SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
75. Perkelahian Dean Dan Aru


__ADS_3

Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


*****


"Apa kamu sudah puas mengotori rumah baru kita?" tanya Aru sembari membolak-balik ayam hutan diatas bara api.


"Kamu tidak mungkin mengatakan kalau aku harus melakukannya di alam terbuka bukan?"


"Setidaknya itu lebih baik, jadi kamu masih menghargaiku sebagai penghuni rumah ini juga."


"Aku tidak bisa. Siren sangat berharga bagiku,"


"Berharga apanya? wanita itu sama sekali tidak berharga. Wanita yang begitu cepat ditiduri, tentu bukan wanita berharga,"


"Apa maksud ucapanmu itu? apa kamu itu iri padaku?"


Aru yang emosi langsung berbalik badan dan menatap lekat kearah Dean.


"Aku? iri padamu? hanya ingin mendapatkan wanita yang tidak seberapa itu, kamu bahkan rela mengorbankan orang banyak. Wanita itu tidak ubahnya seperti seekor kera yang ditunggangi ribuan kera lainnya bagiku!" hardik Aru.


Buggghhh


Dean memukul wajah Aru hingga pria itu jatuh tersungkur. Tidak mau kalah begitu saja, Aru membalas pukulan itu dengan kekuatan yang sama. Dua pemuda itu terlibat perkelahian yang sangat sengit, hingga wajah mereka sama-sama lebam.


"Aku peringatkan padamu, jangan pernah memandang rendah Siren. Gadis itu hanya memiliki naluri, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sudah aku lakukan padanya."


"Tidak mengerti apanya? suara erangannya bahkan membuat harimaupun takut mendekati rumah kita."


"Aku yang menginginkan suara erangannya itu. Aku tidak suka dia menahannya. Kamu tidak akan mengerti rasanya, karena kamu belum pernah merasakannya."


"Bahkan aku yakin kalau gadis itu sama sekali tidak mengerti dan menerima saja siapapun yang akan menyentuhya."


"Kamu terlalu menghinanya."


"Lihat saja, aku akan melakukan itu didepan matamu agar kamu percaya."


"Perasaanku tidak akan berubah meskipun dia tidak mengerti. Itu bukan salahnya karena dia tidak pernah berbicara dengan siapapun kecuali ayahnya."


"Dan kamu sudah memanfaatkan kepolosan gadis itu."


"Aku bisa apa? itu terjadi begitu saja, terlebih aku memang menyukai dia." Jawab Dean.


"Aru. Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku ingin memiliki anak dengannya, dan membangun keluarga kita sendiri agar keturunan kaum kita bisa berkembang banyak lagi."


"Kata-Katamu itu sangat menjijikkan untukku dengar. Aku sarankan jangan lagi melakukannya dirumah ini. Karena ini bukan hanya rumahmu, tapi juga rumahku. Aku tidak suka kalian mengotorinya."

__ADS_1


"Dan satu lagi, sebaiknya kalian segera membicarakan hubungan kalian itu dengan paman Pakuo, jangan sampai Siren mengandung sebelum kalian melakukan ritual."


Aru tidak ingin lagi bicara dengan Dean yang keras kepala. Bicara terlalu lama dengan Dean benar-benar membuat emosinya memuncak.


Sementara itu Siren baru saja tiba dirumahnya dan mendapati Pakuo sedang membakar hewan buruan untuk menu makan malam.


"Apa rumah mereka sudah selesai?"


"Ya."


"Jauhi pemuda itu. Baba tidak suka kamu berdekatan dengannya."


Siren terdiam dan tidak menjawab ucapan Pakuo. Siren pergi kebelakang untuk membersihkan diri.


"Ssstttttt," Siren mendesis kesakitan saat tidak sengaja air seni yang mengalir dari tempat pembuangannya mengenai luka dari organ intimnya.


Namun sesaat kemudian gadis itu tersenyum saat mengingat apa yang dia lakukan bersama Dean dirumah pohon itu. Gadis polos itu merasakan hal yang luar biasa yang belum pernah dia rasakan.


"Siren," seru Pakuo saat gadis itu terlihat ingin manaiki tangga rumahnya.


Siren perlahan mendekati Pakuo yang baru selesai memanggang ayam hutan.


"Makanlah," ujar Pakuo.


Siren menurut saja apa yang Pakuo katakan. Dapat Pakuo lihat, bibir bawah Siren sedikit membiru. Dan sebagai pria berpengalaman, dia mengerti dari mana asal Siren mendapatkan luka lebam itu. Pakuo mengehela nafas panjang, dia memang tidak bisa melarang putrinya untuk berhubungan dengan Dean. Walau bagaimanapun , Pakuo menyadari putrinya itu sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri.


