SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
52. Terungkap


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Mehru?" ulang Umi.


"Ya. Mehru, gadis yang aku cintai dan gadis yang ingin aku cari selama ini. Tapi aku tidak tahu keberadaannya saat ini, hingga namanya sedikit tergeser sejak pertemuanku dengan Sarlince. Mungkin bisa dibilang nama Mehru sudah terhapus sejak kehadiran Nonamu dalam hidupku."


"Tapi tidak denganku. Sampai saat ini aku masih berharap bisa bertemu kembali dengan kheiren. Gadis yang diam-diam aku cintai. Sahabat dari Mehru," timpal Vino.


Tubuh Umi kali ini benar-benar bergetar. Mendengar nama Kheiren disebut, itu sudah jelas baginya bahwa Regent dan Vino adalah manusia yang datang dari masa yang sama dengan dirinya. Tentunya Umi masih ingat nama Kheiren adalah nama dirinya saat masih berada dikehidupan kedua bersama mehru. Tapi Umi sama sekali tidak ingat, tentang keberadaan dua pria asing yang berada didekatnya maupun mehru.


Melihat wajah Umi yang memucat dengan tubuh bergetar, Regent saling berpandangan dengan Vino. Entah mengapa bibir Vino bisa meloloskan nama Kheiren begitu saja, seolah dia tahu gadis yang berada didepannya ini adalah belahan jiwanya.


"Kheiren?"


Umi mendongakkan wajahnya menatap pria yang memanggil namanya. Dapat Vino lihat, mata umi yang sudah memerah dan berair. Pria itu segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Umi. Vino mencengkram kedua bahu gadis itu dan memaksanya untuk berdiri.


"Kheiren? kau kah itu?" tanya Vino.


Umi menatap mata Vino, kemudian menganggukkan kepalanya.


Grepppp


Vino memeluk erat tubuh mungil milik Umi. Sementara Regent terlihat bingung dengan situasi didepannya. Pasalnya baru kali ini dirinya melihat Vino memeluk wanita asing selain Kheiren dimasa lalu.


"Regent aku menemukan kheirenku," ujar Vino.


"Kheiren? dia?" Regent terkejut dengan mata terbelalak.


"Apa kamu yakin dia adalah Kheiren?" tanya Regent kembali.


Vino membingkai senyuman dibibirnya. Sembari menatap wajah Umi, pria itu melontarkan pertanyaan yang membuat Umi sama sekali tidak ragu menjawabnya.


"Kita akan tahu dia kheiren atau bukan saat dia menyebutkan nama terakhir dikehidupannya yang kelima,"


Umi menatap mata Vino dengan dalam. Kini dia tidak ragu lagi, bahwa pria dihadapannya ini memang mengenal baik dirinya meskipun dia sama sekali tidak mengingat keberadaan pria itu.


"Megumi." Jawab Umi singkat.


Senyum Vino bertambah lebar, dan kembali mendekap erat tubuh mungil Megumi.


"Dimana Mehru?" tanya Regent dengan tidak sabar.


Vino melerai pelukkannya dan membuat Umi duduk kembali dikursinya. Kali ini Vino mengubah tempat duduknya, dan berpindah disamping Umi yang duduk disebuah sofa panjang.


"Aku tidak tahu, aku belum menemukannya. Tapi beberapa hari yang lalu, aku sempat membuka Email dan ada email masuk dari dia. Tapi sampai saat ini tidak ada balasan dari dia saat aku mengirim email untuknya."

__ADS_1


"Berarti masih ada harapan. Dia sudah semakin dekat dengan kita. Kita hanya menunggu dia membalas email darimu," ujar Vino.


"Aku sangat takut Mehru akan berjodoh kembali dengan pria brengsek itu. Tapi tetap saja jodoh pria itu adalah wanita yang aku cintai juga," ucap Regent.


"Mungkin inilah saatnya kamu harus melupakan Sarlince Re. Tidak baik juga kamu selalu mendambakan istri orang seperti itu. Dia sudah berniat menjauhimu, jadi lebih baik kita fokus mencari keberadaan Mehru saja." Jawab Vino.


Regent tampak berfikir keras, tidak mudah baginya langsung berpaling saat dia sudah menyukai seseorang. Sosok Sarlince begitu kuat memenuhi hatinya hingga sangat sulit untuk dikeluarkan.


"Apa kalian sudah selesai berdebat? kini giliranku bertanya pada kalian. Siapa kalian sebenarnya?" tanya Umi.


"Apa sedikitpun tidak ada kilas tentang kami berdua? misalnya dikehidupan kita yang kedua?" tanya Vino.


Umi menggelengkan kepalanya tanda tidak ingat.


"Kami..."


Ucapan Vino terhenti saat ponsel Umi berdering dan panggilan itu berasal dari Sarlince.


