlince meraba bibirnya dengan lembut, ciuman itu begitu masih terasa dan dia tidak dapat memungkiri bahwa dia juga larut dalam situasi saat itu dan juga menikmatinya.


"Ini tidak benar, bukankah aku sudah tahu bahwa pria itu jenisnya mesum sama seperti Qiel. tapi kenapa aku selalu terbuai saat berada didekatnya," batin Sarlince.


"Haruskah aku memutus rantai kutukan itu dengan dia? tapi dikehidupan ini pun aku tetap berjodoh dengan pria itu. Atau aku memang ditakdirkan untuk bersama dengan pria lain juga dalam kehidupan ini? dalam ingatanku dikehidupan sebelumnya, tidak ada pria yang muncul menyukaiku selain rupa pria itu. Apa dikehidupan ini siklusnya berbeda?"


Sarlince mematikan kran air, karena tubuhnya mulai terasa dingin. Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan handuk berwarna putih, dan melilitkan handuk yang lain ditubuhnya.


Ceklekkk


Sarlince terkejut saat mendapati Qiel sudah berada ditepi tempat tidur. Mata pria itu berbinar saat melihat tubuh sexy Sarlince yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh wanita itu meskipun tidak seutuhnya.


"Kakak sudah pulang?" tanya Sarlince.


Sarlince berusaha bersikap tenang meskipun dia sangat tidak suka dengan keberadaan Qiel dikamar itu. Sarlince membuka lemari secepat mungkin, dia tidak mau tiba-tiba diterkam Qiel begitu saja.


Namun naluri lelaki Qiel lebih gesit dari yang Sarlince bayangkan. Pria itu mendekatinya dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang.


Grepppp


"Kakak pulang cepat karena tidak sabar ingin meminta kamu memenuhi janji," bisik Qiel.


Pria itu menghirup aroma wangi dari tubuh Sarlince yang sudah berada diceruk leher wanita itu. Tangan nakal pria itu tidak tinggal diam, perlahan dia melepaskan handuk Sarlince dan langsung menangkup kedua gundukan indah milik wanita itu.


Sarlince memejamkan matanya, bukan karena merasa nikmat atau meresapi apa yang Qiel perbuat atas dirinya. Tapi rasa gemuruh didadanya yang ingin segera dilampiaskan. Entah mengapa dia sama sekali tidak bisa menikmati apapun yang dilakukan Qiel atas dirinya, dan itu berbeda ketika Regent yang melakukannya.


Sarlince dengan lembut melepas tangan Qiel yang senantiasa masih mere**s dua gundukan miliknya. Wanita itu dengan sigap merapikan handuknya dan berbalik badan kearah pria itu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Qiel.


"Kakak mandilah dulu. Aku akan persiapkan diriku dengan baik malam ini. Ini masih terlalu sore untuk kita. Pokoknya malam ini aku pasti jadi milikmu. Jadi Aline ingin kakak dalam keadaan wangi dan segar juga. Bukan begitu?" ujar Sarlince


Qiel membingkai senyum dibibirnya dia berfikir akan menaklukan banyak wanita dalam hidupnya termasuk Sarlince.


"Baiklah aku akan membersihkan diriku dulu. Aku ingin kamu memakai baju perangmu," ucap Qiel.


"Baju perang?"


"Lingerie," bisik Qiel dengan suara sensualnya.


Sarlince menggertakkan giginya saat mendengar bisikkan dari Qiel.


"Ya. Aku akan memakainya," ujar Sarlince.


Qiel dengan tidak tahu malunya melepas seluruh pakaiannya didepan Sarlince. Namun Sarlince sama sekali tidak terpengaruh dan secepat mungkin dia mengenakan pakaiannya. Saat yakin kondisi aman, Sarlince meraih ponselnya dan mengirimkan sebuah chat untuk Umi.


"Buatkan obat yang kita beli kemaren. Antarkan sekitar jam 7 malam kekamar," chat Sarlince untuk Umi.


"Oke," balas Umi.


"Siapa?" tanya Sarlince tanpa basa basi.


