SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
92. Berangkat


__ADS_3

Tinggalkan Like Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Kudengar dari Kheiren, kalian akan pergi ke desa seberang. Apa itu benar?" tanya Ayah Kheiren.


"Benar Paman. Kami ingin belajar ilmu pengobatan gratis disana." Jawab Mehru.


"Berapa lama?"


"Belum bisa dipastikan. Tapi menurut perkiraanku, semakin cepat kita menyerap ilmunya, maka semakin cepat kami kembali."


"Mehru. Dari sekian banyak orang di desa ini, hanya keluargamu yang kami percayai. Kami juga sangat percaya padamu, karena kami melihat sendiri bagaimana kemampuanmu itu."


"Kamu sangat berbeda dari para gadis lainnya, itulah sebabnya untuk kali ini kami percayakan Kheiren pergi bersamamu. Apapun yang terjadi, kalian jangan pernah berpisah."


"Terima kasih Paman. Paman tenang saja, Kheiren sudah seperti saudara bagiku, jadi aku pasti akan melindunginya."


"Kapan kalian akan berangkat? apa kalian akan pergi berdua saja?"


"Rencananya kami akan berangkat besok lusa. Kami akan pergi berempat bersama dua warga pendatang."


"Apa mereka juga seorang gadis?"


"Tidak. Mereka seorang pemuda,"


"Itu bagus. Jadi kalian ada yang menjaga. Siapa nama kedua pemuda itu?"


"Galeo dan Mawe."


"Paman harap kalian bisa menjaga satu sama lain nantinya."


"Tentu."


Mehru dan Kheiren saling berpandangan dan saling tersenyum. Mereka sangat senang karena kedua orang tua mereka sudah memberikan Izin untuk mereka pergi ke desa seberang.


*****


Pagi-Pagi sekali Mehru, Kheiren, Galeo dan Mawe berangkat menuju desa seberang. Mereka membawa bekal yang cukup selama tiga hari perjalanan. Kemarin Mehru dan teman-temannya sudah berburu seekor rusa, dan rusa itu sudah dijadikan daging asap agar dagingnya lebih awet.


Selama diperjalanan beberapa kali Galeo melihat Mehru menguap. Sepertinya Mehru sangat lelah, begitu juga Kheiren yang ada dibelakangnya.


"Sepertinya para gadis sudah mengantuk berat, apa perlu kita beristirahat? lagipula matahari sudah melewati atas kepala kita, mungkin sudah saatnya kita bersantap siang," ujar Galeo.


"Benar, perutku juga terasa lapar. Jalan kuda juga sudah sangat melambat. Mungkin kudanya juga perlu beristirahat dan makan." Jawab Mawe.


"Mehru," seru Galeo.


Mehru menoleh kearah samping kudanya. Terlihat sekali mata Mehru sudah sayu karena mengantuk.


"Ada apa?"


"Mari kita beristirahat sejenak. Kamu pasti lelah, kudanya juga terlihat lelah. Kita makan dulu dan tidur sejenak,"


"Ya." Jawab Mehru.

__ADS_1


Mehru menghentikan kudanya tepat disebuah semak belukar yang menghijau. Kuda Mehru yang berhasil ditambang disana, sangat menikmati rumput yang menghijau itu.


Mehru dan Kheiren menurunkan perbekalan mereka. Mereka menikmati beberapa potong daging asap beserta sayur tumis yang dibuat oleh Saguni. Keempat orang itu makan dengan lahap.


"Tidurlah sejenak, paling tidak hanya sekedar menghilangkan kantuk. Perjalanan kita masih sangat panjang, sudah dipastikan malam ini kita pasti akan menginap dihutan."


"Emm." Mehru mengangguk.


Mehru dan Kheiren menyandarkan diri disebuah pohon besar. Begitu juga dengan Galeo dan Mawe. Galeo melihat Mehru sudah memejamkan matanya bersama Kheiren, pemuda itu menatap wajah manis Mehru, kemudian tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Kamu menyukainya?"


Tatapannya pada Mehru ternyata tertangkap basah oleh Mawe, hingga pemuda itu sedikit gelagapan.


"Eh?"


"Aku bertanya, apa kamu menyukai Mehru?"


"Kecilkan suaramu, bagaimana kalau dia mendengarnya?"


"Jadi?"


"Aku tidak tahu mengapa, aku seperti melihat Siren berada dalam diri gadis itu. Aku juga mencium aroma yang sama ditubuhnya,"


"Tapi kita belum bertemu dengan laki-laki seperti dikehidupan sebelumnya. Saat kita melihatnya dan dia mendekati Mehru, barulah kita bisa memastikan kalau itu dia. Lagipula dia pasti tidak akan mengingatmu, meskipun kamu menceritakan tentang Siren atau tentang Mawa padanya, padahal mereka adalah orang yang sama."


