
tinggalkan Like, Komen, dan Vote🤗🙏
*****
"Mehru selamat ya? lagi-lagi kamu juara diujian terakhir ini, aku sangat bangga padamu,"
"Terima kasih Seo. Ini juga berkat dukunganmu, tapi sejujurnya aku sedang bersedih saat ini."
"Kenapa?"
"Suhu sedang mengalami sakit keras, dan aku tahu penyakit suhu tidak mudah disembuhkan."
"Mau bagaimana lagi, alat dan obat kita sangat terbatas. Seharusnya suhu dibawa berobat ke negeri seberang. Disana cara pengobatannya sudah sangat bagus, tapi suhu tetap bersikeras tinggal disini."
"Yang kifikirkan saat ini adalah, bagaimana jika kita semua meninggalkan dia? siapa yang akan menjaga suhu?"
"Kemungkinan suhu akan mengangkat murid baru untuk menemaninya disini, kamu tidak perlu khawatirkan itu. Lagipula disini tidak pernah sepi, orang-orang yang ingin berobat selalu mendatanginya."
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?"
"Kita akan menemui suhu, untuk membicarakan pernikahan kita. Karena kita tidak punya tempat, balai ini bisa kita pinjam buat acara pernikahann itu."
"Kapan kita akan bicara dengannya?"
"Nanti malam."
"Baiklah, nanti malam kita bertemu ditempat suhu. Sekarang aku ingin menemui teman-temanku, untuk membicarakan tentang pernikahan kita."
"Baiklah."
Mehru meninggalkan gubuk Seo dan pergi ke gubuknya sendiri untuk menemui Mesa dan Kheiren.
"Kamu darimana?" tanya Kheiren.
"Bertemu Seo. Ada hal penting yang ingin kami bahas. Kheiren, maukah kamu menemaniku bertemu gale dan mawe?"
"Ada apa?"
"Aku ingin membahas masalah pernikahanku dengan Seo."
"Me-Menikah? apa kau sungguh-sungguh?"
"Ya."
"Mesa. Apa kau mau ikut?"
"Tidak. Aku masih takut bertemu Gale,"
"Baiklah, nanti aku akan membahas juga masalahmu dengan Gale."
"Emm."
Kheiren dan Mehru pergi menuju gubuk Galeo dan Mawe yang ternyata mereka sedang berada didepan gubuk itu sembari berbincang.
"Mehru," sapa Gale.
__ADS_1
"Kebetulan sekali kalian ada disini. Aku ingin memberitahu kalian sesuatu,"
"Ada apa?" tanya Mawe.
"Aku dan Seo akan menikah."
"Ap-Apa?" Galeo langsung beranjak dari duduknya.
"Mehru coba kamu fikirkan lagi baik-baik. Kamu akan menyesal kalau menikah dengan dia," ujar Galeo sembari mencengkram kedua bahu Mehru.
Mehru melepaskan kedua tangan Galeo dipundaknya dan menatap Galeo dengan senyuman.
"Aku tahu kalian semua khawatir dengan pilihanku, tapi itu tidak apa-apa. Apapun yang terjadi kedepannya nanti aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang aku ambil."
"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Kheiren.
"Seo sudah mengirimkan pesan pada mereka, mereka tidak bisa meninggalkan desa, terlebih jarak yang begitu jauh. Mereka ingin setelah kami menikah, kami segera pulang ke desa. Kami akan membangun desa bersama-sama."
Gale bergerak mundur dan terduduk disebuah pohon tumbang.
"Gale. Tentang Mesa, apa sebaiknya kamu bertanggung jawab saja dengannya?"
"Aku tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang tidak aku lakukan. Tak seorangpun bisa memaksaku."
"Kenapa kamu jadi pengecut begini?"
"Aku memang tidak punya bukti untuk menjelaskannya padamu, tapi aku pastikan itu bukan hasil perbuatanku. Calon suamimulah pelakunya."
"Kamu masih saja ingin menyalahkan orang lain untuk perbuatanmu sendiri, memang tidak ada gunanya bicara denganmu."
"Eh.. Mehru, kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Mawe.
"Bisakah satu acara untuk dua pernikahan?"
"Dua pernikahan? siapa?"
Mawe melirik kearah Kheiren, dan gadis itu jadi tersipun malu.
"Kalian, sejak kapan kalian bersama?" tanya Mehru terkejut.
"Itu tidak penting. Bukankah orang tua kita akan senang, saat pulang kita membawa menantu mereka?" ujar Kheiren.
Mehru menyunggingkan senyuman dan memeluk sahabatnya itu.
