
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
*****
"Aline. Apa kamu tidak apa-apa? apa yang dilakukan Hideo padamu?"
Yayoi memeriksa tubuh Sarlince saat wanita itu kembali dimasukkan kedalam kerangkeng besi.
"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir. Jadi namanya Hideo?"
"Ya. Dia adalah pemimpin Mafia naga hitam. Apa dia sungguh tidak melakukan apa-apa padamu?"
"Tidak. Saat ini aku sedang bernegosiasi dengannya,"
"Negosiasi apa? Aline, dia bukan orang yang mudah ditangani. Baginya cuma ada untung dan rugi saja."
"Itulah sebabnya aku ingin bernegosiasi tentang keuntungan buat dia,"
"Aku minta maaf padamu, seharusnya kamu tidak perlu terlibat dalam masalahku. Aku akan bicara pada Hideo untuk melepaskanmu."
"Itu tidak diperlukan. Dia pasti akan menerima tawaranku."
"Apa yang membuat kamu yakin dia akan mendengarkanmu?"
"Dia tidak akan menyia-nyiakan uang besar dariku."
"Uang?"
"Ya, aku berjanji akan membeli senjata api ilegal melalui dia, asalkan dia mau melepaskan kalian."
"Mana mungkin? dia tidak akan percaya begitu saja. Untuk apa dia mau melepaskan kami berempat demi uang pembelian senjata api satu unit saja," timpal Akira.
"Bukan satu unit, tapi 500 unit." Jawab Sarlince.
"Apa???" Yayoi, Akira, Chio dan Martin terkejut bersamaan.
"Apa kau sudah gila? kepalamu akan segera dilubangi oleh Hideo kalau sampai kamu membohonginya," ucap Martin.
"Apa aku terlihat sedang bercanda atau membual? aku sungguh-sungguh,"
"Aline siapa kamu sebenarnya?" tanya Yayoi.
"Kalau kalian berhasil keluar dlhidup-hidup dari sini, apa kalian mau ikut kembali ke negaraku? kalian akan tahu siapa aku setelah sampai disana,"
Yayoi dan teman-temannya saling berpandangan.
"Hidup kami terbilang seperti sarana perjudian, kami tidak akan menyiakan kesempatan untuk berjudi sekali lagi dengan takdir. Kami akan ikut denganmu untuk mengadu nasib disana." Jawab Yayoi.
"Yayoi benar, hidup dimanapun sama saja, lebih baik bertarung daripada menunggu kematian disini. Tapi apa kamu yakin Hideo akan melepaskan kita?"
"Jangan ada yang memprovokasinya selama aku bernegosiasi dengannya,"
"Baik. Kami akan mendengarkanmu," ujar Akira.
"Aline. Bagaimana dengan suamimu? dia pasti sedang khawatir padamu saat ini," tanya Yayoi.
__ADS_1
"Pasti. Sialnya ponselku hilang saat bertarung dengan para pria itu. Lebih buruknya lagi aku sama sekali tidak menghafal nomor ponselnya."
"Dia pasti sedang kebingungan,"
Sarlince jadi khawatir pada Regent, pria itu pasti sedang mencarinya seperti orang gila. Sesuai apa yang Sarlince pikirkan, saat ini Regent tengah mondar-mandir seperti setrikaan karena panik tiba-tiba Sarlince menghilang.
Keadaan itu tambah diperburuk ketika dirinya sama sekali tidak bisa menghubungi ponsel Sarlince. Regent segera menghubungi Vino untuk meminta bantuan sahabatnya itu.
"Vino. Sarlince tiba-tiba menghilang, aku takut terjadi sesuatu padanya karena ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi."
"Tenanglah. Dimana terakhir kali kali kalian terpisah?"
"Disebuah pasar malam. Kamu siap-siap lacak normornya saat ponselnya aktif,"
"Baiklah jangan khawatir, nanti saat sudah lebih dari 24 jam, kamu bisa melapor ke kantor polisi atau datangi kedutaan negara J."
"Baiklah. Aku tutup telponnya."
Regent mengakhiri percakapan itu dan kembali mencoba menelpon nomor ponsel Sarlince yang ternyata masih tidak aktif juga.
"Ada apa tanya Megumi?"
"Aline menghilang."
"Menghilang? menghilang bagaimana?"
"Aline tiba-tiba terpisah dari Regent saat mereka sedang berada disebuah pasar malam, dan nomor ponsel Sarlince sama sekali tidak bisa dihubungi."
