
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Ceklek
Langkah Sarlince terhenti, saat ruang tamu yang dia lewati berubah menjadi terang benderang ketika sebelumnya masih berupa remang-remang. Sarlince menoleh kearah sofa, dan mendapati Qiel sedang duduk dengan kaki yang menyilang diatas meja.
"Darimana kamu?" tanya Qiel.
"Bukankah kamu tahu aku sedang meninjau proyek yang sedang bermasalah?"
"Lalu masalah apa yang sedang kalian hadapi?"
"Ada seorang pekerja yang mendapat musibah,"
"Oh ya? apa pekerja itu jatuh dari ketinggian?"
"Ya."
"Kamu membohongiku Aline?"
"Tidak."
"Tapi nyatanya kamu sudah membohongiku. Apa perlu menangani pekerja itu hingga pulang pukul 10 malam? kamu menyita waktumu hampir seharian,"
"Aku lelah, aku tidak ingin berdebat denganmu."
"Tapi seingatku ini perdebatan kita untuk yang pertama kalinya."
"Tapi aku rasa perdebatan ini tidak diperlukan. Tidak ada hal aneh yang aku lakukan diluar sana,"
"Benarkah?"
Qiel beranjak dari duduknya dan mendekati Sarlince dengan intim.
"Ckk...jangan aneh-aneh, ini sedang berada diruang tamu. Aku tidak mau kita jadi tontonan para pelayan," ucap Salince.
Sarlince melangkah pergi dengan langkah yang cukup besar.
"Kamu fikir kamu wanita pintar? lihat saja, malam ini aku akan membuatmu sulit bangun dari tempat tidur kalau kamu terbukti bermain api dibelakangku," ucap Quel lirih nyaris tak terdengar.
Qiel menyusul Sarlince kekamar, mata pria itu berbinar saat melihat Sarlince sedang melepas pakaiannya satu persatu.
Greppp
__ADS_1
Qiel memeluk tubuh Sarlince dari belakang, membuat tubuhnya sendiri menempel sempurna pada wanita itu. Tubuh Sarlince menegang seketika, Sarlince fikir Qiel tidak akan menyusul kekamar. Dalam hati Sarlince merutuki kecerobohannya.
Qiel dengan cepat menarik tali baju piyama yang bermotif kimono, hingga baju itu teronggok dilantai. Dapat Sarlince rasakan kejantanan Qiel yang sudah terbangun sempurna, dan bergesekan dengan bokong polosnya.
"Aku mau mandi," ujar Sarlince berusaha menyelamatkan diri.
"Kita akan mandi bersama nanti," bisik Qiel sembali menggigit kecil leher jenjang Sarlince.
"Kenapa aku mencium aroma pria ditubuh Sarlince? mungkinkah Sarlince benar-benar sudah bermain api dibelakangku?" batin Qiel.
Qiel membalik dengan kasar tubuh Sarlince, sehingga dapat Qiel lihat dua buah benda bulat besar sedang menggantung indah disana. Tidak ada jejak percintaan yang bisa Qiel lihat, setelah memastikannya sendiri. Qiel fikir dirinya akan menemukan jejak merah diseluruh tubuh istrinya, atau di bagian-bagian yang tersembunyi.
Qiel mendorong Sarlince kedinding, bagi Sarlince tidak mengapa tubuh polosnya dilihat dengan seksama oleh Qiel. Sering berhadapan dengan rupa yang sama ditiap kehidupan, membuat dirinya tidak lagi canggung meskipun pria itu menatap atau bahkan menjamahnya. Namun satu hal yang bisa Sarlince pastikan, tidak ada lagi jantung berdebar, tak ada lagi mendambakan sentuhan pria itu. Sarlince seolah benar-benar mata rasa.
"Kenapa aku mencium ada aroma pria ditubuhmu. Hem?" tanya Qiel sembari jemarinya bermain diatas bibir Sarlince yang tipis.
"Tentu saja ada. Bukankah semua patner kerja diproyek itu adalah laki-laki."
"Jangan membahas tentang proyek itu lagi. Karena aku tahu kamu berbohong padaku hari ini,"
"Berbohong?"
"Karena aku mendatangi langsung lokasi proyekmu. Dan tidak ada masalah apapun disana."
Sarlince merasa gugup saat ini, namun sebisa mungkin dia ingin berkelit dan terlepas dari situasi yang mendesaknya.