Galeo tertunduk sedih. Dikehidupan pertama setelah mendapat kutukan dari raja iblis, dirinya gagal mendapatkan Mawa. Mawa lebih memilih hidup bersama dengan laki-laki yang menjadi umpan. Namun pada akhirnya Mawa mati terbunuh setelah dihianati oleh suaminya.


Galeo tahu mereka akan menghadapi kehidupan yang berulang-ulang nantinya. Sesuai kutukan yang diberikan oleh raja iblis. Tapi bagi Galeo, asalkan bisa bertemu dan bisa mencintai orang yang dia cintai, itu sudah cukup baginya.


Mawe merasa kasihan dengan kisah percintaan Galeo, tapi untuk apa mengasihani orang lain, sementara nasibnya tidak jauh berbeda dengan pemuda itu.


Karena asyik larut dalam pemikirannya sendiri, Galeo dan Mawe akhirnya jatuh tertidur juga. Angin yang segar membuat mereka terbuai hingga tertidur lelap.


Mehru menggeliatkan tubuhnya, gadis itu melihat semua teman-temannya masih tertidur lelap. Mehru berdiri dan meraih kendi air minum yang tergantung diatas pelana kuda. Setelah itu Mehru membangunkan semua teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Gal..gale, bangunlah!" Mehru membangunkan Galeo lebih dulu.


Tap


Brukkk


Karena terkejut Galeo menangkap tangan Mehru dan menarik tangan gadis itu hingga jatuh diatas tubuhnya. Pandangan mata mereka sejenak bertemu, Galeo menelan ludahnya karena sesuatu yang lunak terasa menempel erat didadanya.


"Ma-Maaf, apa aku mengejutkanmu?" tanya Mehru sembari bangkit dari atas tubuh Galeo.


"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku bertindak berlebihan seperti itu."


"Tidak apa. Aku tahu kamu tidak sengaja melakukannya."


"Apa kita akan melanjutkan perjalanan lagi?"


"Ya. Kita jangan banyak membuang waktu, hari mulai senja. Sebaiknya kita membawa kuda agak sedikit lebih cepat, agar kkta bisa menemukan tempat yang bagus untuk bermalam."


"Baiklah."

__ADS_1


Galeo membangunkan Mawe, sementara Mehru membangunkan Kheiren. Merekapun mulai melanjutkan perjalanan dengan memacu kuda mereka lumayan kencang.


Setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh, mereka akhirnya menemukan sebuah aliran sungai. Dan mereka memutuskan untuk menginap didekat aliran sungai tersebut.


*****


Gemericik air dipagi hari mengusik telinga Mehru. Gadis itu terbangun dan mendapati Galeo berdiri dipinggiran sungai sembari termenung.


"Apa yang kamu lihat?"


"Air."


"Maksudku apa yang sedang kamu fikirkan?"


"Aku hanya teringat seseorang "


"Seorang gadis?"


"Emm. Bisa dibilang begitu,"


"Apa dia tinggal didesa kita?"


"Aku tidak tahu dimana dia berada, itulah sebabnya aku ingin pergi mencarinya."


"Apa dia kekasihmu?"


Galeo terdiam. Dia bingung harus menjawab apa, karena wanita yang dia cari bukan hanya sekedar wanita biasa dalam hidupnya.


"Aku tidak tahu."


Mehru mengerutkan dahinya saat mendengarkan jawaban aneh dari mulut Galeo.


"Kamu pasti akan menemukannya."


"Disaat aku menemukannya, maka dia tidak lagi mengenaliku."


"Jangan bilang kalian akan bertemu setelah usia kalian mencapai 1 abad," Mehru terkekeh.


Galeo tersenyum tipis saat menanggapi gurauan Mehru. Gadis itu tidak akan mengerti meskipun dia menjelaskannya. Karena hanya dia dan Mawe yang tahu tentang siklus kehidupan mereka .


"Bantu aku membuat api,"


"Untuk apa?"


"Kita harus panaskan daging rusanya, agat jauh lebih lezat."


"Apa persediaan bekal kita cukup untuk hari ini?"


"Aku rasa cukup. Tidak perlu merisaukan itu, aku membawa panahku, jadi kita bisa berburu lagi nanti."


"Emm. Sebaiknya biarkan aku saja yang membuat api dan memanaskan dagingnya. Kamu bangunkan saja Kheiren, ajak dia membersihkan diri bersamamu."


"Baiklah."


Mehru membangunkan Kheiren untuk mengajak gadis itu mandi bersama. Sementara itu Galeo membangunkan Mawe, untuk membantunya membuat api dan memanaskan daging.

__ADS_1


Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2