SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
117. Pernikahan


__ADS_3

"Suhu. Aku dan Mehru berencana akan menikah pekan ini."


"Kalian akan menikah?"


"Ya. Karena kami tidak memiliki tempat untuk acara itu, bolehkan kami meminjam balai ini?"


"Tentu saja boleh. Lalu bagaimana dengan orang tua Mehru? apa mereka akan datang?"


"Tidak suhu. Karena jarak yang tidak memungkinkan, mereka tidak bisa hadir. Terlebih orang tuaku disana adalah kepala suku, semua urusan desa dia yang menanganinnya. Seo sudah mengirim pesan untuk mereka, mereka bilang agar kami kembali kesana setelah menikah." Jawab Mehru.


"Baiklah, suhu akan mengurus pernikahan kalian."


"Bukan kami saja suhu, rencananya Kheiren juga akan menikah dihari yang sama denganku."


"Kheiren? siapa mempelai laki-lakinya?" tanya Tabib Cheng.


"Mawe suhu."


"Baiklah. Suhu hanya bisa membantu mengurus pernikahan kalian dan juga merestui kalian."


"Suhu jangan terlalu lelah, biarkan kami yang mengurus semuanya. Suhu duduk manis saja,"


"Mehru. Suhu senang kamu menikah dengan Seo. Kalian sama-sama berbakat. Semoga saat pulang nanti, kalian bisa memajukan desa kalian itu."


"Terima kasih Suhu. Restu suhu sangat berarti buat kami."


"Suhu, apa sebaiknya suhu pergi ke negeri seberang untuk berobat? kami sangat mengkhawatirkan suhu, bagaimana setelah kami pergi nanti? siapa yang akan menjaga suhu?"


"Kalian jangan mengkhawatirkan suhu, suhu ini sudah tua, matipun sudah tidak masalah karena memang sudah waktunya. Kalian sebagai orang yang masih sangat muda jangan mempunyai kebiasaan buruk seperti yang suhu lakukan dimasa muda dulu. Itulah sebabnya saat tua, banyak penyakit yang hinggap."


"Apa sebaiknya suhu ikut kami saja ke desa. Jadi kami akan menjaga suhu disana." ujar Mehru.


"Suhu ini sudah tua, tidak sanggup lagi menempuh perjalanan berhari-hari seperti itu, terlebih harus menunggang kuda."


"Lagipula suhu sudah berjanji akan mengabdikan diri didesa ini, masih banyak orang yang membutuhkan suhu untuk mengobati penyakit mereka."


"Baiklah, kalau itu memang keputusan suhu kami juga tidak bisa memaksa. Yang penting suhu bahagia dengan keputusan suhu itu." ucap Seo.


"Ya sudah, lebih baik kalian pergi beristirahat, ini sudah larut malam. Besok kalian akan mulai mengurus pernikahan kalian bukan? apa kalian ingin membuatnya jadi meriah?"


"Tidak suhu. Kami ingin pernikahan sederhana saja, mungkin saat tiba di desa, baru kami akan mengadakan pesta pernikahan lagi disana."


"Baiklah kalau begitu."


"Kami undur diri dulu suhu," ujar Mehru.


"Emm."

__ADS_1


Mehru dan Seo pun pergi ke gubuk mereka masing-masing. Bayang-Bayang pernikahan yang menyenangkan sudah terpampang indah didepan mata Mehru, hingga membuat gadis itu kesulitan untuk terlelap.


"Mehru, kenapa kamu gelisah sekali?" tanya Kheiren.


"Kheiren? kamu belum tidur?"


"Seharusnya sudah, tapi karena kamu bergerak terus, aku jadi terbangun. Apa yang sedang mengganggu fikiranmu itu?'


"Tidak ada, aku hanya merasa gelisah memikirkan pernikahanku." Jawab Mehru sembari berbaring berhadapan dengan Kheiren.


"Sejujurnya aku kurang setuju kamu menikahi Seo," ujar Kheiren setengah berbisik karena takut terdengar oleh Mesa.


"Kenapa?"


"Aku merasa dia bukan pria yang baik. Mehru, bukannya aku terpengaruh oleh ucapan Galeo, tapi memang aku merasa ada banyak kejanggalan yang terjadi."


"Kejanggalan apa?"


"Seo seperti menyimpan sebuah rahasia besar. Aku takut kejadian dikehidupan sebelumnya terulang lagi."


"Kheiren, tidak ada yang tahu tentang kehidupan sebelumnya selain kita berdua. Mana mungkin kehidupan seperti itu akan terjadi berulang-ulang? bisa jadi dikehidupan ini Seo memang diberi kesempatan untuk menebus kesalahannya dimasa lalu."


