
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Qiel dibuat melongo saat melihat penampilan Sarlince yang sedang menuruni anak tangga. Sudah seminggu dia tidak bertemu dengan Sarlince, dan tiba-tiba Sarlince menjadi orang yang sangat berbeda. Tidak hanya dia, bahkan Sarah dan Alex pun dibuat terkejut akan hal itu.
"Apa terapi semacam itu benar-benar ada? aku bahkan tidak pernah melihatnya berjalan seanggun itu," bisik Alex pada Sarah.
"Kita akan menilai setelah mendengar kemampuannya bicara," bisik Sarah.
Sarlince mengenakan baju stelan kantor warna hitam, tatanan rambutnya dibuat sedikit bergelombang dengan make up natural.
"Dia cantik sekali," batin Qiel yang terpesona dengan penampilan Sarlince.
Sarlince menghampiri meja makan untuk ikut sarapan bersama. Mulai cara Sarlince menarik kursi, dan menjatuhkan bokongnya begitu sangat anggun, sama sekali tidak seperti biasanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sarah.
"Nanti akan aku jelaskan. Kita masih harus menunggu seseorang datang." Jawab Sarlince.
Sarlince mengambil dua lembar roti tawar, dan mengoleskan selai kacang diroti itu. Sarah mengerutkan dahinya, seingatnya Sarlince alergi dengan kacang. Tapi Sarlince bahkan mengoleskan banyak selai kacang kedalam rotinya.
"Aline. Apa alergi kacangmu sudah hilang?" tanya Sarah.
Sarlince tertegun saat baru saja ingin memasukkan potongan roti itu kedalam mulutnya. Gadis itu benar-benar tidak tahu kalau pemilik tubuh asli memiliki alergi makanan berupa kacang.
"Maaf aku lupa." Jawab Sarlince.
Sarlince meletakkan roti itu, dan mengambil dua lembar roti tawar yang lain kemudian mengoleskannya dengan selai srikaya.
"Biarkan aku yang memakan roti itu. Sayang kalau harus dibuang," ujar Qiel.
Sarlince menyodorkan roti itu dan kemudian Qiel memakannya.
Ting Tong
Ting Tong
Seseorang yang tak lain pengacara Igo datang menekan bel rumah Sarlince.
"Sepertinya Paman pengacara sudah datang," ujar Sarlince.
__ADS_1
Benar saja, setelah pelayan membukakan pintu, Igo muncul dan menyapa mereka semua. Setelah menyelesaikan sarapan, mereka kemudian berkumpul diruang keluarga.
"Setelah mengikuti rangkaian terapi, akhirnya Nona Sarlince dinyatakan bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya," ujar Igo.
"Bagaimana bisa? hanya dalam satu minggu?" tanya Alex syok.
"Ya. Tidak ada hal yang tidak mungkin. Dokter terapi Aline bilang, mungkin itu disebabkan oleh keinginan kuat yang ingin sembuh." Jawab Igo.
"Aku tidak bisa percaya begitu saja. Aline, kamu harus mengikuti serangkaian pemeriksaan khusus. Aku juga ingin kamu mengikuti tes IQ," ujar Alex.
"Tidak masalah Papa mertua. Papa bisa melakukan tes apa saja padaku." Jawab Sarlince.
"Tapi yang terpenting adalah, hari ini kita akan memperkenalkan Sarlince di HS Group sebagai penerus perusahaan," ujar Igo.
"Apa itu tidak terlalu cepat? seharusnya kita melakukan berbagai rangkaian pemeriksaan dulu pada Sarlince, setelah itu baru bisa kita putuskan untuk langkah selanjutnya," ucap Alex menggebu.
"Pria tua ini begitu panik, hingga seperti sedang kebakaran jenggot," batin Sarlince.
"Tidak masalah. Kita hanya ingin memperkenalkan dia saja, sebagai pemilik HS Group yang baru. Untuk pendapat para pemegang saham, kita bisa melihat performa Sarlince kedepannya jika memang mereka meragukan kemampuan gadis ini." Jawab Igo.
"Bu-bukan apa-apa. Aku tidak mau menantuku jadi bahan olokan para pemegang saham ataupun orang yang berada dikantor. Aku tidak mau para staf malah meremehkan pemimpin mereka," ujar Alex dengan wajah prihatin.
"Dasar musang berbulu domba. Padahal kamu senangkan kalau ada orang yang mengolok-olok ku?" batin Sarlince.
"Dia benar-benar menjadi orang yang berbeda. Kesan gadis bodoh sama sekali tidak melekat lagi padanya. Bahkan dia terlihat lebih anggun, tegas dan berwibawa," batin Qiel
"Baiklah terserah saja. Lagian sekarang kamu sudah bersuami, tentu kamu akan mendengarkan apa pendapat suamimu dulu bukan?" tanya Alex.
"Tentu." Jawab Sarlince.
"Bagaimana menurut pendapatmu El?" tanya Alex.
