SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
111. Hasil ujian


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Semua murid duduk dengan rapi, karena hari ini tabib Cheng akan mengumumkan hasil dari ujian yang mereka lakukan kemarin. Semua murid seakan tidak sabar menanti pengumuman itu, karena mereka ingin tahu kemampuan diri mereka masing-masing.


Suasana mendadak hening, saat tabib Cheng mulai memasuki ruangan. Senyum terbit dari bibir tabib Cheng sembari menatap wajah seluruh muridnya.


"Hari ini aku harus mengatakan dengan bangga, bahwa kalian benar-benar serius ingin belajar dibalai pengobatan ini. Dengan melihat hasil ujian kemarin, aku sangat kagum dengan kemampuan kalian dalam menjawab semua pertanyaan dariku, dan bahkan ada yang mendapatkan nilai sempurna."


Semua murid berbisik-bisik karena penasaran, siapa yang mendapat nilai sempurna itu.


"Dan yang lebih membuatku bangga adalah, tidak ada diantara kalian yang mendapatkan nilai rendah, atau dibawah rata-rata. Sungguh matipun aku rela, melihat para muridku semuanya mengagumkan."


"Suhu siapa yang mendapatkan nilai sempurna itu?" tanya salah satu murid tabib Cheng.


Sementara senyum Seo terbit dari bibirnya.


"Iya Suhu, kami sudah tidak sabar mengetahui hasilnya," timpal yang lain.


"Baiklah-Baiklah. Yang pasti kalian jangan punya rasa iri satu sama lain. Nilai yang didapat ini murni hasil dari kerja keras kalian, tidak ada unsur pilih kasih atau berpihak dalam penilaian."


"Nilai tertinggi diraih oleh Mehru."


Senyum sederhana terbit dari bibir Mehru, sembari menundukkan kepalanya tanda penghormatan untuk Tabib Cheng dan teman-temannya. Sementara itu, senyum yang semula ada, mendadak hilang dari bibir Seo. Galeo tersenyum puas melihat ekspresi kecewa diwajah Seo.


"Untuk nilai tertinggi kedua dan ketiga diraih oleh Galeo dan Seo."


Seo memasang senyum palsunya, dadanya merasakan gemuruh yang hebat, karena dirinya bisa kalah oleh Galeo yang merupakan saingan baginya.


Selanjutnya Tabib Cheng menyebutkan urutan nilai-nilai tertinggi, hingga nilai yang terendah.


"Suhu. Kapan kita akan mengadakan ujian prakteknya?" tanya salah satu murid.


"Kalian akan melalui ujian sebanyak 3 tahap. Untuk tahap pertama sudah kita lakukan kemarin, untuk tahap kedua kalian akan diuji tentang meramu obat untuk 15 macam penyakit mematikan, karena kalian sudah mahir membuat ramuan penyakit ringan."


"Untuk itu, ujian kalian akan diadakan esok hari. Untuk hari ini kalian bersama-sama kehutan untuk mencari tanaman obat sebanyak-banyaknya, untuk bekal ujian kalian besok."


"Baik Suhu." Mereka menjawab serentak.


Semua murid langsung berdiri dan mengambil keranjang mereka masing-masing. Mereka berduyun-duyun, berkerja sama untuk mencari tanaman obat yang akan mereka gunakan untuk ujian esok hari.


"Mehru aku ucapkan selamat untukku," ujar Seo.


"Terima kasih. Tapi ujian ini belum berakhir, masih ada dua tahap ujian lagi. Kamu simpan saja ucapan selamatmu itu, siapa tahu ditahap selanjutnya malah aku yang akan mengucapkan selamat padamu."

__ADS_1


"Aku sangat bangga jadi kekasihmu, aku benar-benar merasa beruntung."


"Aku juga beruntung memilikimu."


"Ayo kita cari tanaman obat sebanyaknya, sepertinya disebelah sana sangat banyak," ujar Seo.


"Emm."


"Bukankah itu Mesa dan galeo? sedang apa Mereka?" ucap Seo.


Mehru memperhatikan gerak gerik Galeo dan Mesa yang tampak sedang bertengkar. Mesa yang merasakann ada pergerakan mendekat kearah mereka, melihat dengan ekor matanya.


"Sudah kubilang aku tidak mau Gale, kamu jangan memaksaku," ucap Mesa sembari memegang tangan Galeo, yang membuat pemuda itu tampak kebingungan.