"Aku juga berharap begitu. Aku juga ingin melihat kamu bahagia Mehru."


"Semoga saja nasib baik berpihak padaku kali ini."


"Sungguh ini seperti mimpi Khei. Kita pergi bersama-sama, dan akan menikah bersama pula."


"Iya. Dikehidupan ini kisah kita sangat menyenangkan."


"Emm. Ya sudah, ayo kita tidur."


Kheiren dan Mehru akhirnya jatuh tertidur juga setelah berbincang panjang lebar.


*****


Hari ini adalah hari digelarnya pernikahan antara Mehru dan Seo, juga Kheiren dan Mawe. Dua pasang pengantin itu tampak terlihat bahagia. Galeo hanya bisa menatap dari kejauhan, melihat senyum yang terbit dari bibir Mehru tiap kali orang-orang yang mengucapkan selamat padanya.


Namun tidak untuk Galeo, pria itu berkali-kali menyeka air matanya, rasa sedih selalu bergelayut dihatinya.


"Aku kalah lagi, pria itu selalu merebutmu dariku. Aku benci kutukan ini,"


Galeo meninggalkan tempat itu dan kembali ke gubuknya. Rasa sakit dan amarah, laki-laki itu lampiaskan dengan menghancurkan barang-barang disana.


"Mehru. Haruskah aku kehilanganmu dengan cara menyakitkan lagi? bagaimana caraku melindungimu dari orang jahat itu, sementara kamu sendiri tidak percaya padaku."


Karena lelah mengamuk, Galeo jatuh tertidur. Melihat keadaan gubuk yang kacau balau, Mawe jadi sedikit murka.

__ADS_1


"Gale bangun! apa yang kamu lakukan pada gubuk kita?"


Galeo terbangun dari tidurnya, dan melihat suasana diluar sudah berangsur senja.


"Bantu aku merapikan gubuknya lagi. Malam ini kamu harus tidur dibalai dulu,"


"Kenapa begitu?"


"Apanya yang begitu? malam ini adalah malam pengantinku, mana mungkin aku membiarkanmu melihat kami bercinta."


"Kalian itu memang sialan semuanya. Karena ini malam pengantinmu, maka kamu harus merapikannya sendiri."


Galeo pergi meninggalkan gubuk itu dengan perasaan dongkol. Sementara Mawe merasa kesal karena harus merapikan gubuk seorang diri.


"Ada apa?" Kheiren tiba-tiba muncul.


"Oh istriku yang cantik, bantulah suamimu yang malang ini, tadi ada kuda ngamuk hingga kamar pengantin kita jadi berantakan seperti ini."


"Kuda ngamuk? kenapa kuda bisa masuk kedalam gubuk?"


"Galeo yang jadi kudanya."


Kheiren terkekeh, kini dia mengerti apa maksud ucapan Mawe.


"Aku mengerti, mungkin dia ingin mengungkapkan rasa kecewa dan cemburunya pada Mehru," ujar Kheiren sembari membantu merapikan gubuk itu.


"Kemarilah,"


Kheiren perlahan mendekati Mawe, pria itu membelai lembut wajah Kheiren dan mencium gadis itu perlahan.


"Mawe, ini masih siang."


"Kenapa? kita ini pasangan resmi. Mau siang atau malam sama saja."


"Aku takut ada orang yang dengar,"


"Siapa yang mau dengar, Gale sudah pergi. Mehru dan Seo ada digubuk mereka."


Kheiren hanya bisa pasrah saat Mawe mulai mencumbu dirinya. Mawe tidak sabar lagi harus menunggu malam, hingga melampiaskannya saat itu juga."


"Ah...ah...Mawe..."


Suara Kheiren begitu terdengar indah hingga keluar gubuk. Galeo yang hendak mengambil sesuatu di gubuk itu, jadi mengurungkan niatnya dan menggerutu dengan kesal.


"Dasar Mawe sialan. Apa punyanya itu tidak bisa menunggu hingga malam? Apa mereka tidak bisa tidak bersuara sekeras itu? apa mereka fikir bumi ini milik mereka sendiri?"


Galeo menggerutu sembari kembali ke balai. Tidak jauh berbeda dengan gubuk Mawe, Seo pun melancarkan aksi serupa. Bedanya Seo sudah mengulang kali kedua untuk percintaan panjang mereka, hingga Mehru benar-benar dibuat tak berdaya.

__ADS_1


Seperti senja itu, pada malam harinya Seo dan Mehru kembali menghabiskan malam yang panjang. Mesa yang berada diluar gubuk, tidak bisa menahan api cemburunya, gadis itu pergi dengan perasaan kesal.


__ADS_2