SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
89. Membantu Warga


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Jadi kalian orang-orang yang mengungsi karena terjadinya gempa itu?" tanya Kuolo.


"Betul ketua suku. Kami kemari ingin mengungsi, sampai desa kami benar-benar dirasa cukup aman. Pasalnya ini gempa kali ketiga yang terjadi didesa kami, dan menelan banyak nyawa warga, juga menimbun sebagian rumah penduduk." Jawab Galeo yang mewakili warganya untuk bicara pada kepala suku.


"Ini sudah hampir malam, tidak mungkin bagi kalian membangun rumah kalian sekarang juga. Kalian perlu masuk kehutan untuk mencari kayu-kayu yang akan kalian jadikan rumah."


"Betul Ketua suku. Kiranya apa menurut ketua yang baik untuk kami, kami akan menerimanya."


"Ada berapa kepala keluarga yang ikut mengungsi kedesa ini?"


"Kurang lebih ada 15 kepala keluarga. Masing-Masing kepala keluarga terdiri dari 3-4 orang."


"Itu artinya kalian juga harus membangun sekitar 15 rumah untuk satu orang satu kepala keluarga."


"Betul ketua suku."


"Baiklah, karena bentuk rumah di desa ini memanjang, jadi kita harus menbangun 15 rumah itu disepanjang jalan ini. Buat agar rumahnya berhadapan."


"Baik ketua."


"Besok putriku akan menemani kalian kehutan, untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan rumah."


"Putri?"


"Ya. Aku hanya memiliki seorang putri saja, tapi saat ini dia sedang pergi kesalah satu rumah warga yang terkena penyakit serius."


"Penyakit serius?"


"Kalian harus dengarkan ini. Sebagai warga pendatang, kalian juga perlu tahu tentang keadaan warga disini. Saat ini ada sebuah keluarga yang sedang terjangkit penyakit aneh. Jadi aku sarankan kalian harus menjaga kebersihan rumah kalian, dan jangan berkunjung kerumah siapapun untuk mencegah penularannya."


"Apa itu benar-benar penyakit? atau terkena ilmu sihir?" timpal salah seorang warga yang usianya hampir sebaya dengan kuolo.


"Belum bisa dipastikan. Saat ini putriku sedang berupaya menyembuhkan penyakitnya."


"Kebetulan paman Renggawe adalah seorang dukun didesa kami ketua suku, barangkali dia bisa ikut membantu warga yang terkena penyakit itu," ujar Galeo.


"Akan kita rembukkan kembali setelah putriku datang."


"Apa putrimu seorang tabib?"


"Kebetulan desa kami memang mencari tabib dan dukun, agar desa kita ini bergantung padanya saat terkena penyakit."


"Jadi putrimu bukan..."


"Ya. Dia seorang warga biasa saja, tapi dia memiliki kemampuan dalam meracik obat sendiri,"


"Bakat yang langka. Aku dengar di desa seberang ada seorang tabib terkenal yang membuka sekolah gratis untuk warga yang berminat mengembangkan ilmu pengobatan. Seorang suhu yang berasal dari negeri yang jauh. Usianya sudah tua, dia ingin menurunkan semua ilmunya pada siapa saja yang berminat untuk belajar."


"Benarkah?"


"Ya. Barangkali putrimu ingin belajar ilmu pengobatan, agar kelak bisa membantu warna disini."


"Akan aku bicarakan dengannya nanti. Sekarang lebih baik kalian mengumpulkan pelepah nipah seadanya. Untuk kaum wanita bisa masuk beristirahat didalam, sementara kaum laki-laki bisa mengalah lebih dulu dan tidur diluar."


"Baik." ujar Galeo.


Semua warga lelaki bahu membahu mengumpulan pelepah nipah untuk dijadikan alas tidur. Mereka juga membuat perapian diluar, untuk mengusir para nyamuk agar tidak mendekat.


*****


Keesokkan harinya Galeo dan warga lainnya sudah bersiap ingin memasuki hutan untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan rumah.


Matahari mulai menyingsing saat Galeo melihat dua gadis menunggang kuda datang dikediaman kuolo.


"Bukankah itu gadis yang kami temui kemarin sore?" batin Galeo.

__ADS_1


Mehru menundukkan kepalanya tanda hormat pada warga pendatang, sebelum gadis itu memasuki rumahnya sendiri.


"Mehru, kebetulan kamu sudah datang. Baba ingin kamu menemani warga ini untuk mencari bahan-bahan untuk membuat rumah mereka."


"Baik Ba."


"Jadi dia putri yang ketua suku maksud?" tanya Galeo.


"Ya."


"Kebetulan kemarin sore kami sudah pernah bertemu sebelumnya, aku tidak menyangka dia adalah putri ketua suku."


"Benarkah? baguslah kalau begitu, jadi kalian tidak canggung lagi."


"Sebelum berangkat sebaiknya kalian makan ini dulu,"


Saguni membawa sebakul besar ketela pohon rebus dan ditemani beberapa cawan teh bunga racikkannya sendiri.


