SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
102. Pasien Melahirkan


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Votw🤗🙏


*****


"Bidikkan yang lumayan bagus, sering-seringlah berlatih. Jika ingin berlatih, kamu boleh meminjam panahku."


"Akan lebih baik kalau punya sendiri?"


"Kamu menginginkan busur panah?"


"Apa kamu mau membuatkannya untukku?"


"Tentu. Sembari pulang, kita akan mencari kayu yang bagus untuk dijadikan busur."


"Terima kasih Mehru, kamu gadis yang baik."


"Aku suka dengan orang yang mau belajar,"


"Aku juga suka kamu."


Mehru terdiam dan mencerna kata-kata Seo.


"Ya Mehru, hal penting itulah yang ingin aku katakan padamu. Sepertinya aku menyukaimu."


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa kau menyukaiku? maksudku, hal apa yang membuatmu bisa menyukaiku."


"Kamu gadis yang manis dan juga baik hati. Kamu juga pintar dalam segala hal. Mungkin pujianku terlalu berlebihan untuk didengar, tapi menurutku itulah yang kulihat dari dirimu."


"Apa dikehidupan ini dia benar-benar tulus mencintaiku? tidak seperti Galeo, dia begitu lancar saat menjawab pertanyaanku. Bahkan dia tidak ragu sedikitpun," batin Mehru.


"Mehru. Kamu kenapa?"


"Eh?"


"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi tidak apa-apa. Aku akan memberikan waktu untukmu menjawabku. Kamu pasti butuh memahami diriku, aku mengatakannya hanya karena tidak ingin keduluan orang lain."


"Keduluan orang lain? siapa?"


"Aku merasa Galeo menyukaimu. Aku tahu kalian bersahabat dan berasal dari desa yang sama, mungkin kamu lebih mengenal dia dari diriku. Tapi Mehru, selangkahpun aku tidak akan mundur, aku benar-benar tulus menyukaimu. Apapun jawabanmu nanti, aku akan menerimannya."


"Aku tidak tahu nalurimu benar apa tidak, tapi Galeo memang pernah mengatakan suka padaku."


"Apa jawabanmu untuknya?"


"Aku hanya menganggapnya sahabat sekaligus seorang kakak."


"Baguslah. Itu artinya ada kesempatan untukku bukan?" Mehru hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Itu bagus. Aku akan menunggu jawabanmu, satu lagi, jauhi Puna."


"Puna? kenapa? dia kan orang baik?"


"Dia tidak sebaik yang kamu kira. Pria mata keranjang itu sering pergi kerumah bordil."

__ADS_1


"Rumah bordil? rumah seperti apa itu?"


"Rumah tempat bersenang-senangnya kaum pria dan wanita yang haus belaian."


Mehru terdiam, dia mengerti arah pembicaraan Seo. Sekilas dia jadi teringat saat-saat intim dirinya bersama Seo dikehidupan sebelumnya.


"Ayo kita pulang," Mendadak Mehru mengajak Seo pulang.


"Emm." Seo mengangguk dan meraih hewan rusa untuk dia masukkan kedalam keranjang.


Mehru dan Seo memutuskan pulang, sementara Kheiren berdiri mondar mandir sembari sesekali menatap kearah sinar matahari.


"Kheiren. Ada apa denganmu? tanya Mawe.


"Mehru pergi bersama Seo kehutan. Dia bilang ingin berburu sekalian mencari cendawan. Tapi sampai saat ini dia belum kembali juga,"


"Apa?" Galeo terkejut.


Galeo ingin beranjak, tapi Kheiren menghalanginya.


"Kenapa?"


"Mehru mengatakan, kalau sampai matahari sudah mencapai setengah diarah barat dia belum kembali, baru kita boleh mencarinya."


"Tidak bisa. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?"


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu?"


"Aku hanya merasa Seo bukan orang yang seperti kita bayangkan."


Drapp


Drapp


Drapp


Senyum Kheiren terbit saat melihat Mehru datang dengan selamat. Tapi tidak dengan Galeo, pria itu sangat cemburu, saat melihat Mehru berada satu kuda yang sama bersama Seo.


Mehru perlahan turun dari kuda dan membantu Seo menurunkan keranjang yang berisi satu ekor rusa dan beberapa jenis cendawan.


"Kalian mendapatkan buruan?" tanya Mesa yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Jangan ditanya kalau Mehru sudah turun tangan. Semua hewan dihutan ini bisa mati ketakutan dibuatnya," ucap kheiren.