Kepala Siren mengangguk perlahan, meskipun sebenarnya dia tidak terlalu faham apa kata suka itu mewakili perasaannya saat ini. Karena Siren merasakan ada sesuatu yang terasa mekar didadanya setiap kali berdekatan dengan Dean, terlebih saat pria itu menyentuhnya.


Pakuo mengerti arti anggukkan kepala putrinya. Dia tidak ingin menanyakan hal jauh perihal apa saja yang sudah Dean lakukan terhadap putrinya. Pakuo yakin Siren akan menceritakannya dengan detail saat dia menanyakannya, tapi itu berarti dia akan mendengar hal yang memalukan dari mulut polos putrinya.


"Besok suruh dia datang kemari. Kalian harus segera melakukan sebuah ritual khusus."


"Ya."


Namun diluar dugaan , saat pagi buta Dean malah lebih dulu menyambangi rumah Siren. Pria itu bahkan sudah membuat api dan merebus umbi-umbian untuk sarapan pagi. Siren yang mempunyai indera sensitif, segera membuka matanya dan turun kebawah untuk memastikan sesuatu. Dapat gadis itu lihat, Dean sedang menghangatkan diri didepan api yang menggodok umbi-umbian diatasnya.


"Apa yang kamu lakukan dipagi buta begini? ini masih sangat gelap," ucap Siren setengah berbisik.


"Aku tidak sabar menunggu pagi, karena aku teringat terus apa yang kita lakukan kemarin."


Wajah Siren bersemu merah, apa yang Dean fikirkan tentu saja dia juga memikirkannya. Bahkan hampir separuh malam, dia meraba bibirnya karena teringat saat Dean mencumbu mesra dirinya.


"Bagaimana kalau ada ular yang menggigit kakimu?"


"Aku tidak perduli."

__ADS_1


"Baba ingin kamu menemuinya hari ini.Dia bilang kita harus melakukan ritual khusus."


"Benarkah?"


"Apa kamu tahu ritual apa itu? apa itu karena kamu sudah membangun rumah baru?"


"Bukan. Yang ayahmu bilang pasti ritual penyatuan kita,"


"Penyatuan kita?"


"Emm. Aku berharap begitu. Aku juga ingin membicarakan hal itu pada ayahmu. Aku ingin kita melakukan ritual pernikahan dengan cepat."


"Ritual pernikah?"


"Ya. Itu semacam ritual khusus antara kamu dan aku. Hanya ada kita berdua didalamnya, hanya aku yang boleh menyentuh tubuhmu. Dan hanya aku yang bisa melakukan seperti yang kita lakukan kemarin. setelah kita menikah, kita akan bebas melakukannya, supaya kita cepat memiliki anak."


"Anak?"


"Emm. Apa kamu suka kalau kita memiliki anak sendiri?"


Siren menganggukkan kepalanya. Meski dia tidak terlalu mengerti, tapi dia pernah mengucapkan hal itu pada Pakuo sebelumnya.


"Kita harus lebih sering melakukannya agar keinginan kita terwujud. aku ingin membangun kaum kita sendiri. Aku ingin mengganti kaum yang sudah musnah karena ulahku."


"Ya."


Dean tersenyum bahagia, didepan api yang menyala, Dean dan Siren kemabali berpa**t mesra. Mereka seolah tidak perduli suara decap mereka terdengar oleh mahluk lainnya.


"Ikut aku," bisik Dean.


"Kemana?"


Dean tidak menjawab pertanyaan Siren, pria itu menarik tangan Siren kebelakang sedikit jauh dari rumah gadis itu. Dean mengajak Siren pergi ketempat Siren biasa membersihkan diri.


"Kamu mengajakku mandi bersama?"


"Ya."


Dean perlahan membuka pakaiannya, dan juga Siren. Pria itu kembali mencumbu Gadis itu yang membuat gadis itu kembali melengguh saat mendapat sentuhan yang sangat dia sukai.


"Emmpptt ahh..."


Dean yang tidak ingin fajar segera datang, langsung membenamkan miliknya lewat belakang gadis itu. Dengan cepat dia memompa miliknya hingga membuat Siren tak kuasa menahan suaranya lagi. Dean bisa melihat fajar mulai membuat gelap menjadi sedikit terang, pria itu semakin mempercepat gerakanya agar mereka cepat menuju puncak bersama. Semakin keras dirinya menghujam, semakin suara Siren pecah tak terkendali. Dan pada akhirnya kedua insan itu mengerang secara bersamaan.


"Ah....Siren ini luar biasa," ucap Dean sembari membenamkan sedalam mungkin kepemilikkannya.

__ADS_1


Deru nafas keduanya tidak beraturan, Setelah itu merekapun mandi bersama dan segera menemui Pakuo untuk membahas perihal ritual khusus.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2