"Tidak ada. Karena sebenarnya aku memang datang ketempat proyek itu, tapi ternyata Tuan Regent salah memberikan informasi padaku. Memang ada sedikit masalah disana, tapi bukan para pekerja yang celaka, melainkan salah seorang anak dari pekerja itu yang masuk rumah sakit karena terjatuh dari atas pohon jambu. Pekerja itu ingin meminta izin cuti, tapi Tuan Regent malah mendapatkan informasi yang salah."
"Lalu?"
"Setelah memastikan tidak ada masalah, aku pergi bersama Umi untuk refreshing."
"Apa kamu yakin itu alasan terakhirmu?"
"Kamu bisa mengeceknya kalau tidak percaya. Bila perlu pantau semua cctv jalanan." Gertak Sarlince.
"Baiklah, untuk kali ini aku percaya padamu. Jangan pernah mencoba menghianatiku, karena aku sendiri sangat setia padamu."
"Setia? dari abad ke abad, tidak ada kata setia dikamusmu itu," batin Sarlince.
"Sayang. Bagaimana kalau kita mulai melakukan program anak?"
"Program anak?"
"Ya. Dengan begitu, rumah kita akan menjadi ramai. Bagaimana kalau kamu cuti saja bekerja, biar kamu fokus menjalankan program."
__ADS_1
"Tapi aku harus menghandle perusahaan Papa."
"Kalau kamu percaya padaku, berikan saja surat kuasa padaku. Aku akan mengurus perusahaan Papa untukmu."
"Dasar bajingan tengik, apa kamu fikir aku tidak tahu apa yang ada dikepalamu itu? jangan bermimpi!" batin Sarlince.
"Akan aku fikirkan." Jawab Sarlince.
Qiel ingin melabuhkan sebuah ciuman dibibir Sarlince, pria itu seakan tidak sabar lagi karena mendapat godaan nyata didepan matanya.
"Izinkan aku mandi sebentar, rasanya tidak enak sekali kalau melakukannya dalam keadaan tubuh masih lengket begini," Sarlince menutup mulut Qiel, sehingga pria itu gagal mendarakan ciumannya.
"Ayo kita lakukan dikamar mandi. Aku jamin kamu akan menikmatinya," bisik Qiel.
"Eh? ja-jangan, aku tidak terbiasa."
"Tidak apa, lama-lama kamu akan terbiasa."
Qiel menyeret tangan Sarlince menuju kedalam kamar mandi. Sarlince sedikit merasa panik, dia mencoba memikirkan sesuatu yang bisa menggagalkan aksi Qiel tersebut.
Qiel menghidupkan Shower dan mulai memojokkan Sarlince kedinding. Qiel dengan cekatan mencium Sarlince, namun sama sekali tidak mendapat balasan dari wanita itu.
"Balas ciumanku," bisik Qiel.
Qiel meletakkan kedua tangan Sarlince diatas pundaknya. Karena Sarlince lambat merespon, Qiel mengakses seluruh ceruk leher Sarlince dan terakhir pria itu membenamkan wajahnya dipuncak dada wanita itu.
"Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan? Regent, aku tidak bermaksud menghianatimu. Tapi kalau aku berbuat kasar padanya, maka dia akan curiga padaku," batin Sarlince.
Sarlince hanya bisa menggigit bibir bawahnya, agar suaranya tidak lolos begitu saja, saat Qiel dengan segala pengalamannya bermain lincah dipuncak dadanya.
"Mendesahlah sayang, jangan tahan suaramu. Aku ingin mendengar suara merdumu,"
"Ka-kakak, Tolong biarkan aku mandi sejenak, aku benar-benar tidak bisa menikmatinya dalam situasi seperti ini,"
"Dunia fantasimu sangat minim. Aku ingin mengajarimu sesuatu hal yang baru. Kamu akan merasakan sensasi yang luar biasa saat sudah merasakannya nanti."
"Aku sangat lelah, jadi aku butuh kasur yng empuk untuk mengganjal punggungku saat kamu memasukiku,"
"Ckk..."
Qiel berdecak kesal, karena Sarlince menolak dirinya bercinta didalam kamar mandi. Pria itu segera menyambar handuk dan keluar dari tempat itu.
Sarlince bisa bernafas lega sementara, namun kekesalannya tidak berhenti sampai disitu saja. Sarlince sangat jengkel saat melihat dua tanda merah bersarang didadanya yang menggoda. Itu artinya dia harus menghindari Regent untuk sementara waktu, sampai Kedua tanda itu hilang tak berbekas.
Sarlince kemudian mengunci pintu kamar mandi, selama mungkin dirinya berada disana dan berharap saat keluar nanti, dirinya mendapati Qiel sudah tertidur lelap.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗đź¤