
"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Regent saat keluar dari kamar.
Akira, Chio, dan Martin, memang tengah minum teh dan makan gorengan di ruang tamu.
"Pakai nanya lagi. Nggak ada yang bisa tidur, gara-gara ada gempa buatan. Mana letusan gunungnya kenceng banget," sindir Vino.
Plakkkk
Vino memukul punggung tangan Regent, saat pria itu akan meraih pisang goreng.
"Aduhhh...sakit Vin. Kenapa sih? pelit banget," tanya Regent.
"Sudah dicuci belum itu tanganmu?" tanya Vino.
"Iya Ge. Jangan kira kami nggak tahu kamu lagi ngapain semalam. Jorok!" timpal Akira.
Regent hanya bisa garuk-garuk kepala, karena dirinya memang belum mencuci tangannya.
"Harap maklum bro. Namanya juga kangen. Yang jomblo jangan iri. Kalian yang sering jajan sudah pasti tahu, kalau nggak masuk sarang pasti kedinginan," ujar Regent sembari terkekeh.
"Ya. Tapi kamu nggak lihat situasi. Mata ngantuk badan capek, malah disuruh nemenin begadang. Malah nggak cukup sekali lagi," sindir Chio.
"Iya maaf deh," ucap Regent sembari bangkit dari atas karpet, dan segera mencuci tangannya.
Sarlince hanya bisa tersipu mendengar perbincangan antara suaminya dan para sahabatnya itu. Dia jadi malu menampakkan diri di depan teman-temannya.
"Sayang. Kenapa belum keluar? ayo kita sarapan sama-sama," ujar Regent saat pria itu selesai mencuci tangannya.
"Malu. Mana rambutku masih basah lagi." Jawab Sarlince.
"Ngapain malu. Cuek aja, toh mereka sudah dewasa ini," ujar Regent.
"Emmm." Sarlince mengangguk.
Sarlince keluar kamar bersama dengan Regent. Semua mata langsung tertuju pada Sarlince yang tampak segar dengan rambut basahnya.
__ADS_1
"Semalam kena guncangan gempa ya Lin?" tanya Akira.
"Iya pas kena guncang, jatuhnya ke kali. Jadi basah deh," ledek Martin.
Plukkkk
Regent melempar Martin dengan pisang goreng panas. Sementara Sarlince hanya bisa mengulum senyumnya.
"Maaf ya sudah membuat kalian kesulitan tidur," ucap Sarlince.
"Ah...nggak apa-apa. Apa sih yang nggak buat kamu," Akira mengibaskan tangannya.
"Makanlah pisang goreng dan tehnya Lin, itu bisa mengembalikan staminamu yang hilang," ujar Martin.
Sarline tahu teman-temannya tengah menyindir dirinya. Tapi wanita itu sama sekali tidak marah.
"Apa rencana kita setelah ini?" tanya Akira.
"Kalian akan pergi untuk melihat hasil kerja kalian semalam. Aku rasa tidak semua orang berada dalam ruangan tadi malam. Tapi aku sangat berharap pria keriput itu sudah binasa." Jawab Sarlince.
Merekapun segera menghabiskan makanan, dan pergi ke markas rahasia itu.
"Apa peluru bius sudah kamu bawa?" tanya Sarlince yang ikut mengintai dari dalam mobil. Dia ingin berjaga-jaga, kalau-kalau ada hal yang tidak di inginkan.
"Sudah. Aku bahkan membawa bom molotov juga." Jawab Regent.
"Bagus. Disaat terdesak, kalian bisa menggunakan cairan asap, untuk menghalangi pandangan mereka," ujar Regent.
"Ya sudah kami berangkat ya! do'akan saja kami berhasil," ujar Regent.
"Pasti." Jawab Sarlince.
Kelima pria itupun pergi dengan membawa 5 buah karung. Saat ini mereka tengah menyamar menjadi seorang pemulung untuk mengelabuhi musuhnya.
Saat mereka tiba di pagar teralis, terlihat beberapa orang sibuk mengankat banyak mayat dan melemparkannya kesebuah lubang besar yang berada diantara semak-semak.
__ADS_1
"Maaf pak. Itu apa yang di lempar?" tanya Akira.
"Kambing." Jawab pejaga gerbang.
"Kambing? tapi kenapa?" tanya Chio.
"Semalam keracunan." Jawab Penjaga itu dengan asal.
"Kok bisa keracunan?" tanya Regent.
"Bukan urusan kalian. Sebaiknya kalian pergi dati sini, sebelum terpapar racunnya," ujar pria bertato itu.
"Pak tujuan kami pengen mulung. Barangkali ada barang bekas di dalam," ujar Regent.
"Tidak ada. Pergilah!" pria itu mulai tidak bersahabat lagi.
Dengan terpaksa Regent menembakkan peluru bius untuk pria itu, hingga pria bertato itu jadi pingsan.
"Sial. Bagaimana cara kita masuk kedalam? teralis ini digembok, dan kuncinya pasti ada di pria yang sedang pingsan itu," ujar Vino.
"Kenapa pusing-pusing. Biar aku panjat saja teralisnya. Nanti biar aku cari kunci gembok di tubuh pria itu," ujar Martin.
Tanpa banyak basa basi Martin segera memanjat teralis itu dan berhasil masuk kedalam sana. Dengan gerakkan cepat dia segera mencari keberadaan kunci di kantong saku celana pria yang tengah pingsan itu.
Setelah mendapatkannya Martin segera membuka pintu itu dan mereka semua berhasil masuk. Mereka mengendap-endap dan melihat siapa saja yang dibuang kedalam lubang besar itu.
"Apa Asmodeus juga mati?" bisik Vano.
"Tidak tahu. Itulah tujuan kita datang kesini." Bisik Regent.
"Kalau begitu kita harus memperkirakan berapa orang yang tersisa, agar kita bisa menyerang mereka dengan mudah. Dan cara pertama adalah, kita melihat siapa saja yang bertugas mengangkut mayat-mayat itu," ujar Vino.
"Benar. Aku juga berpikir begitu," timpal Regent.
Setelah mengamati cukup lama, ternyata yang mengangkat para mayat itu hanya 4 orang saja. Setelah mayat terkumpul, mereka menyiram mayat itu dengan minyak tanah, dan kemudian membakarnya.
__ADS_1