
Tinggalkan Like, Koment, Dan Vote🤗🙏
*****
"Kamu sudah pulang?" tanya Qiel, saat Sarlince baru saja membuka pintu kamarnya.
Dalam hati Sarlince berdecak kesal, karena dia harus bertemu kembali dengan pria yang sangat dia benci.
"Ya." Jawab Sarlince singkat.
"Kamu mau kemana?" tanya Qiel saat melihat Sarlince membawa sebuah handuk dan pakaian ganti.
"Mau langsung mandi. Badanku terasa lengket sekali." Jawab Sarlince.
"Kita ini suami istri, aku bahkan tidak pernah melihatmu berganti pakaian didepanku," ujar Qiel.
"Itu memang tidak diperlukan. Aku terbiasa mengganti pakaianku didalam kamar mandi,"
"Tapi mulai sekarang kamu harus terbiasa mengganti pakaianmu didepanku. Karena aku tidak ingin memiliki jarak sedikitpun diantara kita. Bukankah kamu sangat mencintaiku?" tanya Qiel sembari melepas kancing baju Sarlince satu persatu hingga baju itu lolos dari tubuh wanita itu dan berakhir dikeranjang pakaian kotor.
Mata Qiel berbinar saat melihat dua gundukan indah milik Sarlince yang membusung.
"Sayang, bagaimana kalau mandinya nanti saja. Aku menginginkanmu saat ini," bisik Qiel dengan suara menggoda.
"Sial, aku belum sempat menyediakan obat untuknya."
"Bukankah akan lebih baik kalau aku mandi dulu, aku tidak ingin melayanimu dalam keadaan tidak wangi. Itu juga akan memperburuk moodku." Jawab Sarlince.
"Baiklah. Jangan mandi terlalu lama, kita sudah lama tidak melakukannya karena kesibukan kita masing-masing."
"Emmm." Sarlince hanya menganggukkan kepalanya.
Sarlince berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintu itu dengan rapat.
Sarlince sengaja mandi berlama-lama, hingga tubuhnya sedikit menggigil karena kedinginan.
Kriekkkk
Sarlince membuka pintu kamar mandi perlahan dan tidak mendapati Qiel berada diatas tempat tidur.
"Kemana pria mesum itu? baguslah, aku bisa langsung membuat obat itu," batin Sarlince.
Sarlince membuka lemari dan mengambil sebutir obat dan memasukkannya ke dalam gelas air minum.
Plungg
Kali ini obat yang Sarlince masukkan lebih cepat reaksinya dari obat sebelumnya. Obat itu begitu cepat larut, bahkan sama sekali tidak berbau ataupun berwarna.
__ADS_1
Kriekkkk
Qiel membuka pintu kamar dan mendapati Sarline tengah berpura-pura menyisir rambut dengan jarinya.
"Kamu sudah selesai?"
"Ya."
Grepppp
Qiel memeluk Sarlince dari belakang dan langsung mere**s dua gundukan indah milik Sarlince dari luar bajunya. Entah mengapa tak ada rasa nikmat yang sarlince rasakan seperti saat Regent menyentuhnya. Tak ada juga sensasi jantung berdebar, seperti saat dia berdekatan dengan Regent.
"Ternyata aku benar-benar sudah jatuh cinta dengan Regent. Tapi aku harus melupakan dia, aku takut melibatkan perasaanku terlalu jauh dan membuatnya ikut terseret dengan masalahku." Batin Sarlince.
Sarlince perlahan melepaskan tangan Qiel dari dadanya dan berbalik menatap suaminya itu.
"Kita perlu minum, agar pertempuran panas kita tidak membuat kita menjadi dehidrasi."
Sarlince berjalan kearah nakas dan menuangkan segelas air lagi untuk dirinya. sementara gelas yang sudah berisi obat disodorkannya untuk Qiel. Tanpa merasa curiga Qiel meneguk habis air itu hingga tandas, begitu juga dengan Sarlince.
Dengan tidak sabar Qiel menyerbu daging lembut milik Sarlince dan terpaksa Sarlince membalas cum**an itu. Sunggu Sarlince merasa jijik saat melakukannya dengan Qiel.
Qiel mendorong tubuh Sarlince hingga wanita itu tertelentang diatas tempat tidur. Sarlince membiarkan tubuhnya yang indah dikonsumsi oleh mata liar Qiel. Namun baru saja pria itu mengungkung tubuh istrinya, Qiel tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Sarlince menyingkirkan tubuh berat Qiel dari atas tubuhnya yang polos. Sarlince bisa melihat benda kebanggaan Qiel yang mulai meredup.
Sarlince menutupi tubuh telanjang suaminya dengan selimut, sementara dirinya turun kebawah mencari buah segar.
