
Tinggalkan Like, Koment dan Vote🤗🙏
*****
Hosh
Hosh
Hosh
"Aku mencintaimu,"
Regent mencium kening kekasihnya sesaat setelah mereka menyudahi percintaan panas itu. Sarlince memeluk Regent dengan erat, pria yang sangat dirindukannya itu kini sudah berada didalam dekapannya, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Apa akte ceraimu sudah keluar?"
"Sudah."
"Mari menikah, aku tidak tenang membiarkanmu jauh terus dari jangkauanku. Aku takut orang-orang itu mulai bergerak dan mencurimu dariku."
"Terlebih mantan suamimu, aku yakin dia tidak akan mungkin menerima begitu saja keputusanmu."
"Aku tahu."
"Lalu kapan kita akan meresmikan hubungan kita? pernikahan seperti apa yang kamu inginkan? aku akan mewujudkannya untukmu."
"Tidak. Sama seperti Vino dan Megumi, aku hanya ingin kita mendaftarkan pernikahan kita dicatatan sipil saja. Aku tidak ingin pernikahan kita terlalu mencolok, terlebih aku baru saja bercerai."
"Baiklah kalau itu keinginanmu. Nanti kalau setelah situasinya aman, kita bisa mengadakan pesta resepsi yang meriah."
"Emm. Besok kita bisa langsung menikah."
"Hah...rasanya seprti mimpi bisa sampai ketahap ini. Kamu tidak tahu betapa aku sangat bahagia saat ini,"
"Aku juga. Akhirnya aku bisa memiliki pria yang benar-benar mencintaiku apa adanya. Sayang, apa kamu benar-benar tidak keberatan jika seumur hidupku aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu?"
"Anak bukan satu-satunya prioritas dalam hidupku meskipun aku menginginkannya, kita bisa mendapatkan anak dengan cara lain."
"Apa maksudmu dengan cara rahim pengganti?"
"Aku tidak mau menyentuh wanita lain selain kamu."
"Rahim pengganti tidak harus berhubungan fisik, kita bisa menanamkan benih kita pada rahim sewaan."
"Nanti kita fikirkan lagi saja. Yang penting aku ingin kita menikah dulu, dan tinggal satu atap."
"Emm." Sarlince mengangguk.
"Bagaimana pembangunan bunker dan bangunan lain yang sedang kamu tangani?"
"Sudah 70%. Sebentar lagi akan selesai. Bagaimana laboratoriumnya?"
"85% nyaris selesai. Lalu apa langkah selanjutnya?"
"Kalau begitu rekrut sejumlah prifesor dan tim medis, juga jurusan medis lainnya. Seperti farmasi, apoteker dan lain-lain. Kita memerlukan orang-orang itu untuk menjalankan laboratorium itu."
"Lalu bagaimana dengan bunker dan ruang tehnologi itu?"
"Itu menjadi urusanku. Saat ini aku sedang mengumpulkan informasi tentang mafia terbesar kota ini dan mencari orang-orang yang mau bekerja untuk kita."
__ADS_1
"Kenapa harus berurusan dengan mafia? apa itu tidak berbahaya?"
"Kita butuh persenjataan lengkap, biasanya para Mafia ada yang menjual senjata ilegal. Untuk bom rakitan, aku bisa melatih orang-orang yang mau bekerja untuk kita membuatnya."
"Baiklah lakukan apapun, asalkan jangan membahayakan nyawamu."
"Ya."
"Sudah hampir pagi, aku harus pulang. Aku akan menjemputmu untuk pergi kecatatan sipil bersama,"
"Tidak perlu. Kita bertemu langsung disana saja."
"Jam berapa? "
"10."
"Oke. Sampai jumpa nanti ya?"
Cup
Regent kembali mencium kening Sarlince, dan kemudian beranjak dari tempat tidur untuk mengenakan pakaiannya.
Regent menyunggingkan senyumnya kearah Sarlince sebelum pria itu benar-benar melompat dari jendela dan menghilang didalam fajar. Sementara itu, Sarlince yang merasakan lelah kembali tertidur.
*****
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi saat Regent, Vino dan Megumi tiba lebih dulu dikantor catatan sipil untuk mengurus pernikahannya. Megumi sangat bahagian karena akhirnya Sarlince bisa bahagia mendapatkan pria yang benar- benar mencintainya.
Setelah Sarlince tiba, mereka langsung menikah dan langsung memperoleh sertifikat pernikahan dan juga buku nikah. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Sarlince dan Regent selain sudah resmi jadi pasangan suami istri secara sah.
