
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Eh?" Sarlince terkejut saat wajah Qiel sudah berada beberapa senti dari wajahnya. Secepat mungkin Sarlince menghindar, dia tidak ingin Qiel kembali mengambil kesempatan.
"Kenapa?" tanya Qiel.
"Aku harus bergegas mandi. Tidak enak kalau dia menungguku terlalu lama dilokasi. Walau bagaimanapun ini proyek besar pertamaku, aku tidak ingin pemegang saham kecewa dengan tindak tandukku." Jawab Sarlince.
"Dimana lokasinya?" tanya Qiel.
"Didekat bantaran." Jawab Sarlince.
"Biarkan Umi mengantarmu, saat pulang nanti aku yang akan menjemputmu," ujar Qiel.
"Tidak perlu. Kamu pergi kekantor saja," ucap Sarlince.
"Baiklah. Emmm ayo kita mandi bersama?" tawar Qiel.
"Eh? tidak. Aku tidak terbiasa seperti itu."
"Tidak apa, mulai sekarang kamu harus terbiasa. Terlebih kita sudah mellihat tubuh kita masing-masing, dan sudah saling merasakanya," Qiel mengedipkan mata nakalnya.
"Lain kali saja kak, aku benar-benar sedang terburu-buru," tolak Sarlince dan segera masuk kedalam kamar mandi kemudian menguncinya.
"Masih bersikap polos rupanya. Kamu lihat saja, suatu saat kamu yang akan meminta hal itu lebih dulu padaku," ujar Qiel lirih.
Waktu menunjukkan pukul 9 lewat 5 menit ketika Sarlince tiba di lokasi proyek. Sarlince datang bersama Umi, begitu juga Regent datang bersama Vino.
"Maaf. Saya datang terlambat," ujar Sarlince.
"Anda harus dihukum untuk itu Nona. Karena waktu 5 menit sangat berharga bagi kalangan pengusaha seperti kita," ucap Regent.
"Saya bersedia menerima hukuman itu,"
"Baguslah. Saya akan fikirkan hukuman apa yang sesuai untukmu." Jawab Regent.
Regent dan Sarlince berjalan lebih dulu didepan, sementara Umi dan Vino sedang mengekor dibelakang tanpa bicara sepatah kata pun.
Regent dan Sarlince bicara banyak hal tentang titik-titik lokasi yang harus dibangun. Mereka ingin bangunan itu ramah lingkungan mengingat lokasi itu sangat dekat dengan pemukiman warga. Mereka cukup lega karena warga yang terkena dampak pembangunan setuju dengan ganti rugi yang mereka ajukan dan mendukung pembangunan taman bermain dan juga pusat perbelanjaan.
"Jadi pekan depan kita bisa memulai pembangunan tempat ini. Tiga hari lagi rumah ini sudah diratakan dengan tanah dan warga yang bersangkutan dipastikan mendapatkan tempat yang layak sesuai dengan ganti rugi yang ditentukan," ujar Regent.
__ADS_1
"Baiklah saya akan berusaha mewujudkan pembangunan ini dengan hasil yang memuaskan,"
"Itu memang harus, karena saya menyerahkan pembangunan ini ditanganmu. Sesuai kesepakatan kita 60:40. Aku akan menilai kerja kerasmu, agar kerjasama kita selanjutnya berjalan dengan lancar." Jawab Regent.
"Kemana Umi dan Vino?" tanya Sarlince sembari matanya mencari kesana kemari.
"Mereka sedang menemui warga disana." Jari telunjuk Regent mengarah pada arah ujung jalan.
Shaaaaa
Tiba-Tiba hujan turun melanda, Sarlince dan Regent segera mencari tempat berteduh. Dan mereka menemukan sebuah rumah yang sudah bobrok dan tidak berpenghuni.
"Ckkk..."
Sarlince berdecak kesal, karena baju kemeja yang dia kenakan cukup basah. Begitu juga dengan rambut indahnya. Sementara Regent memandang Sarlince dari jarak yang lumayan terbentang. Saat Sarlince menyisir rambutnya dengan jari jemari lentiknya, Regent fokus pada salah satu jari yang biasa tersemat sebuah cincin.
Regent mendekati Sarlince secara perlahan dan tiba-tiba mencekal tangan wanita itu.
"Apa kamu berbohong padaku?" tanya Regent sembari mengangkat tangan itu tepat diantara wajah mereka.
"Apa maksudmu?"
"Kamu bilang sudah menikah, tapi kenapa tidak ada cincin pernikahan yang melingkar dijarimu?" tanya Regent.
Sarlince menarik kasar tangannya. Namun Regent tidak mau kalah begitu saja. Pria itu malah meraih pinggang Sarlince dengan posesif dan membawa tubuh indah itu berhimpit erat dengan dirinya hingga Sarlince begitu sulit melepaskan diri.
"Apa yang kamu lakukan? bagaimana kalau sampai ada orang lain yang melihat?" hardik Sarlince.
