
Tinggalkan Like,Koment dan Vote🤗🙏
*****
Pakuo tampak menikmati umbi rebus yang Dean godok saat meninggalkannya kearah belakang. Dean terlihat gugup saat mendekati pria parubaya itu.
"Kalian segera kumpulkan beberapa macam bunga yang ada dihutan ini, karena aku ingin segera membuat ritual untuk kalian berdua."
"Baik Paman." Jawab Dean.
Pakuo melirik kearah Siren yang terlihat hanya diam saja sembari menikmati umbi rebus. Pria itu dapat melihat perubahan besar terhadap putrinya sejak kehadiran Dean.
Setelah menghabiskan umbi bersama, Dean dan Siren memasuki hutan untuk mencari bunga sesuai yang Pakuo minta.
"Sepertinya ayahmu tahu apa yang sudah kita lakukan," ujar Dean.
"Mungkin."
"Tapi tidak apa-apa. Sebentar lagi kita akan mengadakan ritual itu, dan akan membangun rumah untuk kita sendiri."
"Membangun rumah lagi?"
"Ya. Setelah ditual, kita tidak mungkin berada satu atap dengan ayahmu ataupun bersama Aru. Kita tidak akan bebas melakukan apapun."
Siren diam mencerna ucapan Dean. Puluhan tahun tinggal bersama ayahnya, membuat dia bingung mendengar ucapan Dean yang ingin membangun rumah mereka sendiri.
"Apa itu tidak akan membuat Baba marah."
"Tidak. Dia pasti akan mengerti,"
"Baiklah."
"Nanti setelah ritual aku akan segera bicara pada Baba,"
"Ya."
"Sepertinya bunganya sudah cukup," ucap Dean.
"Ya. Ini sudah banyak macamnya," timpal Siren.
Setelah dirasa cukup, Siren dan Dean kembali pulang dan menyerahkan hasil pencarian mereka pada Pakuo. Pakuo segera mengajak Dean dan Siren pergi kebelakang dimana mereka biasa membersihkan diri. Entah apa yang Pakuo ucapkan, pria itu tampak berkomat kamit merapalkan sesuatu yang sama sekali Siren dan Dean tidak mengerti.
Setelah merapalkan do'a-do'a tertentu, Pakuo kemudian mengambil segayung air yang terbuat dari buah maja dan menyiramkan air berisi bunga itu ke tubuh Dean lebih dulu. Setelah itu giliran Siren yang mendapat perlakuan yang sama. Setelah ritual selesai, Pakuo mengajak Dean dan Siren untuk berbincang bersama.
"Sekarang kalian sudah menjadi suami dan istri, Dean aku harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama, yang akan membahayakan putriku kedepannya."
"Aku ingin kalian hidup dan mati tetap berada dihutan ini bersama anak dan cucu kalian nanti."
"Aku mengerti Ba." Jawab Dean.
__ADS_1
"Apa kaliam ingin membangun rumah kalian sendiri?"
"Ya. Aku memang ingin membicarakan soal itu dengan Baba. Apa Baba keberatan kalau kami membangun rumah sendiri."
"Tidak. Itu lebih baik,"
"Baiklah. Kami akan membangunnya mulai hari ini. Apa kami boleh membangun rumah disekitar sungai bagian barat?"
"Boleh."
"Kenapa harus disana?" tanya Siren.
"Aku suka tempat itu, terlebih aku tidak ingin meninggalkan Aru sendiri."
"Lalu bagaimana dengan Baba? baba akan sendiri juga bukan?"
"Baba tidak masalah. Kalian mau membangun disana atau disini bagi baba sama saja."
Pakuo melihat raut wajah kesedihan diwajah putrinya. Raut yang untuk pertama kalinya dia lihat sejak gadis itu tumbuh dewasa.
"Kalian akan sering mengunjungi baba, baba juga akan sering kerumah kalian. Lagipula kita berada dihutan yang sama, jadi kita pasti akan sering bertemu."
Pakuo berusaha menghibur putrinya agar tidak memasang wajah murung lagi.
"Baiklah, kami pergi dulu Ba. Kami akan mulai membangun rumah kami sendiri."
"Ya."
"Kamu sedih?"
"Sedih?"
"Karena kamu akan pisah rumah dengan Baba."