"Eh, itu untuk apa?" tanya Kheiren.


"Aku akan membuatkan Seo busur dan panah. Dia ingin belajar memanah." Jawab Mehru.


"Mawe ayo kita kembali," ucap Galeo.


Mawe yang mengerti kecemburuan Galeo ikut mengekor dibelakang pria itu. Sementara Seo tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Ayo bantu aku membersihkan daging rusanya," ujar Seo.


"Baiklah. Kamu dan Mehru bersihkan saja hewan itu, aku dan Mesa akan membantu kalian menyiapkan bumbunya."


"Itu bagus. Jadi pekerjaan kita jadi cepat selesai," ujar Seo.

__ADS_1


Mereka mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing sembari berbincang.


"Sepertinya kali ini aku akan kalah lagi dari pria itu," ujar Galeo.


"Apa kau sudah mengungkapkan perasaanmu padanya?"


"Sudah. Tapi dia menolakku dengan mengatakan hanya menganggapku sebagai kakak dan sahabatnya."


Mawe menghela nafasnya, dia tahu perjalanan hidup mereka masih sangat panjang, karena mereka belum menemukan cara melepaskan kutukan itu. Dia harus menyaksikan Galeo terluka berkali-kali karena orang yang dicintainya lebih memilih orang lain daripada dirinya.


Senja mulai berganti malam, saat Tabib Cheng dan murid-muridnya menyantap makan malam bersama. Baru saja mereka menyelesaikan makan malam, tiba-tiba suara ketukan kasar terdengar dari arah depan. Tabib Cheng dan yang lainnya segera pergi untuk melihat siapa yang sudah mengetuk pintu dengan tidak sabar.


Kriekkk


"Ada apa?"


Tabib Cheng melihat seorang pemuda tangannya sedikit gemetar dengan dahi yang dipenuhi keringat yang membanjir.


"Tabib Cheng, tolonglah istriku. Dia akan melahirkan, tapi sampai saat ini anak kami belum keluar juga."


"Bukankah sudah ada dukun beranak khusus menangani Pasien melahirkan didesa ini?"


"Saat ini dia juga ada dirumahku, istriku sudah kehabisan tenaga. Aku mohon bantulah istriku tabib Cheng,"


Tabib Cheng tampak terdiam, masalahnya dia juga tidak pernah menghadapi situasi seperti itu, ditambah dirinya seolang laki-laki, rasanya sangat tabu untuk dirinya.


"Apa tidak ada dorongan dari bayi itu sendiri untuk segera lahir?"


"Aku tidak mengerti tentang itu tabib Cheng, kumohon datanglah dulu kerumahku. Bawa saja obat-obatan yang kira-kira bisa membantu."


"mehru, Mesa, Kheiren, kalian ikut aku."


"Ikut?" Mehru, Kheiren dan Mesa terkejut bersamaan.


"Kalian adalah para wanita, jadi lebih leluasa saat melihat keadaan pasien.


"Tapi Suhu, kami tidak memiliki pengalaman apapun dibidang itu?" tanya Mehru.


"Ini keadaan darurat. Yang penting kita sudah berusaha. Kalian tunggu disini, aku akan mengambil alat dan obat yang diperlukan," ujar Tabib Cheng.


Melihat tabib Cheng pergi, Mehru buru-buru menyusul dan mengekor dibelakang pria tua itu.


"Suhu. Apa ada jenis obat yang bisa membuat bayi ada dorongan untuk keluar?"


"Ya. itu maksudku ada kontraksi dirahim sang ibu bayi, kalau tidak ada dorongan sangat sulit bayi akan keluar, terlebih ibu itu sudah kehabisan tenaga."


"Suhu. Aku sangat gugup, apa kita akan bisa menanganinya?"


Tabib Cheng memegang kedua pundak Mehru, dan meyakinkan gadis itu bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.


"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku punya keyakinan padamu, ada sesuatu istimewa dalam dirimu yang tak bisa aku jelaskan. Mehru, aku sangat percaya padamu, perlakukan pasienmu seperti kamu memperlakukan barang berharga milikmu, pasti kamu akan memahami apa yang aku katakan ini."


"Emm." Mehru mengangguk.


"Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu."


Mehru bergegas pergi bersama tabib Cheng. Pria beristri itu membawa tabib Cheng berada satu kuda dengannya, sementara Mehru dan Kheiren berada satu kuda yang sama. Sedangkan Mesa diantar oleh Seo.

__ADS_1


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2