SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
22. Kompetisi


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Aku yakin 100% Violet mendengar apa yang kita bicarakan tadi," ujar Vino membuka suara.


"Terserah saja. Kalau dia bisa menjaga sikapnya itu, mungkin kita masih bisa mempertimbangkan dia untuk berada disini," ucap Regent dan kemudian menyesap kopi hitamnya.


"Dari dulu kamu tidak bosan minum kopi hitam tanpa gula. Apa itu benar-benar enak dilidahmu?"


"Aku tidak tahu enak atau tidak. Aku hanya merasakan ada sensasi yang berbeda saja saat kopinya mencapai di tenggorokkan ku." Jawab Regent.


"Dasar orang aneh,"


Regent melirik kearah jam tangannya.


"Sebaiknya kita bersiap-siap, sebentar lagi waktunya makan siang. Kita langsung saja ke Cafe Star, agar tidak terlambat menemui klien itu," ujar Regent.


"Oke. Kalau begitu aku kembali keruanganku dulu untuk mempersiapkan semuanya." Jawab Vina.


"Emm," Regent menganggukkan kepalanya.


Regent mempercepat gerakkan tangannya untuk menandatangani semua berkas yang diberikan Violet sebelumnya. Setelah selesai, dia segera beranjak dari kursi kebesarannya dan pergi dari ruangan itu.


"Re, aku tunggu kamu di lobyy," ujar Vino diseberang telpon.


"Oke."


Regent memutus percakapan itu secara sepihak.


Regent dan Vino memasuki sebuah mobil sport berwarna hitam. Mereka akan pergi menuju Cafe Star mengendarai mobil dengan sedikit santai.


"Vino, aku jadi berfikir sesuatu tentang disign kalung berlian itu. Aku ingin kita menemukan disign yang unik, dan hanya diproduksi satu-satunya didunia. Saat bertemu dengan Mehru nanti, aku akan menghadiahkan kalung itu untuknya," ujar Regent.


"Lalu bagaimana dengan peluncuran untuk awal tahun depan? apa tahun depan kita tidak akan mengadakan sebuah pameran?" tanya Vino.


"Tentu saja mengadakan pameran. Papa bilang, tiap tahun RB Group selalu mengadakan pameran untuk produk perhiasan. Tahun depan aku ingin membuat gebrakkan baru, aku ingin pameran itu sekaligus berbarengan dengan fashion yang akan kita luncurkan diawal tahun depan. Aku ingin perusahaan ini bangkit ditanganku." Jawab Regent.


"Aku setuju. Semoga saja kita segera menemukan designer-disigner berbakat itu. Aku tidak tahu kenapa, disigner yang kita miliki begitu payah menemukan ide-ide baru. Semua disign yang mereka buat sangat monoton dan biasa saja. Itulah sebabnya perusahaan ini sangat mengalami guncangan waktu itu," ucap Vino.


"Mungkin mereka sudah terlalu tua, hingga mereka kehabisan ide." Jawab Regent sembari terkekeh.


Vino memarkirkan mobil sportnya memasuki parkiran sebuah Cafe yang lumayan mewah.

__ADS_1


"Aku ketoilet sebentar," ujar Vino.


"Apa kamu menginginkan menu yang sama?" tanya Regent.


"Ya." Jawab Vino.


Vino berlalu dari hadapan Regent dan pergi menuju toilet. Sementara Regent membuka buku menu untuk memesan menu makan siang mereka. Sembari menunggu pesanan, Regent mengotak atik ponselnya untuk melihat pergerakan saham. Karena sangat asyik dengan ponselnya, tanpa sadar kakinya sudah memblokir jalan seseorang yang juga lengah pada saat itu.


Brukkk


Pranggg


Suasana mendadak hening, semua mata tertuju pada sosok gadis yang berpakaian seorang pelayan rumahan.


Tap


Tap


Tap


Sarlince berlari menuju asal suara, dan membantu Umi yang sedang tersungkur sembari memegang sebuah nampan ice cream yang gelasnya pecah berceceran.


"Umi apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sarlince.


Sarlince menoleh kearah pria yang terlihat mematung tanpa melakukan apapun. Pandangan mata keduanya bertemu. Jika Sarlince menatapnya dengan marah, namun lain halnya dengan Regent. Pria itu merasa aneh dengan penampilan Sarlince yang norak diusianya yang sudah dewasa.


