SARLINCE ( CINTA Sepihak )

SARLINCE ( CINTA Sepihak )
150. Mengintai


__ADS_3

"Ckk...sampah! apa dia pikir aku tidak mengenalnya? sudah 7 kehidupan aku mengenalmu, mana mungkin aku tidak mengenalimu. Bahkan meskipun keberadaanmu dalam radius 1 KM, aku bisa mencium nafas busukmu itu," Sarlince mempercepat laju mobilnya.


Melihat Sarlince yang menambah kecepatan mobilnya, Qiel menambah pula kecepatan laju motor matic nya.


"Sial. Apa dia menyadari kalau aku sedang megintainya? kalau saja ini bukan misi dari tuan Marcus, aku juga tidak sudi mengikutinya."


"Mau bermain-main denganku rupanya, aku akan membawamu ketempat sepantasnya," tutur Sarlince.


Sarlince menambah lagi laju kecepatan mobilnya. Kini dia berada dijalanan yang lumayan sepi, dan semakin sepi saat dirinya memasuki sebuah pintu gerbang yang bertuliskan tempat pemakaman umum.


"Dia mau apa kesini? apa dia ingin pergi melihat makam Hadinata? sial sekali, jauh-jauh mengintai dia, ternyata dia pergi ketempat pemakaman umum,"


Qiel memutuskan untuk pergi dari situ dan mengakhiri pengintaiannya.


"He, rasakan! aku Do'akan semoga bensin motormu habis ditengah jalan yang sepi,"


Dan benar saja. Ketika Qiel melewati jalan besar dan sepi, bensin motornya benar-benar habis. Keringat segera membanjiri tubuhnya , karena pria itu mendorong bebek besi itu.


"Sialan! mana nggak ada yang jualan bensin lagi," Qiel menggerutu sembari tetap mendorong motornya.


Sementara itu, Sarlince yang dari kejauhan melihat Qiel mendorong motornya, tidak bisa menahan ledakkan tawanya. Bahkan dengan sengaja Sarlince membunyikan klakson mobilnya sembari membuka kaca mobilnya.


"Duluan kak," ujar Sarlince.


"Sialan! sepertinya dia sengaja membuatku berkeliling agar motorku kehabisan bensin. Lihat saja tidak akan lama lagi riwayatmu akan tamat Sarlince,"


Gigi Qiel bergemeratuk karena menahan amarah yang begitu besar. Berbeda dengan Qiel yang masih setia mendorong motornya, Sarlince kini sedang membuat panggilan untuk Regent. Wanita itu menceritakan semua apa yang dia lakukan, sehingga dirinya terpaksa terlambat datang kekantor.


"Kamu jahil sekali sayang,"


"Sudah waktunya bagi dia merasakan apa yang dinamakan penderitaan bertubi-tubi."


"Apa kamu masih lama nyampe kantornya?"


"Mungkin sekitar 20 menit lagi, ada apa?"


"Matikan saja panggilan telponnya. Aku takut terjadi apa-apa, kalau kamu nelpon sambil nyetir begitu."


"Oke. Eh Re, apa aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Aku pengen banget makan sosis jumbo yang ada di kantormu itu, tolong suruh orang kirim kekantorku ya?"


"Kamu kok suka sekali makan sosis itu, apa tidak bosan?"


"Sosis yang di kantormu itu enak sekali. Terus jangan lupa saus sambal dan mayonaise nya yang banyak ya sayang?"


"Jadi sosisnya mau dikirim berapa banyak?"


"10."


"10? apa itu akan habis?"


"Kamu kirim yang sudah matang 4 saja, 6 nya buat stok aku besok."


"Hemm...baiklah,"

__ADS_1


"Makasih suamiku yang tampan,"


"Sama-Sama istriku yang cantik."


Regent dan Sarlince mengakhiri panggilan telpon itu. Setelah menempuh perjalanan selama 22 menit, Sarlince akhirnya tiba dikantor. Megumi yang sejak tadi menunggu kedatangan Sarlince, sedikit bernafas lega saat melihat sahabatnya itu sudah tiba.


"Aku pikir ada masalah mendesak, sehingga nomor ponselmu begitu sulit dihubungi ,"


"Tadi memang ada sedikit ada hambatan, itulah sebabnya aku datang terlambat.


"Ada apa?"


"Qiel mengikuti,"


"Untuk apa?"


"Aku tidak tahu apa tujuannya,"


"Terus?"


"Ya aku bawa saja dia keliling-keliling, dan terakhir aku ajak dia kepemakaman umum. Kamu tahu apa yang terjadi?"


"Apa?"


"Dia mendorong motornya karena kehabisan bensin."


