SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
63. Hutan Terlarang


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


Siren yang bebas dari kutukan kemudian hidup normal dan tinggal bersama ayahnya dihutan belantara. Mereka hidup dengan memakan apapun yang ada disekitar mereka. Dari situ Siren memperoleh berbagai keterampilan, karena dia dipaksa harus menyatu dengan alam.


Siren harus mampu bertahan hidup dari apapun. Sejak usia dini dia sudah mempelajari tehnik meramu obat yang bahannya didapat dari alam sekitarnya. Siren belajar membedakan berbagai jenis tumbuhan yang layak dikonsumsi ataupun yang beracun. Siren juga belajar membuat alat sederhana, agar dia bisa menangkap hewan buruan.


Pakuo memperhatikan Sarlince yang sedang meruncingi sebuah kayu lurus dengan sebuah batu yang sudah terbelah dan sedikit tajam. Hampir seharian Siren mengerjakan hal itu hanya ingin membuat kayu sebesar lengan itu sedikit lebih tajam dari aslinya.


"Apa yang kamu buat itu Siren?" tanya Pakuo yang tak lain ayah kandung dari Siren.


"Aku menemukan aliran sungai yang banyak terdapat benda seperti ini disepanjang air itu." Jawab Siren sembari menunjukan sebuah batu belah yang ada ditangannya.


"Apa air yang kamu maksud yang berada di arah barat?" tanya Pakuo.


"Ya. Memang sedikit jauh dari sini,"


"Lalu mau apa kamu dengan kayu itu? kenapa kamu ingin membuatnya menjadi runcing?"


"Ada bayak hewan yang berenang disana. Sepertinya hewan itu bisa menjadi makanan tambahan untuk kita."


"Hati-Hati takutnya itu hewan berbahaya,"


"Baba tenang saja. Sepertinya hewan itu tidak memiliki taring seperti hewan belang-belang yang biasa memburu hewan liar lainnya."


"Apa kamu butuh baba temani?"


"Tidak perlu. Baba tunggu saja dirumah."


Rumah yang Siren maksud adalah rumah yang terbuat dari beberapa batang kayu yang diikat ditas pohon dan beratapkan tumpukkan dedaunan.


Siren kemudian berdiri dan membawa bakul dari anyaman bambu hasil kreasinya sendiri.


"Pulanglah sebelum matahari terbenam. Akan banyak binatang buas yang berkeliaran saat menjelang malam."


"Ya Ba."


Siren melenggang pergi bermodalkan sebatang kayu dan sebuah bakul sangat sederhana. Gadis kecil itu tidak perduli meski beberapa kali betisnya terbeset oleh ranting pepohonan karena memang tidak ada kain yang melindungi betisnya itu dari marabahaya apapun. Siren yang hanya memakai kulit kayu sebagai penutup area *********** dan kulit kayu yang lain untuk menutupi bagian dadanya yang mulai tumbuh.


Kraukkkk


Kraukkkk


Siren memakan buah hutan yang dia sendiri tidak tahu namanya, namun buah itu terasa manis dan sedikit asam dilidahnya. Buah itu diamasukkannya kedalam bakul yang sudah dia gendong dibelakang pundaknya.


Tidak berapa lama kemudian dia tiba disebuah aliran sungai yang cukup dangkal dan jernih. Mata indah miliknya melirik kekiri dan kekanan melihat pergerakan air. Tidak berapa lama terlihat ada pergerakan dari dalam air, beberapa ekor ikan tampak keluar dari bebatuan.


Top

__ADS_1


Siren menombak salah satu Ikan dengan gerakan tercepat. Ikan itu tampak menggelepar didasar air, Siren mengangkatnya kepermukaan air karena tubuh ikan itu sama sekali tidak tembus oleh tombak buatannya. Hanya saja ikan itu tampak lemas, karena beberapa sisik yang dia miliki terkelupas dengan paksa.


"Sepertinya harus membutuhkan alat yang sedikit tajam, agar bisa membuat kayu ini benar-benar runcing," ucap Siren lirih.


Gadis itu tampak berfikir benda apa yang bisa membuat kayunya menjadi runcing sempurna. Siren mengambil akar pohon kecil yang merambat dan membuat akar itu masuk melalui leher ikan itu kemudian mengikatnya.


Siren mulai menombak kembali dan mendapatkan beberapa ekor ikan kembali setelahnya. Setelah dirasa cukup, Siren bergegas pulang untuk mencoba hasil buruannya.


"inilah hewan yang kamu maksud itu?" tanya Pakuo.


"Ya."


"Manusia menyebut ini namanya ikan."


"Ikan? apa ini bisa dimakan?"


"Ya. Baba akan membakarnya untukmu. Ikan ini bisa dimasak dengan cara direbus."


"Baiklah."


Pakuo tampak membuat api dengan menggesekkan sesuatu diatas batu, tidak berapa lama kemudian api itu berhasil dibuat. Ikan yang sudah dibersihkan kemudian dibakar diatas api, dengan mengatur jarak antara api dan ikannya agar tidak gosong.