"Aku akan mengirim email padanya, ada kemungkinan dia sedang berada disituasi sulit dan tidak bisa menghubungi kita karena tidak hafal nomor ponsel kita."
Megumi segera membuka ponselnya dan mengirim email untuk Sarlince. Megumi juga mengirim nomor ponsel dirinya, Vino dan juga Regent.
"Selesai. Semoga Sarlince terpikirkan untuk membuka emailnya."
"Apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu padanya?"
"Tentu saja, Sarlince tidak mungkin membuat Regent sampai khawatir padanya. Tapi aku yakin, dia pasti akan baik-baik saja."
"Sayang. Bagaimana kalau ini perbuatan organisasi yang Inara bilang itu? bukankah Sarlince sedang berada dalam bahaya?"
Megumi tiba-tiba berubah jadi cemas.
"Sebaiknya kita tunggu sampai 24 jam. Kalau masih tidak ada kabar dari Aline, kita harus menyelidiki Inara dan juga Qiel. Karena bisa jadi ini ada hubungannya dengan mereka."
"Kamu benar, sebaiknya kita tunggu kabar dari Regent dulu."
*****
"Kapan kamu mau membawa cucu menantu kerumah?" tanya Azuzi saat mereka sedang makan malam bersama.
"Dia lagi sibuk sekarang, nanti kalau dia sedang ada waktu luang, aku akan membawanya kemari."
"Jadi kamu sudah memiliki kekasih? kenapa kamu tidak bilang selama ini?"
"Hubungan kami masih baru,"
__ADS_1
"Katakan! seperti apa cucu menantuku itu? apa dia sangat cantik? dia bekerja dimana?"
"Dia sangat cantik, kulitnya halus dan juga berambut panjang. Hidungnya juga mancung,"
Entah mengapa cuma wajah Sarlince yang terlintas dalam bayangannya saat ini. Jadi dia bisa menjawab pertanyaan sang nenek dengan lancar.
"Lalu, dia bekerja dimana? apa dia bekerja di restaurant yang sama denganmu?"
"Tidak. Dia bekerja disebuah toko kue,"
"Itu bagus. Pasti cucu menantu orang yang rajin dan bisa mengurusmu dengan baik nantinya."
Hideo hanya menanggapi ucapan sang nenek dengan senyuman, begitu besar harapan wanita tua itu untuk melihat dirinya segera naik kepelaminan. Masalahnya, Hideo tipe orang yang tidak suka berkomitment. Baginya jika perlu melampiaskan hasrat, cukup dengan menyewa jasa wanita malam saja, terlebih dirinya sama sekali tidak menyukai anak-anak.
"Aku sudah selesai," Hideo mendorong mangkok dan sumpitnya kedepan pertanda dirinya sudah selesai makan malam.
"Istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah karena seharian bekerja,"
"Emmm. Hideo menganggukkan kepalanya.
Baru saja Hideo akan beranjak dari duduknya, ponselnya tiba-tiba berdering. Hideo menerima panggilan itu yang ternyata berasal dari Yama.
"Ada apa?"
"Sepertinya kelompok dari harimau putih kembali membuat ulah,"
"Kali ini apa yang mereka lakukan?"
"Mereka ingin menyabotase senjata yang akan kita pesan dari negara R. Jika mereka berhasil, bukan tidak mungkin bisnis kita akan ketahuan oleh pihak berwajib."
"Aku tahu tujuan mereka melakukan itu, lalu apa yang mereka lakukan saat ini?"
"Sepertinya mereka mempunyai perestas handal untuk meretas sistem yang kita gunakan untuk memesan barang itu,"
"Apa masih bisa diatasi?"
"Kami sedang berusaha, saat ini peretas kita masih unggul."
"Hubungi aku kalau memang tidak bisa dikendalikan lagi."
"Baik Bos."
"Apa sandra tidak membuat ulah? bagaimana keadaan wanita baru itu?"
Yama mengerutkan dahinya, tidak biasanya Hideo perduli dengan sandra mereka.
"Mereka tidak membuat ulah apapun. Wanita itu baik-baik saja."
"Beri makanan yang layak untuk mereka,"
"Baik Bos."
Hideo mengakhiri panggilan itu. Tiba-Tiba dia teringat akan negosiasinya dengan Sarlince. Meski dia agak ragu, tapi jumlah pesanan yang diminta Sarlince bukan jumlah yang main-main, terlebih saat ini banyak yang mengincar bisnisnya itu. Jika benar Sarlince memesan dalam jumlah itu, maka dia sudah bisa menghitung berapa jumlah keuntungan yang dia dapat.
Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1