"Angkatlah, tapi buat mode pengeras suara. Aku ingin mendengar suaranya," ujar Regent.


Vino hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu betul tidak mudah baginya merubah pola fikir pria itu.


"Umi. Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Sarlince.


"Sudah."


"Oke."


Regent memberikan kode pada Umi agar bicara sedikit lama dengan Sarlince, pria itu masih sangat merindukan wanita itu.


"Emmm...eh...apa ini menyangkut Tuan Regent?" tanya Umi asal.


Regent membingkai senyumnya karena dia suka mendengar pertanyaan Umi. Dia berharap bisa mendengar isi hati wanitanya itu.


"Bukan. Ini tentang sibrengsek Qiel." Jawab Sarlince.


Wajah Regent langsung berubah jadi masam, dan Vino hanya bisa menyembunyikan tawanya.


"A-ada apa dengan dia?"


"Hampir saja dia meniduriku. Untung saja obat itu sekali lagi membantuku, dan saat ini dia persis seperti seekor babi mati."


"Kau tahu? aku bahkan merasa jijik saat dia menciumku dan mere**s payu**raku."


Braakkkkkk


Regent tanpa sadar menggebrak meja, hingga Umi dan Vino terjengkit kaget. Sementara Sarlince mengerutkan dahinya saat mendengar suara yang lumayan berisik. Namun yang pasti saat ini wajah Umi sangat merah, dia merasa malu memperdengarkan keluhan Sarlince dikedua pria asing didepannya.

__ADS_1


"Umi suara apa itu?" tanya Sarlince.


"Emm...a-anu... itu suara pelayan yang tidak sengaja menabrak sebuah meja." Jawab Umi asal.


"Kalau begitu pulanglah, kita bisa lanjut bercerita dirumah," ujar Sarlince.


"Baik."


Umi dan Sarlince mengakhiri percakapan itu. Dapat Umi lihat wajah Regent saat ini sangat gelap dengan mata yang memerah.


"Re, kendalikan dirimu. Kenapa kamu harus marah? Sarlince kan memang istrinya, sudah sepantasnya pria itu menidurinya."


Regent menghela nafas panjang, dan berusaha meredam amarahnya.


"Umi. Aku tidak mengerti mengapa Sarlince melakukan hal itu pada suaminya. Tapi kalau mendengar makiannya tadi, sepertinya dia terpaksa menikah dengan suaminya bahkan akulah orang yang pertama kali merenggut keperawanannya."


"Ap-apa?" Umi terkejut.


"Ya itu benar. Baru kemarin kami melakukannya, itulah sebabnya aku sangat marah saat dia berusaha menghindariku, terlebih caranya sangat menyakitkan. Aku seperti dia anggap seorang gigolo, setelah memberikan dia kepuasan lalu dia mencampakkan aku begitu saja."


"Aku tahu ini tidak pantas kuceritakan padamu, tapi aku harap kamu juga mengerti perasaanku saat ini."


"Aku mendukungmu."


"Ap-apa?"


"Aku mendukungmu jika kamu memang mencintai dia. Kamu benar, pria yang dia nikahi bukan pria yang dia cintai. Dia sama sekali tidak mencintai suaminya. Tapi karena suatu hal, aku belum bisa memberitahumu apa alasannya dia menolakmu. Sebab aku juga belum tahu jalan fikirannya dengan pasti."


"Tidak Re. Kalau kamu mengejar wanita itu, lalu bagaimana Mehru saat dia ditemukan nanti? apa kamu ingin melupakan Mehru begitu saja?" tanya Vino.


Regent terdiam, kali ini dia juga merasakan dilema. Dia tidak tahu, apa saat bertemu dengan Mehru nanti jantungnya masih akan berdebar sama seperti dikehidupan sebelumnya?


"Kita akan membahas masalah ini lain waktu. Masih banyak hal yang ingin aku tanyakan pada kalian."


"Baiklah, lain waktu kita buat janji lagi. Mungkin lebih baik dihari libur saja," ujar Regent.


"Oke."


Umi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


"Kheiren," seru Vino sehingga Umi menghentikan langkahnya dan berbalik.


Vino berjalan mendekati Umi dan lansung mengec*p b***r gadis itu, yang membuat mata Umi terbelalak. Namun sejujurnya dia merasa familiyar dengan sentuhan itu, tapi Umi sama sekali tidak bisa mengingat apapun.


"Hati-Hati. Kita akan bertemu lagi nanti," ujar Vino setelah melepaskan ciumannya.


Pipi Umi bersemu merah, namun dia sama sekali tidak marah saat Vino melakukan itu padanya. Sementara Regent yang menyaksikan hal itu merasa sangat kesal karena merasa seperti menjadi obat nyamuk. Setelah Umi keluar, Vino mengedipkan matanya kearah Regent. Pria itu sengaja ingin mengolok-olok Regent yang hatinya sedang remuk redam.

__ADS_1


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2