
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
*****
"Kata-Kata apa yang nenek maksud?"
"Nenek ingin aku membujukmu agar kita segera menikah."
Hideo menyunggingkan senyum tipis, dia selalu ingin tertawa tiap kali sang nenek membahas tentang pernikahannya.
"Tidak usah dengarkan apapun yang dia katakan, dia ingin aku segera menikah dan itu sudah dari sejak dulu."
"Tidak ada salahnya juga menyenangkan hati orang tua selagi kita mampu dan punya kesempatan melakukannya. Kamu sangat beruntung masih diberikan kesempatan itu, tidak seperti diriku..."
Yayoi enggan meneruskan kata-katanya karena itu akan membuat perasaannya jadi tidak menentu.
"Aku tidak suka berkomitmen, dan tidak juga suka anak-anak. Itulah aku memutuskan tidak ingin menikah seumur hidupku,"
"Lalu bagaimana dengan nenek? apa kamu tidak ingin membuatnya bahagia?"
"Bahagia tidak harus melihatku menikah. Itu hanya keinginan orang tua saja, lambat laun dia akan lelah sendiri."
"Kenapa tidak menuruti keinginannya saja?"
"Hidup menikah pasti membosankan, kita hidup dengan satu wanita saja. Kalau tidak menikah, bisa bertemu dan tidur dengan wanita mana saja."
Yayoi tersenyum masam saat mendengar prinsip hidup Hideo yang mengerikan menurutnya. Dan dapat dia pastikan, dirinya tidak akan cocok jika hidup bersama Hideo.
Setelah memakan waktu 20 menit, Hideo tiba di markasnya kembali. Sesuai perjanjian dengan Sarlince, Yayoi dan teman-temannya akan tinggal di markas sementara waktu, sampai Sarlince pulang ketanah air.
Yayoi menghela nafas saat melihat mobil yang Hideo kendarai semakin menjauh dan hilang ditikungan. Pria itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih padanya atas pertolongannya yang memang tidak seberapa itu.
*****
"Hideo. Apa Yoi sibuk hari ini?"
"Ada apa nek?"
"Aku ingin dia membuatkan sesuatu untuk nenek."
"Sesuatu? apa itu?"
"Aku ingin dia membantu nenek membuat kue, sekalian nenek ingin berbincang banyak hal dengannya."
"Kalau nenek menginginkan kue, nanti akan aku belikan. Tidak perlu membawa Yayoi kemari."
"Bukan itu inti dari nenek menginginkan dia kemari, sebaiknya kamu jemput saja dia. Kamu bisa pergi setelah itu,"
"Baiklah, aku akan mengajaknya kemari kalau hari ini dia tidak sibuk."
Hideo segera menghabiskan menu sarapannya. Pria itu tampak berpikir keras, untuk mencari alasan pada Yayoi agar gadis itu mau membantunya sekali lagi.
Yayoi tampak sibuk bermain ponselnya ketika Hideo datang menghampirinya. Melihat ada sepasang sepatu diarah pandang matanya, mau tak mau Yayoi mendongak untuk memastikan pemilik dari sepatu itu.
"Ada apa?"
"Ikut aku,"
"Kemana?"
"Jangan banyak tanya,"
__ADS_1
Hideo berjalan lebih dulu, sementara Yayoi mau tak mau mengekor dibelakang pria itu.
"Kita mau kemana?"
"Kesalon."
"Kesalon?"
Hideo tidak menjawab ucapan Yayoi, sementara itu Yayoi tampak kesal karena merasa Hideo semaunya sendiri.
"Dandani dia secantik mungkin," ujar Hideo ketika pria itu dan Yayoi tiba disebuah salon.
"Ganti pakaiannya dengan yang ini,"
Hideo menyodorkan sebuah paperbag pada pegawai salon, Yayoi hanya diam saja dan mengikuti semua yang Hideo inginkan.
Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya Yayoi selesai di make over. Jari-Jari Yayoi saling bertautan, saat Hideo menatap dirinya begitu lekat namun tanpa ekspresi apapun.
"Ayo,"
Hideo berjalan lebih dulu, sementara Yayoi yang kesal mengepalkan tinjunya kebelakang kepala Hideo.
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Yayoi.
"Nenek ingin bertemu denganmu lagi, dia minta ditemani membuat kue."
"Kue?"
"Kenapa?"
"Mana aku bisa membuat kue, apa kamu lupa aku besar bukan dirumah? beruntung aku bisa memasak mie instan."
Hideo terdiam, dia memang melupakan kenyataan yang satu itu. Yayoi bergabung dengannya ketika usianya masih 18 tahun. Gadis itu dilatih begitu keras, karena pernah merasakan hidup dijalanan.