"Mesa, apa yang kamu katakan?" tanya gale bingung.


"Ada apa ini? Mesa, ada apa?" tanya Mehru.


Mesa langsung berpura-pura menangis seketika.


"Gale, ada apa? kenapa Mesa menangis?" tanya Mehru.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Galeo.


"Mesa, apa yang kamu bicarakan? kamu jangan mengada-ada."


"Apa? aku mengada-ada? Mehru apa kamu mau melihat semua buktinya?"


"Bukti?"


Mesa menyeret tangan Mehru kerena dia ingin menunjukkan sesuatu pada gadis itu. Mesa mengajak Mehru kearah balik pohon besar, dan mulai menarik sedikit kain kembannya, Mehru bisa melihat dua tanda merah dibagian dalam dada gadis itu yang membuat mata Mehru terbelalak.


"Apa ini sungguh perbuatan Gale?"


"Mehru, apa kamu tidak mempercayaiku? apa kamu ingin menyamakan aku dengan wanita dirumah bordil itu?"


"Bu-Bukan begitu Mesa, tapi aku..."


"Mehru, aku tahu dia sahabatmu, dan kalian berasal dari desa yang sama. Tapi dia benar-benar berbuat itu padaku. Dia memaksaku untuk melayaninya, padahal aku sudah berulang kali menolaknya."


"Maafkan aku Mesa, aku benar-benar tidak tahu kalau Gale bisa melakukan hal itu padamu."


"Dia bilang padaku menyukaimu, tapi kamu lebih memilih bersama Seo. Itulah sebabnya dia ingin melampiaskannya padaku. Mehru, aku sangat takut saat ini."


"Kamu jangan takut, aku akan melindungimu semampuku. Tapi kalian belum sampai ketahap itu kan?"

__ADS_1


Mesa menggelengkan kepalanya dengan memasang wajah sesedih mungkin.


"Tapi tadi dia hampir menodaiku, beruntung kalian cepat datang. Kalau tidak, dia ingin menyeretke kedalam hutan yang jauh."


"Ya sudah kita temui dia sekarang,"


"Tidak Mehru, aku sangat takut."


"Kami tenang saja, aku selalu ada untukmu "


"Emm." Mesa mengangguk.


Mehru berjalan lebih dulu, sementara Mesa berjalan dibelakang gadis itu sembari menyeringai penuh kemenangan. Namun saat mereka tiba ditempat dimana Seo dan Galeo berada, kedua pemuda itu tampak terjadi perkelahian sengit, dan Seo mampu Gale kalahkan.


Bughhhh


Mehru memukul Gale dengan cukup keras, saat pria itu ingin kembali menyerang Seo.


"Apa kamu masih belum cukup puas membuat ulah? kamu hampir saja menodai Mesa, dan sekarang ingin membunuh Seo juga? hardik Mehru.


"Mehru, apa yang kamu katakan? menodai Mesa? mana mungkin aku melakukan perbuatan keji itu?"


"Aku sudah melihat buktinya."


"Bukti? bukti apa yang kau bicarakan!"


"Bukti yang bisa membuatku membencimu. Sungguh aku tidak menyangka kamu mampu berbuat serendah itu Gale,"


"Mehru, apapun yang Mesa dan Seo katakan, jangan pernah mempercayai mereka. Mereka itu manusia licik, yang bisa berbuat apapun agar tujuan mereka tercapai."


"Bukankah kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?"


Galeo menatap sedih kearah Mehru, sangat sulit baginya meyakinkan gadis itu, bahwa dirinya tidak bersalah.


Tanpa banyak bicara, Galeo langsung pergi dari hadapan Mehru dengan membawa bengkak dihatinya.


"Mehru, kami jadi tidak enak denganmu. Gara-Gara kami, kamu jadi bertengkar dengan sahabatamu," ujar Seo.


"Tidak apa-apa, siapapun orangnya, yang salah tetap salah. Ayo kita lanjutkan mencari tanaman obatnya. Sebentar lagi senja, kita harus cepat pulang."


"Emm," Seo mengangguk.


Mehru memimpin jalan lebih dulu, sementara Seo dan Mesa saling tersenyum penuh arti. Setelah menjelang senja, akhirnya mereka tiba di balai pengobatan dengan membawa banyak jenis tanaman obat. Mereka kemudian pulang kerumah masing-masing untuk beristirahat.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2