"Ini aku Regent." Jawab Regent.


Tubuh Sarlince mendadak tegang saat tahu itu adalah suara pria yang membuat perasaanya ketar ketir.


"Ada apa?" Sarlince membuat nada suaranya terdengar sangat datar.


"Lagi apa?" tanya Regent.


Namun tanpa Sarlince tahu pria itu sedang menggigit lidahnya sendiri karena menanyakan hal bodoh itu. Tapi dia juga sedang kebingungan untuk memulai pembicaraan dengan Sarlince.


"Apa anda menelpon hanya ingin berbasa basi? sebaiknya tutup saja telponnya kalau ingin bicara diluar bahasan pekerjaan," ujar Sarlince ketus.


"Tunggu Aline! emm...maaf, aku hanya ingin meminta maaf padamu soal kejadian tadi," ucap Regent.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kenapa, aku tidak bisa mengendalikan diriku saat berada didekatmu,"


"Aline. Aku tidak mau kamu menganggapku sebagai musuh. Terlebih saat ini kita sudah menjadi patner kerja, aku ingin hubungan kita lebih baik dari sebelumnya agar kerjasama yang kita jalin akan lancar kedepannya," ujar Regent panjang lebar.


"Apa sudah selesai? sebagai pria anda terlalu banyak bicara. Terlebih siapa yang tidak bisa bersikap profesional disini? Anda selalu sembarangan menyentuh, tiap kali saya berada didekat anda. Apa anda fikir saya bisa memaafkan anda begitu saja?"


"Untuk kedepannya saya harap anda bisa bersikap profesional sebagai rekan bisnis. Sikap anda akan menentukan seberapa tinggi harga diri anda sebenarnya." Jawab Sarlince.


"Kalau begitu...."


Ucapan Regent terhenti saat pria itu tidak sengaja mendengar ada suara seorang pria yang memanggil nama Aline. Dan yang membuat Regent penasaran, Sarlince tiba-tiba mematikan panggilannya secara sepihak.


"Kamu menelpon siapa?" tanya Qiel.


"Rekan bisnisku." Jawab Sarlince santai.


"Seorang pria?" tanya Qiel.


"Ya." Jawab Sarlince.


"Hati-Hati. Aku tidak ingin mereka hanya modus karena ingin mendekatimu," ujar Qiel.


"Ya. Pakailah bajumu, aku akan turun kebawah sebentar," ucap Sarlince.


"Kenapa? apa kamu tidak tertarik menyentuhnya?" tanya Qiel.


Pria itu dengan sengaja memamerkan otot perutnya dan menuntun tangan Sarlince agar menyentuh otot-otot itu. Perlahan pria itu menuntun tangan lembut Sarlince agar menyentuh sesuatu dibalik handuknya. Namun Sarlince dengan sigap menarik tangannya untuk menolak keinginan pria itu.


"Bersabarlah, malam ini aku pasti akan menyentuh semuanya. Cepatlah berpakaian, susul aku kebawah. Kita akan makan malam lebih awal, bukankah malam ini adalah malam pertama kita? aku ingin menghabiskan malam bersamamu tanpa jeda. Aku tidak ingin urusan perut menghalangi malam panjang kita," bujuk Sarlince.


Mendengar ucapan Sarlince mata Qiel kembali berbinar, dia pun setuju dengan yang Sarlince ucapkan.


"Baiklah tunggu aku dibawah," ucap Qiel.


Sarlince hanya mengangguk sembari membingkai senyuman. Namun setelah dia membalikkan badan, ekspresi dingin langsung menghiasi wajah cantiknya.


"Ingin menyentuh lebih diriku, bermimpi saja. Aku pastikan kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau," batin Sarlince.

__ADS_1


Sarlince mengambil langkah besar karena ingin cepat berada dimeja makan. Dia memang sedikit agak lapar, sebab hari ini dia tidak makan siang dengan baik karena kejadian dikantor RB Group. Sarlince makan lebih dulu, tanpa harus menunggu Qiel terlebih dahulu.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2