Setelah mengganjal perut, Mehru, keheiren, Galeo, Mawe beserta warga laki-laki lainnya pergi memasuki hutan untuk mencari kayu yang diperlukan. Tidak lupa Mehru membawa busur dan panahnya untuk berjaga-jaga kalau ada hewan yang bisa dia buru.


"Apa kamu biasa memasuki hutan ini?" tanya Galeo.


"Ya. Hutan ini menjadi tempatku berburu sehari-hari,"


"Berburu?"


"Ya. Kenapa?"


"Tidak. Hanya saja, didesaku para gadis selalu diam dirumah, hanya para laki-laki yang berburu dihutan. Apa kamu tidak merasakan takut?"


"Kamu bertanya pada orang yang salah," timpal kheiren.


"Kenapa?" tanya Mawe.


"Bahkan seekor harimau besarpun sudah dia taklukkan."


"Ha-harimau?" mawe terkejut.


"Ya aku lihat," ujar Mawe.


"Itu harimau yang berhasil Mehru buru," ucap Kheiren.


"Apa kalian pergi selalu berkuda?" tanya Galeo.


"Ya. Paling tidak ini bisa membantu kami untuk membawa hasil buruan, karena tidak mungkin kami sanggup memanggulnya sampai kerumah bukan?"


"Ya. Walau bagaimanapun kalian tetap saja seorang gadis, tenaga kalian tidak sekuat laki-laki."


"Lalu kemana kuda kalian? kenapa tidak membawanya?" tanya Mehru.


"Kami tidak memilikinya, didesaku berburu dengan berjalan kaki dan dibantu oleh anjing."


"Kenapa?"


"Tidak semua orang mampu membeli kuda. Terlebih hewan itu didatangkan dari tempat yang sangat jauh."


"Jadi kamu tidak bisa menunggang kuda?"


"Tidak."


"Mau aku ajarkan?" tanya Mehru.


"Kamu mau mengajariku?"


"Tentu saja." Galeo mengangguk senang.


Setelah tiba dihutan, semua warga berpencar untuk mencari kayu yang dibutuhkan. Mereka juga telah menentukan titik dimana mereka harus bertemu. Sementara itu Mehru, Kheiren, Galeo dan Mawe pergi sedikit jauh kedalam hutan.


"Kenapa kita jauh sekali memasuki hutan?"

__ADS_1


"Kita perlu berburu, warga pasti membutuhkan makanan saat pulang nanti."


"Aku hampir saja melupakan itu."


"Naiklah!" ujar Mehru.


"Naik?"


"Naiklah keatas kuda, aku akan sekalian mengajarimu menunggang kuda."


"Baiklah."


Begitu juga mawe dan kheiren, mereka menunggangi kuda seekor berdua.


Drap


Drap


Drap


Mehru memacu kudanya dengan kecepatan sedang. Jantung Galeo berdegup kencang, karena ini kali pertama dirinya menunggang kuda.


"Aroma ini, apa ini aroma dari tubuh Mehru?" batin Galeo.


Galeo mencondongkan sedikit kepalanya untuk memastikan aroma khas itu. Aroma yang pernah dia cium dari tubuh seseorang sebelumnya.


"Si-Siren," gumam Galeo.


"Gale menunduk!"


Galeo yang sama sekali tidak memperhatikan jalan, terpaksa merelakan tubuhnya terpental ketanah saat sebuah dahan kayu membuat dirinya terhuyung kebelakang dan kemudian terjatuh dari atas kuda.


Brukkkkkk


nggggiiiiiikkkkkk


Mehru menghentikan kudanya dan berbalik untuk melihat keadaan Galeo.


Uhuukkk


Uhukkk


Galeo merasakan sedikit sesak didadanya, akibat tubuhnya yang terhempas. Sementara Mawe tertawa cukup keras saat melihat keadaan Galeo.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mehru sedikit khawatir.


"Dadaku sakit sekali,"


Mehru membantu Galeo duduk dan mencoba menekan-nekan punggung pemuda itu. Terlihat ada luka goresan dipunggung pemuda itu.


"Maaf seharusnya aku memberitahu dengan jarak yang lumayan jauh.".


"Tidak. Itu bukan salahmu, karena aku sendiri sedang melamun."


"Apa kamu masih bisa melanjutkan perjalanan kita? tidak jauh lagi, kita akan memasuki hutan yang biasa jadi tempat berkumpul para hewan buruan."


"Ya. Aku harus melakukannya bukan? ini semua demi warga."


"Baiklah, sebaiknya kali ini kamu saja yang menunggang kudanya. Biarkan aku yang duduk dibelakangmu,"


"A-Aku?" Galeo mengarahkan jari telunjuknya pada dirinya sendiri.


"Kenapa?"


"A-aku masih takut.


"Kita akan melakukannya secara perlahan."


"Emm." Galeo mengangguk.

__ADS_1


Mehru dan Galeo kembali melanjutkan perjalanan, begitu juga dengan Mawe dan Kheiren. Mereka masih setia mengekor dibelakang.


__ADS_2