
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
"Apa tidak masalah kita melakukan dirumahmu? bagaimana kalau sampai ada yang melihat kita?" tanya Qiel.
"Jangan pikirkan hal ltu, suamiku sedang tidak berdaya di kamarnya. Pelayanku tidak akan berani mengusik kesenanganku,"
"Lalu anakmu?"
"Jam segini dia masih kuliah."
"Lalu kenapa kamu tidak ngantor hari ini?"
"Bosan. Aku butuh service darimu agar mengembalikan semua moodku."
"Sudahlah, kenapa kamu jadi begitu rewel? aku menginginkanmu sekarang," bisik Sonya.
Tanpa banyak basa basi lagi, Qiel menyerbu Sonya, karena wanita parubaya itu sejak tadi sudah mempermainkan barang kesayangannya yang sudah mulai tegang sempurna.
Sudah tidak terhitung berapa kali mereka mendapat pelepasan dan mengulang percintaan panas itu, hingga tanpa mereka sadari ada seseorang yang menyaksikan adegan panas itu dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
"Jadi selama ini Mama ada afair sama supir pribadinya? aku akui supir itu memang tampan dan gagah, tapi kenapa harus dengan supirnya? apa mama sama sekali tidak ada merasa bersalah pada papa?" ucap Jeny.
Karena terlalu asik dengan pemikirannya sendiri, Jenny sampai tidak sadar, saat Qiel keluar dari kamar itu dan terkejut saat mendapati Jenny yang berada tepat didepan pintu.
Jenny menatap Qiel yang tubuhnya masih dipenuhi keringat, dan seragam yang dia kenakan tidak dia kancingkan dengan benar
"Siapa gadis ini? apa dia anak Sonya?" batin Qiel.
"Kamu supir mama kan?" tebak Jenny langsung.
"I-Iya. Nona siapa?"
"Anaknya."
Qiel terdiam. Dia tahu betul gadis didepannya sudah tahu perbuatannya dengan Sonya.
"Ikut aku." ujar Jenny.
Qiel yang bingung mengikuti Jenny pergi,hingga gadis itu membawanya keteras samping rumahnya.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekati Mama, aku tahu mungkin mama butuh juga kepuasan batin. Tapi, aku tidak ingin sampai kamu memanfaatkan mamaku terus menerus. Sebaiknya kamu segera jauhi dia, masih banyak gadis muda yang bisa kamu dapatkan."
"Aku tahu arah tujuan ucapanmu itu. Terus terang saja, aku juga tidak ingin menjadi pria simpanan mamamu. Tapi apalah dayaku, aku juga sedang membutuhkan uang. Aku dan mamamu hanya patner diatas ranjang, tidak lebih dari itu."
"Kalau begitu cari wanita lain saja."
"Tidak bisa. Aku juga tidak ingin jadi pria kotor yang sembarangan memasuki banyak wanita. Itulah sebabnya aku setuju saat mamamu menawar diriku menjadi pria simpanannya."
Jenny menatap Qiel yang begitu terus terang dan tidak lagi menutupi jati dirinya sebagai pria simpanan wanita kaya. Jenny akui Qiel memang pria tampan dan sangat menggairahkan, tapi bukan berarti dia mengizinkan rumah tangga orang tuanya jadi berantakan karena adanya orang ketiga.
"Katakan padaku. Bagaimana caranya agar kamu mau mundur dan menjauhi mamaku."
"Tentu saja dengan uang. Karena itulah tujuan utamaku dari awal."
"Seberapa banyak yang kamu butuhkan?"
Qiel tampak berpikir keras saat mendengar ucapan Jenny. Tidak lama kemudian dirinya menyebutkan sebuah nominal yang ternyata disanggupi oleh gadis itu.
"1 milyar."
__ADS_1
"Oke deal. Mulai sekarang jauhi mamaku, kalau sampai aku melihatmu masih mendekati mama dan berhubungan dengannya, maka aku tidak segan-segan menghancurkan reputasimu keseluruh dunia."
"Oke deal." Qiel menjabat tangan Jenny.
"Mulai besok, kamu tidak perlu datang lagi menjemput Mama."
"Ya."
"Kirim nomor rekeningmu ke nomor ini," Jenny memberikan sebuah kartu nama pada Qiel.
"Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu."
"Emm." Jenny mengangguk.
Qiel melangkah pergi dengan senyum kemenangan. Baginya tidak masalah tidak melayani Sonya lagi, karena uang 1 milyar yang dia dapatkan sudah cukup untuknya membuka usaha kecil-kecilan dan membeli rumah sederhana.
Sesuai yang Jenny janjikan, akhirnya uang 1 milyar itu sudah Qiel dapatkan. Qiel kemudian membeli sebuah rumah sederhana dan membuka warung kecil-kecilan untuk Mira dirumah.
