SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
79. Amarah Siren


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Melihat Pakuo yang bersimbah darah, Dean dan Aru juga mendekati pria yang sudah tak berdaya itu.


"Jangan menangis putriku, ini sudah ditakdirkan. Jangan bersedih,"


Pakuo menyeka air mata putrinya yang semaki lama semakin deras.


"Baba maafkan aku. Ini semua gara-gara aku, seharusnya aku tidak membuka segel hutan peri. Sehingga membuat Baba dan Siren ikut menderita," Air mata Dean juga ikut mengalir.


"Dean. Jangan sesali apa yang sudah terjadi, jika kita harus mati hari ini, maka bertarunglah hingga akhir. Hanya satu pesanku padamu, jangan pernah tinggalkan putriku seorang diri apapun keadaan kalian,"


Kepala Dean mengangguk cepat, secepat air matanya yang sudah terjun bebas membasahi seluruh wajahnya. Dengan satu tarikkan nafas, Pakuo akhirnya merengang nyawa dan tangan pria itu terkulai ketanah.


"Ba-baba," ucap Siren lirih.


"Ba-baba," Siren mengguncang tubuh Pakuo yang sudah tidak bernyawa.


Siren berteriak histeris saat menyadari ayah yang sudah menemaninya puluhan tahun sudah tidak bernyawa lagi. Siren menangis meraung, hingga siapapun yang melihatnya akan ketakutan.


Dean mendekap tubuh istrinya itu dengan erat. Tubuh yang bergetar dengan hebat itu sangat susah Dean kendalikan, Dean baru menyadari Siren begitu kuat dengan segala emosi yang sedang dia hadapi saat ini.


"Seret kedua anak itu keluar hutan. Biarkan putri pakuo mengubur jasad ayahnya sendiri!" ucap Pao.


"Tidak paman. Kumohon lepaskanlah aku, aku tidak ingin membiarkan Siren hidup sendiri."


Tanpa memperdulikan ucapan Dean, orang-orang itu kembali menyeret Dean dan Aru agar kedua pria itu keluar dari perbatasan hutan terlarang, dan dimangsa oleh mahluk iblis.


Siren yang jiwanya masih terguncang sama sekali tidak perduli saat Dean berteriak memanggil namanya ketika tubuh pemuda itu diseret dengan paksa.


"Dean diamlah! biarkan Siren hidup sendiri disini, itu lebih baik daripada dia ikut bersama kita. Paling tidak dia masih hidup bukan?" hardik Aru.


Dean yang semula berontak langsung diam seketika. Apa yang dikatakan Aru dirasa benar oleh pemikiran Dean, paling tidak orang yang dia cintai masih hidup dan itu sedikit mengurangi beban dihatinya saat mendengar pesan terakhir dari Pakuo.

__ADS_1


"Maaf Baba. Aku lagi-lagi harus mengingkari janji. Aku tidak bisa melihat putrimu ikut binasa bersamaku," batin Dean.


Siren yang merasakan keheningan disekitarnya baru menyadari, bahwa semua orang sudah meninggalkan dirinya seorang diri. Mata Siren melirik kesana kemari, dan hanya menemukan keheningan disana.


Siren menyeret jasad Pakuo kesebuah pohon besar yang mempunyai akar yang lumayan besar-besar. Bahkan akar itu mampu membuat seseorang berlindung. Siren tidak tahu harus melakukan apa pada Jasad ayahnya itu, karena dia sama sekali tidak memiliki alat untuk membuat lubang yang cukup untuk mengubur jasad itu.


"Dean," ucap Siren lirih.


Cup


Siren mencium kening ayahnya untuk yang terakhir kali. Siren bertekad akan memusnahkan semuanya karena dia menyadari tidak akan sanggup hidup sendiri.


Saat Siren mulai melangkah pergi, sesekali dia menoleh pada Jasad ayahnya yang bersandar disebuah pohon besar. Terasa berat dia rasakan, namun hanya air matanya yang mampu bicara dan mengiringi setiap langkahnya yang semakin lama semakin menjauh.


Siren melihat dari kejauhan orang-orang itu sudah hampir berhasil mencapai perbatasan. Siren dengan sisa amarahnya menarik sebuah anak panah dari busurnya, dan meluncurkan anak panah itu tepat mengenai punggung salah seorang manusa yang berjalan dibarisan belakang.


"Akkkkkkkhh," teriakan itu berhasil menghentikan langkah semua orang, termasuk langkah orang-orang yang menyeret Dean dengan paksa.


Mata Dean terbelalak saat tahu itu adalah sosok Siren yang pemberani.


