
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Hah...pertarungan yang melelahkan. Sebaiknya kita akhiri saja lebih cepat."
Akashi meraih pistolnya dan menodongkannya kearah Hideo.
"Sebaiknya ucapkan selamat tinggal dulu untuk nenekmu, aku ingin melihat rasa sakit dimatamu itu Hideo."
Akashi memindahkan arah pistolnya pada Azuzi. Tubuh Hideo bergetar saat menatap sang nenek yang malah tersenyum padanya. Wanita renta itu seolah ingin meyakinkan Hideo bahwa dirinya akan baik-baik saja meskipun harus kehilangan nyawanya.
Boom
Lagi-Lagi terdengar suara ledakan, hingga membuat sedikit kerusakan didinding tempat Akashi berdiri saat ini.
"Sialan! coba kalian cek, apa mereka sudah berhasil masuk kedalam?"
Anak buah Akashi bergegas membuka pintu. Namun hal tak terduga malah terjadi, kedua pria bertubuh besar itu malah diberondong beberapa peluru dan akhirnya tewas seketika.
Melihat dirinya terdesak, Akashi menodongkan pistolnya kearah pintu, untuk menembak siapapun yang masuk kesana.
Door
Akashi melepaskan sebuah peluruh, saat melihat ada pergerakan seseorang yang ingin masuk kedalam. Namun diluar dugaan Akashi, orang yang dia tembak itu adalah salah satu anak buahnya yang memang sudah tak bernyawa.
Saat akan melepaskan tembakan sekali lagi, pistol ditangannya malah terlepas, saat sebuah peluru mengenai tangannya.
"Akkkhhh...brengsek!" hardik Akashi yang meringis kesakitan.
Yama tiba-tiba muncul dari depan pintu dan menodongkan sebuah senapan berlaras panjang kearah Akashi. Tidak berapa lama kemudian Sarlince dan teman-temannya juga masuk untuk menyelamatkan Yayoi, Azuzi dan Hideo.
"Kalian...."
Hideo tidak bisa berkata-kata, saat melihat orang-orang yang awalnya ingin dia lenyapkan, malah berbalik menyelamatkan nyawanya.
Hideo mengangkat tubuh Yayoi yang lemah dan tidak sadarkan diri. Sementara itu Sarlince dan Regent melepaskan ikatan Azuzi dan memapah wanita renta itu.
Martin merampas pistol yang ada didekat Akashi karena takut pria itu akan beraksi kembali.
"Bos. Kita apakan laki-laki ini?" tanya Yama.
Hideo menoleh sejenak kearah Akashi. Masih segar diingatannya saat-saat kebersamaannya dengan pria itu. Pria yang pernah dia anggap seperti saudaranya sendiri, namun akhirnya menusuknya dari belakang.
"Biarkan saja dia,"
Hideo melangkah pergi meninggalkan markas itu. Namun pria yang sudah dibutakan oleh ambisi itu malah menyeringai, dia benar-benar tidak ingin kalah begitu saja. Saat Hideo dan rombongan itu berhasil keluar dari markas itu, Akashi malah berteriak begitu lantang sembari memegang sebuah benda ditangannya.
"Apa kalian pikir bisa pergi begitu saja? aku Akashi tidak suka menerima kekalahan. Sebaiknya kalian ucapkan saja selamat tinggal pada siapa saja yang mati karena benda ini,"
Akashi menunjukkan sebuah geranat yang sudah dilepas pemicunya. Mata Hideo terbelalak seketika, begitu juga dengan yang lainnya. Akashi kemudian melempar geranat itu, Hideo melihat arah Geranat jatuh tepat kearah Sarlince dan sang nenek, Hideo segera meyerahkan Yahoi pada Yama. Hideo berlari secepat mungkin, dan mendorong Sarlince agar menjauh.
__ADS_1
Tap
Geranat itu berhasil Hideo tangkap. Pria itu kemudian menyunggingkan senyumnya saat melihat kearah Azuzi dan juga teman-temannya.
"Hideooooo!!!! teriak Sarlince.
Hideo melempar geranat itu namun tidak cukup jauh.
Boom
"Hideo!!!! teriak Azuzi yang kemudian tidak sadarkan diri.
Door
Door
Door
Sarlince yang begitu emosi langsung memberondong Akashi dengan peluru. Pria itu tergeletak tak bernyawa setelah peluru itu tepat mengenai kepala, jantung, dan juga perutnya.