"Enak?"


"Emm. Dagingnya terasa lembut."


"Apa kamu menyukainya?"


Pakuo mengusap puncak kepala Siren sembari tersenyum. Apapun yang mereka bahas, akan selalu ada analisis tententu yang Siren ucapkan.


"Seperti apa rasanya jika ikan ini direbus?"


"Hampir sama dengan dibakar, cuma menurut baba lebih lezat kalau dibakar. Direbus rasa dagingnya lebih hambar."


"Hambar?"


"Tidak ada rasa apapun."


Siren tampak berfikir kembali dengan keterbatasan otak kecilnya itu.


"Baba. Apa hutan ini ada ujungnya? apa tidak ada dunia lain yang bisa membuat kita keluar dari situasi seperti ini?"


Pakuo terdiam. Dia tahu persis apa yang sedang Siren bicarakan. Hanya saja dia sengaja bersembunyi dihutan belantara sesuai perisai yang dewi kegelapan berikan untuknya. Hanya hutan ini yang bisa melindungi mereka dari kejaran mahluk dari dunia kegelapan yang ingin mengincar nyawa anaknya.


"Kita tidak memerlukan dunia luar untuk hidup. Diluar sana kejahatan selalu mengintai orang-orang lemah seperti kita."


"Itu artinya dunia ini tidak hanya ada hutan ini bukan?"


"Ya. Tapi kamu tidak perlu mencari tahu,"

__ADS_1


"Baba. Seperi apa wajah ibu?"


"Dia sangat cantik sama sepertimu."


"Lalu kenapa dia tidak pernah sekalipun menemuiku?"


"Bukan tidak mau, tapi belum bisa. Jika sudah saatnya dia pasti akan menemuimu. Siren, ingatlah pesan Baba. Jangan pernah meninggalkan perbatasan hutan ini, karena ada orang jahat yang menginginkan kematian kita."


"Orang jahat?"


"Emm. lebih tepatnya mahluk yang sudah memisahkan kita dari ibumu."


Siren hanya menganggukkan kepalanya, namun fikirannya menerawang. Begitu banyak tanda tanya yang masih bersarang dibenaknya saat ini.


"Kau membawa buah?"


"Emm. Ini kutemukan saat perjalanan mencari ikan."


"Ini buah apel liar. Buahnya memang sedikit asam, namun jika beruntung kamu akan menemukan rasa yang manis diseluruh daging buahnya."


"Begitu? di arah barat banyak sekali pohon ini, aku berani memakannya karena kufikir buah ini tidak beracun. Sekumpulan kera banyak yang memakan buah ini, namun tak ada satupun kutemukan bangkainya."


"Gadis pintar," ucap Pakuo sembari membelai rambut putrinya yang tampak kusam.


"Tidurlah. Kamu pasti sangat lelah hari ini. Lanjutkan petualanganmu esok hari,"


"Emm." Siren mengangguk.


Siren naik keatas rumah pohonnyo dengan menaiki tangga yang menggelantung. Tak ada rasa gatal sedikitpun, meskipun dia tidur hanya beralaskan batang kayu yang disusun begitu rapat. Siren meraba sesuatu yang bertengger dilehernya, benda berbentuk segi empat berwarna hitam itu sudah bertengger disana sejak dia keluar dari laut, dan Pakuo melarang dirinya melepas benda itu walaupun hanya sesaat saja.


"Huurrrrrr hiiaaaaaa....."


"Berhenti!"


"Ada apa?"


"Dean. Ini sudah melewati perbatasan wilayah kita. Ayah sudah memperingatkan kita agar tidak melewati perbatasan ini, diseberang jalan ini adalah hutan terlarang itu."


"Tapi Aru. Hewan buruan kita memasuki hutan itu. Apa kamu tidak melihat anjing-anjing kita sudah mengejarnya lebih dulu. Saat ini pasti mereka sudah berhasil menangkap mangsa kita."


"Tidak Dean. Segera panggil anjing-anjing itu, aku tidak mau Ayah menghukum kita. Rasanya panas sekali saat rotan itu menyentuh betisku."


"Dasar penakut. Tapi sejujurnya aku sangat penasaran, ada apa didalam hutan ini? kenapa semua orang tidak ada yang berani memasukinya. Aku bisa menebak, didalam sana pasti akan ada banyak hewan buruan yang bisa kita dapatkan."


"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin pulang saat ini. Hari mulai gelap, hanya hutan kita tempat yang paling aman."


Siuuuuuiiitttttt


Dengan satu siulan panjang, Dean membuat anjing-anjing mereka berhasil kembali dalam sekejap saja. Dean dan Aru kembali memasuki hutan tempat mereka tinggal. Hutan yang begitu rapi dan bersih yang tidak menimbulkan kesan angker karena dirawat dengan baik oleh penduduknya.

__ADS_1


Hutan yang dinamai hutan peri itu dihuni oleh manusia murni dan juga manusia campuran. Manusia campuran yang terbuang karena tidak bisa memasuki alam peri akibat kutukan yang diberikan oleh para leluhurnya.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2