Sarlince berjongkok untuk mengambil sisa gumpalan ice cream, tanpa diduga Sarlince mengelapkan gumpalan ice cream ditangannya ke jas mahal milik Regent. Mata semua orang melotot menyaksikan hal itu, tidak terkecuali Umi dan Vino yang baru saja datang. Regent menggertakkan giginya karena merasa sudah dipermalukan oleh seorang gadis yang berpakaian aneh itu.


"Apa yang kamu lakukan pada temanku?" tanya Vino.


"Apa kamu buta? kamu bisa lihat kan apa yang sedang aku lakukan?" ucap Sarlince.


"Tapi apa salah temanku?" tanya Vino marah.


"Sebaiknya kamu tanyakan saja pada temanmu apa kesalahannya." Jawab Sarlince.


"Nona sudahlah. Saya tidak apa-apa," ujar Umi yang menarik lengan Sarlince.


"Tidak bisa. Pria dengan atitude buruk seperti dia sekali-kali harus diberi pelajaran. Apa dia kira dengan memakai jas mahal, tidak bisa meminta maaf pada seorang gadis dari kalangan rendahan?" ucap Sarlince.


Regent berdiri dari tempat duduknya sembari melepaskan jas yang sudah belepotan dengan ice cream kemudian melemparkannya tepat diwajah Sarlince.


Jas itu berakhir tepat ditangan Sarlince yang digenggam erat oleh gadis itu. Regent berjalan mendekati Sarlince dan berdiri tepat didepan gadis itu. Regent menundukkan wajahnya, mendekati wajah Sarlince hingga hanya meninggalkan jarak beberapa centimeter saja.

__ADS_1


"Nyalimu sangat besar, tidak sesuai dengan penampilanmu yang bodoh," bisik Regent.


Regent menjauhkan wajahnya kembali dan menatap Sarlince dengan tatapan permusuhan.


"Sebaiknya kamu cuci jas mahalku sampai bersih. Ingat, jangan gunakan detergen sembarangan karena itu akan merusak serat kainnya. Kamu tidak akan sanggup mengganti jas mahal itu karena itu dipesan secara khusus. Vino, berikan kartu namaku padanya. Agar dia bisa mengantar jas itu setelah dibersihkan!" ujar Regent.


Vino mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada Sarlince. Sarlince mengambilnya dan memperhatikan kartu nama itu dengan seksama.


"Vino. Reservasi tempat baru saja, aku ingin kita makan di private room, agar tidak ada lagi lalat pengganggu," ucap Regent.


Regent dan Vino berbalik badan untuk meninggalkan Sarlince dan Umi. Namun dengan suara lantang, Sarlince memanggil nama pemuda yang sudah membuatnya marah maksimal.


"Regent Putra Binara," seru Sarlince dengan suara lantang.


Regent dan Vino menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Sebaiknya kamu harus menoleh kemari, agar kamu bisa melihat barang milikmu untuk yang terakhir kalinya. barang kali kamu akan menangisinya 7 hari 7 malam, karena teringat akan harganya yang sangat mahal,"


Regent membalikkan badannya bersamaan dengan Vino.


Plukkkk


Sarlince menjatuhkan jas itu kelantai, dan menginjak-injaknya dengan kakinya. Vino membelalakkan matanya sementara Regent menggertakkan giginya sembari mengepalkan tangannya.


Sarlince perlahan mendekati Regent dengan berani. Tanpa diduga, gadis itu menepuk-nepuk dada Regent sembari membisikkan sesuatu.


"Aku harap kita tidak akan bertemu lagi. Karena tiap kali bertemu dengan orang sepertimu, rasanya ingin sekali mencabik-cabik mu hingga ketulang-tulang mu,"


Regent merapatkan tubuhnya kearah Sarlince, hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka.


Cup


Regent mencium pipi Sarlince hingga mata gadis itu terbelalak sempurna.


"Kamu akan selalu mengingatku, terutama mengingat ciuman dariku. Kuharap kita memang tidak akan bertemu lagi, karena saat kita bertemu lagi, aku tidak akan mencium pipimu lagi. Tapi akan mencium bibirmu," bisik Regent sembari meraba bibir mungil milik Sarlince dengan ibu jarinya.


Deg


Deg


Deg


Jantung Sarlince dan Regent berdetak seirama. Sentuhan itu benar-benar terasa berbeda bagi Sarlince dan Regent. Sarlince segera berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu, sementara Umi masih sempat meraih jas yang tergeletak dilantai dan membawanya pulang. Regent menatap punggung Sarlince yang semakin menjauh dan kemudian menghilang dibalik pintu keluar.

__ADS_1


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2