"Hideo..."
Regent mendekati Hideo dan melihat kondisi Hideo yang sudah tidak sadarkan diri karena sudah kehilangan satu tangannya. Regent segera membawa tubuh Hideo dan memasukkan pria itu kedalam mobil untuk segera dibawa kerumah sakit.
Mobil merekapun saling beriring-iringan, dengan kecepatan diatas rata-rata. Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, merekapun tiba disebuah rumah sakit besar di negara J.
Para dokter dan tim medis lainnya dibuat sibuk, karena Hideo dan Yayoi sama-sama berada dalam fase kritis. Beruntung diantara mereka semua ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Yayoi dan juga Hideo. Sehingga membuat dua orang itu bisa melewati masa kritisnya.
*****
"Ckk...ternyata aku masih hidup. Padahal aku sudah sangat siap untuk mati, agar aku bisa segera bertemu denganbkeluargaku," ucap Yayoi lirih.
"Eh? kalau aku disini? bagaimana dengan nenek dan Hideo? apa mereka baik-baik saja?"
Yayoi mendadak cemas, karena terakhir kali yang dia ingat, situasi mereka benar-benar tidak menguntungkan sama sekali.
"Awww..."
Tidak hanya merasakan sakit dibahu, Yahoi juga merasakan sakit ditulang belakangnya. Dan itu benar-benar membuatnya kesulitan menggerakkan tubuhnya.
"Ini pasti karena aku menghadang kursi itu. Hah...apa yang harus aku lakukan kalau begini! siapa sebenarnya yang sudah membawaku kesini?"
Kriekkkk
Sarlince yang baru masuk tampak terkejut, saat melihat Yayoi yang sudah sadar.
"Aline,"
"Yoi,"
Sarlince berhambur kepelukkan gadis itu, dia sangat senang saat tahu Yayoi sudah sadarkan diri.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu saat ini? apa masih terasa sakit?" tanya Sarlince.
"Iya. Tubuhku terasa sakit semua dan sulit digerakkan."
"Bersabarlah, sebentar lagi kamu pasti akan sembuh."
"Aline. Katakan padaku, dimana nenek dan Hideo? Apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja, Hideo juga sedang dirawat karena sedikit terluka."
"Tapi dia tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja. Kalau sudah pulih, dia pasti akan mengunjungimu juga."
"Hah...syukurlah. Aku yakin kalian yang sudah membantu kami bukan?"
"Iya."
"Bagaimana dengan Akashi dan anak buahnya?"
"Mereka sudah kami bantai habis."
"Benarkah? itu sungguh bagus, mereka sama sekali tidak cocok hidup terlalu lama."
"Kenapa?"
"Cara kerja mereka sangat kejam, serakah dan juga sangat ambisius. Sejak dulu Akashi selalu mencari gara-gara dengan Hideo."
"Begitu?"
"Ya. Tapi Hideo tidak meladeninya, karena masih mengingat mereka pernah berteman dan makan di satu piring yang sama."
"Sungguh persahabatan yang tragis kalau begitu."
"Ya. Sebenarnya Hideo orang yang baik, tapi keadaan yang memaksa dia jadi seperti itu."
"Yoi. Apa kamu meyukai Hideo?"
"Eh? apa yang kau katakan?" wajah Yayoi bersemu merah.
"Aku bisa melihatnya, kamu tidak perlu mengelak."
"Tapi meskipun begitu Hideo tidak mungkin membalas perasaanku, dia sangat jauh dari jangkauanku. Terlebih dia pernah bilang, kalau dia tidak suka berkomitmen dan juga tidak suka anak-anak."
"Yoi. Jika Hideo tidak sempurna lagi seperti dulu, apa kamu masih akan menyukainya?"
"Mana mungkin rasa suka cepat berubah hanya karena pasangan kita tidak sempurna. Itu artinya rasa suka yang kita miliki tidak tulus."
"Bagus. Pertahankan itu,"Sarlince menyunggingkan senyumnya.
Setelah koma hampir seminggu, akhirnya Hideo sadar juga. Pria itu tampak tegar, meskipun harus kehilangan tangan kirinya. Disisi lain, Yahoi juga baru pulih dan sudah bisa menggerakkan tubuhnya. Gadis itu bermaksud ingin menjenguk Hideo, karena dia ingin memastikan bahwa pria yang diam-diam disukainya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