"Iya."
"Temani dia sekitar satu dua jam saja, aku akan pergi mengurus sesuatu yang penting di markas."
"Ya."
"Nanti akan aku jemput lagi kalau urusanku sudah selesai,"
"Ya."
"Dengarkan saja saat dia bicara, jangan berkata yang aneh-aneh, yang membuat dia tambah berkhayal tinggi."
"Ya."
Hideo dan Yayoi kembali terdiam, hingga mereka tiba dikediaman Hideo.
"Nenek senang kamu datang lagi cantik,"
"Ya. Kalau nenek yang meminta, pasti Yoi akan datang."
"Kalian silahkan ngobrol, atau lakukan apapun yang membuat kalian senang, aku akan pergi keluar sebentar."
"Kamu mau kemana?" tanya Azuzi.
"Ada barang masuk di restauran, aku diberi tugas untuk menghitung barang yang masuk itu."
"Baiklah, jangan lama-lama. Kasihan Yoi, pasti bosan ngobrol dengan orang tua sepertiku "
__ADS_1
"Ya."
Hideo langsung menginjak gas mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Yayoi dan neneknya dihalaman rumah.
"Apa kamu bisa memasak kue?"
"Maaf nenek, jujur saja Yoi tidak bisa memasak. Tapi Yoi mau belajar kok,"
"Tidak apa-apa, kamu hidup sendiri pasti banyak menghabiskan waktu diluar untuk bekerja."
"Iya. Yoi memang tidak punya kesempatan untuk masak, karena Yoi tinggal dirumah sewa."
"Kalau begitu cepatlah menikah dengan Hideo, nanti nenek akan mengajarimu banyak hal."
"Ya. Nanti aku akan bicarakan hal ini dengan Hideo,"
"Ayo ikut nenek, nenek akan mengajari membuat kue paling sederhana."
"Emm." Yayoi mengangguk.
Yayoi dan Azuzi pergi menuju dapur, namun baru saja mereka ingin memulai membuat kue, suara ketukan yang lumayan kasar menggema dipintu utama.
"Siapa yang datang dengan tidak sopan begitu? apa anak nakal itu kembali lagi? tapi tidak biasanya dia begitu?"
"Biar Yoi saja yang membuka pintu, nenek tunggu saja disini."
"Anak baik, tolong ya?"
Yoi menyunggingkan senyumnya, kemudian melangkah pergi menuju depan pintu.
Krieeekkkk
Yayoi yang kurang waspada dan tidak menduga akan terjadi sesuatu langsung membuka pintu begitu saja. Tampak beberapa orang berjaket hitam mendorong paksa Yayoi agar masuk kedalam.
"Mau apa kalian?" tanya Yayoi.
Yayoi melirik kearah salah seorang yang memiliki tato sebuah harimau, Yayoi tegang seketika saat tahu itu adalah orang-orang dari geng harimau putih. Yayoi sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatannya, melainkan keselamatan nenek Hideo yang dia pikirkan.
"Siapa Yoi?"
Tubuh Yayoi semakin menegang saat mendengar suara Azuzi yang mendekat kearahnya. Sementara itu para pria bertubuh besar itu tampak senang saat melihat target mereka.
"Bawa wanita tua itu!" perintah salah seorang pria berwajah dingin.
Saat beberapa pria maju, Yayoi spontan menghalangi dengan memberikan perlawanan. Beberapa pria itu lumayan kualahan menghadapi Yayoi yang ternyata memiliki kemampuan bela diri yang lumayan tangguh. Namun karena orang yang mengeroyok Yayoi semakin banyak, gadis itu tampak kelelahan dan akhirnya terkena beberapa kali pukulan.
"Berhenti!" Azuzi yang melihat Yayoi sudah tampak lelah dan terkena pukulan, mencoba melerai perkelahian sengit itu.
"Apa yang kalian inginkan? kalian ingin merampok rumah ini? silahkan ambil apapun yang kalian mau, tapi jangan sakiti cucuku."
"Kami tidak butuh hartamu, kami ingin anda ikut kami secara suka rela."
"Aku?"
Pria berwajah dingin itu memberikan kode pada anak buahnya, untuk menangkap Azuzi dan juga Yayoi. Yayoi terpaksa menurut, karena orang-orang itu mengancam akan menyakiti Azuzi.
Setelah sampai disebuah markas, Azuzi dan Yayoi diikat disebuah kursi kayu, orang-orang itu bahkan merekam sebuah Video saat mereka meraba Yayoi dan juga memukul Azuzi.
Ting
Sebuah chat masuk keponsel Hideo, rahang Hideo mengeras, saat membuka sebuah video yang benar-benar membuat Hideo mengamuk seketika.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