
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Terima kasih atas bantuanmu," ujar Hideo.
"Apa kali ini terbilang kamu berhutang budi padaku!"
"Apa kamu ingin aku membayar jasamu ini?"
"Tidak perlu, aku bukan penggila uang. Aku cuma ingin kamu tahu, kita ini hidup berdapingan dengan manusia lainnya. Jadi tidak akan pernah bisa yang namanya tidak butuh bantuan orang lain."
"Aku mengerti. Setelah aku pikirkan lagi, aku setuju dengan semua kesepakatan kita. Kamu bisa membawa Yayoi dan teman-temannya. Anggap saja ini ucapan terima kasihku, karena kamu sudah membantu kami menangani orang-orang itu."
"Lebih dari itu, kita bisa berteman dimasa depan. Karena untuk selanjutnya, aku pasti akan sering memesan barang-barang tertentu padamu."
Hideo menjulurkan tangan pada Sarlince tanda persahabatan awal mereka. Sarlince menerima uluran tangan itu dengan mengembangkan senyuman.
"Baru kali ini aku melihat Hideo tersenyum tulus," batin Yayoi.
"Kedepannya jangan ada permusuhan lagi diantara kita. Tidak ada salahnya saling membantu jika menemukan beberapa kesulitan," ujar Sarlince.
"Emm." Hideo mengangguk.
Jabatan tangan itu terpaksa terlepas, saat tiba-tiba ponsel Hideo berdering. Dan itu berasal dari sang nenek.
"Ya Nek?"
"Kapan kamu membawa cucu menantuku?"
Hideo mengurut keningnya, lagi-lagi sang nenek memaksa dirinya untuk membawa calon istrinya kerumah.
"Nek. Bukankah baru semalam kita membahasnya? dia lagi sibuk di toko kue sekarang, nanti saat waktunya sudah luang, pasti akan aku bawa kerumah."
Sementara itu Sarlince dan teman-temannya telihat saling berpandangan satu sama lain.
"Jangan kamu kira mafia besar tidak memiliki masalah yang rumit didunia aslinya, nenek Hideo sejak dulu selalu memaksanya untuk mencari seorang istri," bisik Yayoi ditelinga Sarlince.
Sarlince menyunggingkan senyuman, dia mengerti Hideo mempunyai hati yang hangat untuk keluarganya.
"Kapan kamu akan membawanya?" tanya Azuzi kembali.
"Secepatnya."
"Cepatlah, jangan terlalu lama. Nanti nenek keburu tidak ada didunia ini,"
"Apa yang nenek katakan? nenek akan selalu berumur panjang."
"Nenek juga berharap begitu, makanya kamu cepat bawa dia kerumah, agar aku bisa mati dengan tenang."
"Baiklah."
__ADS_1
Hideo mengakhiri percakapan itu, dan menatap kearah Sarlince dan teman-temannya.
"Maaf," ujar Hideo.
"Tidak masalah. Semua orang memiliki masalah pribadi masing-masing. Apa kamu membutuhkan bantuan lagi?"
"Tidak perlu. Kali ini masalahnya lebih rumit dari medan perang."
"Tidak juga, kamu hanya butuh menggunakan jasa seorang wanita untuk membawa wanita yang sesuai kerumahmu,"
"Ke-Kenapa kamu tahu masalahku?"
"Terlihat sekali diraut wajahmu, atau kamu memang memiliki kekasih yang bekerja di toko kue?"
"Tidak."
"Kalau begitu bawalah Yayoi bersamamu, dia akan membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi."
"A-Aku? kenapa harus aku?" Yayoi menunjuk kearah dirinya sendiri.
Yayoi kemudian melirik kearah Hideo dan kemudian menghela nafasnya. Ternyata perasaan gadis itu masih terlalu takut terhadap Hideo.
"Ba-Baiklah, anggap ini balas budi karena sudah melepaskanku." Ujar Yayoi.
"Aku hanya butuh waktumu sekitar 1 sampai 2 jam, setelah itu kamu bebas pergi." ucap Hideo.
"Baiklah." Jawab Yayoi.
"Yama, pesankan makanan di restauran, dan antarkan itu kerumah untuk makan malam nanti. Jika nenek bertanya, katakan saja aku memesan makanan dari restauranmu karena aku ingin mengajak calon istriku makan malam bersama."
"Kalau begitu sebelum aku kembali ke negaraku, aku titip Yayoi dan teman-temanku yang lain disini. Aku harus kembali lebih dulu ke hotel, ada orang yang mengkhawatirkan aku disana," ujar Sarlince.