"Menurutku sih terserah saja. Sarlince bebas menentukan pilihannya jika memang dia mampu." Jawab Qiel.
Jawaban Qiel membuat wajah Alex berubah jadi masam, yang membuat Sarlince sedikit menahan tawanya.
"Oke kalau itu memang keputusan kalian berdua. Kalau begitu silahkan saja bawa Sarlince keperusahaan. Besok kita akan mengadakan serangkaian tes pada Sarlince, termasuk tes IQ. Dan aku ingin mengadakannya di kantor HS Group, agar orang-orang tidak meragukan kemampuan putriku," ujar Alex.
"Kamu bukan ingin membantuku pria tua. Justru kamu ingin mempermalukan ku kan? lihat saja, besok aku akan membuatmu menampar wajahmu sendiri dengan prestasiku," batin Sarlince.
"Baiklah aku setuju. Oh ya satu lagi, aku ingin Umi menjadi asisten pribadiku, dan mengikuti kemanapun aku pergi." Jawab Sarlince.
__ADS_1
"Tidak masalah, itu malah lebih bagus. Kamu tidak akan kerepotan, bukan begitu tuan pengacara?" tanya Alex.
"Tentu." Jawab Igo dengan santai.
"Jangan kamu kira aku tidak tahu apa maksud dari ucapanmu itu Alex. Kamu benar-benar mengira Umi berada dipihakmu, jangan mimpi!" batin Igo.
"Baiklah aku berangkat kekantor dulu pengacara Igo. Qiel, Papa ingin bicara penting denganmu," ujar Alex.
Qiel mengangguk tanda mengerti dan pergi mengekor dibelakang Alex. Sementara Sarlince dan Igo mereka berdua juga berangkat menuju HS Group.
"Apa kamu melihat ekspresi keterkejutan diwajah pria tua itu Aline?" tanya Igo seraya manahan laju mobilnya agar tidak terlalu kencang.
"Tentu saja Ayah. Sangat terlihat sekali wajah paniknya itu. Dia seakan gusar, karena merasa akan kehilangan tambang emasnya." Jawab Sarlince sembari terkekeh.
"Aline. Ayah khawatir kamu tidak bisa menghadapi orang-orang itu. Terutama para pemegang saham. Ayah tahu betul, para pemegang saham orang-orang yang sangat hebat dan memiliki latar pendidikkan yang tinggi. Ayah hanya..."
"Aline tahu Ayah juga meragukan kemampuanku. Tapi itu tidak apa-apa, karena Ayah memang belum melihatnya. Mungkin kalau pemilik asli tubuh ini, Ayah bisa meragukannya. Tapi tidak denganku," ujar Sarlince.
"Ayah hanya takut kamu akan dibuat kesulitan oleh Alex pada saat tes besok. Ayah yakin mereka pasti berusaha menjatuhkanmu didepan para pemegang saham dan staf lainnya," ucap Igo.
"Ayah tidak usah khawatir. Aline akan menampar tepat didepan wajah mereka, bukan dengan fisik melainkan dengan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan." Jawab Sarlince.
Sementara dimobil yang berbeda Alex sedang mengomeli Qiel.
"Apa itu tadi? kamu main setuju begitu saja? apa kamu tidak melihat bagaimana perubahan pada gadis itu? bagaimana kalau sampai dia berhasil mengambil alih perusahaan itu?" tanya Alex.
"Kenapa Papa sangat khawatir. Mengolah perusahaan bukan seperti mengolah ikan. Yang berpendidikkan tinggi saja belum tentu bisa, apalagi Sarlince yang hanya belajar dari home schoolling? Apa yang Papa khawatirkan?"
"Terlebih Papa akan mengadakan serangkaian tes padanya besok. Dan itu harus didepan pemegang saham, buat dia malu dan jatuh sampaai dia tidak ingin menunjukkan wajahnya lagi," sambung Qiel.
"Bagaimana kalau dia bisa melewati itu semua?" tanya Alex.
"He...jangan bicara omong kosong Pa. Aku akan percaya kalau nilai IQ nya melebihi Albert Einstein." Jawab Qiel sembari terkekeh.
"Ckkk...kamu ini malah bercanda. Terus terang Papa sedikit panik karena melihat perubahan besar dirinya dalam seminggu ini," ujar Alex.
"Papa tidak usah khawatir. Gadis itu sangat menyukaiku, aku akan merayu dan merebut perusahaannya secara halus. Aku akan membuatnya tergila-gila padaku," ucap Qiel.
"Iya, Papa sampai lupa akan hal itu. Ha...Papa jadi lega, setidaknya kita masih punya banyak rencana kedepannya untuk menguasai semua aset milik Hadinata," ujar Alex.
Alex dan Qiel larut dalam pemikiran masing-masing. Jika Alex bermimpi menjadi seorang miliyarder, maka Lain hal nya dengan Qiel. Pria itu masih terbayang-bayang akan sosok cantik Sarlince pagi ini. Bahkan dia sama sekali tidak memikirkan tentang Celine sang kekasih.
__ADS_1
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