SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
91. Di Izinkan


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Dia kenapa?" guman Mehru.


Mehru terlihat bingung, saat tiba-tiba Galeo mengacuhkannya. Mehru berfikir dia sudah membuat kesalahan, sehingga Galeo begitu marah dengannya.


Pembuatan rumah warga hampir selesai, Kuolo mengundang seluruh warga saat pembangunan rumah sudah diselesaikan. Keadaan Matuo dan Rumbe juga sudah dinyatakan sembuh setelah meminum ramuan yang dibuat oleh Mehru.


Hari ini semua warga berkumpul untuk mendengarkan apa yang akan Kuolo katakan.


"Sudah beberapa hari ini kita kedatangan tamu dari luar desa. Warga baru ini adalah warga yang terkena dampak musibah gempa yang terjadi beberapa hari yang lalu, untuk itu saya sebagai ketua suku menerima mereka sebagai pendatang tinggal didesa kita untuk sementara waktu."


"Sampai kapan?" celetuk salah seorang warga.


"Sampai mereka benar-benar merasa aman. Bila perlu tidak usah keluar dari desa ini juga tidak apa-apa. Apa kalian tidak merasa senang jika penduduk desa kita semakin ramai?"


"Sekarang kalian boleh mendekatkan diri satu sama lain, buat desa kita ini selalu damai."


Warga baru dan warga lama tampak berbincang satu sama lain. Mehru yang melihat Kuolo tengah santai, mengahampiri pria tua itu.


"Baba. Aku ingin bicara sesuatu yang penting."


"Ada apa?"


"Kemarin aku sempat bicara dengan Galeo mengenai tabib yang ingin mengajarkan ilmunya secara gratis. Mungkin Baba sudah pernah dengar, tabib itu ada didesa seberang."


"Apa niatmu ingin belajar ilmu pengobatan?"


"Aku ingin menjadi tabib untuk desa kita. Kelak kedepannya warga tidak dikhawatirkan lagi tentang penanganan penyakit."


"Kalau itu memang tujuanmu, maka kamu Baba Izinkan untuk menimba ilmu disana. Apa kamu akan pergi sendiri?"


"Tidak. Kami berencana akan pergi berempat."


"Berempat?"


"Aku, Galeo, Mawe dan Kheiren."


"Itu lebih baik. Baba jadi tidak terlalu khawatir melepaskanmu."


"Emm. Kami akan menyiapkan segala sesuatunya untuk bekal kami diperjalanan."


"Apa kalian ingin membawa kuda?"


"Ya. Perjalanan kesana memakan waktu hampir dua pekan kalau kami menempuhnya berjalan kaki. Dan aku yakin, perbekalan kami tidak akan cukup."

__ADS_1


"Baiklah."


"Kalau begitu aku akan menemui Galeo, aku akan memberitahu dia tentang ini."


"Emm." Kuolo menganggukkan kepalanya.


"Aku mendengar pembicaraan kalian dari dalam. Apa kamu ingin melepaskan putri kita ke negeri orang?" tanya Saguni.


"Kenapa?"


"Ba. Dia putri kita satu-satunya, aku tidak ingin kehilangan dia. Terlebih kita tidak tahu seperti apa desa seberang itu."


"Saguni. Untuk apa kamu menahan putrimu agar tetap disisimu, sementara diluar sana dia bisa memperluas pengetahuannya. Terlebih tujuan putri kita sangat mulia, mana mungkin aku mematahkan semangatnya itu."


"Terus terang aku sangat bangga pada Mehru. Disaat para gadis lebih suka berada dikamar dan bersolek, putri kita lebih cenderung mengerjakan sesuatu yang bermanfaat."


"Aku hanya takut dia terlalu mementingkan urusan orang lain, sehingga lupa bahwa dirinya juga perlu menikah."


Kuolo tertawa mendengar ucapan Saguni, terlebih saat melihat raut wajah saguni.


"Jadi kamu hanya khawatir, kalau putrimu tidak ada yang mau menikahinya?"


Sanguni memganggukan kepalanya. Saguni menyadari Mehru memang tidak terlihat seperti gadis pada umumnya. Kulit gadis itu bahkan berwarna coklat karena terlalu banyak menghabiskan waktu diluar rumah untuk berburu dan mencari tanaman obat.