"Apa ada keluarga yang menunggumu?" tanya Hideo.
"Bisa dibilang begitu, lebih tepatnya suamiku."
"Su-Suami?" tanya Hideo Syok.
"Ya. Seperti yang kamu bilang, pria hidung belang yang memeliharaku adalah suamiku sendiri. Saat ini dia pasti sedang kebingungan mencariku,"
"Kalau begitu aku akan mengantarmu kembali ke hotel," ujar Hideo.
"Itu ide yang bagus, karena aku tidak mungkin kembali kesana dengan berjalan kaki, karena aku sama sekali tidak memiliki uang tunai. sebaiknya kamu langsung membawa Yayoi bersama kita, kamu bisa meninggalkan dia disalon dan kembali menjemputnya untuk makan malam."
"Baiklah."
Sarlince, Yayoi dan Hideo pergi meninggalkan markas itu. Sementara Martin dan teman-temannya bisa bernafas lega, karena mereka tidak lagi diperlakukan bak seorang tahanan.
Ting tong
Ting tong
__ADS_1
Ceklekkk
Regent terperangah saat mendapati Sarlince sudah berada didepan matanya saat ini. Pria itu tidak bisa lagi membendung rasa bahagianya, dan langsung membawa Sarlince dalam dekapannya.
"Sayang. Kamu kemana saja? kamu sangat membuatku khawatir,"
"Aku baik-baik saja. Aku hanya berpetualang sebentar saja."
"Berpetualang apanya? kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? rasanya aku mau gila karena kehilanganmu,"
"Maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi yang terpenting aku baik-baik saja saat ini,"
"Jangan lagi melakukan ini padaku Aline, aku bisa mati karena memikirkanmu."
"Ya. Sekarang aku butuh membersihkan diriku, nanti akan kita bahas lagi."
"Baiklah. Aku juga ingin menghubungi Vino dan Megumi, mereka pasti masih mengkhawatirkanmu."
"Emm."
Sarlince bergegas membersihkan diri, setelah itu dia mengganti pakaiannya dan berbaring diatas tempat tidur. Regent yang semula ingin Sarlince bercerita banyak hal padanya, mengurungkan niatnya itu saat melihat mata Sarlince yang begitu terlihat lelah.
Tidak menunggu berapa lama kemudian, Sarlince sudah jatuh tertidur dengan dengakuran halusnya.
"Ya Tuhan...ini kali pertama aku mengenakan gaun dan sendal seperti ini, apa ini tidak terlihat aneh ditubuhku?" ujar Yayoi.
Yayoi menatap tubuhnya dicermin, penampilannya memang berubah drastis. Gadis berambut lurus itu sampai tidak sadar, bahwa yang dicermin adalah dirinya sendiri.
"Nona. Kekasih anda sudah menjemput dibawah," ujar salah seorang pegawai salon.
"Baiklah, aku akan turun sekarang." ucap Yayoi.
Yayoi menyambar tas yang baru dibelikan oleh Hideo untuk menunjang penampilannya.
Tok
Tok
Tok
Yayoi mengetuk pintu mobil sebanyak tiga kali, agar Hideo membuka mobilnya.
Ceklek
Pintu itu terbuka setelah Hideo menekan sebuah tombol disamping kiri kemudi. Yayoi perlahan menjatuhkan bokongnya pada kursi mobil, Hideo yang mengenakan kaca mata hitam tampak tidak perduli, hanya melirik dengan ekor matanya saja.
Tidak ada percakapan apapun selama diperjalanan, Hideo dan Yayoi sama-sama diam membisu. Setelah menempuh waktu hampir 20 menit lamanya, akhirnya mereka sampai juga disebuah kediaman sederhana milik Hideo. Yayoi melihat rumah itu dengan seksama, tentu Yayoi merasa heran, karena setahunya Hideo memiliki uang yang sangat banyak, tentu mampu membeli rumah dengan harga yang fantastis.
"Nenekku tahunya aku cuma pelayan restauran biasa, sedang kamu cuma pelayan di toko kue. Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar padamu bukan? aku yakin kamu tidak bodoh, dan mampu berakting dengan baik."
"Iya." hanya kata itu yang mampu Yayoi katakan, suara Hideo yang begitu dingin seolah mampu menembus tulangnya.
__ADS_1
Hideo membukakan pintu mobil untuk Yayoi, karena dia melihat sang nenek mengintip dari balik tirai jendela. Dia tidak ingin neneknya mencurigai dirinya yang akan membuat dia susah sendiri kedepannya.
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