
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Para peserta yang tereliminasi satu persatu keluar dari ruangan kompetisi. Kini hanya Tinggal 25 orang yang masih bertahan dalam ruangan itu.
"Hanya sisa 3 wanita yang masih bertahan sampai babak ini, termasuk aku. Berarti ada diantara dua orang itu, kemungkinan orang yang kami cari. Aku harus bergerak cepat, ketua tidak bisa menunggu lebih lama lagi," batin Lucia.
"Baiklah. Kita cukupkan dulu kompetisi untuk hari ini. Kita akan bertemu di kompetisi babak selanjutnya esok hari. Persiapkan diri kalian, karena besok adalah tahap penyisihan 10 besar," Regent menjelaskan penuh wibawa.
"Untuk itu kalian dipersilahkan pulang. Bagi peserta yang berasal dari luar, kami sudah menyiapkan fasilitas hotel, nanti akan ada petugas yang mengantar anda sampai ke penginapan," timpal Vino.
"Untuk itu kalian dipersilahkan meninggalkan ruangan sekarang," ujar Regent.
Satu persatu peserta keluar dengan tertib, dan Sarlince memilih untuk keluar bagian terakhir.
"Aku duluan ya Re. Ada berkas yang belum kususun diruanganku," ujar Vino.
"Ya." Jawab Regent.
Melihat Vino sudah keluar, Regent punya kesempatan untuk menahan Sarlince yang terlihat mengalungkan tas selempangnya yang baru dia ambil dari loker tempat penitipan barang.
"Tunggu!"
Langkah Sarlince terhenti saat suara yang dia kenal menghentikan langkahnya. Sarlince perlahan membalikkan tubuhnya dan bersikap sewajar mungkin.
"Ya Tuan,"
"Ikut aku!" ucap Regent.
"Ikut anda? kemana?" tanya Sarlince heran.
"Keruanganku. Aku meragukan sesuatu." Jawab Regent dengan wajah sedatar mungkin.
"Meragukan sesuatu?"
"Bukankah kamu pemenang kompetisi hari ini 3 kali berturut-turut?" tanya Regent.
"Aku tidak tahu. Aku hanya melaksanakan sesuai perintah kalian saja bukan? jadi apa aku salah kalau memang menang secara berturut-turut? terlebih ini belum babak akhir,"
"Pokoknya ikut aku, kalau kamu memang tidak merasa melakukan kecurangan."
"Ikut ya ikut saja, kenapa aku harus takut?" ujar Sarlince sembari mengekor dibelakang Regent.
Sementara itu Regent membingkai senyumnya dibalik punggungnya yang bidang karena berhasil memperdaya Sarlince.
"Duduklah!" ujar Regent setelah mereka masuk kedalam ruangan kerja Regent.
Sarlince menjatuhkan bokongnya pada sebuah sofa berukuran panjang dan sedikit menyandarkan punggungnya yang terasa pegal.
"Jadi sebenarnya Tuan meragukan saya, karena takut saya curang?" tanya Sarlince tanpa basa basi.
"Bisa saja kan?" ujar Regent.
"Bisa darimana? bukankah sistem keamanan kompetisi lumayan ketat? ada cctv yang memantau, jadi anda silahkan lihat bagaimana cara saya mengikuti kompetisi." Jawab Sarlince kesal.
"Disitulah keahlian peretas disebut sebagai ahli. Sejak babak pertama sampai babak terakhir, kamu menyelesaikan kompetisi tidak lebih dari 1 menit. Aku jadi ingin tahu dimana kamu belajar ilmu komputer, terutama kecepatan jarimu itu," ujar Regent.
Regent menaruh dua sosis berukuran jumbo kesebuah piring, dan menumpahkan saus sambal kesebuah mangkuk kecil.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberitahu anda karena itu rahasia jari saya. Yang terpenting saya tidak pernah melakukan kecurangan. Anda bisa menyelidikinya kalau anda mau," ucap Sarlince.
"Makanlah!"
Regent menyodorkan dua batang sosis jumbo itu dihadapan Sarlince dan membuka sebotol air meneral dan meletakkannya disana. Sarlince mengerutkan dahinya melihat dua buah sosis itu.
"Sosis?"
"Ya. Bukankah tadi siang kamu memakan ini juga? dan kamu hanya menghabiskan sepotong saja. Kamu pasti saat ini sedang lapar kan?" tanya Regent.
"Tidak." Jawab Sarlince cepat.
Krukkkkkkk
Perut Sarlince sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Regent hanya mengulum senyumnya saat melihat pipi Sarlince yang merona.
Sarlince yang kesal langsung mengambil sosis dihadapannya dan memakannya tanpa ada rasa malu lagi.
"Pelan-Pelan, sausnya belepotan." ujar Regent.
Regent dengan sengaja mengelap sisa saus yang menempel disudut bibir Sarlince.