Sementara para anak gadis didesanya lebih suka berdiam diri dirumah dan bersolek. Saguni sangat khawatir tidak ada yang ingin menikahi putrinya karena putrinya itu berprilaku seperti anak laki-laki.


"Hah...melihat prilakunya yang seperti ini, rasanya mustahil." Saguni menggerutu sembari mengelap meja rumahnya.


"Semua laki-laki nyaris menyukai seorang gadis yang lembut dan cantik. Sedangkan Mehru? aku bahkan tidak pernah melihat anak itu menatap wajahnya dicermin, apalagi mau menggunakan bedak diwajahnya."


"Aku yakin akan ada pria yang menyukainya karena kelebihannya, bukan karena memikirkan kecantikan yang dia miliki. Putri kita sangat cantik, cuma dia tidak perlu menonjolkan kecantikkannya untuk menarik perhatian laki-laki."


"Huu...bicara denganmu membuatku selalu kalah. Terserah saja,"


Kuolo terkekeh saat melihat Saguni merajuk dengan wajah yang cemberut. Sementara itu disisi lain, Mehru pergi kerumah yang ditinggali oleh Galeo dan Mawe.


"Gale...gale..."


Mehru mengetuk rumah Galeo dengan tidak sabar, sementara Galeo yang baru saja terpejam jadi terbangun dari tidurnya. Gale membuka pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Gale menatap sosok Mehru didepannya, untuk sesaat dia memindahi tatapannya pada dada gadis itu. Dada indah yang tidak sengaja dia lihat tadi pagi.


Mehru jadi mengikuti arah pandang laki-laki itu dan melayangkan sebuah pukulan dibahu Gale dengan lumayan keras.


"Awwww...sakit... apa yang kau lakukan? kenapa kau memukulku?"


"Aku bahkan akan mencongkel kedua bola matamu, kalau sampai aku tahu kamu melihat sesuatu yang tidak-tidak."


"Apa yang kulihat? mataku masih mengantuk saat kamu datang."

__ADS_1


"Tadi apa yang kamu lihat?"


"Memangnya apa yang kulihat?"


"Apa yang kalian ributkan. Kepala suku baru saja memberikan mandat, agar kita selalu menjaga kedamaian desa ini," ujar Mawe yang keluar dari dalam karena merasa terganggu dengan pertengkaran Mehru dan Galeo.


Mehru memalingkan wajahnya karena enggan menatap kearah Galeo, sembari menyilanglan tangan didadanya. Begitu juga sebaliknya, Galeo juga enggan melihat kearah Mehru karena takut matanya akan kembali berlari melihat kearah dada gadis itu.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Mawe.


"Aku hanya ingin menyampaikan, kalau Baba menyetujui kepergian kita kedesa seberang."


"Benarkah?" Galeo langsung menoleh seketika.


"Emm." Mehru mengangguk.


"Lalu kapan kita akan berangkat?" tanya Galeo.


"Aku terserah kalian saja, lagipula kita harus menyiapkan perbekalan yang cukup. Karena kita akan menempuh perjalanan hampir satu minggu menggunakan kuda."


"Kuda?"


"Apa kamu mau berjalan kaki? kita akan sampai dua pekan lebih lamanya."


"Dua pekan lebih?" Mawe terkejut.


Dia tidak bisa membayangkan jika harus pergi sejauh itu dengan menggunakan kaki. Saat mengungsi kedesa ini saja, mereka memakan waktu tiga hari untuk sampai. Dan itu sudah membuat Mawe merasa kakinya seperti kejang.


"Aku lebih memilih menaiki kuda," ujar Mawe.


"Baiklah sudah diputuskan besok lusa kita akan pergi." ucap Galeo.


"Kalau begitu kita harus berburu besok." Jawab Mehru.


"Berburu? untuk apa?" tanya Mawe.


"Tentu saja untuk perbekalan kita selama diperjalanan. Sisanya kita akan berburu dijalan." Jawab Mehru.


"Jangan Lupa membawa kendi air minum, jika tidak ada kalian bisa membuatnya dari tabung bambu," sambung Mehru.


"Baiklah." ucap Galeo.


Mehru beranjak pergi dari rumah Galeo, dan pergi menuju rumah Kheiren untuk berbincang dengan kedua orang tua gadis itu. Disepanjang perjalanan menuju rumah kheiren, gadis itu tampak berfikir keras agar orang tua gadis itu memberikan izin, ahar kheiren bisa pergi bersamanya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


.

__ADS_1


__ADS_2