SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
70. Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Apa itu?" tanya Siren.


"Eh?" Aru dan Dean terkejut bersamaan.


"Apa kamu tidak tahu arti kata suka?"


"Aku tahu arti kata suka. Tapi tidak mengerti kata suka yang kamu inginkan dariku."


"Apa kamu tidak pernah merasakan saat tidak bertemu denganku ada sedikit rasa rindu?"


"Rindu?"


"Rindu ingin bertemu denganku, ingin melihatku, ingin bicara denganku."


Siren terdiam. Dia memang pernah merasakan hal itu karena dia berfikir sudah lama tidak pernah bertemu lagi dengan pemuda itu.


"Pernah."


"Pernah?" mata Dean berbinar meskipun dia sudah salah faham mengartikan ucapan Siren.


"Siren itu artinya perasaan kita sama. Aku selalu berharap kita bisa bertemu setiap hari. Tapi kamu tiba-tisa saja menghilang."


"Aku tidak muncul karena aku anggap itu tidak perlu. Apa ada lagi yang ingin kamu katakan?"


"Dean sepertinya gadis itu belum mengerti arti kata suka yang kamu ucapkan. Dan sepertimya kamu juga sudah salah faham mengartikan ucapannya. Kamu harus menggunakan kata-kata yang bisa dia cerna dengan mudah," ucap Aru.


"Siren aku ingin memilikimu," ujar Dean tiba-tiba yang membuat mata Aru terbelalak.


Siren mengerutkan dahinya dan menatap kearah Dean.


"Apa kamu sudah mengerti kata-kata yang aku ucapkan itu?"


"Apa kamu menginginkan kita bertemu lebih dekat dari ini?"


"Ya. Memiliki dalam artian bersatu dan menghasilkan banyak anak-anak."


Mata Aru bertambah melebar seakan ingin lepas dari porosnya.


Siren menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak bisa dilihat oleh Dean. Kini gadis itu baru mengerti apa arti suka yang Dean maksud. Namun senyum itu segera lenyap saat dirinya teringat akan kutukan dan segel hutan.

__ADS_1


"Meskipun kita ingin, bukankah itu suatu yang mustahil?"


"Kenapa kita tidak mencobanya? apa kutukan itu benar atau tidak."


"Dean. Kendalikan dirimu, apa kamu sudah gila? kamu akan membahayakan manusia campuran dihutan peri."


Dean tidak menggubris ucapan Aru, pemuda itu lebih ingin tahu apa jawaban dari gadis impiannya.


"Meskipun aku tidak takut mati, tapi aku tidak bisa melihat ayahku mati didepan mataku." Jawab Siren.


"Aku juga tidak ingin. Tapi apa kita memang tidak bisa melawan mahluk itu?"


"Apa kamu tahu seperti apa wujud asli mahkuk itu?" tanya Siren.


Dean terdiam. Karena sejujurnya dia juga tidak mengetahui akan hal itu.


"Bagaimana mungkin kita bisa melawan mereka, sementara jumlahnya saja kita tidak tahu."


"Jadi apa kamu juga mencintaiku? aku perlu mendengarkan jawabanmu itu." Dean mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak tahu kata seperti apa lagi yang kamu maksud itu. Jika sama persis seperti rasa suka, mungkin saja iya."


"Apa pernah kamu sulit tidur karena memikirkan kehadiranku?" tanya Dean.


"Itu artinya kamu juga mencintaiku,"


Siren terdiam. Dia akui setiap kali bertemu dengan Dean, jantungnya terasa ada yang aneh. itulah sebabnya Siren rajin mempelajari obat-obat tradisional yang dia buat menggunakan rempah dan tumbuhan lainnya, karena dia mengira dirinya terkena penyakit yang aneh.


"Akan aku fikirkan."


Siren berbalik badan meskipun Dean berulang kali memanggil namanya.


"Dean. Aku tidak tahu lagi cara memberitahumu. Kamu akan memghancurkan keturunan manusia campuran, kalau kamu sampai melakukan hal itu."


Dean melangkah pergi tanpa memperdulikan ucapan Aru.


"Dean dengarkan aku. Siren saja tidak ingin melihat ayahnya mati didepan matanya, setidaknya dia masih berfikiran waras. Sementara kamu? kamu tidak hanya melindungi ayah, tapi juga ratusan manusia campuran lainnya. Apa kamu rela mereka musnah begitu saja?"


