SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
139. Cantik


__ADS_3

Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏


*****


Yayoi menundukkan sedikit kepalanya saat berada dihadapan Azuzi sebagai tanda penghormatan. Azuzi menyunggingkan senyum dan membelai rambut panjang Yayoi, kemudian mengajak gadis itu duduk disebuah sofa panjang.


"Siapa namamu gadis cantik?" tanya Azuzi.


"Yayoi nek."


"Nama yang bagus, bagaimana pekerjaanmu di toko kue?"


"Berjalan dengan baik. Apa nenek sehat?"


"Sehat. Nenek ingin melihat kalian segera menikah, agar nenek bisa tenang meninggakkan Hideo bersamamu." Jawab Azuzi.


"Kenapa nenek bicara seperti itu lagi, nenek akan selalu berumur panjang," timpal Hideo.


"Anak nakal, kamu pikir usia nenek sekarang sudah berapa? lagipula kenapa harus menunda begitu lama kalau kalian sudah merasa cocok," ujar Azuzi.


"Ya sudah nanti kita bicarakan lagi, tadi pihak restauran sudah mengirimkan makanan bukan? sebaiknya kita langsung makan malam bersama saja, aku sudah sangat lapar," ucap Hideo karena ingin mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah, mari kita makan," ujar Azuzi.


Yayoi memapah Azuzi yang sedikit tertatih menuju meja makan, kemudian gadis itu mengambilkan makanan kedalam mangkuk Azuzi beserta lauk dan sayuran.


"Dia berakting begitu natural, aku sampai tidak bisa membedakan mana akting mana sungguhan," batin Hideo.


"Ceritakan tentang keluargamu, keluargamu pasti orang-orang yang baik, sehingga memiliki anak yang baik dan manis sepertimu," ujar Yayoi.


Mendapat pertanyaan ini lagi-lagi Yagoi tersenyum kecut. Sudah hampir 5 tahun dirinya tidak mendapatkan lagi kehangatan sebuah keluarga.


"Aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini, aku tinggal sendiri karena keluargaku sudah meninggalkanku lebih dulu menghadap sang pencipta." Jawab Yayoi.


Ada kesedihan dimata Yayoi yang sekilas Hideo tangkap. Pria itu sama sekali tidak bersuara, karena dirinya terlalu sibuk dengan makanan lezatnya.


"Tidak apa-apa, kamu jangan bersedih. Sekarang kamu sudah memiliki nenek dan juga Hideo. Setelah kalian menikah nanti, kita akan menjadi satu keluarga. Aku sangat berharap diberi umur yang panjang, sehingga masih bisa melihat para cicitku lahir."


Uhukkk


Uhukk

__ADS_1


Hideo tiba-tiba terbatuk mendengar ucapan Azuzi. Yayoi dengan sigap menyodorkan segelas air untuk Hideo, pria itu segera meraih gelas itu dan menghabiskannya hingga tandas.


"Hati-Hati, kamu ini seperti anak kecil saja," ujar Azuzi.


"Bisakah kita makan dengan tenang dulu? setelah makan kalian bisa membahas masalah pernikahan sesuka hati kalian," ujar Hideo sedikit kesal.


"Kamu tidak usah dengarkan dia, anak nakal ini selalu begitu tiap kali membahas tentang pernikahan," ujar Azuzi.


Yayoi hanya menanggapi ucapan Azuzi dengan senyuman.


"Katakan dengan nenek, berapa usiamu sekarang?"


"22 tahun."


"Itu usia yang sudah cukup juga untuk menikah, apalagi anak nakal ini. Dia pikir usia 30 tahun sama dengan usia 17 tahun. Dulu, di zaman nenek, para gadis menikah rata-rata diusia 15 tahun, kalau menikah diatas usia 20 tahun sudah dianggap tidak laku."


Hideo sama sekali tidak bersuara lagi, kalau sudah membahas tentang pernikahan dirinya sudah menyerah duluan. Selain tidak suka berkomitment, dirinya tidak suka anak-anak. Baginya anak-anak dan wanita adalah dua hal yang merepotkan.


Setelah selesai makan malam, Hideo membiarkan Azuzi berbincang dengan Yayoi. Pria itu meninggalkan dua wanita beda generasi itu untuk membicarakan apapun, sementara dirinya pergi keatas untuk berbaring sejenak.