Siren hanya diam saja, karena dia sendiri tidak tahu kenapa perasaannya mendadak tidak senang saat Dean mengatakan akan membuat rumah mereka sendiri setelah ritual. Bahkan Siren bertambah tidak senang saat tahu Dean akan membangun rumah jauh dari rumah ayahnya.
"Sebaiknya setelah melakukan ritual kita memang pisah rumah saja,"
"Kenapa?"
"Kamu tentu tidak mau kan saat aku menyentuhmu, baba melihat apa yang akan kita lakukan?"
Siren terdiam. Wajahnya mendadak bersemu merah. Sekilas dia membayangkan saat-saat panas antara dirinya dan Dean. Dan tentu dia tidak mau saat itu ada orang lain melihat apa yang mereka sedang lakukan.
"Aku mengerti."
Dean tersenyum saat melihat wajah Siren yang mulai kembali bersinar. Saat menemukan kayu-kayu yang cocok untuk mereka pakai membuat rumah, Dean dan Siren mulai menebangnya dan mengangkutnya ketempat tujuan mereka.
Aru yang melihat kedatangan Siren dan Dean, kembali memasang wajah masam dan berpura-pura tidak melihat.
__ADS_1
"Aru," sapa Dean.
"Ada apa?" tanya Aru tanpa menoleh kearah Dean.
"Kami sudah melakukan ritual. Sekarang Siren sudah menjadi istriku."
Aru menghentikan sejenak gerakan tangannya yang sedang membolak balik ikan diatas bara api.
"Baguslah."
"Bantu aku untuk membangun rumah kami. Kami memutuskan akan membangun rumah disebelahmu,"
"Ya." Jawab Aru singkat.
Hampir seharian Siren, Aru dan Dean membangun rumah, dan pada petang harinya barulah rumah itu bisa diselesaikan.
"Kalian akan langsung menunggu rumah ini?" tanya Aru.
"Ya. Ini sudah hampir malam, Siren tidak mungkin pulang kerumahnya. Lagipula kami sudah menjadi suami istri, sudah sepatutnya kami tinggal bersama."
Aru tidak lagi menjawab ucapan Dean, pria itu segera masuk kedalam rumah untuk beristrirahat.
"Sepertinya dia masih membenciku,"
"Tidak masalah. Aku juga tidak mengizinkan mu terlalu dekat dengannya."
"Kenapa? bukankah dia temanmu? yang artinya temanku juga."
"Aku tidak suka saja ada pria lain yang kamu perhatikan, atau pria lain yang memperhatikanmu. Kamu itu hanya milikku."
Siren yang masih belum mengerti tentang hubungan khusus, merasa bingung mendengar ucapan Dean.
"Ayo kita masuk, biarkan tubuh kita beristirahat. Aku benar-benar lelah hari ini."
"Emm." Siren mengangguk.
Siren dan Dean tidur bersama untuk melepas penat sejenak. Namun saat tengah malam tiba, Aru sama sekali tidak bisa tidur dibuat oleh Siren dan Dean. Pengantin baru itu benar-benar berga***h, sehingga suara mereka sanggup memecah kesunyian hutan. Entah sudah berapa lama suara itu baru mereda, namun disaat mata Aru mulai akan terpejam kembali, suara-suara merdu itu kembali terdengar hingga membuat Aru sangat kesal setengah mati.
*****
Matahari mulai mengintip dedaunan yang Dean susun sebagai atap rumahnya. Matahari pagi mulai masuk kerumah itu sehingga membuat mata Dean mengedip-ngedip karena merasakan silau karena terpaan cahaya itu.
Dean menoleh kesamping dan mendapati Siren masih tertidur pulas. Gadis berambut gelombang itu tampak nyenyak setelah kelelahan.
Tidak jauh berbeda dengan Siren, Aru juga masih terlelap. pria yang terbiasa bangun pagi itu mendadak belum bangun meskipun matahari sudah mulai menari menyapa dedaunan. Begitu suara-suara yang membuatnya jengkel mereda, barulah Aru bisa tertidur dengan damai. Pria itu bahkan tidak sadar saat Dean menaiki rumahnya dan masih melihat dirinya yang terlelap.
Dean meninggalkan Siren dan Aru untuk berburu seorang diri. Dean tidak ingin membangunkan istri dan temannya itu. Dengan kemampuan memanah yang ia miliki, Dean berhasil mendapat hasil buruan berupa Seekor babi hutan yang gemuk. Dean membawanya pulang dan segera membakarnya diatas bara api.
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
__ADS_1