"Aru. Sejujurnya aku sama sekali tidak percaya hal seperti itu. Aku sudah memikirkannya ribuan kali, rasanya tidak ada yang masuk diakalku."


Lemas sudah Aru kali ini. Pemuda itu khawatir bencana itu lambat laun akan terjadi. Andai benda segel yang Dean gunakan bisa dipindah tangan, Aru rela mengambil kesempatan itu untuk menjaga seluruh kaumnya.


Malam ini Siren sulit tertidur, ucapan Dean selalu terngiang ditelinganya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Pakuo.


"Baba. Apa aku tidak bisa memiliki anak-anak seperti baba memilikiku?" tanya Siren.


Pakuo terdiam. Pria tua itu berfikir kenapa tiba-tiba Siren memiliki pemikiran seperti itu.


"Apa Pemuda itu sudah mengatakan sesuatu padamu?"


"Dean mengatakan suka padaku. Dia bilang ingin memiliki anak denganku, dia ingin bersatu denganku."


Pakui tertegun mendengarkan ucapan Siren yang sangat polos. Pakuo bingung harus menjelaskan itu pada putrinya. Pakuo tahu itu tidak mungkin. Akan banyak yang dikorbankan jika itu sampai terjadi. Tapi sejujurnya pakuo juga ingin melihat putrinya bahagia, dan meneruskan keturunanya.


"Baba. Apakah itu mungkin?


"Apa kamu juga menyukai pemuda itu?"


"Aku tidak tahu. Tapi tiap kali bertemu, aku selalu memikirkannya."


"Siren. Kamu pasti tahu itu sangat sulit. Kita memang hanya berdua saja hidup dihutan ini, tapi berbeda dengan Pemuda itu. Ada puluhan bahkan ratusan manusia campuran dihutan sana. Kalau sampai kalian sama-sama mematahkan segel yang kalian miliki, tidak hanya kalian saja yang bisa terbunuh, tapi seluruh manusia campuran yang ada disana juga akan dimusnahkan."


Siren terdiam. Dia menyadari tidak mungkin mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri. Siren memutuskan untuk tidak lagi menemui Dean apapun yang terjadi. Dia akan berusaha melupakan pemuda itu meskipun sulit.


Sudah Sebulan sejak pertemuan itu Siren benar-benar tidak pernah muncul lagi. Setiap hari Dean datang keperbatasan berharap Siren menemuinya. Namun tanpa Dean tahu, Siren diam-diam melihat pemuda itu meski hanya bersembunyi dibalik semak belukar.


"Siren. Sepertinya kamu ingin melupakanku bukan? tunggu sampai keberanianku terkumpul, dan aku tidak bisa membendung perasaanku lagi. Aku akan menemuimu apapun yang terjadi," batin Dean.


Dean berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Dean seharusnya kita tidak usah pernah bertemu. Agar perasaan kita tidak pernah terbelenggu. Kini aku mengerti apa arti mencintai yang kamu maksudkan. Aku bersedih hati ketika kamu pergi membawa kesedihan."


"Dan entah mengapa selalu ada setitik air yang berkumpul dari mataku saat aku merasakan hal sedih itu," ucap Siren lirih.


Siren pergi dari semak belukar dan kembali kerumahnya dengan menenteng beberapa hasil buruannya. Lagi-Lagi air mata Siren jatuh, jauh dilubuk hatinya dia ingin membuat keluarganya sendiri dan mempunyai anak yang bisa ia besarkan sendiri. Tapi Siren menyadari itu suatu kemustahilan, karena dia tidak ingin mengorbankan siapapun untuk kebahagiaannya.


"Apa kamu menemui pemuda itu lagi?" tanya Pakuo.


"Tidak." Jawab Siren sembari meletakkan dua ekor kelinci diatas kayu gelondongan.


Pakui terdiam. Dia tahu Siren memang tidak menemui Dean seperti yang biasa putrinya itu lakukan. Karena diam-diam Pakuo mengikuti Siren dari arah belakanng, dan melihat semua apa yang Siren lakukan.


"Baguslah. Paling tidak kamu melakukan demi keseimbangan alam kita."


Siren terdiam. Dia tidak ingin membahas masalah itu terus-terusan yang akan menambah rasa luka dihatinya.

__ADS_1


Tinggalkan Like, koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2