"Hanya orang bodoh yang mau keluar disaat hujan lebat seperti ini. Aline, apa kamu sungguh membenciku?" tanya Regent.
"Aku tidak membencimu,"
"Lalu kenapa kamu berbohong sedemikian rupa hanya ingin menolakku?" tanya Regent.
"Aku tidak berbohong padamu. Apa aku perlu membawa buku nikahku agar kamu percaya?"
"Kamu bahkan bisa membuat buku nikah palsu demi membohongiku. Aline, sepertinya aku menyukaimu," ujar Regent.
Sarlince tertegun mendengar pengakuan Regent, tubuh wanita itu bahkan tidak lagi berontak karena begitu tegang saat mendengar kata-kata cinta dari seorang pria yang sudah mengusik perasaannya itu.
Regent perlahan mendekatkan wajahnya dan melu**t lembut b***r Sarlince yang masih belum tersadar dari keterkejutannya. Entah naluri atau apa, Sarlince perlahan membuka sedikit mulutnya agar Regent bisa mengeksplor dan menjelajah isi mulutnya itu. Sarlince bahkan ikut memejamkan mata, mengalungkan kedua tangannya dileher pria itu dan kemudian membalas ci***n yang memabukkan itu.
"Kamu mau kan menjadi kekasihku?" bisik Regent dan kemudian melanjutkan ciu**n itu.
__ADS_1
Sarlince yang tersadar mendorong tubuh Regent cukup kuat hingga pria itu sedikit terhuyung kebelakang. Sarlince secepat kilat membalikkan badan dan meraba bibirnya yang masih terlihat basah karena ciuman panas yang baru saja dia lakukan.
"Ini tidak benar Sarlince, kalau begini apa bedanya kamu dan Qiel? terlebih kamu seorang wanita, kamu tidak benar-benar jatuh cinta pada pria yang sudah menciummu bukan?" batin Sarlince.
"Ada apa? kenapa kamu mendorongku?" tanya Regent.
Regent memeluk tubuh indah Sarlince dari belakang dan menyimpan wajahnya siceruk leher wanita itu. Sarlince memejamkan matanya, dia tahu betul secara tidak sengaja dirinya sudah membuat scandal yang sangat berbahaya.
"Aku tahu kamu juga mempunyai rasa yang sama denganku. Aku bisa merasakannya saat kamu membalas ciumanku tadi," bisik Regent.
Sarlince meneguk ludahnya susah payah, dia tahu dirinya sempat hilang kendali dan memberikan harapan palsu untuk pria yang masih memeluknya dengan erat.
Sarlince melepaskan tangan Regent perlahan dan berbalik menatap mata pria yang sudah menggetarkan hatinya itu.
"Lupakan semua perasaanmu padaku, karena aku bukan wanita seperti yang kamu bayangkan. Aku sudah bersuami, aku tidak mau memunculkan scandal untuk pernikahanku. Kedepannya bersikaplah seperti rekan bisnis pada umumnya. Regent, jangan pernah menyimpulkan sendiri bahwa aku memiliki perasaan padamu. Kejadian tadi hanya karena terbawa situasi,"
"Berhentilah bicara omong kosong. Berhenti mengarang cerita hanya karena ingin menolakku. Aku bisa terima kalau kamu belum ada perasaan padaku, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk membuat perasaanmu tumbuh padaku."
"Tidak ada kesempatan untuk itu. Kita berada dalam kubu berbeda, Regent lupakan perasaanmu yang tidak mungkin kubalas itu,"
"Tidak akan." Jawab Regent dengan keras kepala.
"Kenapa kamu tidak mengerti juga sih?" hardik Sarlince kesal.
Regent mendekati Sarlince dan menatap wajah cantik itu.
"Katakan padaku kalau kamu sedikitpun tidak pernah menyukaiku," ujar Regent.
Sarlince menatap mata Regent yang membuat jantungnya berdebar, kemudian memalingkan segera wajahnya.
"Aku tidak pernah menyukaimu." Jawab Sarlince.
Regent membingkai senyuman dibibirnya. Senyum tanda kemenangan. Karena dia tahu Sarlince juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Regent kemudian menangkup kedua sisi wajah Sarlince dan kembali melabuhkan ci***n di b***r Sarlince. Mata Sarlince terbelalak, wanita itu tidak mau memberi Regent harapan lagi. Sarlince mendorong tubuh pria itu dan segera berlari keluar dari rumah itu.
"Aline tunggu! diluar masih hujan deras," seru Regent.
Tapi Sarlince tidak mengidahkan panggilan itu. Dia berlari sekencang mungkin, untuk menghindari Regent yang sedang mengejar dirinya dari belakang. Namun tiba-tiba ada hal yang tidak terduga.
Brukkkk
Sarlince menabrak tubuh seseorang yang sedang berdiri memegang sebuah payung berwarna hitam.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1