Deg
Deg
Sarlince segera menepis tangan Regent, karena detak jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Maaf tuan, sebaiknya anda jangan bersikap seperti ini."
"Sikap seperti apa?"
"Rumor?" tanya Regent.
"Maaf tuan, apa anda tidak tahu diluar anda sedang digosipkan hal yang tidak-tidak?"
"Gosip apa?" kali ini Regent benar-benar penasaran.
"An-anda dirumorkan sebagai penyuka sesama jenis." Jawab Sarlince.
Regent tertegun mendengar hal itu. Dia tahu betul pemilik tubuh asli memang seorang penjahat kelamin, tapi dia tidak pernah menyangka kalau diluar sana ada rumor tentang homoseksual juga. Jadi Regent bisa menyimpulkan, kalau pria itu memiliki kelainan biseksual.
"Ap-apa itu benar tuan?" tanya Sarlince gugup.
"Tentu saja tidak benar. Masih banyak lobang normal yang bisa aku masuki. Kenapa harus lobang kotor seperti itu?" Jawab Regent.
"Terlebih sekarang aku sedang mengejar seorang wanita yang sangat aku cintai," sambung Regent.
"Wanita yang anda cintai?" tanya Sarlince sembari menggigit kembali sosisnya.
"Ya. Aku memang sedang jatuh cinta dengan seseorang, tapi sayangnya dia selalu mengelak kalau sebenarnya dia juga menyukaiku." Jawab Regent.
Sarlince yang penasaran, dengan gugup menanyakan dengan detail siapa yang disukai oleh Regent itu
"Siapa dia?"
"Namanya Alince. Wanita yang sudah bersuami." Jawab Regent.
Uhukkk
__ADS_1
Uhukkk
Sarlince tersedak, Regent segera meraih air minum dan menyodorkannya kemulut Sarlince.
"Ma-maaf tuan," ujar Sarlince.
"Tidak apa. Apa kamu terkejut saat aku mengatakan suka pada istri orang?" tanya Regent.
Sarlince hanya menganggukkan kepalanya, karena masih ingin mengorek isi hati Regent lebih dalam lagi.
"Bukankah cinta tidak pernah salah? mau bagaimana lagi, aku cuma punya satu keyakinan kalau dia tidak bahagia dengan pernikahannya dan akan segera bercerai dari suaminya,"
"Bagaimana anda bisa seyakin itu?" tanya Sarlince.
"Aku tidak tahu. Asal aku tahu dia juga mencintaiku itu saja sudah cukup." Jawab Regent.
"Namamu Reza bukan?" tanya Regent.
"I-iya."
"Reza, apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Regent.
Mendapat pertanyaan itu, fikiran Sarlince jadi menerawang. Rasa luka yang dia rasakan berkali-kali kembali membuat hatinya berdenyut seketika.
"Pernah. Bahkan bisa dibilang terlampau sering." Jawab Sarlince lugas.
"Sering?" tanya Regent mengerutkan dahinya.
"Itu hanya masalalu. Bukankah yang lebih penting siapa yang aku cintai saat ini?" tanya Sarlince.
Regent mendadak gugup, karena ingin mengetahui siapa orang yang Sarlince cintai sebenarnya.
"Siapa yang kamu cintai?" tanya Regent penasaran.
"Maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu." Jawab Sarlince.
"Tuan saya harus pulang. Tanpa sadar kita sudah bicara keluar jalur," ujar Sarlince.
"Oke."
Regent membiarkan Sarlince pulang tanpa menahannya lagi. Dia tahu, pasti saat ini Sarlince sedang lelah.
*****
"Kenapa kita harus mengutus Lucia untuk masuk ke kompetisi meretas?" tanya Inara.
Inara menghembuskan asap rokoknya, saat ini mereka sedang berada disebuah markas besar.
"Kamu tentu tahu keahlian dia dibidang teknologi itu lebih dari kita. Kalau seandainya wanita itu juga mengikuti kompetisi itu, maka kita lebih mudah menemukannya bukan?" ujar Marcus.
"Bukankah lebih mudah menyelidiki siapa wanita yang sedang dekat dengan pria itu? karena mereka memang ditakdirkan selalu berdekatan," ucap Inara.
"Itu adalah tugasmu. Karena ketua juga mengirimkan beberapa orang sesuai keahlian untuk menyelidiki ditempat-tempat tertentu. Termasuk sebuah laboratorium terbesar dikota ini. Mengingat dia pernah menjadi seoarng profesor." Jawab Marcus.
"Apa obat yang dikembangkan ketua sudah selesai? aku sudah tidak sabar memilikinya. Terus terang aku sudah lelah, aku ingin hidup abadi," tanya Inara.
"Obat itu bisa sempurna, kalau kita bisa mengambil antigen wanita itu. Itulah sebabnya kita harus segega menemukannya." Jawab Marcus.
Inara meninggalkan tempat itu setelah mendapat panggilan telpon dari Qiel.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