"Ini benar-benar seperti mimpi bagiku," ucap Regent.
"Apa kamu bahagia?"
"Apa mungkin kita sudah berhasil mematahkan. kutukkannya?"
"Tapi jika demikian, apa yang membuat kutukan itu bisa hancur? aku takut ini hanya jebakan, dan kita akan dipisahkan kembali."
"Apapun yang terjadi kedepannya nanti, kita akan menghadapinya sama-sama."
"Emm. Oh ya, apa kamu ingin kita pergi berbulan madu kesuatu tempat?"
"Apa kamu ingin kita pergi?"
"Aku akan mengikutimu jika kamu pergi, aku akan pergi bersamamu."
"Aku ingin sekali kita pergi ke negara J."
"Baiklah. Aku akan meminta Vino untuk megurus keberangkatan kita ke negara J besok."
"Emm. Sekrang kita akan pergi kemana?"
"Tentu saja pulang kerumaku. Aku ingin memperkenalkan orang tuaku padamu. Ya meskipun mereka bukan orang tua kandungku, tapi mereka tahunya aku adalah anak mereka."
"Baiklah. Itu memang seharusnya aku berkenalan dengan mereka."
"Terima kasih sudah mau menganggap mereka orang tuamu juga,"
"Aku tidak keberatan karena aku juga tidak memiliki orang tua dikehidupan ini. Jadi itu bukan masalah bagiku."
__ADS_1
Sarlince dan Regent melihat sepasang suami istri sedang duduk bercengkrama diruang tamu, saat mereka baru saja tiba dikediaman Binara.
"Siapa wanita cantik ini nak?" tanya Fatma.
"Istriku."
"Istri?" Binara dan Fatma terkejut bersamaan.
"Kamu menikah tapi tidak melibatkan orang tuamu?" tanya Fatma kecewa.
"Kami baru menikah secara sipil saja, nanti saat resepsi baru kita akan mengumumkannya."
Fatma dan Binara hanya diam saja. Bagi mereka Regent mau berkomitment saja, sudah merupakan kemajuan yang besar. Mereka tahu anak mereka selama ini selau dirumorkan tentang hal yang kurang sedap. Dengan Regent menikah, kekhawatiran itu sedikit berkurang.
"Siapa namamu nak?"
"Sarlince Ma." Jawab Sarlince seadanya.
"Dimana keluargamu tinggal?"
"Aku adalah putri dari almarhum baak Hadinata."
"Hadinata?" Binara terkejut.
Pria parubaya itu menoleh kearah Regent yang tampak biasa saja, dan kemudian mengamati Sarlince dengan seksama.
"Aku tahu apa yang papa pikirkan. Papa dan mama tenang saja, Sarlince bukan seperti orang yang kalian pikirkan. Dia sudah sembuh dari sakitnya."
"Mana mungkin sakit keterbelakangan mental bisa disembuhkan?" tanya Fatma.
"Bisa. Karena Sarlince mengikuti semacam terapi khusus. Yang menerapi dia didatangkan langsung dari luar negeri."
"Benarkah?"
"Emm."
Fatma menatap kearah Sarlince, wanita itu memberikan senyum terbaiknya. Dia tidak ingin membiarkan siapapun meragukan dirinya.
"Kalau begitu ini harus dirayakan bukan? apa kamu bisa memasak?" tanya Fatma.
"Tidak terlalu pandai, tapi aku bisa." Jawab Sarlince.
"Kalau begitu kita pergi kedapur, kita harus memasak banyak dan lezat hari ini, untuk merayakan pernikahan kalian," ujar Fatma.
"Apa kita boleh mengundang Vino dan istrinya?" tanya Sarlince.
"Tentu saja. Lebih ramai lebih seru,"
"Kenapa kita tidak mereservasi restorant saja Ma, lebih praktis dan tidak menyusahkan," tanya Regent.
"Kalian para lelaki selalu mau serba intans, padahal masakan rumahan jauh lebih sehat dan bikin puas, iya kan Aline?"
"Mama benar, aku juga lebih suka makanan rumahan."
"Sayang. Belum genap satu hari kita menikah, kamu sudah berpihak pada mama,"
"Ucapan mama memang benar Re," timpal Sarlince.
"Yuk ah, kita langsung kedapur,"
__ADS_1
"Iya ma."
Sarlince mengekor dibelakang Fatma, dirinya cukup senang, karena perlahan dirinya bisa diterima oleh keluarga Regent.