Sementara ditempat berbeda, Umi tampak gelisah menunggu kedatangan Regent. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 saat gadis itu melihat kedatangan Regent bersama Vino.
"Vino reservasi tempat baru. Cari private room," ujar Regent.
"Baik."
Setelah mendapatkan tempat baru, Umi, Regent dan Vino masuk keruangan itu. Regent menatap berkas yang berada diatas meja dan dia tahu betul itu adalah berkas kontrak kerjasama antara perusahaannya dan juga perusahaan Sarlince. Regent mengalihkan pandangannya dari berkas itu dan bergantian menatap Umi.
"Apa kamu mengajakku bertemu hanya ingin membahas masalah kontrak kerjasama perusahaan?"
"Itu salah satunya. Ada hal penting lainnya yang ingin kutanyakan pada anda. Tapi berhubung anda sudah menyinggung masalah kontrak kerjasama ini, sekalian saja kita langsung membahasnya."
"Tuan. Nona Sarlince ingin membatalkan kerjasama antara perusahaan anda dan HS Group. Aku tidak tahu masalahnya apa, tapi dia mengutusku untuk menyampaikan hal itu padamu."
Vino melirik kearah Regent, wajah pria itu terlihat menggelap dengan tangan terkepal sempurna.
"Katakan pada Nonamu itu, aku tidak akan menandatangani kontrak pembatalan kerjasama, kalau bukan dia sendiri yang datang padaku. Nonamu itu terlalu memandang rendah diriku, sehingga dia hanya mengutus bawahannya dalam pengajuan pembatalan kontrak."
"Jadi kalau bukan dia sendiri yang datang, kerjasama ini masih akan tetap berlanjut."
__ADS_1
"Baik, akan saya sampaikan tentang keluhan anda itu." Jawab Umi.
"Ada apa ini? bukankah baru kemarin kamu menidurinya? seharusnya saat ini dia sedang merindukanmu dan membayangkan saat-saat manis dibawah kungkunganmu," bisik Vino.
Regent sama sekali tidak menanggapi ucapan Vino. Hatinya terasa terbakar saat ini.
"Terus apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanya Regent.
Umi mengeluarkan 5 lembar kertas yang berisi 5 disign yang sempat Umi print dari laptop Sarlince.
Regent mengerutkan dahinya dan segera meraih kelima lembar kertas itu.
"Ini milikku, apa Sarlince menyalin draf ini diponselnya?" tanya Regent.
"Tidak. Aku tidak sengaja menemukan draf ini dilaptopnya. Mungkin dia sangat menyukai disign ini sehingga sengaja mengcopy dilaptopnya."
"Inilah yang ingin aku tanyakan pada anda, siapa kelima wanita yang ada dikertas itu?" tanya Umi.
"Maaf. Aku tidak bisa menjelaskan ini padamu. Ini sangat rumit untuk dijelaskan secara logika,"
"Apa anda mendisign ini sendiri?" tanya Umi.
"Ya. Ini aku sendiri yang membuatnya. Berdasarkan sisa-sisa ingatan yang aku miliki."
Umi mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban Regent.
"Apa mereka kekasih anda?" tanya Umi.
"Bisa dibilang begitu, Meskipun sebenarnya dia tidak pernah tahu kalau aku sangat mencintainya."
"Dia? dia yang mana? bukankah itu ada 5 orang?"
"5 orang ini adalah satu orang yang sama."
Umi tertegun mendengar penjelasan Regent. Gadis itu berdikir bagaimana bisa Regent bisa tahu kalau kelima rupa itu adalah orang yang sama.
"Melihat ekspresimu itu aku yakin kamu bingung ya? itulah sebabnya sejak awal sudah kukatakan padamu, kalau ini sangat rumit dijelaskan."
"Dari kelima rupa ini, rupa yang mana yang paling anda sukai?" tanya Umi dengan tatapan tidak lepas dari Regent.
"Sebenarnya dia mempunyai ke unikkan sendiri. Tapi aku paling suka dengan rupa ini. Disini wajahnya sangat polos dan alami. Aku suka dengan warna kulitnya yang sedikit coklat."
"Siapa namanya?" tanya Umi.
"Mehru."
Umi membulatkan matanya saat mendengar Regent menyebutkan nama Mehru dengan begitu jelas. Tangan Umi sedikit bergetar, karena dia yakin ini bukan sebuah kebetulan. Yang jadi pertanyaannya dalam benaknya adalah, siapa Regent sebenarnya? kenapa dia bisa tahu tentang Mehru dan wanita yang ada didisign yang lainnya.
__ADS_1
Tinggalkn Like, Koment dan Vote🤗🙏