Sarlince dan Megumi tertawa keras bersama.


"Terus kenapa ponselmu sibuk terus?"


"Oh, itu aku lagi telponan dengan Regent. Aku juga memesan sosis jumbo, pengen banget makan itu. Sosis di kantin Regent benar-benar enak."


"Kamu mau? soalnya aku pesan 10."


"Mau dong,"


"Ya nanti akan kuberi untukmu, nanti minta panggangkan saja sama OB. Soalnya aku cuma minta 4 yang sudah matang, yg 6 masih mentah."


"Tidak masalah."


"Apa ada berkas yang harus aku tanda tangani?"


"Ada banyak,"


"Letakkan dimejaku, aku akan segera mengurus nya."


"Baiklah."


Hosh


Hosh


Hosh


Keringat sebesar biji jagung sudah membanjiri seluruh tubuh Qiel. Bahkan baju kaos yang dia kenakan, sudah basah karena keringat. Tidak terasa pria itu sudah mendorong motornya sejauh 3 KM, dan berhenti setelah menemukan sebuah warung yang menjual bensin eceran dan juga berbagai macam minuman dan makanan ringan.


Qiel yang sudah sangat kehausan langsung membuka box berwarna merah yang berisi berbagai jenis minumn yang dingin karena diberi tumpukan es batu.

__ADS_1


Glekkk


Glekkk


Glekkk


Minuman sejenis teh itu mengalir deras melewati tenggorokkannya hingga tandas.


"Ah...."


Perasaan lega Qiel rasakan setelah menghabiskan sebotol sedang minuman itu.


"Bensinnya 3 liter pak," ujar Qiel.


Sang penjual keluar dari sebuah kontainer buatan, dan menuangkan 3 liter bensin kedalam tank motor Qiel.


"Berapa semuanya Pak?" tanya Qiel, sembari meraih sebotol minuman yang sama.


"50rb."


Qiel merogoh kantung celananya, dan menyodorkan uang selembar berwarna biru. Setelah itu Qiel membelah jalanan, karena ingin segera pulang untuk beristirahat.


"Aline sialan! lihat saja, aku akan membalas semua perbuatanmu itu. Dasar ja*ang!"


Qiel berkali-kali memaki Sarlince dijalanan menuju pulang. Setelah memakan waktu hampir 25 menit, Qiel akhirnya tiba dirumah dan langsung membersihkan diri.


"Kamu sudah makan nak?" tanya Mira saat melihat putra semata wayangnya keluar dari kamar mandi.


"Belum. Apa yang mama masak?"


"Sambal telur,"


Qiel tidak bersuara lagi, menu itu sudah tiga hari berturut-turut dia santap. Dia tidak ingin mengeluh, karena keadaan mereka memang sedang sulit saat ini. Qiel sedang berpikir keras, bagaimana caranya mendapatkan uang banyak, karena Mira sudah 2 hari tidak mengkonsumsi obatnya.


Tidak ada yang bisa Qiel lakukan, karena tidak satupun dari temannya yang mau menolongnya. Teman yang dulu saat dirinya jaya selalu menempel, kini satu persatu menjauhi dirinya karena kemiskinannya.


"Kamu itu punya satu kelebihan, gunakan saja kelebihanmu itu. Daripada nggak digunakan sama sekali? selain enak, kamu juga dapat duit."


Itulah saran yang diberikan salah satu temannya, yang menyarankan dirinya agar menjadi seorang gigolo disalah satu bar yang sudah dia rekomendasikan.


Namun Qiel belum kepikiran untuk menuruti saran itu, karena masih merasa harga dirinya masih begitu tinggi dan dia masih mampu mencari uang dengan cara lain.


Sementara Qiel yang sedang berjuang menghabiskan telur sambalnya, Sarlince malah sedang asyik menyantap Sosis jumbo bersama Megumi. Tidak terasa 10 sosis yang semula ingin Sarlince jadikan stok, sudah berakhir dilambung dikedua wanita itu.


"Ah...nikmat banget ini," ujar Sarlince sembari mengusap-usap perutnya yang kenyang.


"Benar banget kata kamu, rasa sosisnya memang beda."


"Iya kan? itulah sebabnya aku suka sekali mesan disana. Nanti akan aku tanyakan dimana orang itu membelinya, jadi kita bisa stok banyak-banyak dirumah."


"Itu ide yang bagus lin,"


"Ngantuk,"


"Kerjaanmu masih banyak tuh,"


"Hah, lelahnya..."

__ADS_1


Salince kembali duduk di kursi kebesarannya dan mulai menandatangani berkas-berkas kembali.


Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏


__ADS_2