Di sisi lain Sonya merasa sangat kesal, karena Qiel sangat sulit dihubungi. Sonya kehilangan jejak Qiel saat dirinya sudah menemukan kontrakan terakhir kali pria itu.
"Ada apa dengan Qiel? kenapa dia tiba-tiba menghilang? apa uang yang aku berikan tidak cukup? seharusnya dia bilang padaku, aku bisa menambahinya," ujar Sonya lirih.
"Mama kenapa?" tanya Jenny.
"Tidak apa. Hanya saja supir pribadi mama tiba-tiba menghilang dan tidak masuk kerja."
"Cari saja supir lain,"
"Tapi Mama sudah sangat cocok dengannya."
"Tentu saja cocok, karena dia adalah patner ranjang mama,"
"Apa perlu Jenny yang carikan supirnya?"
"Hah..ya sudah. Tapi menurutku jangan cari supir muda dan tampan begitu."
"Kenapa?"
"Tentu saja mereka tidak setia, mereka pasti banyak yang mengincar, apalagi menemukan majikan yang lebih royal." Sindir Jenny.
Sonya tampak menerka-nerka dan menghayati apa yang Jenny katakan.
"Aku kurang royal apa sama dia?"
"Ya sudah. Jen pergi dulu ya ma."
"Ya."
Jenny meninggalkan sonya yang masih larut dalam pemikirannya sendiri.
"Apa yang kamu buat?" tanya Regent.
"Aku sedang membuat formula obat penawar racun." Jawab Sarlince.
"Penawar racun?"
"Ya. Kita pasti akan membutuhkannya nanti, coba kamu perhatikan ini."
Sarlince menunjukkan sebuah kertas yang terdapat baris tulisan yang berisi tentang cara pembuatan, juga tercantum beberapa rumus untuk membuat takaran yang pas pada penawar racun tersebut.
"Apa ini cara pembuatan dan rumus takaran untuk pembuatan penawar racunnya?"
__ADS_1
"Ya. Sekarang kita harus waspada, jika ucapan Inara benar. Maka racun yang organisasi itu ciptakan, tidak jauh berbeda dengan racun yang aku temukan dikehidupan sebelumnya."
"Seperti apa racunnya?"
"Dia tidak berwarna dan berbau. Bahkan meski mereka mencampurkannya kedalam air putih sekalipun, kita tidak akan mampu menyadarinya."
"Setelah ini aku akan menciptakan sebuah senjata rahasia, yang bisa kita gunakan jika memang dalam keadaan terdesak."
"Seperti apa senjata itu?"
"Aku akan menunjukkannya saat aku mulai ke tahap pengerjaan."
Regent memperhatikan apa yang Sarlince kerjakan dengan serius.
"Beruntung sekali aku mendapat istri segenius ini. Aku seperti merasa mendapatkan sebongkah berlian."
"Sayang. Apa ini masih begitu lama?"
"Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu dinner,"
"Dinner?"
"Emm."
Sarlince menghentikan semua kegiatannya dan bergegas mencuci tangan.
"Eh? sayang, apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Belum."
"Lalu kenapa kamu berhenti membuat formulanya?"
"Kamu jauh lebih penting dari ini semua."
Regent menyunggingkan senyumnya, dan mengusap puncak kepala Sarlince.
"Ayo kita pergi. Sebentar lagi akan malam,"
"Emm."
Sarlince mengunci ruangan khusus itu dengan beberapa sandi yang hanya dia sendiri yang bisa mengaksesnya. Setelah selesai, Merekapun pergi meninggalkan laboratorium raksasa itu.
Sementara itu ditempat berbeda Marcus dan junjungannya sedang mendiskusikan sesuatu dengan serius.
"Kapan kita akan melancarkan aksi ketua?"
"Sebentar lagi. Ruangan itu hampir selesai dibangun, kamu tahu sendiri tidak ada yang bisa menjangkau tempat ini, kecuali mereka mempunyai kemampuan khusus."
"Ketua benar. Aku terkadang lupa kalau kita saat ini sedang berada ditempat yang berbeda."
"Sarlince harus bisa menyesuaikan diri ditempat yang baru. Karena ketika segel itu di buka, kami akan segera mempunyai anak kami sendiri."
"Baik, saya mengerti ketua."
"Aku akan memberitahumu kalau sudah waktunya. Pada saat itu tiba, aku ingin kamu menarik semua orang-orang kita dan kita tinggal disini bersama."
"Baik ketua."
Pria berkursi roda itu membuat seringai mengerikan diwajahnya. Dengan menekan satu tombol dikursinya, benda itu bergerak sendiri dan membawanya kesebuah kamar gelap tempat dirinya biasa menyendiri.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