"Aku harus ikut bersamamu. Jika harus musnah, maka kita harus musnah bersama."


"Tidak Siren. Kalau kamu keluar dari hutan ini, maka hutan ini akan musnah, dan seluruh kenanganmu bersama baba juga akan ikut terbakar."


"Pergilah! kami tidak ingin seluruh hutan musnah karena ulahmu yang keras kepala." Hardik Pao.


"Kalau begitu biarkan semuanya musnah. Karena tidak ada lagi yang akan aku pertahankan disini."


"Gadis pembangkang! daripada kamu musnahkan hutan ini, lebih baik kami yang memusnahkanmu lebih dulu. Habisi gadis itu!" perintah Pao.


Tiba-Tiba segerombol orang menyerang Siren secara bersamaan. Tidak ada lagi sisi baik dalam diri Siren yang patut dia jaga. Wanita itu menghabisi orang-orang itu dengan membabi buta. Sementara tanpa Siren sadari Dean dan Aru sudah dibawa pergi oleh segelintir orang untuk keluar dari perbatasan.


Lagi-Lagi sebuah angin kencang berhembus saat Dean dan Aru berhasil diseret dari hutan larangan. Manusia murni yang menyadari akan kedatangan mahluk iblis itu segera melepaskan Dean dan Aru ditengah-tengah perbatasan. Sementara mereka sendiri berlari pulang untuk berlindung.


"Hahahaha"

__ADS_1


Sang penguasa kaum iblis tertawa sangat keras menyaksikan pertunjukkan itu dari sebuah dinding tak kasat mata. Melihat hal itu tubuh Dewi kegelapan ikut bergetar. Dia menyadari bencana akan datang sebentar lagi.


Dean tersenyum saat menatap Siren yang berdiri diperbatasan. Itu mengingatkan dirinya saat-saat pertemuan dirinya dan Siren karena terhalang oleh segel pelindung hutan.


"Hiduplah senang disana. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu. Jika ada kehidupan lain, aku akan segera menemukanmu dan kita bisa bersama kembali," Dean mengatakannya dengan senyum terindahnya namun diiringi dengan air matanya yang juga ikut merebak.


Namun senyum indah itu mendadak sirna, saat perlahan tapi pasti Siren melangkah maju mendekat kearahnya.


"Siren Jangan!"


Namun perkataan itu hanya dianggap sebuah angin lalu bagi wanita itu. Tanpa ragu Siren keluar dari perbatasan, yang selama ini begitu dia takuti untuk melanggarnya.


TARRRRRRRRRRRRRRR


Segel yang ada dileher Siren pecah berantakan. Mata Aru dan Dean seakan ingin keluar dari porosnya. Sementara itu terdengarlah suara auman dari dalam perut bumi. Suara yang lebih dahsyat ketika hutan peri musnah saat itu. Angin besar datang seketika, mengoyakkan daun pepohonan yang ada dihutan terlarang.


"Siren apa yang kamu lakukan?"


"Kamu ingin meninggalkan aku sendiri? bagaimana mungkin aku bisa hidup seorang diri. Baba sudah tidak ada, dan kamu ingin meningggalkan aku juga. Jadi apa gunanya aku bertahan disana, sementara manusia-manusia yang tidak punya hati itu ingin hidup senang dengan aku yang menjaga hutan ini."


"Tidak Dean. Aku ingin kita musnah bersama," sambung Siren.


Grepppp


Dean memeluk erat tubuh Siren, sangat erat bahkan angin yang kencang itu tidak mampu membuat tubuh mereka melayang seperti tubuh Aru yang sudah terbuang entah kemana.


"Siren. Inilah akhir dari perjalanan kita dikehidupan Ini, Sebelum mahluk itu merenggut nyawa kita, aku ingin mengatakan perasaanku sekali lagi padamu. Aku mencintaimu, akan selalu mencintaimu,"


"Aku juga mencintaimu,"


Dean sangat bahagia mendengar ucapan itu dari mulut Siren. Kata-Kata keramat yang mustahil dia dengar dari bibir istrinya itu. Dean dengan segala keberanian dan nafsunya perlahan mema**t lembut bibir istrinya, Siren dengan naluri yang dia miliki mengalungkan kedua tangannya dileher kekar Dean dan membalas ci***n itu dengan perasaan yang sama.


"Hegggggghhhh"


Sebuah tangan misterius yang panjangnya hampir dua hasta berhasil menembus perut Dean hingga tembus keperut Siren. Rasa sakit yang dua insan itu rasakan begitu terasa manis, karena mereka kembali melanjutkan ci***n panas itu hingga akhir nyawa mereka.

__ADS_1


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2