"Yoi. Nenek sangat berharap kamu bisa mengubah pola pikir Hideo, entah mengapa nenek merasa kamu mampu membimbing anak keras kepala itu. Nenek ingin sebelum nenek mati, Hideo ada yang mengurus dan menjaganya. Yayoi, apa kamu mau berjanji akan selalu bersama Hideo apapun keadaannya?"


"Maaf jika kamu keberatan karena nenek menginginkan kamu berjanji tentang hal itu, selama ini kehidupan Hideo tidak mudah, sama seperti dirimu, dia juga sudah kehilangan ibunya. Sejak saat itu Hideo sedikit berubah jadi sosok yang sulit dikendalikan. Itulah nenek sangat berharap, kehadiranmu bisa membawa Hideo menjadi sosok yang hangat kembali."


"Nenek. Aku tidak tahu janjiku ini bisa kutepati atau tidak. Tapi selama Hideo menginginkan aku disisinya, aku akan selalu bersamanya baik suka maupun duka."


"Itu juga tidak buruk, menghadapi Hideo memang sedikit diperlukan kesabaran. Anak itu sudah banyak mengalami kejadian hidup yang kurang menyenangkan, itulah sifatnya sangat keras."


"Iya, Yoi mengerti."


"Ngomong-Ngomong kemana anak nakal itu? kenapa tidak turun lagi?"


"Biarkan saja nek, mungkin dia lagi mengerjakan sesuatu."


"Sekarang sudah sangat malam, dia harus mengantarmu pulang. Segeralah desak dia untuk menikahimu, agar nenek punya teman dan tidak kesepian lagi."


"Baiklah nanti akan aku bicarakan lagi,"


"Sebaiknya kamu susul dia dikamarnya, minta dia antarkan pulang. Nenek tidak sanggup lagi kalau harus naik tangga,"


"Baiklah,"

__ADS_1


Yayoi menaiki tangga perlahan, gadis itu tampak kebingungan saat mencari keberadaan kamar Hideo, karena diatas memiliki 3 kamar yang pintunya dibuat sama persis. Yayoi memutuskan untuk mengetuk pintu kamar satu persatu.


Setelah dua kali gagal menemukan keberadaan kamar Hideo, akhirnya Yayoi bisa melihat keberadaan pria itu dikamar paling ujung. Hideo tampak tertidur pulas, bahkan pria itu sama sekali tidak mendengar suara ketukan dipintu kamarnya.


Perlahan Yayoi memasuki kamar itu, bermaksud ingin membangunkan Hideo yang sedang tertidur lelap. Yayaoi menatap bentuk tubuh Hideo yang begitu kekar, karena pria itu tidak mengenakan pakaiannya.


"Dia terlihat tampan dan gagah kalau lagi tertidur, tapi saat terbangun singapun kalah seram dari dia," ujar Yayoi lirih.


Yayoi perlahan menggerakkan tangan Hideo, berharap pria itu terbangun. Hideo memang tiba-tiba terbangun, tapi reaksi yang diberikan sungguh diluar dugaan Yayoi.


"Auuuu..."


Mendapat sentuhan tak terduga, membuat Hideo menarik tangan Yayoi dengan kasar hingga jatuh diatas tubuhnya yang kekar. Tatapan keduanya beradu, degup jantung Yayoi seakan berlomba saling mendahului.


Ketika tersadar Hideo segera mendorong tubuh Yayoi, hingga gadis itu terjatuh kelantai.


"Astaga...bokongku sepertinya retak," gerutu Yayoi.


"Lancang! beraninya kamu memasuki kamarku? apa kamu ingin mengambil keuntungan dariku?


"Keuntungan apanya? yang ada bokongku menjadi retak karena ulahmu."


"Kamu sudah berani memarahiku?"


"Bu-Bukan begitu, tadi aku sudah mengetuk pintu kamarmu, tapi kamu tidak menjawabnya. Terpaksa aku masuk saja,"


"Ada apa?"


"Nenek memintamu mengantarkanku pulang,"


Hideo tidak menjawab ucapan Yayoi, pria itu bergegas mengenakan pakaiannya dan segera turun kebawah bersama Yayoi.


"Nenek. Yoi pulang dulu ya? lain kali aku akan mengunjungi nenek lagi," ujar yayoi.


"Baiklah. Hati-Hati dijalan, ingat kata-kata nenek tadi."


"Ya"


Yayoi kembali menundukkan kepalanya tanda penghormatan untuk Azuzi. Hideo membukakan pintu mobilnya untuk Yayoi, setelah membunyikan klakson sebanyak satu kali, Hideo membuat mobilnya melaju perlahan dan meninggalkan halaman rumahnya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2