
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Apa kamu takut akan aku jadikan kelinci percobaan?"
"Terus terang saja iya. Apa tangan itu produk pertamamu?"
Sarlince menatap Hideo yang tampak meragukan kualitas cipataannya itu.
"Bisa dibilang begitu. Apa kamu takut?"
"Bagaimana kalau meledak?"
"Kamu sudah merasakan sebuah ledakkan, kenapa harus takut mengalaminya lagi."
"Aline. Berhentilah menggoda temanmu itu, kamu bisa membuatnya kencing dicelana," ujar Megumi yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Namaku Megumi, dan ini suamiku Vino. Aku sahabat Sarlince dan Regent."
Hideo dan yang lainnya menjabat tangan satu sama lain, untuk berkenalan.
"Kita langsung lihat saja barangnya," ujar Megumi.
Megumi berjalan lebih dulu untuk menuntun teman-temannya kesebuah ruangan khusus. Hideo tampak menatap kearah sepotong tangan yang terlihat seperti sama persis dengan aslinya.
Hideo bahkan melirik kearah tangannya sendiri, karena tangan itu tidak jauh beda dengan tangannya.
"Apa ini tangan yang kalian maksud?" tanya Hideo.
"Ya. Apa kau menyukainya?" tanya Sarlince.
"Ya."
"Itu bagus. Kamu harus menyukainya dulu, baru bisa menyatu dengan tubuhmu."
"Apa kita akan langsung bereksperimen sekarang?" tanya Hideo.
"Eksperimen apanya? itu artinya kamu benar-benar akan kami jadikan kelinci percobaan," ujar Megumi.
"Kamu tidak perlu khawatir, kami pastikan kamu akan baik-baik saja," timpal Regent.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Sarlince.
"Apa aku boleh menarik nafas dulu? entah mengapa aku mendadak gugup." Jawab Hideo.
Yayoi menggenggam tangan Hideo, dan meyakinkan pria itu, bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.
__ADS_1
Hideo melangkahkan kakinya kearah tempat tidur yang sudah disediakan. Perlahan dirinya berbaring, dan sejenak memejamkan matanya.
"Berdo'alah kalau mau berdo'a. Agar kalau tangannya meledak, bisa langsung menuju surga," tutur Sarlince.
"Aline...." semua orang kompak melototkan matanya dan berteriak kearah Sarlince, hingga membuat wanita itu terkekeh.
"Gumi. Apa kamu sudah menghubungkan proyektornya?"
"Sudah."
Sarlince kemudian duduk disebuah kursi, yang didepannya sudah terdapat tangan sekaligus komputer berlayar tipis. Sarlince kemudian menekan sebuah tombol kecil pada tangan tersebut, untuk membuat aliran buatan ditangan itu menjadi aktif.
Jari jemari Sarlince kemudian bergerak lincah disebuah layar komputer, komputer yang dia pernah dia ciptakan dan dibuat oleh Megumi selama dia pergi ke negara J.
Setelah Sarlince berhasil mengaktifkan sistem ditangan itu, Tangan itu tampak berubah warna seketika, warna itu persis seperti kulit alami yang terdapat dijaringan kulit manusia pada umumnya, sehingga siapapun yang melihatnya sangat sukar membedakan mana tangan asli, dan mana tangan palsu
Setelah aktif, Sarlince dibantu Megumi mengangkat tangan itu dari dalam tabung kaca, berukuran serupa. Tangan itu kemudian diletakkan tepat dibawah tangan Hideo yang akan disambungkan.
"Buka perban tangannya," ujar Sarlince.
Untuk mempercepat prosesnya, Megumi menggunting perban itu, luka hasil operasi Hideo sudah tampak benar-benar kering dan tidak lagi basah.
Sarlince dan Megumi perlahan menyambungkan tangan itu, dengan tangan palsu buatan Sarlince.
"Akkkhh...." Hideo sedikit merasakan kesakitan, saat ujung tangan palsu itu tiba-tiba mencengkram kuat kearah luka Hideo.
Sementara itu teman-teman Sarlince yang lain hanya bisa menyaksikan sembari memegang dagu mereka.
"Tidak apa-apa, itu reaksi yang wajar. Karena tangan baru ini ingin menyatu dengan lengan Hideo." Jawab Sarlince.
Sarlince kemudian kembali menekan layar komputernya kembali. Jari jemari itu benar-benar sangat lincah, sehingga orang-orang disekitarnya sangat sulit mengikuti pergerakan tangan Sarlince.