"Aku senang mendengarnya, nanti akan aku bicarakan dengan Seo."
"Emm."
"Ayo kita pergi beristirahat,"
"Ya."
Mehru dan Kheiren pulang ke gubuk mereka, meninggalkan Galeo yang sedang dilanda kesedihan mendalam.
Sementara itu ditempat berbeda, Seo dan Mesa tengah berdebat digudang. Mereka bicara disana karena tidak ingin ketahuan Mehru yang bisa saja tiba-tiba datang ke gubuk Seo.
__ADS_1
"Jadi benar kamu akan menikahi Mehru?"
"Ya."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Kamu tenang saja. Tujuanku hanya menghancurkan mimpi gadis itu dan merebut kitab itu."
"Tapi apa perlu kamu menikahinya? aku bisa mencuri kitab itu untukmu."
"Itu tidak akan seru. Aku ingin menghancurkan dia hingga dia tidak bisa bangkit lagi. Aku sudah terlalu banyak merencanakan sesuatu untuk dia. Dia berkali-kali membuatku marah, aku tidak ingin melewatkan sedikitpun cara pembalasanku padanya."
"Seo. Aku takut kamu akan meninggalkan aku dan pergi bersamanya."
"Tidak. Dibandingkan dia, aku lebih menyukai kulitmu yang bersinar ini."
Seo lagi-lagi membujuk Mesa dengan rayuan mautnya. Gadis itu kembali luluh dan pasrah saja saat disentuh.
"Ah...Seo, ini siang hari, bagaimana kalau ada yang melihat dan mendengar kita?" ujar Mesa dengan menahan suara karena Seo sudah bermain dipuncak dadanya.
"Kamu tenang saja, ini ruangan tertutup. Terlebih mereka pasti sedang beristirahat,"
Seo kembali membenamkan diri dipuncak dada gadis itu. Pasangan yang sudah terlanjur terbakar api ga***h itu pun saling berpacu untuk menuntaskan hasrat mereka.
Mesa tak kuasa menahan jeritan-jeritan kecilnya, saat Seo menghujam dirinya cukup keras, terlebih mereka melakukannya hanya bertumpu pada sebuah meja.
"Se-Seo...aku mencintaimu...ahh..." Mesa
Mesa menge**ng panjang saat gadis itu mendapatkan pelepasannya. Tapi belum untuk Seo, pria itu cukup kuat untuk mengguncang Mesa hingga gadis itu benar-benar lemas tak berdaya.
"Seo, kenapa kamu kuat sekali? apa kamu meminjam tenaga seekor kuda?" tanya Mesa sembari mengenakan pakaiannya kembali.
Seo terkekeh saat mendengar ucapan Mesa.
"Kamu harus pandai mengimbangiku, karena aku tipe lelaki yang tidak mudah puas."
"Seo. Apa setelah kalian menikah, kamu juga akan menyentuhnya?"
"Dengan berat hati aku katakan padamu iya. Karena aku harus memikatnya dengan cara itu terlebih dulu, lagipula itu awal dari kehancuran hidupnya."
"Jujur saja aku sebenarnya tidak rela kamu menyentuhnya. Tapi demi memuluskan semua rencanamu, aku terpaksa harus mengalah lebih dulu."
"Itulah yang aku suka dari dirimu, kamu sangat pengertian. Itulah sebabnya aku lebih memilihmu daripada dia, kamu bisa mengimbangiku dalam segala hal."
"Sebaiknya kita pergi dari sini, aku tidak mau Mehru dan Kheiren curiga padaku."
"Baiklah, kamu keluar saja lebih dulu "
Mesa keluar dari gudang itu setelah melihat situasi merasa aman. Sementara Seo terkekeh, karena merasa mampu memperdaya semua wanita dengan pesona yang dia miliki.
"Kenapa semua gadis didunia ini begitu bodoh, apa mereka semua tidak tahu? kalau mereka hanya dijadikan tempat pemuas saja?" Seo lagi-lagi tertawa keras.
Setelah tawanya mereda, wajah pria itu berubah jadi begitu dingin.
"Mehru. Aku sama sekali tidak bisa menerima kekalahan sedikit saja. Kamu sudah membuatku kehilangan muka berkali-kali, lihat saja aku akan membuatmu nangis darah kali ini."
__ADS_1
"Setelah kitab itu kumiliki, dan harga dirimu kurampas, maka kamu akan aku buang layaknya kotoran."
Seo beranjak pergi dari situ setelah keringat ditubuhnya kering dengan sendirinya.