
"Jadi besok kita sudah memutuskan kalau kita semua akan melakukan penyamaran. Aku akan memberitahu kalian tentang rencananya. Disini sudah aku perkirakan jaraknya sekitar 100 kaki dari tepi jalan. Lalu kita mulai menggali lubang, agar kita bisa masuk menyebrang pagar beton ini," Regent menunjuk kearah kertas yang sudah di buat menjadi sebuah sketsa.
"Seberapa jauh kita menggali?" tanya Akira.
"Sejauh mungkin. Sampai kita menembus tempat itu. Tapi nanti kita akan terbagi menjadi dua tim. Satu tim menggali untuk terowongan inti. Yaitu sampai menembus dinding mereka. Dan satu tim lagi, membuat lubang untuk mencari keberadaan pipa itu. Ingat! jangan letakkan racunnya sebelum Sarlince keluar. Tugas kalian yang mencari keberadaan pipa itu hanya cukup sampai disitu saja. Setelah itu tunggu instruksi selanjutnya," ujar Regent.
"Kami mengerti." Jawab mereka serentak.
"Akira. Apa kamu sudah mengatakan pada Lucia kalau kamu akan pergi?" tanya Regent.
"Sudah. Aku sudah bilang kalau aku ada perjalanan bisnis selama dua minggu di luar kota." Jawab Akira.
"Bagus. Kalau begitu untuk sementara lepas dulu wajah tampanku di wajahmu itu. Ganti dengan wajah orang biasa. Kita semua harus menyamar, agar jejak kita tidak diketahui orang. Nanti tim kalian yang akan mencari pipa itu, sementara aku dan Vino yang akan menggali jauh," ujar Regent.
"Baiklah kami setuju," ujar Akira dan teman-teman.
"Apa kita akan menggali lobangnya disiang hari?" tanya Martin.
"Tidak. Kalau siang hari terlalu mencolok. Kita akan melakukannya mulai jam dua belas malam. Dijam itu kita berharap semua orang sedang tidur pulas. Tapi untuk kalian, cukup selesai setelah lobang itu sudag dibuat. Kalian bisa beristirahat setelah itu." Jawab Regent.
"Kalau begitu kita harus pergi hari ini saja. Kita harus menyewa rumah warga untuk ditinggali selama kita memerlukannya," ujar Chio.
__ADS_1
"Betul juga. Tidak mungkin kita tinggal dalam lubang selama misi kita berlangsung," timpal Vino.
"Baiklah kalau begitu mulailah memasang wajah palsu kalian. Sememtara aku akan menyiapkan senjata amunisi kita, yang akan kita butuhkan disana nanti," ujar Regent.
Merekapun mulai mengerjakan urusan mereka masing-masing. Sementara itu Regent pergi kesebuah ruangan yang hanya dirinya dan Sarlince saja yang memiliki akses memasukinya.
Untuk sesaat Regent mengingat semua yang dikatakan Sarlince padanya. Baik itu tentang senjata rahasia, maupun tentang obat-obatan yang mematikan.
"Instingmu itu sangat tajam. Kamu bahkan diculik setelah memberitahukan segalanya padaku. Aku memang sangat beruntung memiliki istri yang luar biasa sepertimu Sarlince. Bersabarlah! aku pasti bisa memyelamatkanmu dan anak kita," gumam Regent.
"Regent memasukkan beberapa obat, dan racun rahasia yang sudah diracik sendiri oleh Sarlince kedalam tas ransel. Regent juga memasukkan senjata yang sudah dia bawa dari markas besar. Setelah selesai, diapun segera kembali menemui teman-temannya. Dan saat kembali, semuanya sudah memakai wajah palsu.
"Benar-benar sempurna. Ini sangat menakjubkan," ujar Chio.
"Apapun dirimu, aku mencintai hatimu bukan wajahmu. Terlebih itu kau, bukan pria lain." Jawab Megumi.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang. Takut keburu sore, kita harus mencari rumah warga di sekitar sana," ujar Regent.
"Berhati-Hatilah! Kamu harus kembali dengan selamat. Ingat ada anak dan istrimu yang menanti kepulanganmu," ujar Megumi sembari memberi pelukkan untuk suaminya itu.
Melihat kemesraan sahabatnya, tentu saja membuat Regent meneteskan air mata. Jarena pria itu sangat merindukan Sarlince.
__ADS_1
"Hey...sayang. Berhentilah memelukku! lihatlah sahabat kita jadi sensitif," sindir Vino.
Regent menyeka air matanya sembari tersenyum.
"Sabarlah Re. Sekarang kita sedang berjuang menyelamatkan istrimu itu. Kalian pasti bisa sama-sama lagi," ujar Megumi.
"Ya. Aku sangat bersyukur memiliki teman yang sangat solid seperti kalian. Terima kasih ya teman-teman," ucap Regent.
"Sama-Sama teman." Jawab mereka serentak.
Merekapun pergi ke desa tempat Sarlince disekap. Setelah menemukan penginapan terdekat, merekapun mulai mengatur rencana sembari menunggu malam. Dan mereka memutuskan beroperasi tepat pada jam 10 malam.
Tidak butuh waktu lama bagi tim Akira untuk membuat lubang menembus pagar beton itu. Setelah berjuang hampir satu jam, merekapun berhasil tiba dipermukaan tanah. Setelah selesai, mereka kembali ke titik awal untuk mendengarkan intruksi berikutnya.
Lain tim Akira, lain pula dengan Regent dan Vino. Mereka masih terus berjuang, hingga tidak terasa mereka sudah melakukan penggalin selama 4 jam tanpa henti.
"Cukup Vin! kita bisa melanjutkannya besok," ujar Regent.
"Kenapa harus besok? kita selesaikan saja malam ini," tanya Vino.
"Tidak. Kita semua butuh istirahat. Kita sudah menyewa tempat itu, dan itu artinya kita butuh istirahat. Teman-Teman pasti menunggu kita di luar." Jawab Regent.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Vino.
Merekapun memutuskan kembali ke belakang, untuk bergabung bersama teman-temannya.