Tittttt
Titttt
"Akkkkhhhh..." lagi-lagi Hideo berteriak, saat pria itu merasakan tangan palsu itu semakin berjejak kedalam.
Yahoi yang cemas, mendekat dan menggenggam tangan Hideo dengan erat. Air mata wanita itupun tak terasa menetes, dia tidak tega melihat suaminya kesakitan
"A-Aline, kenapa ada darah?" tanya Yahoi panik.
Yayoi bisa melihat ada jejak darah diantara sambungan tangan itu, Sarlince kemudian mengelapnya. Mata Yayoi terbelalak saat melihat tangan Hideo benar-benar menyatu dengan tangan Hideo.
"Ba-Bagaimana mungkin?" Yayoi terbata.
"Hideo duduklah," ucap Sarlince.
__ADS_1
Hideo perlahan duduk dan melihat tangan barunya. Tangan yang hampir sama persis dengan tangan aslinya.
"Ba-Bagaimana mungkin?" Hideo sangat takjub, saat melihat tangan palsu itu bisa dia kontrol sesuka hatinya.
"Aline. Apa kau ini sungguh manusia? bagaimana sebenarnya cara kerja tangan ini? meskipun aku tidak bisa merasakan tangan ini, tapi tangan ini benar-benar bisa aku kontrol sesuka hatiku."
"Ya. Setiap ciptaan pasti ada kelemahan. Begitu juga tangan ini. Meskipun kamu bisa mengontrolnya sesuka hatimu, tapi tangan itu sama sekali tidak bisa merasakan sakit saat kamu mencubitnya, memukulnya atau bahkan membakarnya sekalipun."
"Tapi bagaimana dia bisa bergerak sendiri? ini bahkan lebih canggih dari tangan robot bukan?"
Karena dia bisa bekerja hanya dengan dialiri oleh darahmu sendiri,"
"Darah? apa maksudmu didalam tangan ini kamu menciptakan semacam pemburuh darah juga?"
"Kurang lebih seperti itu, hanya saja selang yang digunakan sangat kecil, dan didalam tangan ini juga terdapat mesin yang berukuran mikro pula."
"Aline. Aku tidak tahu kamu Genius darimana, tapi jujur saja, aku sangat bangga mempunyai teman sepertimu," ujar Martin.
"Seperti kataku waktu itu, rahasiakan semua ini dari dunia. Hanya kalian saja yang kuizinkan tahu tentang ini."
"Kami mengerti. Kamu pasti punya tujuan sendiri, kami berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapapun," tutur Hideo.
Yayoi mendekati Sarlince dan menggenggam tangan Sarlince dengan erat.
"Aline, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Bertemu dengamu merupakan keberuntungan buatku dan juga buat Hideo. Terima kasih sudah memberikan kehidupan baru untuk suamiku," ujar Yayoi dengan menitikkan air matanya.
"Sudahlah, itulah gunanya teman." Jawab Sarlince sembari mengusap punggung tangan Yayoi.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita merayakan tangan baru Hideo," timpal Chio.
"Baiklah. Kali ini biarkan aku yang mentraktir kalian semua. tapi aku ingin makanan kali adalah makanan khas negara I," ujar Hideo.
"Setuju," jawab mereka serempak.
Merekapun memutuskan meninggalkan tempat itu untuk makan siang bersama. Sarlince mengajak teman-temannya untuk mencicipi menu kuliner khas negara I yang beragam.
"Aline. Apa ada pantangan khusus untuk tangan ini? misalnya makanan, atau tidak boleh terkena air, dan lain-lain?" tanya Hideo.
"Tidak ada. Kamu bisa makan apapun yang kamu mau, kamu juga bisa mandi berendam sesuka hatimu. Hanya saja untuk satu bulan ini jangan mengangkat benda berat dulu. Karena tangan itu harus menyesuaikan diri dulu dengan tangan aslimu."
"Baiklah, aku mengerti." Jawab Hideo.
Mereka pun makan siang sembari berbincang banyak hal. Sarlince sangat senang karena Hideo bisa kembali ceria seperti biasanya.
"Hah. Aku memang bisa menciptakan banyak hal, tapi kenapa aku tidak bisa membuat anakku sendiri?" batin. Sarlince.
Regent melirik kearah Sarlince yang terlihat berwajah mendung seketika.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Komen dan Vote🤗🙏